Sunday, August 14, 2011

MysteryGame@Area47: THE WRITER, Episode 4 (Battle #1)

Sejauh ini, kamu memiliki HP (Health Points) sebesar 100 pts. Dalam perjalananmu, setiap kali kamu menemukan kata-kata seperti (HP: -x), itu berarti HP-mu akan dikurangi dengan bilangan yang diwakili x. Sementara musuhmu memiliki 150 EP (Enemy Points), yang akan dikurangi setiap kali kamu bertemu kata-kata seperti (EP: -x). Siapkan kertas dan alat tulis. Ini saatnya kemampuan berhitungmu diuji bersamaan dengan keberanianmu!

Jika pada Episode 1 kamu memilih: 

1. Kamar depan yang terletak di sebelah ruang tamu, yang menghadap ke halaman depan, klik di sini
2. Kamar belakang yang terletak di dekat dapur, yang tidak jauh dari tangga menuju ruang bawah tanah, klik di sini
3. Salah satu dari dua kamar di lantai atas sekaligus satu-satunya kamar yang memiliki akses dekat ke kamar mandi, klik di sini

Perhatian: Jangan sampai salah klik, karena akan sulit sekali untuk kembali ke awal. 


DAPUR

Kamu berjalan menyeberangi dapur dan berjalan menuju pintu belakang. Di sini, cahaya bulan menyeruak melalui jendela, membuat sentermu tak terlalu berguna lagi. Kamu memutar pintu hendel, dan menyadari bahwa pintu itu terkunci. Aneh sekali, bukannya tadi kamu sempat mengambil senjata--saat ada tamu gaje yang mengetuk-ngetuk--dan tidak menguncinya setelah itu? Kenapa sekarang mendadak terkunci?

Mungkin saja hendel pintu itu hanya menyangkut. Toh pintu ini memang sudah tua, siapa tahu di dalamnya karatan banget. Kamu pun menggedornya kuat-kuat, namun pintu itu tetap tidak bisa dibuka. Akhirnya kamu memutuskan bahwa mungkin saja kamu lupa mengunci pintu dan mengeluarkan rencengan kunci dari sakumu. Kamu mencoba kunci berlabel 'Pintu Belakang', namun kunci itu sama sekali tidak bisa digerakkan pada saat kamu tancapkan pada lubangnya. sArghh, mengesalkan! Setelah semua yang kamu alami untuk tiba di sini, masalah sekecil ini memaksamu untuk kembali? Enak saja. Dikiranya kamu begitu gampang putus asa?

Kamu sudah siap untuk melakukan berbagai upaya untuk membuka pintu itu saat tercium bau yang sangat tidak enak dari belakang punggungmu. Bau yang mirip bau apek yang amat sangat, yang menyedot semua udara bersih, dan lebih parah lagi dari itu. Ada sesuatu yang mengingatmu pada luka-luka... Astaga, sepertinya itu bau nanah tapi dalam ukuran yang sangat bau.

Kamu menoleh dan berhadapan dengan makhluk paling menjijikkan yang pernah kamu lihat.

Klik di sini untuk melanjutkan.


GERGAJI


Kamu merunduk untuk menghindari tamparan itu dan menyelinap melalui bawah lengan si monster. Baunya luar biasa, tapi kamu harus bertahan demi menyelamatkan hidupmu. Yang perlu kamu lakukan hanyalah mencari celah supaya bisa menggunakan gergaji yang kamu pegangi dari tadi. Sial, gergaji itu sudah tumpul karena lama tak digunakan, tapi tadi kamu sempat membersihkannya dan mencobanya. Asal kamu berhasil mengayunkan benda itu dengan cukup keras hingga menancap di daging monster itu, kamu hanya perlu menariknya untuk menimbulkan satu luka besar.

