Showing posts with label action. Show all posts
Showing posts with label action. Show all posts

Monday, September 22, 2014

Omen #6: Sang Pengkhianat

TERBIT 9 OKTOBER 2014!!

Penulis: Lexie Xu
Editor: Novera Kresnawati
Cover Illustrator: Regina Feby

File 6 : Kasus Penjahit Manusia dengan Korban Atlet-Atlet Unggulan Pekan Olahraga

Tertuduh : Kami. Yep, kalian tidak salah baca. Kami-kami yang seharusnya menyelidiki kasus ini malah menjadi tertuduh lantaran ada beberapa saksi yang mengatakan mereka melihat kami di tempat kejadian. Tentu saja kami tidak sudi pasrah dengan situasi ini dan bertekad untuk menyelidikinya. Kecurigaan kami jatuh pada dua cewek paling jahat di sekolah kami: Nikki dan Eliza. Tambahan lagi, kini mereka mendapat bantuan dari Damian Erlangga sang pangeran iblis, serta mantan sobat kami yang kini menjadi musuh bebuyutan kami: Erika Guruh.

Fakta-fakta : Pada hari-hari menjelang Pekan Olahraga, atlet badminton unggulan sekolah kami ditemukan di lapangan badminton dalam kondisi tidak sadar dengan mata, mulut, dan anggota badan terjahit rapat. Saksi mata berupa sahabat korban mengatakan dia melihat Rima berkeliaran di dekat lapangan pada saat kejadian. Di siang hari, pada hari yang sama, kapten tim futsal ditemukan mengalami kejadian tragis yang sama, dan kali ini orang-orang melihat Putri Badai melarikan diri dari tempat kejadian. Keesokan harinya ada “tips tepercaya” yang mengatakan Aya akan melakukan kejahatan berikutnya, dan sebelum kami sempat melakukan sesuatu Aya sudah ditahan polisi.

Misi kami : Menemukan pelaku sebenarnya sebelum kami dihukum untuk perbuatan yang tidak kami lakukan.

Penyidik kasus,
Valeria Guntur, Rima Hujan, Putri Badai, dan Aria Topan

Sunday, May 25, 2014

Omen #5: Kutukan Hantu Opera

TERBIT 12 JUNI 2014!!

Penulis: Lexie Xu
Editor: Novera Kresnawati
Cover Illustrator: Regina Feby

File 5: Kasus Penganiayaan Anak-anak Pelaku Kejahatan SMA Harapan Nusantara Pada Malam Pementasan Kutukan Hantu Opera

Tertuduh: Lagi-lagi Kelompok Radikal Anti-Judges. Kali ini, muncul seseorang yang belum apa-apa sudah berani mati mengakui dirinya sebagai lawan kami. Damian Erlangga, anak baru misterius yang dipenuhi berbagai gosip brutal yang bikin dirinya ditakuti semua orang. Sepertinya dia menaruh minat pada Putri Badai. Mungkin naksir. Selain itu, kami juga harus memperhitungkan Nikki dengan senyum-mulut-robek-nya yang menghantui mimpi buruk kami, serta seseorang yang muncul dari masa lalu Erika.

Fakta-fakta sejauh ini: Diadakan pementasan Phantom of the Opera kendati sudah ada legenda mengenai kutukan Hantu Opera. Gosipnya, saat drama itu dipentaskan, akan ada banyak orang yang mati. Pada saat latihan drama, Aya nyaris saja mengalami kecelakaan yang mengancam nyawanya. Selain itu, masih ada banyak gangguan lain (dicurigai beberapa di antaranya bukan ulah iseng Erika). Kemudian, pada malam pementasan drama, satu per satu orang yang pernah melakukan kejahatan di SMA Harapan Nusantara ditemukan dalam kondisi kritis dan topeng terbelah. Lebih celakanya lagi, di tengah-tengah drama, Valeria hilang.

Misi kami: Menemukan Valeria dan membekuk pelaku kutukan Hantu Opera.

Penyidik Kasus,
Putri Badai, Aria Topan, & Rima Hujan
+ Erika Guruh & Valeria Guntur

Monday, January 20, 2014

Omen #4: Malam Karnaval Berdarah

TERBIT 6 FEBRUARI 2014!!

Penulis: Lexie Xu
Editor: Novera Kresnawati
Cover illustrator: Regina Feby

File 4 : Kasus perusakan wajah anggota OSIS SMA Harapan Nusantara di malam karnaval.

Tertuduh: Kelompok Radikal Anti-Judges. Tidak diketahui siapa sebenarnya anggota kelompok yang namanya jelek banget ini, meski kami punya dugaan kuat: Erika Guruh dan Valeria Guntur, dua anggota The Judges yang membelot lantaran tidak menyetujui kebijakan-kebijakan OSIS. Tambahan lagi, mereka berdua adalah kombinasi paling mematikan di sekolah kami yang sanggup melawan Putri Badai si Hakim Tertinggi, yang punya sekutu berupa ketua OSIS yang punya kemampuan misterius dan wakilnya yang berandalan, alias kami berdua.

Fakta-fakta: Putri Badai menerima surat-surat ancaman untuk membubarkan susunan keanggotaan OSIS dengan tuduhan pemungutan suaranya dimanipulasi. Saat Putri menolak menanggapi mereka, kami menemukan mayat binatang diletakkan di ruang OSIS. Lebih parahnya lagi, di acara pertama yang dilakukan oleh OSIS, mereka mulai mengincar anggota-anggota OSIS yang populer. Satu per satu ditemukan dalam kondisi pingsan, dengan tubuh penuh luka dan wajah yang dirusak.

Misi kami: Menemukan pelaku sebenarnya sebelum persahabatan kami hancur untuk selamanya.

Penyidik Kasus,
Rima Hujan & Daniel Yusman

Thursday, October 3, 2013

OMEN #3: Misteri Organisasi Rahasia The Judges

Penulis: Lexie Xu
Editor: Novera Kresnawati
Cover Illustrator: Regina Feby

Sinopsis:
File 3 : Kasus penganiayaan murid-murid SMA Harapan Nusantara dalam proses seleksi anggota organisasi rahasia “The Judges”.

Tertuduh :
Penyelenggara proses seleksi itu, alias para anggota “The Judges” yang semuanya misterius, mencurigakan, dan menyebalkan. Sifat sok berkuasa mereka membuat mereka jadi tertuduh ideal. Belum lagi undangan demi undangan yang dilayangkan pada para anggota kendati sudah terjadi peristiwa-peristiwa tak mengenakkan, menandakan mereka tidak peduli pada korban. Tentu saja, tertuduh utama adalah pemimpin organisasi sok keren ini, si Hakim Tertinggi.

Fakta-fakta :
Pada minggu terakhir tahun ajaran, surat-surat undangan dilayangkan pada anak-anak paling cerdas dan berbakat di kelas X, mengajak kami untuk mengikuti proses seleksi untuk menjadi anggota organisasi paling berpengaruh di sekolah kami. Tidak dinyana, satu per satu kami diserang secara brutal pada proses seleksi, ditinggalkan dalam posisi seolah-olah mereka menjadi korban ritual sebuah upacara.

Misi kami :
Menemukan pelaku kejahatan sebelum kami sendiri menjadi korban.

Penyidik Kasus,
Erika Guruh, Valeria Guntur, dan Rima Hujan

Thursday, June 6, 2013

OMEN #2: Tujuh Lukisan Horor

Penulis: Lexie Xu
Editor: Novera Kresnawati
Cover Illustrator: Regina Feby

File 2 :  Kasus lenyapnya sejumlah orang secara misterius di SMA Harapan Nusantara.

Tertuduh :
Algojo bertampang monster dan bersenjata parang yang mengerikan, yang konon keluar dari Tujuh Lukisan Horor karya Rima Hujan. Gosipnya, dia berniat menjatuhkan hukuman kepada orang-orang yang terlibat dalam tragedi tahun lalu. Tidak diketahui apakah tokoh ini nyata atau hasil imajinasi.

Fakta-fakta :
Sebuah surat ancaman dilayangkan ke Kepala Sekolah SMA Harapan Nusantara, menyebabkan kami dilibatkan dalam peristiwa ini. Dengan bantuan mantan tukang ojek bermuka masam dan montir baik hati garis miring bos geng motor, kami pun mengadakan berbagai penyelidikan mengenai tragedi tahun lalu. Namun, satu demi satu orang yang terlibat dalam kejadian ini mulai lenyap. Yang tertinggal hanyalah ruangan berantakan akibat pergulatan dan lukisan yang menggambarkan hukuman mengerikan yang diterima oleh orang-orang tersebut. Tidak diketahui orang-orang ini masih hidup atau tidak.

Misi kami :
Menemukan orang-orang yang lenyap dan menyelamatkan mereka sekaligus membekuk pelaku kejahatan yang sebenarnya.

Penyidik Kasus,
Erika Guruh & Valeria Guntur

Tuesday, August 28, 2012

Coming Soon: OMEN

TERBIT 17 SEPTEMBER!

Penulis: Lexie Xu
Editor: Novera Kresnawati
Cover Ilustrator: Regina Feby

File 1: Kasus Penusukan Siswa-Siswi SMA Harapan Nusantara

Tertuduh: Erika Guruh, dikenal juga dengan julukan si Omen. Berhubung tertuduh memang punya tampang seram, sifat nyolot, reputasi jelek penuh cela, tidak ada yang ragu bahwa dia pelakunya. Tambahan lagi, ditemukan bukti-bukti yang mengarah padanya.

Fakta-fakta sejauh ini: Bukan rahasia lagi tertuduh saling membenci dengan korban pertama. Perselisihan antara keduanya semakin menajam saat timbul spekulasi bahwa tertuduh ingin merebut pacar korban pertama. Tidak heran saat korban ditemukan nyaris tewas di proyek pembangunan, kecurigaan langsung tertuju pada tertuduh. Menambah sulit masalah, saat disuruh mendekam di rumah oleh pihak kepolisian, tertuduh malah kabur dengan tukang ojek langganannya yang bertampang residivis. Dan yang pada akhirnya membuat tertuduh terpojok, dia juga orang pertama yang tiba di TKP korban-korban berikutnya.

Misiku: Membuktikan tertuduh tidak bersalah dan menemukan pelaku kejahatan yang sebenarnya.

Penyidik Utama,
Valeria Guntur

Tuesday, April 17, 2012

TEROR, the last book of JOHAN SERIES

COMING SOON: 17 MAY 2012!!

Penulis: Lexie Xu
Editor: Novera Kresnawati
Ilustrator: Maryna Roesdy

Namaku Johan, dan akulah penyebab mimpi buruk semua orang.

Semua orang selalu meremehkanku, mulai dari ibuku hingga anak-anak tolol di sekolahku, dan aku selalu berhasil memberi mereka pelajaran bahwa aku tidak bisa diremehkan. Tentu, beberapa akibatnya tak kuduga, seperti bahwa aku telah menewaskan ibuku dan beberapa kecelakaan lain, tapi itu harga yang harus kubayar demi menegakkan harga diriku.

Hidupku berubah drastis sejak aku bertemu dengan Jenny, cewek yang sudah merebut rumah masa kecilku. Bukan saja itu kesalahan yang dilakunya, melainkan juga ternyata dia berteman dengan cewek cantik yang seharusnya menjadi teman atau, lebih baik lagi, pacarku. Aku bertekad untuk menghukumnya. Namun kebalikan dari harapanku, akulah yang dijebloskan ke dalam rumah sakit jiwa.

Di balik dinding yang membatasiku dengan orang-orang gila, aku mulai menyusun siasat dan rencana. Aku berhasil memperdalam kemampuanku untuk memengaruhi orang lain, menggerakkan mereka untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kotorku, bagaikan pion-pion tak berharga yang bisa kukorbankan sewaktu-waktu.

Sekarang, setelah aku berhasil keluar dari rumah sakit jiwa, waktunya untuk pembalasan dendam. Mereka semua yang sudah berani menentangku akan merasakan akibatnya.

Sebab kali ini, aku akan mengirim mereka semua ke neraka.

Tuesday, October 18, 2011

PERMAINAN MAUT, the third book of Johan Series

TERBIT TANGGAL 6 NOVEMBER 2011!


Penulis: Lexie Xu
Editor: Novera Kresnawati
Desain cover: Maryna Roesdy

Yo, namaku Tony Senjakala dan hidupku saat ini bagaikan sederetan mimpi buruk saja.

Sebuah email dari teman lamaku terus menerus mengusik pikiranku mengenai kejadian-kejadian misterius di rumahnya. Namun aku berusaha melupakannya karena sudah tidak sabar lagi untuk berlibur dengan Jenny, pacarku yang manis banget.

Tak disangka, tahu-tahu muncullah seseorang yang sangat tidak ingin kujumpai, namun terus saja menghantui kehidupanku. Tidak ingin orang ini membahayakan Jenny, aku terpaksa melupakan liburan impianku, mengadakan kamp latihan judo dadakan, dan menginap di rumah misterius yang konon menimbulkan nasib buruk bagi para penghuninya.

Celakanya, Markus malah menjalin hubungan mesra dan menjijikkan dengan si oknum ini, tidak peduli betapa uring-uringan aku dibuatnya, tidak peduli kami terkurung di penginapan menyeramkan, tidak peduli satu demi satu anggota klub judo mulai lenyap.

Bersama pasangan yang tidak serasi inilah aku harus membongkar semua kejadian aneh ini. Apa sih sebenarnya yang terjadi di penginapan ini? Apakah ada kaitannya dengan hantu legenda si Kakak yang menginginkan teman dan si Adik yang menginginkan pembalasan dendam?

Ataukah ada permainan yang lebih mengerikan dari yang kami duga?

Sunday, September 25, 2011

MysteryGame@Area47: THE WRITER, Episode 9

Kalian akhirnya duduk dan kamu diminta untuk menceritakan pengalamanmu. Sebagai penulis novel berbakat, kamu berhasil menuturkan pengalamanmu dengan kata-kata yang tersusun baik dan mendetail. Saat mendengarnya, sang pemilik rumah tampak terpesona--tidak, lebih tepat lagi, dia tampak sangat terkesan. Matanya menatapmu dengan penuh minat bercampur kagum. Kamu bertanya-tanya, apakah yang membuatnya begitu terkesan--ceritamu yang luar biasa dan nyaris tak dapat dipercayai, ataukah keberanian yang kamu tampakkan dalam ceritamu? Kamu mulai merasa malu. Kamu tidak berniat kedengaran seperti pahlawan. Sebenarnya, kamu ketakutan setengah mati dan kamu sudah tergoda banget mencuri BMW-nya biar kamu bisa meninggalkan tempat suram ini untuk selama-lamanya. Tapi kalau kamu ngacir seorang diri, bisa-bisa si monster menjadikan pemilik rumah yang baik hati ini sebagai sasaran berikutnya.

"Luar biasa." Mendengar komentar singkat itu, kamu merasakan sebersit rasa lega karena itu berarti yang dikaguminya adalah ceritamu. Lalu, kamu mulai khawatir lagi kalau dia menganggapmu mengada-ada. Memang sih, saat ini tingkat keparnoanmu sudah mencapai tingkat dewa. "Tak saya sangka, saya punya tetangga yang mengerikan begitu. Anda benar-benar hebat karena bisa lolos dari makhluk sekuat itu."

"Sebetulnya nggak juga, Pak," sahutmu, dan mendadak kamu merasa geli dengan kerendahan hatimu. Kemarin kamu masih begitu pongah karena kesuksesan yang kamu capai di usia muda, namun saat ini kamu berubah total. Tak pelak lagi, pengalaman ini telah mengubahmu menjadi orang yang jauh berbeda. "Saya sudah nyaris mati berkali-kali. Barangkali monster itu saja yang sedang menjadikan saya sebagai mainannya. Jujur saja, sekarang pun saya masih merasa terancam bahaya. Bagaimana kalau kita panggil polisi saja?"

"Baiklah," angguk sang pemilik rumah. "Saya akan menelepon polisi sekarang juga. Kebetulan telepon saya ada di ruang kerja. Mohon tunggu sebentar ya!"

Sebenarnya kamu ingin menawarkan BlackBerry-mu, tapi mungkin ada bagusnya kamu membiarkannya menggunakan teleponnya sendiri. Bagaimanapun juga, kamu perlu menghemat batere ponsel. Siapa tahu kamu akan membutuhkannya di saat-saat terjepit.

Saat sedang menunggu dengan gelisah sambil menyeruput teh manis yang disediakan oleh si tuan rumah, rasa parnomu muncul lagi. Kamu berjalan ke balik tirai jendela dan menyibakkannya sedikit. Tidak ada si monster. Melegakan, tapi kamu belum sepenuhnya selamat. Kamu segera mengecek pintu depan. Untunglah kamu melakukannya! Ternyata pintu itu tidak terkunci sama sekali! Kamu baru saja hendak menguncinya dengan anak kunci yang menempel pada pintu, ketika terdengar suara dari balik punggungmu.

"Kalau saya jadi Anda, saya tidak akan melakukannya."

Kamu terpaku mendengar suara sang pemilik rumah yang, meski mash terdengar ramah, menyiratkan ancaman. Mendapat firasat buruk, perlahan-lahan kamu membalikkan badan. Firasat burukmu jadi kenyataan saat kamu menemukan dirimu sedang ditodong si pemilik rumah dengan sepucuk pistol antik yang entah masih bisa berfungsi atau tidak. Tapi kamu tak berniat menjadi kelinci percobaan sama sekali.

"Siapa Anda sebenarnya?" tanyamu berusaha terdengar tenang, tapi suaramu yang bergetar tidak bisa menutupi rasa takutmu.

"Saya adalah kakak dari manusia yang Anda sebut monster itu."

Kamu terkejut setengah mati. "Jadi Anda masih hidup?"

Si pemilik rumah mengangguk sedih. "Satu-satunya yang tersisa. Anda tahu, hidup adalah sesuatu yang aneh. Meski terlahir sebagai anak-anak berdarah biru, dikaruniai begitu banyak harta dan kesempatan, saya dan kakak saya sama sekali tidak bisa menikmatinya. Awalnya, kami berdua adalah kakak-beradik yang rukun dan saling menyayangi. Oh, tentu saja kami bertengkar, sama seperti kakak-beradik lain, tapi dalam waktu singkat kami akan rukun kembali dan bermain bersama. Kami tinggal jauh dari orang lain, karena ibuku selalu sakit-sakitan dan membutuhkan udara pedesaan yang segar. Karena itu, kami hanya memiliki satu sama lain. Saat-saat itu adalah saat-saat terindah dalam hidupku."

Pandangan si kakek menerawang, sepertinya dia sedang kembali pada masa-masa yang hanya ada dalam khayalannya saja. Ini adalah kesempatan bagimu. Perlahan-lahan, kamu beringsut mendekatinya.

"Lalu mendadak penyakit itu muncul. Tak ada yang tahu, dari manakah asalnya, dan bagaimana cara pengobatannya. Dan kini, saat pengobatan sudah begini maju, saya tidak sanggup membawanya pergi ke dokter, karena dia akan membunuh siapa saja yang tak menyenangkan hatinya. Pokoknya, pada saat itu, hidup terasa bagaikan neraka. Awalnya, dia hanya merasa gatal-gatal di seluruh tubuhnya. Namun setiap kali dia menggaruknya, kulitnya pun terkelupas dan menyebabkannya kesakitan. Kami semua merasa kasihan dan mengalah padanya. Dia membenciku yang sehat walafiat, jadi aku pun disingkirkannya ke atas loteng. Dia memukuli semua orang yang bersikap kasar waktu merawatnya, karena itu menimbulkan rasa sakit yang amat sangat pada kulitnya. Orangtua kami membiarkannya berbuat semaunya, karena mereka kasihan terhadapnya.

"Entah kenapa, penyakit itu malah membuatnya tumbuh pesat. Pada usia tiga belas tahun, dia sudah jauh lebih tinggi dariku. Bahkan, dia lebih tinggi dari semua orang di dalam rumah, termasuk ayahku yang bule. Kekuatannya pun jauh lebih besar daripada orang-orang lain. Suatu hari, rasa sakitnya rupanya tak tertahankan lagi. Dia mulai mengamuk dan menghancurkan barang-barang di ruang bermain. Seorang perawat berusaha menenangkannya, namun perawat itu malah dicabik-cabiknya hingga tak berbentuk lagi. Pada saat itu, aku sedang berada di atas loteng. Akibatnya, seluruh kejadian itu terlihat olehku. Mengerikan! Betapa mengerikannya! Hingga saat ini, kejadian itu masih menghantuiku."

Kamu bergidik mendengar ceritanya. Jadi begitukah cara yang ditempuh monster itu untuk membunuh orang? Mencabik-cabik korbannya?

"Anehnya, setelah mencabik-cabik perawat itu, dia jadi tenang kembali. Bahkan ketenangannya berlangsung hingga sebulan lebih. Karena itulah, orangtuaku mulai memberikannya... korban."

Kamu menatap kakek itu dengan ngeri.

"Orangtua kami mulai membangun rumah kedua, yaitu rumah ini. Tak terlalu jauh dari rumah lama sehingga bisa mengawasi adikku, tapi tak terlalu dekat sehingga membahayakan nyawa kami. Setelah rumah ini jadi, kami pun pindah ke sini bersama dengan pengurus rumah, tukang kebun, dan kusir kereta kami. Selama kami mengirimkan seorang perawat setiap bulan, kehidupan kami tak diganggu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Orangtua kami meninggal, dan aku mewarisi seluruh kekayaan mereka--sekaligus juga amanat terakhir mereka. Aku harus menjaga adikku hingga napasku yang terakhir, supaya dia tidak keluar dari kompleks ini dan mengganggu orang lain."

"Sementara itu, Anda tetap mengirimkan korban setiap bulan, dengan cara menyewakan rumah itu," selamu geram.

"Tidak hanya menyewakan rumah itu," kata si kakek datar. "Kadang aku memasang iklan lowongan kerja, iklan undian berhadiah, apa sajalah yang menarik orang untuk datang ke sini. Sejauh ini, semuanya berjalan baik-baik saja. Tak ada yang curiga. Pernah beberapa kali polisi mencari orang ke sini, tapi mereka tidak menemukan apa-apa. Aku berhasil menyembunyikan semuanya dengan baik. Setiap kali adikku membunuh, aku yang membersihkannya. Mungkin karena tahu akulah yang mencarikan korban untuknya, adikku tak pernah menyentuhku. Hubungan kami mirip dengan binatang buas di kebun binatang dan pelatihnya. Anda lihat betapa kuat dan sehat tubuhku? Diperlukan kepercayaan diri dan kekuatan batin yang besar untuk bersikap dominan terhadap adikku, untuk meyakinkannya bahwa aku adalah makhluk alfa yang harus ditaatinya.

"Sejauh ini, semua baik-baik saja, hingga kedatanganmu. Kukira anak muda yang katanya ada penulis itu adalah anak muda yang bertubuh lemah dan berjiwa penakut--korban terbaik untuk adikku. Tak kusangka, Anda berhasil meloloskan diri dari rumah itu. Hingga saat ini, Andalah satu-satunya yang berhasil kabur sejauh ini. Tapi maafkan saya, Anda harus kembali lagi ke sana."

"Anda gila!" teriakmu. "Memangnya saya mau menuruti Anda begitu saja?"

"Anda tak punya pilihan lain," katanya. "Anda harus mau, atau saya tembak Anda di sini."

Sayang bagi si kakek tua, kamu belum berencana untuk mati hari ini. Pikiranmu bekerja dengan keras dan cepat, membentuk tiga rencana yang sama bagusnya:

1. Menerkam si kakek tua dan merebut pistolnya
2. Ngumpet di balik sofa dan kabur
3. Pura-pura pingsan ketakutan

Selagi kamu menimbang-nimbang, kamu mendengar bunyi gemeretak kerikil di luar.

Si monster sudah tiba.


INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:

Hai para peserta MysteryGame@Area47!

Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan nama panggilan diikuti dengan jawaban atas pertanyaan ini:

RENCANA MANAKAH YANG AKAN KAMU JALANKAN? (Pilih antara: menerkam si kakek tua, ngumpet di balik sofa, pura-pura pingsan. Tidak perlu sebutkan alasannya.)

Di dalam email, tuliskan hasil HP dan EP yang kamu peroleh sejauh ini. Lexie tunggu jawabannya sampai enam hari lagi. Jangan sampai telat ya mengirimkan jawabannya! ^^

Good luck, everybody!

xoxo,
Lexie

Sunday, September 18, 2011

MysteryGame@Area47: THE WRITER, Episode 8

Jika pada episode 7 kamu memilih:
1. jalan kaki, klik di sini.
2. naik sepeda jelek, klik di sini.
3. menelepon taksi, klik di sini.
4. menelepon agen properti, klik di sini.



JALAN KAKI


Kamu berjalan secepat-cepatnya sambil berusaha menajamkan setiap panca inderamu. Setiap benda di tengah jalan, setiap bunyi-bunyian, setiap bau yang berbeda (apalagi bau nanah busuk yang kini sudah akrab di hidungmu), semua itulah yang menentukan langkahmu.

Di belokan pertama, di dekat sebuah tong sampah umum yang sepertinya sudah tak dipakai selama bertahun-tahun, kamu menemukan sebuah raket tenis yang sudah tak ada senarnya. Kamu memutuskan bahwa kamu membutuhkan senjata, karena itu kamu memungutnya dan berjalan terus.

Klik di sini untuk melanjutkan.


NAIK SEPEDA JELEK


Kamu menaiki sepeda jelek yang tergeletak di luar pekarangan depan. Sepeda itu sudah berkarat, rantai dan rodanya sudah lama tak diminyaki, sehingga mengayuhnya pun terasa berat luar biasa. Astaga, bisa-bisa tenagamu sudah terkuras habis di saat kamu baru saja menempuh sepuluh meter! Kamu putuskan berjalan kaki akan jauh lebih mudah. Sebagai gantinya, kamu mencopot rantai sepeda itu dan berlari sekuat tenaga menjauhi rumah mengerikan itu.

Klik di sini untuk melanjutkan.


MENELEPON TAKSI


Teleponmu berlangsung dengan sangat mengecewakan. Tidak ada taksi yang sedang berkeliaran di sekitar situ. Perusahaan taksi bersedia mengirimkan salah satu taksi, akan tetapi itu akan memakan waktu lima belas menit. Dasar perusahaan bodoh, apa mereka tidak tahu kamu tidak punya waktu lima belas menit?

Tapi kamu tidak memaki mereka seperti keinginanmu. Kamu mengucapkan terima kasih dan mengatakan bahwa kamu akan menunggu mereka di ujung kompleks. Setidaknya, kamu bisa menunggu di tempat yang jauh dari rumah mengerikan itu. Setelah itu, kamu pun berlari sekuat tenaga menuju ujung kompleks.

Klik di sini untuk melanjutkan.


MENELEPON AGEN PROPERTI


Agen properti itu terdengar tidak terlalu senang saat disuruh kembali ke rumah mengerikan itu. Tapi dia mencoba untuk bersikap profesional dan mengatakan dia akan datang secepatnya. "Saya akan tiba di sana dalam waktu lima belas menit."

Lima belas menit? Bisa-bisa nyawamu sudah melayang kalau kamu masih nongkrong di situ selama lima belas menit! Kamu pun mengatakan padanya kala ukamu akan menunggunya di ujung kompleks. Setidaknya, kamu bisa menunggu di tempat yang jauh dari rumah mengerikan itu. Setelah itu, kamu pun berlari sekuat tenaga menuju ujung kompleks.

Klik di sini untuk melanjutkan.


PEMILIK RUMAH TERDEKAT


Sejauh mata memandang, yang ada hanyalah kavling-kavling kosong tak terurus, dengan rumput-rumput yang sangat tinggi dan pohon-pohon berbatang besar yang menandakan usia mereka yang sudah tua. Seandainya si monster menguntitmu di belakang, kamu takkan bisa melihatnya. Kamu bertanya-tanya, separah apakah luka yang sudah kamu akibatkan padanya? Siapakah yang kondisinya lebih mengenaskan, kamu ataukah dia?

Kamu mendengar suara geretak kerikil di kejauhan--suara yang nyaris tak terdengar saking jauhnya, tapi pengalaman tegang hari ini telah mengasah panca inderamu. Kamu menyadari, meski dia masih jauh, hanya tinggal tunggu waktu dia menemukan dirimu. Aneh sekali, kamu kan menempuh jalan berkelok-kelok, kenapa dia masih saja bisa menguntitmu? Apakah itu hanya kebetulan, ataukah dia memang bisa mencium baumu?

Baru kemarin sore kamu tiba di rumah itu, tapi rasanya sudah berabad-abad--sampai-sampai kamu lupa bahwa kamu sempat melewati sebuah rumah yang jauhnya lumayan banget. Tiga kilometer, begitulah menurut si agen properti. Jarak yang membuatmu yakin kamu tak bakalan direcoki oleh tetangga cerewet.