Saat kamu sedang menahan napas supaya tidak menghirup bau asam yang menguar dari ketek si monster aneh, kamu menyadari bahwa titik lemah yang sedang kamu cari-cari itu ada di depan mata. Kamu mendorong gergaji itu sekuat tenaga ke atas, menancap tepat pada ketek si monster, lalu kamu tarik gergaji yang sudah menancap itu dengan sekuat tenaga. (EP: -30)

Darah encer menyembur ke samping mukamu, membuatmu spontan menutup mata. Si monster yang terluka menggerung dan mengayunkan pukulan dengan tangannya yang terluka. Kali ini pukulannya mengenai kepalamu. Kamu terlempar ke depan, tersuruk ke depan meja makan, dengan kepala yang seperti baru saja dihantam balok kayu. Sesaat penglihatanmu jadi gelap, namun kamu berhasil memaksakan diri untuk tetap berdiri. (HP: -10)

Saat kamu berhasil memulihkan penglihatanmu, kamu baru menyadari kenapa monster itu tidak menyerangmu lagi. Tangan kanannya kini tergantung-gantung dengan gaya tak wajar, sekalipun rupanya masih bisa digunakan. Namun, meski sangat kesakitan, monster itu juga sangat marah dengan apa yang telah kamu perbuat padanya. Dengan penuh rasa ngeri, kamu pun mengambil keputusan. Kamu mengambil langkah seribu, melarikan diri menuju ruangan depan.

Klik di sini untuk melanjutkan.


KAMAR DEPAN

Perlahan-lahan, kamu membuka pintu kamar, hanya secuil saja sehingga kamu bisa mengintai keadaan di luar. Sebelah kakimu menahan pintu, siap untuk menutupnya kembali kalau-kalau ada bahaya yang menerkam. Kamu menyorot sentermu ke luar, namun yang menyambutmu hanyalah kesunyian belaka. Sesaat kamu merasa ragu, tapi lalu kamu memutuskan untuk keluar dari kamar, karena itu lebih baik daripada memelototi ruangan gelap yang tak menyenangkan.

Klik di sini untuk melanjutkan.


GUNTING

Kamu menyembunyikan diri di balik sofa. Tanganmu menggenggam sebuah gunting besar yang tajam, tipe gunting yang mengundang respek dari orang yang menggunakannya dan harus diperlakukan dengan hati-hati supaya tidak melukai orang-orang di sekitarnya. Pengetahuan biologimu tidak terlalu dalam, tapi kamu tahu ada pembuluh arteri di bagian paha manusia--dan mungkin pada monster itu juga. Kalau kamu berhasil melukai pembuluh arteri itu, darah akan keluar tanpa henti dan monster itu akan mati kehabisan darah--kecuali kalau kamu memutuskan untuk menyelamatkannya.

Kamu menunggu dalam kegelapan. Jantungmu memukul-mukul dadamu dengan kuat, membuatmu ketakutan kalau-kalau suara itu menggema ke seluruh ruangan. Pada akhirnya, kamu mendengar bunyi napas yang perlahan, namun keras.

Monster itu sudah mendekat.

Tidak ada langkah yang terdengar. Hanya bunyi napas yang menandakan monster itu semakin mendekat. Untuk ukuran makhluk raksasa, gerakan monster ini tergolong cukup cepat dan tak bersuara. Mungkin itulah sebabnya dia berhasil lenyap begitu saja setelah mengetuk pintu tadi sore dan membuatmu kebingungan.

Tapi saat ini, mata kamu sudah mulai terbiasa dengan kegelapan. Saat kamu mengintip dari balik sofa, kamu bisa melihatnya--besar, pelan, dan hati-hati, menyeberangi ruangan dengan langkah pasti. Jantungmu berdebar semakin cepat saat dia berjalan menuju arahmu. Saat monster itu melewati sofa tempatmu bersembunyi, inilah saatnya kamu bertindak! Kamu mengayunkan gunting itu, keras dan cepat, pada paha monster itu. (EP:-20)