Kini kamu berdiri di hadapan rumah si tetangga. Rumah yang tidak kalah besarnya--dan tak kalah tua--dibandingkan dengan rumah yang kamu sewa, dengan halaman yang hanya sedikit lebih rapi ketimbang rumahmu, dan sebuah mobil BMW terbaru yang kontras dengan kondisi rumah itu. Melihat mobil itu, kamu jadi ngiler. Bukan hanya keindahan dan kemewahan mobil itu--yang memang patut dikagumi--tapi kamu bisa menggunakan mobil itu, bisa dipastikan monster itu tak bakalan mengejarmu lagi untuk selama-lamanya.

Niat buruk pun terbersit dalam pikiranmu. Niat buruk yang biasanya tak bakalan ada, tapi saat ini terbentuk karena ketakutan dan keinginanmu untuk meloloskan diri.

Seandainya saja kamu bisa mencuri mobil itu...

Yang perlu kamu lakukan hanyalah mengetuk pintu rumah itu sampai ada yang membukakan, lalu kamu mencari tempat gantungan kunci mobil. Memang ada orang-orang yang menyimpan kunci mobil di kamar tidur, tapi kebanyakan orang menyimpan kunci mobil di dekat pintu keluar--atau pintu garasi. Andai kamu menemukan kunci itu, kamu akan menyambarnya dan melarikan diri dengan mobil BMW tersebut. Lalu adios, monster, dan sori, tetangga!

Rupanya ada tombol bel di dekat pintu, jadi kamu pun memencetnya.

Selama kamu menunggu di ambang pintu, ketakutan semakin menguasai dirimu. Bagaimana kalau monster itu keburu tiba? Bisa-bisa kamu diterkam olehnya di depan BMW, saranamu menuju kebebasan! Itu kan mengenaskan banget. Tidak, kamu harus membuat rencana cadangan alias plan B. Seandainya saja monster itu datang sebelum pintu dibuka...

Klik.

Oh, untunglah si pemilik rumah yang akan kamu curi mobilnya itu membukakan pintu!

"Siapa ya?"

Sial, si pemilik rumah rupanya cukup berhati-hati. Dia hanya membukakan pintu sedikit, sementara ada rantai yang menghubungi pintu dengan selot. Dengan demikian, kamu takkan bisa memaksa masuk ke dalam. Ya, tentu saja dia bersikap hati-hati. Tak ada orang yang bakalan bersikap ceroboh di saat pintu rumahnya diketuk di subuh hari, sementara rumahnya terletak jauh dari peradaban.

"Tolong saya!" teriakmu histeris. Oke, kamu sebenarnya berniat datang baik-baik dan bicara sesopan mungkin, tapi rupanya ketakutan membuatmu sulit mengendalikan diri. "Ada monster yang mengejar saya!"

Ups. Gawat. Harusnya kamu tidak bilang begitu. Bisa-bisa dia ikut ketakutan dan meninggalkan kamu di luar sana untuk dimangsa si monster. Kamu memang bodoh.

Namun, berlawanan dengan kecemasanmu, si pemilik rumah malah segera melepaskan rantai yang menahan pintu seraya berkata, "Astaga, monster apa? Anda tidak apa-apa?"

Kamu masuk ke dalam rumah, lalu terpaku di tempat saat wajah itu menyambutmu. Wajah wanita berambut panjang yang keji, dengan matanya yang beradu pandang denganmu, sementara tangannya menyembunyikan sebilah pisau di pangkuannya.

Tubuhmu langsung gemetaran hebat.

"Anda tak apa-apa?"

Suara si pemilik rumah terdengar sayup-sayup, seolah-olah datang dari tempat yang jauh. Kamu masih tidak bisa melepaskan pandangan dari wanita itu, yang menyunggingkan senyum culas, dan kamu bisa mendengar suaranya yang merdu namun mengerikan, "Kamu akan mati di sini..."

"Hei!!"

Kamu terperanjat dan kembali pada kenyataan. Astaga, si pemilik rumah kelihatan bete banget karena dicuekin!

"Sori, sori," ucapmu segera. "Lukisan ini membuatku takut..."

"Lukisan ini?" tanya si pemilik rumah dengan suara heran. Baru kamu sadari, si pemilik rumah adalah seorang laki-laki tua yang masih berbadan tegap dan kelihatan bugar. Jelas dia bukan tipe kakek-kakek yang cepat mati, tapi kakek-kakek keren sejenis Gandalf dan Albus Dumbledore. "Ini lukisan tua yang saya warisi turun-temurun dari nenek moyang. Kabarnya, lukisan ini dibuat oleh nenek moyangku. Tapi itu tidak penting. Yang lebih penting adalah, apa yang Anda maksud dengan dikejar monster? Apakah yang Anda maksud adalah perampok atau pembunuh..."

"Nggak!" Kamu menggeleng. "Saya dikejar monster beneran. Monster yang berdiam di rumah lain di kompleks ini..."

"Oh ya?" Mata si pemilik rumah membelalak. "Rumah tua dan cantik yang terbengkalai itu?"

Kamu mengangguk.

"Astaga, padahal selama ini saya kira rumah itu kosong! Monster, Anda bilang? Monster seperti apa..." Ucapan si pemilik rumah terhenti. "Ya ampun, saya benar-benar tidak sopan. Anda butuh sesuatu? Makanan, minuman, atau apa saja?"

"Kalau boleh, saya ingin minuman, air putih saja, dan kalau boleh, saya ingin meminjam toilet."

"Tentu saja, akan saya ambilkan minuman," sahut si pemilik rumah dengan ramah. "Sedangkan toilet ada di ujung lorong ini, belok kiri."

"Terima kasih."

Kamu segera ngacir ke arah yang ditunjuknya. Setelah keluar dari toilet, kamu merasa jauh lebih baik. Lalu, saat kamu kembali ke ruang depan, kamu menyadari bahwa kamu melewati sebuah lemari hias dengan banyak benda-benda indah.

"Suka?"

Suara si pemilik rumah mengejutkanmu.

Kamu mengangguk. "Benda-benda ini bagus banget."

"Ambil saja yang Anda suka," kata si pemilik rumah ramah.

Kamu terkejut lagi. "Oh, nggak. Saya nggak bermaksud..."

"Jangan malu-malu," kata si pemilik rumah sambil tertawa. "Ayo, ambil saja. Anggap saja hadiah perkenalan."

Sekali lagi kamu memandangi isi lemari hias itu. Ada sebuah tempat lilin perak berukir yang sangat indah, patung kucing emas yang tangannya bisa melambai-lambai, kelereng-kelereng sebesar kepalan tangan anak kecil, dan tabung gelas raksasa dengan serbuk-serbuk cantik di dalamnya. Keempat benda itulah yang paling menarik hatimu, dan kamu tidak bisa memutuskan yang mana yang lebih kamu sukai.

Baca episode berikutnya.


INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:


Hai para peserta MysteryGame@Area47!

Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan nama panggilan diikuti dengan jawaban atas pertanyaan ini:

BENDA APA YANG KAMU PILIH? (Pilih antara: tempat lilin, patung kucing, kelereng, tabung gelas. Tidak perlu sebutkan alasannya.)

Di dalam email, tuliskan hasil HP dan EP yang kamu peroleh sejauh ini. Lexie tunggu jawabannya sampai enam hari lagi. Jangan sampai telat ya mengirimkan jawabannya!

Good luck, everybody!

xoxo,
Lexie

Saturday, September 17, 2011

Sneak peek on Permainan Maut, Markus Mann's (future) girlfriend


Cewek yang bikin Markus pusing selama bertahun-tahun. Cewek yang merupakan Nemesis alias musuh besar Tony. Cewek super jail yang bikin seluruh klub judo pontang-panting. Sekaligus cewek yang jadi favorit penulisnya sendiri.

Jadi siapakah dia? Temukan jawabannya di buku ketiga Johan Series, Permainan Maut!

Sunday, September 11, 2011

MysteryGame@Area47: THE WRITER, Episode 7 (Battle #2)

Ingatkah kamu dengan nilai HP dan EP yang kamu dapatkan pada saat menempuh episode 4 (battle #1)? Siapkan kertas dan pensil, tuliskan nilai HP dan EP tersebut di sana. Kini, nilai-nilai itu akan mengalami perubahan lagi. Sanggupkah kamu mempertahankan HP sekaligus menurunkan EP lawan?

Jika pada episode 6 kamu memilih:
1. kamar mandi, klik di sini.
2. ruang penyimpanan makanan, klik di sini.
3. kulkas, klik di sini.
4. dapur, klik di sini.

Perhatian: Jangan sampai salah klik, karena akan sulit sekali untuk kembali ke awal.



MELARIKAN DIRI


Saat kamu selesai, kamu mendengar suara raungan yang keras. Astaga! Monster itu berhasil turun dari loteng! Padahal kamu yakin dia takkan berani meloncat turun. Seandainya kamu yang berada di atas loteng, kamu tak bakalan berani meloncat turun tanpa tangga. Bisa-bisa kamu patah leher kan? Entah si monster memang lebih lincah dari dugaanmu, ataukah dia hanya bodoh dan melakukan segala sesuatu membabi-buta. Apa pun juga itu, kini dia datang dan kamu harus kabur.

Kamu menghambur ke luar pintu belakang, siap untuk kabur ke luar pekarangan. Tak kamu duga, antara pekarangan belakang dan pekarangan depan, terdapat pagar yang sangat tinggi, mana dililit kawat berduri pula! Ini memang tindakan pengamanan yang cerdas, tapi kini kamu terjebak di pekarangan belakang. Kamu tahu, tidak butuh waktu lama bagi sang monster untuk menghampirimu. Apa yang harus kamu lakukan sekarang?

Oke, kalau memang kamu tidak bisa bergerak secara horisontal, sepertinya kamu harus bergerak secara vertikal.

Klik di sini untuk melanjutkan.


KAPAL DALAM BOTOL


Kamu memecahkan botol kaca berisi kapal itu, dan kapal cantik yang dibuat dengan susah payah itu terjatuh ke atas lantai. Tapi saat ini yang kamu butuhkan bukanlah kapal itu, melainkan botol kacanya. Ujung botol yang telah dipecahkan membentuk gerigi-gerigi tajam yang berkilauan ditimpa cahaya bulan.

Kamu melayangkan serangan ke muka si monster, dan berkat kecepatanmu yang luar biasa--kamu belum pernah bergerak secepat ini--ujung-ujung tajam itu berhasil melukai wajah si monster. (EP: -10)

Luka itu hanya sebuah baretan kecil, namun si monster langsung meraung sejadi-jadinya--tak tahu apakah itu sakit ataukah marah. Dengan geram dia merebut senjatamu. Kamu berusaha mempertahankannya, tapi sia-sia melawan tenaga sekuat itu. Yang lebih menyakitkan lagi, pergelangan tangan kananmu terkilir waktu kamu berusaha mempertahankan senjatamu. (HP:-15)

Mengalami luka seperti itu, kamu tahu kamu harus berlindung. Tanpa berpikir panjang lagi, kamu masuk ke dalam gudang dan merantai pintunya.

Klik di sini untuk melanjutkan.


BOTOL PLASTIK KECIL


Ada beberapa jerigen di pojok ruangan, jerigen-jerigen yang tampak berdebu dan kosong sehingga luput dari perhatianmu. Namun saat kamu memeriksa jerigen-jerigen itu, ternyata salah satunya masih berisi bensin--tidak banyak, tapi cukup untuk kebutuhanmu. Kamu menuangkan isi jerigen itu ke dalam botol plastik kecil yang kamu ambil dari loteng, dan botol itu pun penuh dengan bensin.

Klik di sini untuk melanjutkan.


KAMAR MANDI


Akhirnya, setelah semalaman tegang dan depresi, kamu mendapat kesempatan untuk memenuhi panggilan alam juga! Bukan itu saja. Kamu bahkan sempat mencuci muka dan membersihkan luka-lukamu. Rasanya segar luar biasa. Sayang, kamu tidak bisa berlama-lama di situ. Sudah waktunya kamu beraksi kembali. (HP: +15)

Klik di sini untuk melanjutkan.


ATAP GUDANG


Atap rumah terlalu tinggi untuk dipanjat, tapi atap gudang paling-paling hanya setinggi dua meter. Kamu mendekati gudang itu dan mendapatkan bahwa di bagian belakang, terdapat sebuah tangga kayu di mana kamu bisa memanjat ke atas. Mungkin tangga itu pernah digunakan oleh para pekerja untuk membetulkan atap gudang. Habis, tingginya pas betul.

Apa pun alasan keberadaan tangga itu, yang penting adalah kamu bisa menggunakannya untuk menyelamatkan diri. Kamu bisa merasakan si monster sudah semakin mendekati pekarangan belakang, jadi kamu buru-buru menaiki tangga itu.

Tepat pada saat kamu tiba di ujung atas tangga, kamu mendengar derap si monster berhenti di depan pintu belakang.

Kamu menahan napas, mengkeret di atas atap sementara si monster mulai mencari-carimu di seluruh pekarangan belakang. Cahaya bulan bersinar terang, tapi kamu dilindungi oleh bayangan yang ditimbulkan atap. Kamu bisa merasakan si monster berjalan di bawahmu, terseret-seret akibat kakinya yang sakit, tapi dia tidak menengok ke atas. Mungkin kamu bersembunyi di atas atap adalah sesuatu yang tak terpikirkan oleh otaknya yang terbatas itu.

Saat monster itu akhirnya beranjak pergi, kamu menghela napas lega. Akhirnya kamu selamat juga! Kamu menyusuri atap gudang dengan hati-hati. Di ujung atap, kamu berdiri menghadap rumah induk. Dari ujung atap gudang ke atap sempit yang mengelilingi lantai satu rumah induk, jaraknya hanya satu atau satu setengah meter. Tentunya tak sulit melompat ke sana kan?

Kamu mengambil ancang-ancang, lalu segera melompat. Berhasil! Tapi... tunggu dulu. Kakimu terperosok di ujung atap yang rupanya sudah rapuh. Kamu berusaha meraih-raih, tapi tak ada yang bisa kamu jadikan pegangan. Kamu terjatuh ke bawah lagi. Untungnya, karena kamu sempat berpegangan dengan atap, kamu berhasil menjatuhkan diri dengan dua kaki berpijak di atas tanah.

Namun sialnya, di depanmu, berdirilah si monster busuk dengan seringai lebar di mukanya.

"Mati!" raungnya dengan nada yang nyaris terdengar seperti gembira.

Sesaat kamu hanya sanggup berdiri dengan tubuh gemetar ketakutan. Namun saat si monster bergerak, tubuhmu bergerak secara otomatis. Kamu gunakan benda yang kamu pegang sedari tadi untuk melindungi dirimu.