Gunting itu menancap dengan sempurna. Namun, tidak ada darah yang menyembur keluar. Kamu hanya bisa terpana di tempat saat monster itu berteriak luar biasa keras. Saking syoknya, kamu tidak sadar bahwa dia sudah berhasil mencabut gunting itu. Yang kamu tahu adalah mendadak saja gunting itu dilemparkan ke arahmu--tidak terlalu tepat, tapi berhasil mengenai betismu. Berhubung kamu manusia biasa, luka serempet itu pun mengeluarkan darah segar. (HP: -20)

Tapi luka itu tidak boleh menghalangimu. Saat ini si monster mengalami luka yang lebih parah darimu, dan luka itu memberimu kesempatan. Kamu pun lari ke atas tangga dan, dengan upaya mati-matian, menyelamatkan hidupmu sendiri.

Klik di sini untuk melanjutkan.


KOTAK PERALATAN


Kamu merunduk untuk menghindari tamparan itu dan menyelinap melalui bawah lengan si monster. Baunya luar biasa, tapi kamu harus bertahan demi menyelamatkan hidupmu. Yang perlu kamu lakukan hanyalah mencari celah supaya bisa menggunakan senjata-senjatamu, yaitu empat buah obeng yang kamu keluarkan dari kotak peralatan. Senjata-senjata itu kecil, dua di antaranya sudah karatan, namun pasti akan bisa mengakibatkan luka yang cukup berarti jika kamu pandai-pandai menggunakannya.

Saat kamu berhasil meloloskan diri dari si monster, kamu menyadari bahwa bagian belakang lehernya merupakan sasaran empuk. Dengan menggunakan tenaga semaksimal mungkin, kamu menghunjamkan salah satu obeng pada punggung bagian atas monster itu. Obengmu menusuk tak terlalu dalam, tapi monster itu langsung berteriak kesakitan.

Monster itu memutar tubuhnya dan menamparmu hingga kau jatuh terpelanting ke salah satu sudut ruangan. Rasanya sakit sekali, tapi kamu harus tetap bergerak. Luka pertama yang kamu sebabkan tidak cukup untuk melumpuhkannya. Kamu tidak sampai hati untuk membunuhnya, tapi kamu juga tidak mau belas kasihan membuatmu terbunuh.

Kamu meloncat bangkit dan menyerang lagi. Kali ini kamu mengincar pahanya, yang tidak sulit untuk dicapai saat kamu merunduk untuk menghindari pukulan tangannya. Sial, pahanya itu keras seperti batang pohon! Obeng keduamu patah, dan kamu terpelanting lagi saat dia menendangmu dengan kaki yang kamu serang itu. Kamu sempat menghindar dari lututnya, tapi kamu tidak berhasil menghindari telapak kakinya yang mengenai perutmu. Seluruh isi perutmu rasanya seperti remuk, dan kamu nyaris tak sanggup berdiri lagi. (HP: -12)

Monster itu senang melihatmu tidak berdaya. Dia mengangkat tangannya, siap untuk memberimu pukulan terakhir. Kamu tidak sudi untuk menyerah. Kamu tahan semua rasa sakitmu, lalu kamu melompat ke pinggiran saat tinju itu menghantam dinding dan menembusnya. Kamu hanya bisa terbelalak, menyadari bahwa kamu pasti akan remuk kalau sampai tinju itu mengenaimu. Tapi gerakanmu cepat. Sebelum dia menarik tangannya dari dinding, kamu menusuk lengannya dengan obengmu yang ketiga. Seperti serangan pertamamu, obeng itu tidak menusuk terlalu dalam, tapi membuat monster itu berteriak lagi.

Untuk keempat kalinya, kamu menyerang lagi. Kali ini kamu sengaja menjatuhkan diri sebelum dia mencapaimu, lalu menancapkan obengmu yang terakhir di telapak kakinya. Kali ini seranganmu menembus telapak kakinya, dan monster itu langsung jatuh berlutut sambil menggerung kesakitan.

Celaka. Kamu terbaring di bawah lantai, dan, meski sedang berlutut, monster itu menjulang di atasmu!

Kamu berguling saat monster itu melayangkan tinjunya ke arah mukamu. Tinju itu mengenai lantai, dan sepertinya menembusnya. Kamu tidak mau repot-repot memastikannya karena kamu terlalu sibuk menyelamatkan diri. Kamu pikir, semua luka itu pasti sudah cukup untuk memperlambat gerakan si monster aneh. (EP:-25)

Jadi, kamu pun melarikan diri ke ruangan depan.

Klik di sini untuk melanjutkan.


SANG MONSTER


Makhluk itu mirip manusia, namun dengan ukuran yang jauh melebihi rata-rata. Tubuhnya sangat tinggi--mungkin hampir dua meter tingginya--dan besarnya tidak kira-kira. Dibandingkan dengannya, tubuhmu terasa kecil dan rapuh. Tenagamu takkan ada artinya bila harus menghadapinya. Namun bukan hanya ukuran tubuhnya yang membuatmu terperangah. Matanya sangat besar, seolah-olah nyaris keluar dari kelopak matanya, dengan pupil yang memenuhi bagian putih mata itu, membuatmu tersadar bahwa orang inilah yang mengetuk-ngetuk pintu depan tadi sore. Namun bukan hanya tubuh dan matanya yang ukurannya melebihi ukuran manusia biasa, melainkan juga hidungnya yang bengkok, mulutnya yang meringis memperlihatkan gigi-gigi besar dan hitam, dan bibirnya yang tebal.

Yang paling mengerikan adalah kulit makhluk tersebut. Kulit itu mengelupas, memperlihatkan daging berwarna putih dan merah muda yang menebarkan bau busuk nanah yang tercium olehmu tadi. Sedangkan bau apek berasal dari perban-perban kecokelatan yang sepertinya digunakan oleh makhluk tersebut untuk menutupi kulit-kulit yang mengelupas itu. Sekilas makhluk itu mirip mumi, tapi mumi tak bisa merasakan kesakitan. Sebaliknya, wajah makhluk ini selalu berkerut-kerut--seolah-olah dia selalu meringis kesakitan akibat luka-luka yang mengelupas tersebut.

Saat kamu sedang terpana dengan muka ngeri bercampur takjub, makhluk yang mirip monster itu menggeram padamu, "Mati!" seraya menampar ke arahmu.

Dan saat maut mendekatimu, kamu pun menyadari apa yang terjadi di rumah itu.

Jika pada Episode 2 kamu memilih: 

1. Gergaji, klik di sini.
2. Kotak peralatan, klik di sini.
3. Pompa, klik di sini.
4. Dongkrak, klik di sini.
5. Alat pemanggang outdoor, klik di sini.

Perhatian: Jangan sampai salah klik, karena akan sulit sekali untuk kembali ke awal. 


KAMAR BELAKANG

Kamu merasa bersyukur, kotak sekring itu tidak jauh dari kamarmu. Tapi itu tidak mengendurkan kewaspadaanmu. Ada tangga bawah tanah mengerikan yang harus kamu waspadai. Saat kamu membuka pintu kamarmu, pandanganmu--yang dibantu oleh cahaya senter--langsung tertuju ke sana. Namun tidak ada yang mencurigakan. Perlahan-lahan, kamu pun menapakkan kakimu keluar.

Klik di sini untuk melanjutkan.


PAKU PAYUNG

Di tengah-tengah ruang tamu, kamu menebarkan semua paku payung yang berbuntut runcing, yang untungnya tidak berkilauan di ruangan gelap itu, namun ketajamannya telah kamu uji saat menebarkan semuanya. Setelah itu, kamu menyembunyikan diri di balik sofa yang terletak tak jauh semua paku payung itu. Di tanganmu ada paku payung terakhir, yang berguna untuk memancing si monster untuk melewati jebakan yang sudah kamu persiapkan itu. Kamu berpikir, seandainya kamu bisa membuatnya menginjak-injak payu payung itu, kamu akan berhasil melumpuhkannya. Dia takkan bisa berjalan lagi dan mengejarmu ke mana-mana. Kamu akan punya lebih banyak waktu untuk membuat rencana dan meloloskan diri.