Jika pada episode 4 kamu memilih:
1. kapal dalam botol, klik di sini.
2. ukulele, klik di sini.
3. seprei anak-anak, klik di sini.
4. layang-layang, klik di sini.

Perhatian: Jangan sampai salah klik, karena akan sulit sekali untuk kembali ke awal.



UKULELE


Tepat pada saat si monster melayangkan serangannya, kamu menyambutnya seperti Rafael Nadal menyambut bola tenis dengan raketnya. Ukulelemu langsung hancur berantakan saat bertemu dengan tinju si monster, tapi monster itu juga langsung menarik kembali serangannya. Hanya sekejap saja, kamu melihat tinjunya lecet akibat seranganmu. (EP: -7)

Belum sempat kamu merasa gembira, si monster merebut sisa gagang ukulele dari tanganmu. Kamu tidak sempat mempertahankannya. Yang kamu tahu, mendadak saja mukamu dipukul dengan senjatamu sendiri. Matamu berkunang-kunang dan kepalamu pusing, dan kamu bisa merasakan sakit lebam di mukamu, tapi alam bawah sadarmu segera mengambil alih. (HP: -15)

Kamu menjatuhkan diri dan berguling, masuk ke dalam gudang, dan merantai pintu.

Klik di sini untuk melanjutkan.


GARPU: LORONG BAWAH TANAH


Kamu membuka pintu tingkap, dan tepat pada saat kamu masuk ke dalam lorong, kamu mendengar pintu berhasil didobrak.

Di dalam lorong, tidak ada cahaya sama sekali. Sesaat, kamu merasa ditelan kegelapan. Kamu buru-buru menyalakan senter, dan merasa lega saat sentermu menyorotkan sinar yang, omong-omong, ternyata tidak seterang tadi. Mungkin karena baterenya sudah mau habis, mungkin juga karena terbanting-banting sedari tadi. Apa pun alasannya, kamu menyadari bahwa sentermu takkan berumur panjang, dan kamu harus bergerak cepat sebelum riwayat benda itu tamat.

Kamu mulai bergegas.

Klik di sini untuk melanjutkan.


JEBAKAN


Dari kejauhan, kamu mendengar gema raungan si monster. Ini berarti, dia sudah menemukan lorong ini juga--ataukah dia memang mengetahui keberadaan lorong ini dari awal?

Inilah waktumu untuk memasang jebakan. Kamu menancapkan pensil-pensil yang ada di dalam kotak pensil milikmu di tengah-tengah lorong. Pensil-pensil itu diraut dengan tajam, dan kamu berharap pensil-pensil itu bisa melukai si monster tak peduli sekecil apa pun. Sementara kotak pensilnya kamu taruh di depan pensil-pensil itu, berharap monster itu tersandung olehnya. Untuk memberatkan kotak pensil itu, kamu mengisinya dengan kerikil yang tersebar di lantai lorong. Untuk berjaga-jaga, setelah berhasil memasang jebakan itu, kamu melarikan diri secepatnya.

Saat jarakmu dan jebakan yang kamu pasang sudah cukup jauh, kamu menoleh ke belakang. Kamu melihat si monster berteriak kaget saat tersandung kotak pensil, dan berteriak lebih keras lagi tanda kesakitan, saat dia jatuh menimpa pensil-pensil itu. Ya, pasti akan sakit sekali, apalagi tubuh monster itu kan penuh luka-luka akibat penyakit misterius yang dideritanya. Tapi monster itu lalu mendongak, matanya tertuju padamu. Kemudian dia bangkit, dan berjalan dengan mantap ke arahmu sambil mencabut pensil-pensil yang tertancap di tubuhnya. (EP: -30)

Kamu pun langsung lari untuk menyelamatkan dirimu!

Klik di sini untuk melanjutkan.



RUANG PENYIMPANAN MAKANAN


Gara-gara kebanyakan beraksi, kamu jadi lapar lagi. Padahal belum lama berselang sejak terakhir kali kamu makan malam. Menyadari kenyataan penting ini, kamu memutuskan untuk membawa 2-3 makanan kaleng di dalam tasmu. Bahkan kamu menemukan sebotol minuman pula. Energimu jadi pulih, dan kamu memiliki cadangan makanan. Tambahan lagi, meski malu, kamu berhasil membuang air di pojokan. (HP: +35)

Klik di sini untuk melanjutkan.


DI DALAM GUDANG


Jantungmu berdebar-debar saat kamu menjatuhkan diri di lantai gudang. Nyaris saja! Tak kamu duga, rencanamu menyusuri atap gagal total, dan sebagai gantinya kamu malah harus berhadapan langsung dengan si monster. Untunglah sekarang kamu berhasil meloloskan diri. Yah, mengingat kekuatan si monster, tentu saja dalam waktu singkat dia akan berhasil merobohkan pintu gudang--mungkin sekalian dia meratakan seluruh gudang bobrok, hanya demi menangkapmu.

Kamu mulai mengobrak-abrik gudang itu, mencari-cari apa saja yang bisa kamu gunakan untuk melawan si monster. Namun, setiap benda terlihat rapuh kalau harus digunakan untuk menghadapi kekuatan si monster yang luar biasa.

Yang benar saja! Masa kamu harus menyerah begitu saja?

Kakimu tersandung sesuatu, dan kamu nyaris berteriak saking sakitnya. Maklumlah, sudah luka, masih juga kesandung-sandung. Benda sialan apa sih yang begitu keras? Kamu berjongkok dan memeriksanya. Ternyata itu bukan batu, melainkan sebuah cincin besar yang terkait pada pintu yang nyaris menyatu dengan lantai--pintu menuju ruang bawah tanah.

Kamu membuka pintu itu dengan berdebar-debar. Ternyata di bawah pintu itu bukanlah sebuah ruangan, melainkan sebuah lorong yang sangat panjang. Jangan-jangan, ini adalah jalan rahasia untuk menuju dunia bebas!

Akan tetapi monster itu pasti akan mengejarmu. Mungkin dia akan berhasil menyusul--jelek-jelek gitu, monster itu punya kelincahan yang mengejutkan. Kalau kamu tidak menghambatnya, jalan rahasia itu akan menjadi tempat kematianmu.

Sepertinya, kamu harus menyusun jebakan untuk menghambatnya.

Jika pada episode 5 kamu memilih:
1. botol plastik kecil, klik di sini.
2. garpu, klik di sini.
3. kotak pensil, klik di sini.
4. tali rafia, klik di sini.

Perhatian: Jangan sampai salah klik, karena akan sulit sekali untuk kembali ke awal.



SEPREI ANAK-ANAK


Kamu melemparkan seprei yang kamu bawa ke muka si monster. Sebelum dia sempat bergerak, kamu sudah membungkus badan si monster erat-erat. Harapanmu, monster itu akan kehabisan napas di dalam seprei dan pingsan karenanya.

Namun harapanmu kali ini, seperti banyak harapan lain pada malam ini, tidak terkabul. Si monster merobek seprei itu dengan gampang--tentu saja, ini hanya seprei anak-anak yang sudah tua--dan membebaskan diri. Kamu tidak berputus asa. Kamu masih memegangi sobekan seprei yang cukup panjang, dan kamu gunakan untuk mengikat kedua kaki raksasa itu. Raksasa itu pun jatuh tersungkur. (EP: -5)

Kamu siap untuk kabur, tapi si raksasa berhasil menangkap kakimu. Akibatnya, kamu pun jatuh terjerambab. Kakimu sedari tadi memang sudah terluka, tapi kini lututmu juga terasa sakit sekali. Sesaat, rasanya kamu ingin menyerah. (HP: -15)

Tapi lalu keinginan untuk bertahan mengambil alih. Kamu menendang muka si monster, membebaskan diri, lalu masuk ke dalam gudang dan merantai pintu.

Klik di sini untuk melanjutkan.


KOTAK PENSIL: LORONG BAWAH TANAH


Kamu membuka pintu tingkap, dan tepat pada saat kamu masuk ke dalam lorong, kamu mendengar pintu berhasil didobrak.

Di dalam lorong, tidak ada cahaya sama sekali. Sesaat, kamu merasa ditelan kegelapan. Kamu buru-buru menyalakan senter, dan merasa lega saat sentermu menyorotkan sinar yang, omong-omong, ternyata tidak seterang tadi. Mungkin karena baterenya sudah mau habis, mungkin juga karena terbanting-banting sedari tadi. Apa pun alasannya, kamu menyadari bahwa sentermu takkan berumur panjang, dan kamu harus bergerak cepat sebelum riwayat benda itu tamat.

Kamu mulai bergegas.

Klik di sini untuk melanjutkan.


JEBAKAN


Dari kejauhan, kamu mendengar gema raungan si monster. Ini berarti, dia sudah menemukan lorong ini juga--ataukah dia memang mengetahui keberadaan lorong ini dari awal?

Inilah waktumu untuk memasang jebakan. Kamu memasang tali rafia di tengah-tengah lorong, berharap bisa menjegal langkah si monster saat dia melewatinya. Tapi untuk berjaga-jaga, kamu melarikan diri secepatnya.

Saat jarakmu dan jebakan yang kamu pasang sudah cukup jauh, kamu menoleh ke belakang. Kamu melihat si monster jatuh terjerambab di tengah-tengah lorong, menandakan jebakanmu berhasil. Tapi saat dia melihatmu, dia langsung berdiri lagi dan berjalan dengan mantap ke arahmu. (EP: -10)

Kamu pun langsung lari untuk menyelamatkan dirimu!

Klik di sini untuk melanjutkan.



KULKAS


Belum pernah kamu merasa sehaus ini seumur hidupmu. Tapi kamu bukan orang bodoh. Kamu tidak menenggak air seperti orang yang barusan ketemu danau di gurun pasir, karena hal itu akan membuat perutmu sakit. Lagi pula, kamu tidak ingin kebelet di tengah-tengah pertempuran penting. Jadi kamu minum seadanya, lalu membawa 2 botol minuman cadangan dalam tasmu. Kini kamu siap bertempur lagi. (HP: +25)

Klik di sini untuk melanjutkan.


BOTOL PLASTIK KECIL: LORONG BAWAH TANAH


Kamu membuka pintu tingkap, dan tepat pada saat kamu masuk ke dalam lorong, kamu mendengar pintu berhasil didobrak.

Di dalam lorong, tidak ada cahaya sama sekali. Sesaat, kamu merasa ditelan kegelapan. Kamu buru-buru menyalakan senter, dan merasa lega saat sentermu menyorotkan sinar yang, omong-omong, ternyata tidak seterang tadi. Mungkin karena baterenya sudah mau habis, mungkin juga karena terbanting-banting sedari tadi. Apa pun alasannya, kamu menyadari bahwa sentermu takkan berumur panjang, dan kamu harus bergerak cepat sebelum riwayat benda itu tamat.

Kamu mulai bergegas.

Klik di sini untuk melanjutkan.


JEBAKAN


Dari kejauhan, kamu mendengar gema raungan si monster. Ini berarti, dia sudah menemukan lorong ini juga--ataukah dia memang mengetahui keberadaan lorong ini dari awal?

Inilah waktumu untuk memasang jebakan. Kamu menancapkan garpu di tengah-tengah lorong. Lorong itu sempit, jadi ada kemungkinan besar monster itu menginjak garpu itu. Tapi untuk berjaga-jaga, kamu melarikan diri secepatnya.

Saat jarakmu dan jebakan yang kamu pasang sudah cukup jauh, kamu menoleh ke belakang. Kamu melihat si monster berteriak sambil memegangi kakinya, menandakan jebakanmu berhasil. Tapi saat dia melihatmu, dia langsung menurunkan kakinya yang sakit, lalu berjalan dengan mantap ke arahmu. (EP: -10)

Kamu pun langsung lari untuk menyelamatkan dirimu!

Klik di sini untuk melanjutkan.


LAYANG-LAYANG


Dengan cepat kamu melingkari kedua tangan si monster yang siap untuk memukulmu, lalu mengikatnya erat-erat. Sebelum si monster sempat bereaksi, kamu menggunakan lidi yang menjadi tulang layang-layang tersebut untuk mencolok matanya.

Sayangnya, kamu kurang perhitungan di sini. Mata si monster terlalu tinggi untukmu. Yang bisa kamu jangkau hanyalah lubang hidungnya. Oke, tak masalah. Lubang hidung yang dicolok dengan keras tetap akan terasa sangat sakit. Maka tanpa belas kasihan, kamu menyodokkan lidi itu ke lubang hidungnya dalam-dalam. Kamu mengharapkan bakal melihat darah segar mengucur dari hidung si monster, namun sebaliknya, yang keluar adalah cairan bening mirip ingus. Euw!! (EP: -15)

Pokoknya, si monster kelihatan kesakitan, dan itu berarti seranganmu masuk! Mumpung dia sedang bergulat dengan rasa sakit, sementara kedua tangannya terkunci, kamu melarikan diri ke tempat persembunyian terdekat. Kamu masuk ke dalam gudang dan merantai pintunya.

Klik di sini untuk melanjutkan.


TALI RAFIA: LORONG BAWAH TANAH


Kamu membuka pintu tingkap, dan tepat pada saat kamu masuk ke dalam lorong, kamu mendengar pintu berhasil didobrak.

Di dalam lorong, tidak ada cahaya sama sekali. Sesaat, kamu merasa ditelan kegelapan. Kamu buru-buru menyalakan senter, dan merasa lega saat sentermu menyorotkan sinar yang, omong-omong, ternyata tidak seterang tadi. Mungkin karena baterenya sudah mau habis, mungkin juga karena terbanting-banting sedari tadi. Apa pun alasannya, kamu menyadari bahwa sentermu takkan berumur panjang, dan kamu harus bergerak cepat sebelum riwayat benda itu tamat.

Kamu mulai bergegas.

Klik di sini untuk melanjutkan.


DAPUR


Kamu mulai mengaduk-aduk kitchen set dan mendapatkan benda yang sudah kamu inginkan sedari tadi. Sebilah pisau panjang, merk Ginsu pula! Kalau pisau ini memang setajam iklannya--kamu ingat banget waktu model iklannya memotong kaleng menjadi dua--si monster tak bakalan menang melawanmu. Meski kamu sudah mendapatkan senjata pamungkas, kamu tidak berniat cari masalah dengan kembali ke lantai dua dan bertarung dengan si monster. Tidak, kamu tidak ingin mengambil risiko. Yang kamu inginkan hanya satu: keluar dari tempat ini hidup-hidup. (EP: -20)

Klik di sini untuk melanjutkan.


JEBAKAN


Dari kejauhan, kamu mendengar gema raungan si monster. Ini berarti, dia sudah menemukan lorong ini juga--ataukah dia memang mengetahui keberadaan lorong ini dari awal?

Inilah waktumu untuk memasang jebakan. Kamu menuangkan bensin yang kamu ambil dengan sedemikian rupa hingga bensin itu menyebar. Lalu kamu menyalakan pemantik dan menyulut api. Kini, di antara kamu dan si monster terdapat lautan api yang cukup besar. Kamu rada yakin bahwa monster itu tak bakalan berani menyeberangi kobaran api hanya untuk menangkapmu.

Tapi tetap saja, kamu melarikan diri secepatnya. Saat jarakmu dan kobaran api sudah cukup jauh, kamu menoleh ke belakang. Matamu terbelalak saat melihat si monster muncul dari dalam kobaran api sambil berteriak keras. Dia kelihatan hangus, tapi sepertinya masih sanggup menangkapmu. (EP: -30)

Kamu pun langsung lari untuk menyelamatkan dirimu!

Klik di sini untuk melanjutkan.


UJUNG LORONG


Akhirnya kamu mencapai ujung lorong, dengan jalan buntu dan tangga di hadapanmu. Kamu memanjat tangga dan mendorong langit-langit, di mana terdapat pintu tingkap seperti jalan masuk. Kamu mendorong tingkap itu, tepat saat sentermu mati.

Lalu kamu tiba di ruangan itu.

Dan yang pertama kamu lihat adalah dia lagi. Wanita dalam lukisan itu, menunduk menatapku, dengan tangan mengarahkan pisau ke bawah--siap untuk menusukmu. Karena kaget, kamu berguling menjauh. Namun saat kamu berdiri lagi dan siap kabur, wanita itu tetap berada di tempatnya--dalam lukisan, dengan mata mengikutimu ke mana-mana, bibir tersenyum culas, dan tangan memegangi pisau yang menyembul dari pangkuannya. Mungkin ada roh yang berdiam dalam lukisan itu--roh yang senang menakut-nakuti pendatang baru di rumah ini. Mungkin juga lukisan itu memang dilukis oleh pelukis yang jenius banget. Yang jelas, wanita itu tak mungkin menyakitimu.

Namun masih ada masalah lain lagi. Kamu kembali ke ruang tamu! Setelah berjuang mati-matian, nyaris mati karena ketakutan dan kecapekan, kamu malah kembali ke rumah yang tak punya jalan keluar ini. Kamu terenyak di atas lantai, merasakan keputusasaan menggerogoti semangatmu. Kamu bukan orang yang cengeng, namun kini air matamu mulai bercucuran. Kamu akan mati di rumah ini, dan takkan ada yang menyadarinya.

Tidak! Kamu tidak ingin mati! Masa depanmu masih panjang--dan cemerlang pula. Mungkin kamu tak sanggup membuat novel sesukses novel pertamamu, tapi apa salahnya membuat novel jenis berbeda? Belum lagi kamu masih akan kuliah, lulus dan mendapatkan gelar S1, lalu kerja di bidang pilihanmu. Dan selalu akan ada kesempatan bagi orang yang siap menerimanya.

Sekarang juga begitu. Kamu masih punya kesempatan. Tenagamu pun muncul lagi. Kamu mendorong sofa hingga menutupi pintu tingkap yang merupakan pintu keluar lorong rahasia. Sekarang si monster akan mendapat kesulitan keluar!

Setengah mencoba-coba, kamu membuka pintu depan. Berbeda dengan harapanmu, pintu itu tetap terkunci. Kamu memeriksa pintu itu, dan baru menyadari bahwa ternyata ada selot di bagian bawah pintu! Kamu membuka selot itu--dan pintu itu pun terbuka.

Ternyata kamu bisa meloloskan diri!

Kamu berlari ke luar pekarangan, menghirup udara kebebasan dalam-dalam. Lalu, sekarang muncul masalah berikutnya. Dengan apa kamu meloloskan diri?

Baca episode berikutnya.


INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:


Hai para peserta MysteryGame@Area47!

Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan nama panggilan diikuti dengan jawaban atas pertanyaan ini:

BAGAIMANA CARANYA KAMU KABUR DARI RUMAH ITU? (Pilih antara: jalan kaki, naik sepeda jelek, menelepon taksi, menelepon agen properti. Tidak perlu sebutkan alasannya.)

Di dalam email, tuliskan hasil HP dan EP yang kamu dapatkan hari ini. Lexie tunggu jawabannya sampai enam hari lagi. Jangan sampai telat ya mengirimkan jawabannya!

Good luck, everybody!

xoxo,
Lexie

Sunday, August 28, 2011

MysteryGame@Area47: THE WRITER, Episode 6

Begini ceritanya. Saat memeriksa ruang loteng itu, kamu tak lupa memeriksa jendela yang kamu harapkan bisa jadi tempat pelarianmu. Jendela itu, seperti harapanmu, tidak diteralis. Namun, pada saat kamu melongok ke bawah, kamu jadi mengetahui bahwa jarak antara atap dan tanah terlalu jauh untuk kamu seberangi--kecuali dengan merisikokan patah tangan, kaki, atau bahkan leher. Amit-amit, kamu masih ingin hidup dalam anggota tubuh lengkap. Apalagi, dengan kondisi kakimu yang terluka sekarang ini, kamu tidak yakin bisa mendarat dengan baik. Jadi, kamu pun memutuskan untuk menjalankan ide lain.

Kamu akan mengurung si monster di atas loteng itu.

Kamu membuka jendela itu, dengan maksud supaya si monster mengira kamu berhasil meloloskan diri, lalu turun kembali ke ruang bermain. Pandanganmu langsung tertuju pada pintu yang sedang diterjang-terjang oleh si monster. Perasaan panik membuncah dalam dadamu saat kamu melihat salah satu engsel sudah terlepas. Dalam waktu singkat, si monster akan berhasil masuk ke dalam. Kamu harus menemukan tempat persembunyian secepatnya.

Kamu melayangkan pandangan ke sekelilingmu. Tidak banyak tempat persembunyian yang ada. Tempat-tempat seperti lemari dan kolong meja terlalu gampang kelihatan--bisa-bisa kamu tertangkap basah dalam waktu singkat. Tidak, kamu tidak akan ngumpet di tempat yang begitu gamblang. Kamu harus mencari tempat yang lebih tersembunyi, yang mungkin takkan terpikir dalam otak si monster yang sepertinya tidak cerdas-cerdas amat itu. Kamu kan penulis muda berbakat--kamu takkan bisa mencapai posisi itu tanpa kecerdasan. Masa kamu tidak bisa mengakali si monster bodoh itu?

Akhirnya kamu menemukan tempat ideal itu: sebuah celah sempit yang terbentuk antara dua lemari yang membentuk huruf L.

Kamu menyelipkan tubuh di antara kedua lemari. Ugh, sempit banget, sampai nyangkut! Mending gara-gara otot besar dan kencang, ini gara-gara perutmu yang mulai membuncit! Kamu harus mengurangi makan, dan lebih banyak olahraga. Jadi penulis muda berbakat berarti sering difoto-foto, dan kamu tidak mau perutmu kelihatan seperti sedang menderita penyakit busung lapar. Yah, beginilah risiko bekerja dalam profesi yang memaksamu untuk sering-sering duduk. Perut jadi korban kemalasan.

Waktu kamu berbelok ke celah di antara lemari dan dinding, kamu sudah nyaris tak bisa bernapas. Kamu nyaris putus asa menyumpalkan dirimu ke celah yang terlalu sempit itu, tapi kamu sadar, saat ini kamu kelihatan banget. Kalau sampai si monster berhasil masuk ke dalam ruangan, dia akan menemukan dirimu dalam keadaan memalukan--terjepit di antara lemari--dan kamu akan ditertawakan sambil dibanting-banting. Tidak, kamu tidak sudi mengambil risiko itu. Tepat saat pintu itu hancur oleh terjangan terakhir si monster, kamu berhasil menyelinap ke dalam tempat persembunyian ideal itu.

Selamat!

Kamu mengintip dari celah antar dua lemari, dan melihat si monster sedang menoleh ke kiri dan ke kanan, tentunya sedang mencarimu. Kamu melihatnya melongok ke bawah meja (tuh kan? Kalau kamu ngumpet di sana, kamu sudah sedang bonyok dipukuli!). Lalu dia berdiri lagi dan memandangi seluruh ruangan. Kemudian dia berjalan ke arahmu, terpincang-pincang, dan kamu langsung mengkerut sampai ke pojokan. Kamu menyadari, kamulah yang membuatnya terluka begitu parah, dan dia akan memastikan kamu membayarnya. Satu-satunya caramu untuk mencegahnya adalah melumpuhkannya terlebih dahulu.

Kamu menahan napas, sementara napas si monster malah semakin keras. Kamu memejamkan mata rapat-rapat saat dia membuka pintu salah satu lemari yang melindungimu, dan memejamkan mata semakin rapat saat dia membanting kedua pintu itu dengan kesal. Rasanya dia begitu dekat, siap untuk menarikmu ke luar dan mencabik-cabikmu. Pada saat dia menutup kedua pintu lemari terakhir dan berjalan pergi, kamu baru bisa merasa lega.

Berhubung si monster sudah menjauh, kamu mengintip lagi. Kamu melihat si monster berjalan pelan namun pasti, menaiki tangga menuju loteng. Rasanya gregetan banget, tak sabar menunggu dia tiba di atas sehingga kamu bisa melakukan rencanamu. Tapi kamu tidak berani melangkah seujung jari pun selama dia masih kelihatan olehmu. Soalnya, itu berarti dia juga bisa melihatmu.

Begitu ujung kakinya lenyap dari pandangan, kamu langsung mengeluarkan diri dari tempat persembunyian. Brengsek, susah banget! Mana kamu harus melakukannya tanpa suara lagi. Kalau sudah begini, kamu merasa harus menaruh hormat pada Naruto yang jago gerak kilat tanpa suara. Jadi ninja memang tidak gampang.

Akhirnya kamu berhasil melepaskan diri dari celah di lemari. Kamu mengendap-endap ke bawah tangga. Dari sana, kamu bisa melihat si monster sedang melongok ke luar jendela, persis seperti dugaanmu. Kamu langsung menarik tangga yang menghubungkan ruang bermain dan loteng. Tarikan itu menimbulkan bunyi bergeser yang lumayan keras, mengagetkanmu dan juga si monster. Si monster langsung meraung marah karena diperdaya, sementara kamu jadi panik luar biasa. Dengan sekuat tenaga kamu menggeser tangga itu hingga jauh dari jangkauan si monster. Kamu tak sabar untuk meninggalkan ruangan itu, tapi kamu sempat menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang.

Kamu bisa melihat pandangan si monster padamu--tajam, menusuk, penuh kebencian.

Kamu buru-buru hengkang dari situ.

Sekarang kamu harus melakukan segala yang kamu perlu. Kamu harus mengambil semua barangmu yang terpenting--laptop, BlackBerry, iPad, dompet. Setelah itu, kamu akan pergi melalui pintu belakang. Pintu depan terlalu tebal untuk didobrak, tapi pintu belakang sepertinya tidak terlalu sulit. Jelek-jelek kamu akan menghantamkan meja makan ke pintu itu (tentunya, dengan catatan kamu sanggup mengangkat meja makan--dipikir-pikir lagi, mungkin lebih baik kamu hantamkan dengan kursi saja. Sepertinya itu lebih masuk akal).

Saat melewati ruang tamu, lagi-lagi mata kamu tertuju pada lukisan di dinding. Kali ini kamu betul-betul kaget. Wanita dalam lukisan itu, dengan serangai lebarnya yang kejam, tampak seolah-olah hendak berdiri. Kamu tidak pernah memperhatikan selama ini, apakah bokongnya menempel pada kursi atau tidak--tapi saat ini tidak. Lebih seram lagi, kedua tangannya yang berada di pangkuan itu, sepertinya sedang mencabut sesuatu yang disembunyikannya dari pandangan orang--sebilah pisau?

Gila. Kamu bersumpah tak bakalan melihat-lihat ke lukisan itu lagi.

Setelah kamu selesai mengumpulkan peralatanmu, kamu pun tiba di dapur. Kamu sudah siap untuk mendobrak pintu belakang dengan sekuat tenaga, namun saat kamu menyentuh pintu itu, ternyata pintu itu langsung terbuka dengan gampangnya.

Eh? Kok bisa? Mungkinkah si monster sempat membuka pintu itu karena yakin kamu tidak akan sanggup lolos darinya?

Apa pun yang terjadi, sekarang kamu siap kabur.

Tapi tunggu dulu. Ada yang harus kamu lakukan di situ.

Saat ini, kamu menyadari bahwa kamu sudah lapar, haus, dan kebelet banget. Kamu kebelet dan kepingin pergi ke kamar mandi di dekat dapur, ingin pergi ke kulkas untuk minum sesuatu, dan ingin masuk ke dalam ruang penyimpanan makanan untuk mengambil roti, tapi kamu juga ingin mengobrak-abrik dapur untuk mencari senjata. Kamu tahu waktu kamu terbatas, dan kamu hanya bisa memilih satu di antaranya.

Baca episode berikutnya.


INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:

Hai para peserta MysteryGame@Area47!

Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan nama panggilan DAN jawaban dari pertanyaan di bawah ini:

APA YANG AKAN KAMU PILIH? (Pilih antara: kamar mandi, ruang penyimpanan makanan, kulkas, dapur. Tidak perlu sebutkan alasannya.)

Di dalam email tersebut, jangan lupa tuliskan hasil nilai HP dan EP dari episode 4 alias episode battle #1.

Lexie tunggu jawabannya sampai enam hari lagi.

Good luck, everybody!


xoxo,
Lexie

Sunday, August 21, 2011

MysteryGame@Area47: THE WRITER, Episode 5

Tertatih-tatih akibat kakimu yang sakit, kamu menghampiri kertas-kertas yang dipenuhi gambar ala anak-anak yang ditempel di dinding. Terlihat tidak bermakna, namun pada saat kamu menaruh perhatian lebih lanjut, justru gambar-gambar itu menceritakan apa yang pernah terjadi di rumah ini. Sketsa rumah yang buruk, ditambah dengan gambar sepasang orang dewasa yang sedang menggandeng dua anak laki-laki yang masih kecil, menandakan rumah ini pernah ditinggali oleh keluarga kecil yang bahagia. Melihat bentuk mainan-mainan itu, sebagian tergolong cukup modern (meski tidak ada Thomas-Thomas-an apalagi Transformer), tentunya keluarga ini bukan keluarga bangsawan yang dimaksud. Kemungkinan keluarga itu pernah tinggal di sini sekitar 20-30 tahun lalu.