Kamu menunggu dalam kegelapan. Jantungmu memukul-mukul dadamu dengan kuat, membuatmu ketakutan kalau-kalau suara itu menggema ke seluruh ruangan. Pada akhirnya, kamu mendengar bunyi napas yang perlahan, namun keras.

Monster itu sudah mendekat.

Tidak ada langkah yang terdengar. Hanya bunyi napas yang menandakan monster itu semakin mendekat. Untuk ukuran makhluk raksasa, gerakan monster ini tergolong cukup cepat dan tak bersuara. Mungkin itulah sebabnya dia berhasil lenyap begitu saja setelah mengetuk pintu tadi sore dan membuatmu kebingungan.

Tapi saat ini, mata kamu sudah mulai terbiasa dengan kegelapan. Saat kamu mengintip dari balik sofa, kamu bisa melihatnya--besar, pelan, dan hati-hati, menyeberangi ruangan dengan langkah pasti. Jantungmu berdebar semakin cepat saat dia berjalan menuju arahmu. Kamu memutuskan untuk bertindak sekarang juga! Kamu melemparkan paku payung terakhir ke tengah-tengah ruangan, dan monster itu langsung menoleh ke sana. Entah monster itu memang tidak punya otak atau dia terlalu haus darah, dia langsung berjalan ke arah paku payung itu. Ada kepuasan merebak di hatimu saat kamu mendengar monster itu menginjak paku-paku itu dan meraung kesakitan. (EP: -20)

Sayangnya, monster itu terlalu cerdas untuk menghindari daerah jebakan dan tidak lagi menginjak paku payung yang lain, melainkan berlari ke arahmu! Kamu segera melarikan diri melewatinya. Sialnya, ada sejumlah paku payung yang mungkin menyeruak jauh dari daerah jebakan, mungkin akibat diinjak-injak si monster, dan kamu menginjak beberapa di antaranya. Lebih parah lagi, salah satunya menancap di tumitmu dengan sempurna. Gila, sakitnya luar biasa! Apakah kaki monster itu juga tertancap paku payung? Kalau iya, kenapa dia masih sanggup berlari sementara kini kamu merasa lumpuh? (HP: -25)

Menyadari rencanamu gagal, kamu pun melakukan satu-satunya hal yang terpikir saat ini: lari ke atas tangga sambil melepaskan paku payung sialan itu dari telapak kakimu. Kakimu berdarah, tapi kamu tidak memedulikannya. Yang lebih penting adalah menyelamatkan hidupmu.

Klik di sini untuk melanjutkan.


POMPA


Kamu melompat mundur dan mengayunkan pompa yang kamu bawa-bawa. Benda ini memang praktis, kamu bisa mengayunkan pompanya sehingga kabelnya berfungsi sebagai pecut, atau kamu bisa menggunakan pompa itu sendiri untuk memukul. Saat ini, dengan kabel itu, kamu berhasil mengenai muka si monster menjijikkan dengan telak--lebih tepatnya lagi, mengenai hidungnya yang segede buah pir itu. Monster itu pun meraung keras karena sakit--dan itu sama sekali tidak bagus, karena itu membangkitkan kemarahannya.