Kamu menyentuh gambar yang berisi muka anak kecil yang dicoret-coret, dengan tulisan MATI berwarna merah--dan perasaanmu langsung menjadi tidak enak. Gambar itu kelihatan mengerikan sekali. Artinya pun tidak kalah tragis. Salah satu dari kedua anak itu perlu disingkirkan. Dugaan awalmu adalah salah satu dari anak itu menderita penyakit tertentu. Oleh karena itu, dia harus diungsikan ke kamar di atas loteng.

Namun melihat monster itu, kamu tahu dugaanmu salah total.

Sebagai seorang penulis, kamu pandai menduga-duga--ditambah dengan logika dan kemampuan untuk menelaah fakta-fakta yang ada, kamu mulai mereka-reka, kejadian apa yang pernah terjadi di rumah mengerikan ini.

Saat kamu mendengar monster itu meraung "Mati!", kamu langsung menyadari bahwa monster itu pastilah orang yang mencoret-coret muka anak dalam gambar itu--sekaligus pelukis gambar tersebut. Yah, monster itu adalah salah satu dari kedua anak itu. Anak yang menuliskan kata MATI dalam gambar itu, dan anak yang mengukir kata MATI di ruang bawah tanah. Melihat ukuran badannya yang tidak biasa--dan anggota-anggota tubuhnya juga--tentunya dialah menderita penyakit yang menyeramkan--penyakit yang membuat pertumbuhan badannya melebihi manusia normal, penyakit yang berefek buruk pada kulitnya...

Kusta?

Ketakutan langsung mencekam hatimu. Amit-amit, jangan sampai kusta. Jangan sampai kamu ketularan penyakit mengerikan itu. Lagi pula, kusta kan memakan tubuhnya, bukannya membuat tubuhnya makin besar. Pasti ini penyakit lain, dan kamu hanya bisa berharap penyakit itu tidak menular.

Fokus. Fokus pada permasalahan.

Anak itu menderita penyakit, dan dia iri pada saudaranya yang sehat. Saudaranya pun diungsikan ke kamar atas, dihukum karena bernasib beruntung. Sementara itu, si anak sakit memaksa seluruh isi rumah untuk mencurahkan perhatian padanya. Namun, rupanya nasib berkata lain. Satu per satu pergi dari rumah itu--sisanya mati mendahului si anak sakit. Pada akhirnya, si anak sakit tumbuh menjadi monster sakit, hidup sendirian di rumah ini.

Kamu bertanya-tanya, siapa yang menjadi contact person si agen properti, orang yang menyewakan rumah ini? Apakah salah satu anggota keluarga yang melarikan diri?

"MATI!"

Gerungan di luar kamar membuatmu tersentak. Monster itu sudah mendekat. Kamu tidak tahu berapa lama pintu kamar bisa bertahan dari terjangan si monster, jadi kamu harus kabur secepatnya.

Kamu menarik tangga menuju loteng, lalu mendaki tangga itu sambil tersaruk-saruk dengan salah satu tangan memegang senjatamu. Kakimu makin sakit saja, tapi kamu harus menahannya demi menyelamatkan hidupmu. Kamu tiba di kamar gersang di atas loteng, dan merasakan kelegaan saat melihat sinar bulan menyeruak melalui jendela kecil di atas atap. Jendela kecil itu juga merupakan salah satu hal yang kamu andalkan: kalau memang semua jalan tertutup, hanya jendela inilah satu-satunya akses menuju luar rumah.

Kamu menarik tangga itu kembali ke atas. Dengan demikian, meskipun si monster sanggup menghancurkan pintu ruang bermain, dia takkan bisa mengejarmu ke atas sini. Di sana, kamu mulai berkonsentrasi. Kamu harus mencari sesuatu yang bisa kamu gunakan untuk menolongmu. Sesuatu yang bisa muat di dalam sakumu.

Kamu membuka laci nakas di samping tempat tidur, dan mendesah kecewa saat melihat isinya kosong. Kamu membuka lemari, yang ternyata juga kosong. Akhirnya, dengan putus asa kamu melongok ke bawah tempat tidur.

Tidak diduga, ada beberapa benda di bawahnya. Memang, hanya ada sedikit sekali benda yang berguna, tapi kamu tahu setiap benda pasti memiliki kegunaan tak terduga. Di sana ada botol plastik kecil, garpu, kotak pensil, dan tali rafia.

Saat kamu meraih benda itu, mendadak sebuah ide luar biasa terbersit dalam otakmu. Lalu, dengan penuh tekad, kamu pun memasang tangga dan turun kembali ke ruang bermain.

Baca episode berikutnya.


INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:

Hai para peserta MysteryGame@Area47!

Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan nama panggilan DAN jawaban dari pertanyaan di bawah ini:

BENDA APAKAH YANG KAMU AMBIL DARI KOLONG TEMPAT TIDUR? (Pilih antara: botol plastik kecil, garpu, kotak pensil, tali rafia. Tidak perlu sebutkan alasannya.)

Di dalam email tersebut, tuliskan nilai HP dan EP dari episode 4 alias episode battle #1 yang diadakan minggu lalu.

Lexie tunggu jawabannya sampai enam hari lagi.

Good luck, everybody!


xoxo,
Lexie

Sunday, August 14, 2011

MysteryGame@Area47: THE WRITER, Episode 4 (Battle #1)

Sejauh ini, kamu memiliki HP (Health Points) sebesar 100 pts. Dalam perjalananmu, setiap kali kamu menemukan kata-kata seperti (HP: -x), itu berarti HP-mu akan dikurangi dengan bilangan yang diwakili x. Sementara musuhmu memiliki 150 EP (Enemy Points), yang akan dikurangi setiap kali kamu bertemu kata-kata seperti (EP: -x). Siapkan kertas dan alat tulis. Ini saatnya kemampuan berhitungmu diuji bersamaan dengan keberanianmu!

Jika pada Episode 1 kamu memilih: 

1. Kamar depan yang terletak di sebelah ruang tamu, yang menghadap ke halaman depan, klik di sini
2. Kamar belakang yang terletak di dekat dapur, yang tidak jauh dari tangga menuju ruang bawah tanah, klik di sini
3. Salah satu dari dua kamar di lantai atas sekaligus satu-satunya kamar yang memiliki akses dekat ke kamar mandi, klik di sini

Perhatian: Jangan sampai salah klik, karena akan sulit sekali untuk kembali ke awal. 


DAPUR

Kamu berjalan menyeberangi dapur dan berjalan menuju pintu belakang. Di sini, cahaya bulan menyeruak melalui jendela, membuat sentermu tak terlalu berguna lagi. Kamu memutar pintu hendel, dan menyadari bahwa pintu itu terkunci. Aneh sekali, bukannya tadi kamu sempat mengambil senjata--saat ada tamu gaje yang mengetuk-ngetuk--dan tidak menguncinya setelah itu? Kenapa sekarang mendadak terkunci?

Mungkin saja hendel pintu itu hanya menyangkut. Toh pintu ini memang sudah tua, siapa tahu di dalamnya karatan banget. Kamu pun menggedornya kuat-kuat, namun pintu itu tetap tidak bisa dibuka. Akhirnya kamu memutuskan bahwa mungkin saja kamu lupa mengunci pintu dan mengeluarkan rencengan kunci dari sakumu. Kamu mencoba kunci berlabel 'Pintu Belakang', namun kunci itu sama sekali tidak bisa digerakkan pada saat kamu tancapkan pada lubangnya. sArghh, mengesalkan! Setelah semua yang kamu alami untuk tiba di sini, masalah sekecil ini memaksamu untuk kembali? Enak saja. Dikiranya kamu begitu gampang putus asa?

Kamu sudah siap untuk melakukan berbagai upaya untuk membuka pintu itu saat tercium bau yang sangat tidak enak dari belakang punggungmu. Bau yang mirip bau apek yang amat sangat, yang menyedot semua udara bersih, dan lebih parah lagi dari itu. Ada sesuatu yang mengingatmu pada luka-luka... Astaga, sepertinya itu bau nanah tapi dalam ukuran yang sangat bau.

Kamu menoleh dan berhadapan dengan makhluk paling menjijikkan yang pernah kamu lihat.

Klik di sini untuk melanjutkan.


GERGAJI


Kamu merunduk untuk menghindari tamparan itu dan menyelinap melalui bawah lengan si monster. Baunya luar biasa, tapi kamu harus bertahan demi menyelamatkan hidupmu. Yang perlu kamu lakukan hanyalah mencari celah supaya bisa menggunakan gergaji yang kamu pegangi dari tadi. Sial, gergaji itu sudah tumpul karena lama tak digunakan, tapi tadi kamu sempat membersihkannya dan mencobanya. Asal kamu berhasil mengayunkan benda itu dengan cukup keras hingga menancap di daging monster itu, kamu hanya perlu menariknya untuk menimbulkan satu luka besar.

Saat kamu sedang menahan napas supaya tidak menghirup bau asam yang menguar dari ketek si monster aneh, kamu menyadari bahwa titik lemah yang sedang kamu cari-cari itu ada di depan mata. Kamu mendorong gergaji itu sekuat tenaga ke atas, menancap tepat pada ketek si monster, lalu kamu tarik gergaji yang sudah menancap itu dengan sekuat tenaga. (EP: -30)

Darah encer menyembur ke samping mukamu, membuatmu spontan menutup mata. Si monster yang terluka menggerung dan mengayunkan pukulan dengan tangannya yang terluka. Kali ini pukulannya mengenai kepalamu. Kamu terlempar ke depan, tersuruk ke depan meja makan, dengan kepala yang seperti baru saja dihantam balok kayu. Sesaat penglihatanmu jadi gelap, namun kamu berhasil memaksakan diri untuk tetap berdiri. (HP: -10)

Saat kamu berhasil memulihkan penglihatanmu, kamu baru menyadari kenapa monster itu tidak menyerangmu lagi. Tangan kanannya kini tergantung-gantung dengan gaya tak wajar, sekalipun rupanya masih bisa digunakan. Namun, meski sangat kesakitan, monster itu juga sangat marah dengan apa yang telah kamu perbuat padanya. Dengan penuh rasa ngeri, kamu pun mengambil keputusan. Kamu mengambil langkah seribu, melarikan diri menuju ruangan depan.

Klik di sini untuk melanjutkan.


KAMAR DEPAN

Perlahan-lahan, kamu membuka pintu kamar, hanya secuil saja sehingga kamu bisa mengintai keadaan di luar. Sebelah kakimu menahan pintu, siap untuk menutupnya kembali kalau-kalau ada bahaya yang menerkam. Kamu menyorot sentermu ke luar, namun yang menyambutmu hanyalah kesunyian belaka. Sesaat kamu merasa ragu, tapi lalu kamu memutuskan untuk keluar dari kamar, karena itu lebih baik daripada memelototi ruangan gelap yang tak menyenangkan.

Klik di sini untuk melanjutkan.


GUNTING

Kamu menyembunyikan diri di balik sofa. Tanganmu menggenggam sebuah gunting besar yang tajam, tipe gunting yang mengundang respek dari orang yang menggunakannya dan harus diperlakukan dengan hati-hati supaya tidak melukai orang-orang di sekitarnya. Pengetahuan biologimu tidak terlalu dalam, tapi kamu tahu ada pembuluh arteri di bagian paha manusia--dan mungkin pada monster itu juga. Kalau kamu berhasil melukai pembuluh arteri itu, darah akan keluar tanpa henti dan monster itu akan mati kehabisan darah--kecuali kalau kamu memutuskan untuk menyelamatkannya.

Kamu menunggu dalam kegelapan. Jantungmu memukul-mukul dadamu dengan kuat, membuatmu ketakutan kalau-kalau suara itu menggema ke seluruh ruangan. Pada akhirnya, kamu mendengar bunyi napas yang perlahan, namun keras.

Monster itu sudah mendekat.

Tidak ada langkah yang terdengar. Hanya bunyi napas yang menandakan monster itu semakin mendekat. Untuk ukuran makhluk raksasa, gerakan monster ini tergolong cukup cepat dan tak bersuara. Mungkin itulah sebabnya dia berhasil lenyap begitu saja setelah mengetuk pintu tadi sore dan membuatmu kebingungan.

Tapi saat ini, mata kamu sudah mulai terbiasa dengan kegelapan. Saat kamu mengintip dari balik sofa, kamu bisa melihatnya--besar, pelan, dan hati-hati, menyeberangi ruangan dengan langkah pasti. Jantungmu berdebar semakin cepat saat dia berjalan menuju arahmu. Saat monster itu melewati sofa tempatmu bersembunyi, inilah saatnya kamu bertindak! Kamu mengayunkan gunting itu, keras dan cepat, pada paha monster itu. (EP:-20)

Gunting itu menancap dengan sempurna. Namun, tidak ada darah yang menyembur keluar. Kamu hanya bisa terpana di tempat saat monster itu berteriak luar biasa keras. Saking syoknya, kamu tidak sadar bahwa dia sudah berhasil mencabut gunting itu. Yang kamu tahu adalah mendadak saja gunting itu dilemparkan ke arahmu--tidak terlalu tepat, tapi berhasil mengenai betismu. Berhubung kamu manusia biasa, luka serempet itu pun mengeluarkan darah segar. (HP: -20)

Tapi luka itu tidak boleh menghalangimu. Saat ini si monster mengalami luka yang lebih parah darimu, dan luka itu memberimu kesempatan. Kamu pun lari ke atas tangga dan, dengan upaya mati-matian, menyelamatkan hidupmu sendiri.

Klik di sini untuk melanjutkan.


KOTAK PERALATAN


Kamu merunduk untuk menghindari tamparan itu dan menyelinap melalui bawah lengan si monster. Baunya luar biasa, tapi kamu harus bertahan demi menyelamatkan hidupmu. Yang perlu kamu lakukan hanyalah mencari celah supaya bisa menggunakan senjata-senjatamu, yaitu empat buah obeng yang kamu keluarkan dari kotak peralatan. Senjata-senjata itu kecil, dua di antaranya sudah karatan, namun pasti akan bisa mengakibatkan luka yang cukup berarti jika kamu pandai-pandai menggunakannya.

Saat kamu berhasil meloloskan diri dari si monster, kamu menyadari bahwa bagian belakang lehernya merupakan sasaran empuk. Dengan menggunakan tenaga semaksimal mungkin, kamu menghunjamkan salah satu obeng pada punggung bagian atas monster itu. Obengmu menusuk tak terlalu dalam, tapi monster itu langsung berteriak kesakitan.

Monster itu memutar tubuhnya dan menamparmu hingga kau jatuh terpelanting ke salah satu sudut ruangan. Rasanya sakit sekali, tapi kamu harus tetap bergerak. Luka pertama yang kamu sebabkan tidak cukup untuk melumpuhkannya. Kamu tidak sampai hati untuk membunuhnya, tapi kamu juga tidak mau belas kasihan membuatmu terbunuh.

Kamu meloncat bangkit dan menyerang lagi. Kali ini kamu mengincar pahanya, yang tidak sulit untuk dicapai saat kamu merunduk untuk menghindari pukulan tangannya. Sial, pahanya itu keras seperti batang pohon! Obeng keduamu patah, dan kamu terpelanting lagi saat dia menendangmu dengan kaki yang kamu serang itu. Kamu sempat menghindar dari lututnya, tapi kamu tidak berhasil menghindari telapak kakinya yang mengenai perutmu. Seluruh isi perutmu rasanya seperti remuk, dan kamu nyaris tak sanggup berdiri lagi. (HP: -12)

Monster itu senang melihatmu tidak berdaya. Dia mengangkat tangannya, siap untuk memberimu pukulan terakhir. Kamu tidak sudi untuk menyerah. Kamu tahan semua rasa sakitmu, lalu kamu melompat ke pinggiran saat tinju itu menghantam dinding dan menembusnya. Kamu hanya bisa terbelalak, menyadari bahwa kamu pasti akan remuk kalau sampai tinju itu mengenaimu. Tapi gerakanmu cepat. Sebelum dia menarik tangannya dari dinding, kamu menusuk lengannya dengan obengmu yang ketiga. Seperti serangan pertamamu, obeng itu tidak menusuk terlalu dalam, tapi membuat monster itu berteriak lagi.

Untuk keempat kalinya, kamu menyerang lagi. Kali ini kamu sengaja menjatuhkan diri sebelum dia mencapaimu, lalu menancapkan obengmu yang terakhir di telapak kakinya. Kali ini seranganmu menembus telapak kakinya, dan monster itu langsung jatuh berlutut sambil menggerung kesakitan.

Celaka. Kamu terbaring di bawah lantai, dan, meski sedang berlutut, monster itu menjulang di atasmu!

Kamu berguling saat monster itu melayangkan tinjunya ke arah mukamu. Tinju itu mengenai lantai, dan sepertinya menembusnya. Kamu tidak mau repot-repot memastikannya karena kamu terlalu sibuk menyelamatkan diri. Kamu pikir, semua luka itu pasti sudah cukup untuk memperlambat gerakan si monster aneh. (EP:-25)

Jadi, kamu pun melarikan diri ke ruangan depan.

Klik di sini untuk melanjutkan.


SANG MONSTER


Makhluk itu mirip manusia, namun dengan ukuran yang jauh melebihi rata-rata. Tubuhnya sangat tinggi--mungkin hampir dua meter tingginya--dan besarnya tidak kira-kira. Dibandingkan dengannya, tubuhmu terasa kecil dan rapuh. Tenagamu takkan ada artinya bila harus menghadapinya. Namun bukan hanya ukuran tubuhnya yang membuatmu terperangah. Matanya sangat besar, seolah-olah nyaris keluar dari kelopak matanya, dengan pupil yang memenuhi bagian putih mata itu, membuatmu tersadar bahwa orang inilah yang mengetuk-ngetuk pintu depan tadi sore. Namun bukan hanya tubuh dan matanya yang ukurannya melebihi ukuran manusia biasa, melainkan juga hidungnya yang bengkok, mulutnya yang meringis memperlihatkan gigi-gigi besar dan hitam, dan bibirnya yang tebal.

Yang paling mengerikan adalah kulit makhluk tersebut. Kulit itu mengelupas, memperlihatkan daging berwarna putih dan merah muda yang menebarkan bau busuk nanah yang tercium olehmu tadi. Sedangkan bau apek berasal dari perban-perban kecokelatan yang sepertinya digunakan oleh makhluk tersebut untuk menutupi kulit-kulit yang mengelupas itu. Sekilas makhluk itu mirip mumi, tapi mumi tak bisa merasakan kesakitan. Sebaliknya, wajah makhluk ini selalu berkerut-kerut--seolah-olah dia selalu meringis kesakitan akibat luka-luka yang mengelupas tersebut.

Saat kamu sedang terpana dengan muka ngeri bercampur takjub, makhluk yang mirip monster itu menggeram padamu, "Mati!" seraya menampar ke arahmu.

Dan saat maut mendekatimu, kamu pun menyadari apa yang terjadi di rumah itu.

Jika pada Episode 2 kamu memilih: 

1. Gergaji, klik di sini.
2. Kotak peralatan, klik di sini.
3. Pompa, klik di sini.
4. Dongkrak, klik di sini.
5. Alat pemanggang outdoor, klik di sini.

Perhatian: Jangan sampai salah klik, karena akan sulit sekali untuk kembali ke awal. 


KAMAR BELAKANG

Kamu merasa bersyukur, kotak sekring itu tidak jauh dari kamarmu. Tapi itu tidak mengendurkan kewaspadaanmu. Ada tangga bawah tanah mengerikan yang harus kamu waspadai. Saat kamu membuka pintu kamarmu, pandanganmu--yang dibantu oleh cahaya senter--langsung tertuju ke sana. Namun tidak ada yang mencurigakan. Perlahan-lahan, kamu pun menapakkan kakimu keluar.

Klik di sini untuk melanjutkan.


PAKU PAYUNG

Di tengah-tengah ruang tamu, kamu menebarkan semua paku payung yang berbuntut runcing, yang untungnya tidak berkilauan di ruangan gelap itu, namun ketajamannya telah kamu uji saat menebarkan semuanya. Setelah itu, kamu menyembunyikan diri di balik sofa yang terletak tak jauh semua paku payung itu. Di tanganmu ada paku payung terakhir, yang berguna untuk memancing si monster untuk melewati jebakan yang sudah kamu persiapkan itu. Kamu berpikir, seandainya kamu bisa membuatnya menginjak-injak payu payung itu, kamu akan berhasil melumpuhkannya. Dia takkan bisa berjalan lagi dan mengejarmu ke mana-mana. Kamu akan punya lebih banyak waktu untuk membuat rencana dan meloloskan diri.

Kamu menunggu dalam kegelapan. Jantungmu memukul-mukul dadamu dengan kuat, membuatmu ketakutan kalau-kalau suara itu menggema ke seluruh ruangan. Pada akhirnya, kamu mendengar bunyi napas yang perlahan, namun keras.

Monster itu sudah mendekat.

Tidak ada langkah yang terdengar. Hanya bunyi napas yang menandakan monster itu semakin mendekat. Untuk ukuran makhluk raksasa, gerakan monster ini tergolong cukup cepat dan tak bersuara. Mungkin itulah sebabnya dia berhasil lenyap begitu saja setelah mengetuk pintu tadi sore dan membuatmu kebingungan.

Tapi saat ini, mata kamu sudah mulai terbiasa dengan kegelapan. Saat kamu mengintip dari balik sofa, kamu bisa melihatnya--besar, pelan, dan hati-hati, menyeberangi ruangan dengan langkah pasti. Jantungmu berdebar semakin cepat saat dia berjalan menuju arahmu. Kamu memutuskan untuk bertindak sekarang juga! Kamu melemparkan paku payung terakhir ke tengah-tengah ruangan, dan monster itu langsung menoleh ke sana. Entah monster itu memang tidak punya otak atau dia terlalu haus darah, dia langsung berjalan ke arah paku payung itu. Ada kepuasan merebak di hatimu saat kamu mendengar monster itu menginjak paku-paku itu dan meraung kesakitan. (EP: -20)

Sayangnya, monster itu terlalu cerdas untuk menghindari daerah jebakan dan tidak lagi menginjak paku payung yang lain, melainkan berlari ke arahmu! Kamu segera melarikan diri melewatinya. Sialnya, ada sejumlah paku payung yang mungkin menyeruak jauh dari daerah jebakan, mungkin akibat diinjak-injak si monster, dan kamu menginjak beberapa di antaranya. Lebih parah lagi, salah satunya menancap di tumitmu dengan sempurna. Gila, sakitnya luar biasa! Apakah kaki monster itu juga tertancap paku payung? Kalau iya, kenapa dia masih sanggup berlari sementara kini kamu merasa lumpuh? (HP: -25)

Menyadari rencanamu gagal, kamu pun melakukan satu-satunya hal yang terpikir saat ini: lari ke atas tangga sambil melepaskan paku payung sialan itu dari telapak kakimu. Kakimu berdarah, tapi kamu tidak memedulikannya. Yang lebih penting adalah menyelamatkan hidupmu.

Klik di sini untuk melanjutkan.


POMPA


Kamu melompat mundur dan mengayunkan pompa yang kamu bawa-bawa. Benda ini memang praktis, kamu bisa mengayunkan pompanya sehingga kabelnya berfungsi sebagai pecut, atau kamu bisa menggunakan pompa itu sendiri untuk memukul. Saat ini, dengan kabel itu, kamu berhasil mengenai muka si monster menjijikkan dengan telak--lebih tepatnya lagi, mengenai hidungnya yang segede buah pir itu. Monster itu pun meraung keras karena sakit--dan itu sama sekali tidak bagus, karena itu membangkitkan kemarahannya.

Saat kamu memecut untuk yang kedua kalinya, monster itu berhasil menangkap ujung kabel. Kamu berteriak saat dia menarik ujung kabel itu sekaligus dirimu. Kamu bisa saja melepaskan pompa itu, tapi kamu tidak ingin menyerahkan senjatamu begitu cepat. Akibatnya, dia berhasil menghantamkan dirimu ke dinding. Rasanya tubuhmu seperti remuk. (HP:-10)

Belum sempat kamu memulihkan diri, monster itu sudah menarik kabel pompa lagi dan menyeretmu mendekat. Sekarang kamu punya dua pilihan: melepaskan pompa itu atau menyerangnya dengan sisa-sisa tenagamu. Kamu memilih yang kedua. Saat kamu mendekat dengan kecepatan tinggi, kamu menusukkan pompa itu ke mukanya. Pompa itu tidak tajam, jadi tidak menembus mukanya--namun benda itu menyebabkan hidungnya patah. Kamu bisa merasakan percikan darah akibat luka yang kamu berikan padanya. (EP: -25)

Namun kamu tidak bodoh. Kamu tidak punya senjata lagi. Kamu tidak bisa mengandalkan keberuntungan untuk menang. Jadi, tanpa menunggu lagi, kamu pun melarikan diri ke ruangan depan.

Klik di sini untuk melanjutkan.


RUANG TAMU

Kamu tiba di ruang tamu. Ruangan itu jauh lebih gelap daripada dapur, tapi kamu memutuskan untuk tidak mengeluarkan sentermu. Lebih baik menjadikan kekurangan yang ada sebagai rekan perjuanganmu--dalam hal ini adalah kegelapan. Kamu mencoba membuka pintu depan, akan tetapi, sama seperti pintu belakang tadi, pintu itu terkunci. Namun kali ini pintu itu dikunci atas kemauanmu. Kamu membuka selot dan mencari-cari kunci berlabel 'Pintu Depan'. Sial, dalam kegelapan ini, susah sekali menemukan kuncinya. Apalagi tanganmu gemetaran banget.

Setelah mencari-cari dengan frustrasi, akhirnya kamu berhasil menemukan kunci keparat itu juga! Kamu memasukkan kunci ke dalam lubangnya dengan susah payah--gara-gara kegelapan dan tanganmu yang gemetaran--namun saat kunci itu berhasil menancap dan berputar, pintu itu tetap tidak bisa dibuka. Arghhhh! Ada apa dengan semua pintu di rumah ini? Apa ini berarti kamu terkunci di dalam rumah dan tidak bisa keluar lagi?

Kamu bisa saja langsung berlari ke atas dan menyembunyikan diri, tapi kamu memutuskan untuk menyerang lagi. Kali ini, kamu akan menggunakan benda yang selama ini tersimpan di dalam sakumu.

Jika pada Episode 3 kamu memilih: 

1. Gunting, klik di sini.
2. Paku payung, klik di sini.
3. Pemberat kertas, klik di sini.
4. Mouse, klik di sini.

Perhatian: Jangan sampai salah klik, karena akan sulit sekali untuk kembali ke awal. 


KAMAR ATAS

Perlahan-lahan, kamu membuka pintu kamar, hanya secuil saja sehingga kamu bisa mengintai keadaan di luar. Sebelah kakimu menahan pintu, siap untuk menutupnya kembali kalau-kalau ada bahaya yang menerkam. Kamu menyorot sentermu ke luar, namun yang menyambutmu hanyalah kesunyian belaka. Sesaat kamu merasa ragu, tapi lalu kamu memutuskan untuk keluar dari kamar, karena itu lebih baik daripada memelototi ruangan gelap yang tak menyenangkan.

Klik di sini untuk melanjutkan.


PEMBERAT KERTAS

Kamu menyembunyikan diri di balik sofa. Tanganmu menggenggam pemberat kertas yang keras dan mantap, lebih keras dari batu bata, dengan ujung-ujung yang tajam dan berbahaya. Kalau kamu sanggup memecahkan tempurung lutut si monster dengan menggunakan senjatamu itu, kamu akan berhasil melumpuhkannya. Dia takkan bisa berjalan lagi dan mengejarmu ke mana-mana. Kamu akan punya lebih banyak waktu untuk membuat rencana dan meloloskan diri.

Kamu menunggu dalam kegelapan. Jantungmu memukul-mukul dadamu dengan kuat, membuatmu ketakutan kalau-kalau suara itu menggema ke seluruh ruangan. Pada akhirnya, kamu mendengar bunyi napas yang perlahan, namun keras.

Monster itu sudah mendekat.

Tidak ada langkah yang terdengar. Hanya bunyi napas yang menandakan monster itu semakin mendekat. Untuk ukuran makhluk raksasa, gerakan monster ini tergolong cukup cepat dan tak bersuara. Mungkin itulah sebabnya dia berhasil lenyap begitu saja setelah mengetuk pintu tadi sore dan membuatmu kebingungan.