Saat kamu memecut untuk yang kedua kalinya, monster itu berhasil menangkap ujung kabel. Kamu berteriak saat dia menarik ujung kabel itu sekaligus dirimu. Kamu bisa saja melepaskan pompa itu, tapi kamu tidak ingin menyerahkan senjatamu begitu cepat. Akibatnya, dia berhasil menghantamkan dirimu ke dinding. Rasanya tubuhmu seperti remuk. (HP:-10)

Belum sempat kamu memulihkan diri, monster itu sudah menarik kabel pompa lagi dan menyeretmu mendekat. Sekarang kamu punya dua pilihan: melepaskan pompa itu atau menyerangnya dengan sisa-sisa tenagamu. Kamu memilih yang kedua. Saat kamu mendekat dengan kecepatan tinggi, kamu menusukkan pompa itu ke mukanya. Pompa itu tidak tajam, jadi tidak menembus mukanya--namun benda itu menyebabkan hidungnya patah. Kamu bisa merasakan percikan darah akibat luka yang kamu berikan padanya. (EP: -25)

Namun kamu tidak bodoh. Kamu tidak punya senjata lagi. Kamu tidak bisa mengandalkan keberuntungan untuk menang. Jadi, tanpa menunggu lagi, kamu pun melarikan diri ke ruangan depan.

Klik di sini untuk melanjutkan.


RUANG TAMU

Kamu tiba di ruang tamu. Ruangan itu jauh lebih gelap daripada dapur, tapi kamu memutuskan untuk tidak mengeluarkan sentermu. Lebih baik menjadikan kekurangan yang ada sebagai rekan perjuanganmu--dalam hal ini adalah kegelapan. Kamu mencoba membuka pintu depan, akan tetapi, sama seperti pintu belakang tadi, pintu itu terkunci. Namun kali ini pintu itu dikunci atas kemauanmu. Kamu membuka selot dan mencari-cari kunci berlabel 'Pintu Depan'. Sial, dalam kegelapan ini, susah sekali menemukan kuncinya. Apalagi tanganmu gemetaran banget.

Setelah mencari-cari dengan frustrasi, akhirnya kamu berhasil menemukan kunci keparat itu juga! Kamu memasukkan kunci ke dalam lubangnya dengan susah payah--gara-gara kegelapan dan tanganmu yang gemetaran--namun saat kunci itu berhasil menancap dan berputar, pintu itu tetap tidak bisa dibuka. Arghhhh! Ada apa dengan semua pintu di rumah ini? Apa ini berarti kamu terkunci di dalam rumah dan tidak bisa keluar lagi?

Kamu bisa saja langsung berlari ke atas dan menyembunyikan diri, tapi kamu memutuskan untuk menyerang lagi. Kali ini, kamu akan menggunakan benda yang selama ini tersimpan di dalam sakumu.

Jika pada Episode 3 kamu memilih: 

1. Gunting, klik di sini.
2. Paku payung, klik di sini.
3. Pemberat kertas, klik di sini.
4. Mouse, klik di sini.

Perhatian: Jangan sampai salah klik, karena akan sulit sekali untuk kembali ke awal. 


KAMAR ATAS

Perlahan-lahan, kamu membuka pintu kamar, hanya secuil saja sehingga kamu bisa mengintai keadaan di luar. Sebelah kakimu menahan pintu, siap untuk menutupnya kembali kalau-kalau ada bahaya yang menerkam. Kamu menyorot sentermu ke luar, namun yang menyambutmu hanyalah kesunyian belaka. Sesaat kamu merasa ragu, tapi lalu kamu memutuskan untuk keluar dari kamar, karena itu lebih baik daripada memelototi ruangan gelap yang tak menyenangkan.

Klik di sini untuk melanjutkan.


PEMBERAT KERTAS

Kamu menyembunyikan diri di balik sofa. Tanganmu menggenggam pemberat kertas yang keras dan mantap, lebih keras dari batu bata, dengan ujung-ujung yang tajam dan berbahaya. Kalau kamu sanggup memecahkan tempurung lutut si monster dengan menggunakan senjatamu itu, kamu akan berhasil melumpuhkannya. Dia takkan bisa berjalan lagi dan mengejarmu ke mana-mana. Kamu akan punya lebih banyak waktu untuk membuat rencana dan meloloskan diri.