Tapi saat ini, mata kamu sudah mulai terbiasa dengan kegelapan. Saat kamu mengintip dari balik sofa, kamu bisa melihatnya--besar, pelan, dan hati-hati, menyeberangi ruangan dengan langkah pasti. Jantungmu berdebar semakin cepat saat dia berjalan menuju arahmu. Saat monster itu melewati sofa tempatmu bersembunyi, inilah saatnya kamu bertindak! Kamu mengayunkan pemberat kertas itu, keras dan cepat, dengan salah satu ujung mengarah pada tempurung lutut monster itu. Terdengar bunyi gemeretak yang sangat keras saat senjatamu beradu dengan lutut si monster. (EP:-25)

Kamu hanya bisa terpana di tempat saat monster itu berteriak luar biasa keras. Pemberat kertas itu terlepas dari genggamanmu. Kamu menyadari inilah saat yang tepat bagimu untuk melarikan diri, mumpung monster itu sedang fokus dengan luka yang dideritanya. Kamu berbalik, tanpa mengetahui bahwa monster itu memungut senjatamu, lalu melemparkannya kembali padamu. Benda itu mengenai betismu, keras dan tajam. Rasanya sakit luar biasa, sampai-sampai kamu tidak merasakan darah yang mulai mengalir. (HP:-20)

Tapi luka itu tidak boleh menghalangimu. Saat ini si monster mengalami luka yang lebih parah darimu, dan luka itu memberimu kesempatan. Kamu pun lari ke atas tangga dan, dengan upaya mati-matian, menyelamatkan hidupmu sendiri.

Klik di sini untuk melanjutkan.


DONGKRAK

Kamu menangkis serangan itu dengan dongkrak yang kamu bawa. Namun tenaga monster itu terlalu kuat. Dongkrak itu terdorong ke belakang, dan kamu sendiri juga ikut mundur. Tetap saja, tanganmu jadi kesemutan karenanya.

Lebih parah lagi, si monster raksasa mulai merebut dongkrak itu darimu. Kamu berusaha mempertahankan senjata utamamu itu--usaha yang sia-sia, karena tenaga monster aneh itu jauh lebih besar darimu. Saat dia mengangkat dongkrak itu, kamu jadi ikut terangkat. Kamu menggerak-gerakkan kakimu yang melayang di udara, berharap bisa mendapatkan pijakan atau bantuan apa pun yang bisa kamu dapatkan. Lagi-lagi, harapan yang sia-sia.

Monster itu melemparkan dongkrak sekaligus dirimu. Kamu terpental hingga menembus dinding menuju ruang penyimpanan makanan, dengan dongkrak menekan perutmu. Kepalamu mulai berdarah akibat tergores kayu dari dinding yang melesak, namun untunglah, selain kepala berdarah dan tulang-tulang yang nyaris remuk, tidak ada luka lain yang mencemaskan. (HP: -15)

Monster itu menggerung keras lagi laksana King Kong yang bakalan mengamuk. Namun dia tidak mendekatimu--bahkan, sepertinya dia tidak memperhatikanmu. Mungkin dia kira kamu sudah mati. Kamu berusaha membebaskan diri dari kungkungan dinding kayu tanpa membuat gerakan yang mencolok, sembari meyakinkan diri bahwa seluruh anggota badanmu masih utuh. Lalu di saat monster itu membelakangimu, kamu berdiri, merenggangkan tubuh sejenak dan mempersiapkan diri, lalu berlari sekencang-kencangnya ke arah monster itu dan menghantamkan dongkrak itu pada kepalanya. (EP: -20)

Monster itu tersungkur gara-gara serangan telakmu pada kepalanya. Namun kamu tahu, serangan itu tak berarti apa-apa karena tidak ada darah yang keluar. Maka, berhubung kamu orang cerdas, tentu saja kamu kabur dari ruangan itu dan berlari menuju ruangan depan.

Klik di sini untuk melanjutkan.


LANTAI ATAS

Kamu berhasil tiba di ujung atas tangga. Kamu mengintip ke bawah, dan melihat monster itu baru mencapai tangga. Kamu menatap pintu-pintu di depanmu dengan mata nyalang. Ada banyak ruangan di lantai atas, dan kebanyakan memiliki jendela--namun semua jendela itu diberi teralis. Berlindung di ruangan tanpa akses lain untuk melarikan diri sama saja dengan terjebak. Kalau sampai pintu berhasil dijebol oleh si raksasa, riwayatmu pasti akan tamat dan takkan pernah bersambung lagi. Mengenaskan.

Tidak, kamu tidak ingin hal itu terjadi. Kamu tidak boleh menyerah. Pasti ada satu tempat di mana kamu bisa berlindung dan ada akses yang memungkinkanmu untuk melarikan diri.

Benar juga. Ruangan yang itu!

Kamu pun menghambur ke pintu salah satu ruangan dan membukanya.

Klik di sini untuk melanjutkan.


RUANG TAMU

Kamu berjalan selangkah demi selangkah, sesekali mengecek ke belakangmu, berhubung kamu bukan anak ingusan yang tak tahu apa-apa. Kamu sudah sering nonton film horor, dan kebanyakan korban tolol yang disergap adalah orang yang tidak memperhatikan apa yang ada di balik punggung. Saat pandanganmu--yang dibantu oleh senter--mengarah pada lukisan wanita berambut panjang itu, kamu tercekat. Wanita itu menatap padamu, menyeringai lebar dengan wajah keji yang membuatnya tidak terlihat cantik lagi. Tidak mungkin ini lukisan yang kamu lihat tadi sore. Pasti ada sesuatu yang berubah. Saking takutnya, kamu melangkah mundur. Jantungmu mencelos saat kamu menginjak udara kosong. Kamu lupa ada undakan menurun di dekat sofa. Akibatnya, kamu terjatuh ke belakang. Kepalamu menghantam pinggiran meja yang ada di dekat sofa, membuat pandanganmu berkunang-kunang selama beberapa saat. Kamu berhasil bangkit berdiri dan meneruskan perjalananmu, meski kepalamu masih sedikit pusing. (HP: -4)

Klik di sini untuk melanjutkan.


MOUSE

Kamu menyembunyikan diri di balik sofa dengan mouse di tanganmu. Rencanamu kali ini benar-benar nekat. Kamu berniat menjegal monster itu dengan kabel mouse, lalu mematahkan kakinya dengan kedua tanganmu. Yep, ada kemungkinan dia akan bangkit berdiri dan melemparkanmu ke sudut ruangan, di mana dia akan menginjak-injakmu sampai mati. Tapi kamu tidak bisa terus melarikan diri kan? Kamu bukan korban dalam film horor. Tidak ada keberuntungan yang akan membuatmu selamat. Kamu harus berusaha keras dan bangkit melawan kalau kamu ingin tetap hidup.

Kamu menunggu dalam kegelapan. Jantungmu memukul-mukul dadamu dengan kuat, membuatmu ketakutan kalau-kalau suara itu menggema ke seluruh ruangan. Pada akhirnya, kamu mendengar bunyi napas yang perlahan, namun keras.

Monster itu sudah mendekat.

Tidak ada langkah yang terdengar. Hanya bunyi napas yang menandakan monster itu semakin mendekat. Untuk ukuran makhluk raksasa, gerakan monster ini tergolong cukup cepat dan tak bersuara. Mungkin itulah sebabnya dia berhasil lenyap begitu saja setelah mengetuk pintu tadi sore dan membuatmu kebingungan.

Tapi saat ini, mata kamu sudah mulai terbiasa dengan kegelapan. Saat kamu mengintip dari balik sofa, kamu bisa melihatnya--besar, pelan, dan hati-hati, menyeberangi ruangan dengan langkah pasti. Jantungmu berdebar semakin cepat saat dia berjalan menuju arahmu. Saat monster itu melewati sofa tempatmu bersembunyi, inilah saatnya kamu bertindak! Kamu menjerat kedua kakinya dengan kabel mouse dan menariknya keras-keras. Si monster raksasa pun jatuh terjerambap dan mukanya menghantam lantai dengan keras. Tanpa ampun, kamu duduk di atas kedua kakinya--dan mulai menarik kaki kanannya ke belakang dengan sekuat tenaga. Si monster meraung keras dan semakin keras lagi saat terdengar bunyi retak yang sangat keras. (EP:-30)

Karena kesakitan yang amat sangat, monster itu memberontak hebat--dan kamu terlempar ke depan tangga. Pergelangan kakimu tertekuk dan terkilir, membuatmu mengernyit kesakitan. Kamu menoleh ke belakang, dan melihat si monster sedang meratapi kakinya yang patah. Ini kesempatanmu untuk kabur. Kamu pun mendaki tangga dan berlari untuk menyelamatkan hidupmu. (HP: -15)

Klik di sini untuk melanjutkan.


ALAT PEMANGGANG OUTDOOR

Kamu melompat mundur, sementara kedua tanganmu bersiaga. Sentermu tak dibutuhkan lagi, jadi kamu bisa menggunakan kedua tanganmu untuk memegang senjata. Tangan kirimu memegangi bagian alat pemanggang yang berbentuk pinggan dari besi, yang kini kamu jadikan perisau, sementara ketiga kaki alat pemanggang kamu copot hingga menjadi tongkat yang bisa kamu gunakan sebagai senjata--apalagi bagian ujung dari setiap kaki itu cukup runcing.

Si monster raksasa menyerang lagi, dan kamu merunduk sekaligus melindungi kepalamu dengan perisai. Sementara itu, kamu menyerang bagian perutnya yang tak terjaga sama sekali. Perutnya tidak six-pack, tapi masih tak tertembuskan olehmu. Kamu berguling saat monster itu menyerangmu lagi, dan berhasil menempatkan diri di belakang si monster. Kamu menggunakan kaki alat pemanggang yang pertama untuk menombak bagian belakang lutut si monster. Meski tidak berhasil menembus tempurung lutut yang keras, alat pemanggang itu tertancap dan si monster langsung berlutut sambil berteriak kesakitan.

Ini saatnya kamu bertindak, mumpung si monster sedang meraung-raung lantaran kakinya yang lumpuh. Kamu menombak lagi dengan kaki alat pemanggang yang kedua--dan benda itu berhasil mengenai bahu si monster. Lagi-lagi tubuhnya terlalu keras untuk ditembus, tapi yang penting kamu berhasil melukainya.

Kamu langsung melancarkan serangan terakhir. Sayangnya, serangan terakhir ini berhasil ditangkis oleh si monster. Dia merebut kaki alat pemanggangmu yang terakhir dan membalas menombakmu. Kamu melompat dan berhasil menghindari serangan itu. Namun si monster yang sudah marah banget tidak berniat mengambil jeda. Dia meraih ke depan seakan-akan ingin menjambak kulit mukamu--dan dia mungkin saja berhasil kalau saja kamu tidak menggunakan perisai. Sebagai gantinya, perisaimu itulah yang akhirnya berhasil dijambak oleh si monster.

Sekarang kamu tidak punya senjata dan perisai. Kamu merasa tak berdaya dan bakalan mati diterkam si monster gila. Namun mendadak kamu menyadari bahwa kaki alat pemanggangmu yang ketiga tertancap tak jauh dari situ. Kamu segera berlari ke sana dan menariknya. Namun bukan hanya kamu yang menyadari hal itu. Si monster, meski kesakitan karena luka-luka yang kamu perbuat, segera berlari ke arahmu juga. Kamu menarik-narik tombak itu, dan berusaha tak mengacuhkan kenyataan bahwa monster itu semakin mendekatimu.

Monster itu akhirnya berhasil menghampirimu. Dia menjambak rambutmu, siap untuk melancarkan serangan terakhir. Tapi pada saat itu juga, kamu berhasil mencabut tombak itu dan menancapkan ke perutnya. Wajah si monster tampak syok, akan tetapi lalu dia mencoba menarik keluar tombak itu. (EP: -30)

Kamu sadar, betapapun banyaknya luka yang sudah kamu perbuat pada monster itu, dia masih bukan tandinganmu. Karena itu, kamu pun mengambil langkah seribu dan kabur ke ruangan depan. (HP: -5)

Klik di sini untuk melanjutkan.


LANTAI ATAS

Saat melewati kamar mandi, kamu menyorot sentermu ke dalamnya. Terdengar suara air menetes, pelan saja, namun dari jarak sedekat ini terasa mengganggu. Kamu memutuskan untuk memeriksa kamar mandi itu--minimal mengencangkan keran sialan itu. Saat kamu masuk ke dalam kamar mandi itu, kamu merasakan sesuatu melintas di belakangmu. Kamu menoleh dengan cepat, namun tidak menemukan apa-apa. Mungkin hanya angin saja. Kamu mengencangkan keran hingga tidak ada air yang menetes lagi, lalu keluar dari kamar mandi. Saat hendak menuruni tangga, mendadak kamu tersandung sesuatu. Brengsek, rupanya si kucing tak tahu terima kasih! Rupanya dialah sesuatu yang melintas di belakangmu tadi--dan kini, gara-gara dia, kamu terjatuh dari tangga. Hanya peganganmu yang erat yang berhasil menghindarkanmu dari patah leher. Namun kini pergelangan kakimu terkilir. Kamu meringis. Sedikit sakit, tapi bukan halangan untuk orang setangguhmu. Kamu pun meneruskan perjalanan. (HP: -3)

Klik di sini untuk melanjutkan.


RUANG BERMAIN

Ya, inilah satu-satunya ruangan di mana kamu bisa menyelamatkan diri. Ada tangga menuju loteng, dan seingatmu jendela di loteng tidak diberi teralis. Mungkin kamu bisa memanjat ke atas atap dan turun melalui apa sajalah yang ada. Harapan membuncah di dalam hatimu. Kamu pasti bisa meloloskan diri!

Kamu menutup pintu dan menguncinya dengan kunci berlabel 'Ruang Bermain'. Sesaat kamu merasa ada yang memperhatikanmu dari belakang. Kamu menoleh dengan cepat dan panik. Tapi yang ada di hadapanmu hanyalah mainan-mainan anak kecil. Mobil-mobilan dan kereta api yang sudah rusak, jam-jam yang tidak berdetak lagi, gasing dan balok-balokan, serta boneka-boneka bermata kosong.

Kamu bergidik. Pastilah tatapan yang kamu rasakan berasal dari boneka-boneka itu.

Kamu menghampiri tumpukan mainan itu. Memang semua ini hanyalah mainan anak-anak, tapi mungkin saja ada sesuatu yang berguna bagimu di sini. Kamu mencari-cari dan menemukan sejumlah barang yang tampaknya masih bisa digunakan: kapal di dalam botol, ukulele, seprei anak-anak, dan layang-layang. Sayangnya, berhubung semua itu berukuran cukup besar, kamu hanya bisa membawa satu barang.

Dan sekali lagi, kamu diingatkan siapakah monster yang sudah menyerangmu itu.

Baca episode berikutnya.


INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:


Hai para peserta MysteryGame@Area47!

Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan nama panggilan diikuti dengan jawaban atas pertanyaan ini:

MAINAN APAKAH YANG KAMU PILIH? (Pilih antara: kapal di dalam botol, ukulele, seprei anak-anak, dan layang-layang. Tidak perlu sebutkan alasannya.)

Lexie tunggu jawabannya sampai enam hari lagi. Jangan sampai telat ya mengirimkan jawabannya!

Good luck, everybody!

xoxo,
Lexie