Kamu menunggu dalam kegelapan. Jantungmu memukul-mukul dadamu dengan kuat, membuatmu ketakutan kalau-kalau suara itu menggema ke seluruh ruangan. Pada akhirnya, kamu mendengar bunyi napas yang perlahan, namun keras.

Monster itu sudah mendekat.

Tidak ada langkah yang terdengar. Hanya bunyi napas yang menandakan monster itu semakin mendekat. Untuk ukuran makhluk raksasa, gerakan monster ini tergolong cukup cepat dan tak bersuara. Mungkin itulah sebabnya dia berhasil lenyap begitu saja setelah mengetuk pintu tadi sore dan membuatmu kebingungan.

Tapi saat ini, mata kamu sudah mulai terbiasa dengan kegelapan. Saat kamu mengintip dari balik sofa, kamu bisa melihatnya--besar, pelan, dan hati-hati, menyeberangi ruangan dengan langkah pasti. Jantungmu berdebar semakin cepat saat dia berjalan menuju arahmu. Saat monster itu melewati sofa tempatmu bersembunyi, inilah saatnya kamu bertindak! Kamu mengayunkan pemberat kertas itu, keras dan cepat, dengan salah satu ujung mengarah pada tempurung lutut monster itu. Terdengar bunyi gemeretak yang sangat keras saat senjatamu beradu dengan lutut si monster. (EP:-25)

Kamu hanya bisa terpana di tempat saat monster itu berteriak luar biasa keras. Pemberat kertas itu terlepas dari genggamanmu. Kamu menyadari inilah saat yang tepat bagimu untuk melarikan diri, mumpung monster itu sedang fokus dengan luka yang dideritanya. Kamu berbalik, tanpa mengetahui bahwa monster itu memungut senjatamu, lalu melemparkannya kembali padamu. Benda itu mengenai betismu, keras dan tajam. Rasanya sakit luar biasa, sampai-sampai kamu tidak merasakan darah yang mulai mengalir. (HP:-20)

Tapi luka itu tidak boleh menghalangimu. Saat ini si monster mengalami luka yang lebih parah darimu, dan luka itu memberimu kesempatan. Kamu pun lari ke atas tangga dan, dengan upaya mati-matian, menyelamatkan hidupmu sendiri.

Klik di sini untuk melanjutkan.


DONGKRAK

Kamu menangkis serangan itu dengan dongkrak yang kamu bawa. Namun tenaga monster itu terlalu kuat. Dongkrak itu terdorong ke belakang, dan kamu sendiri juga ikut mundur. Tetap saja, tanganmu jadi kesemutan karenanya.

Lebih parah lagi, si monster raksasa mulai merebut dongkrak itu darimu. Kamu berusaha mempertahankan senjata utamamu itu--usaha yang sia-sia, karena tenaga monster aneh itu jauh lebih besar darimu. Saat dia mengangkat dongkrak itu, kamu jadi ikut terangkat. Kamu menggerak-gerakkan kakimu yang melayang di udara, berharap bisa mendapatkan pijakan atau bantuan apa pun yang bisa kamu dapatkan. Lagi-lagi, harapan yang sia-sia.

Monster itu melemparkan dongkrak sekaligus dirimu. Kamu terpental hingga menembus dinding menuju ruang penyimpanan makanan, dengan dongkrak menekan perutmu. Kepalamu mulai berdarah akibat tergores kayu dari dinding yang melesak, namun untunglah, selain kepala berdarah dan tulang-tulang yang nyaris remuk, tidak ada luka lain yang mencemaskan. (HP: -15)

Monster itu menggerung keras lagi laksana King Kong yang bakalan mengamuk. Namun dia tidak mendekatimu--bahkan, sepertinya dia tidak memperhatikanmu. Mungkin dia kira kamu sudah mati. Kamu berusaha membebaskan diri dari kungkungan dinding kayu tanpa membuat gerakan yang mencolok, sembari meyakinkan diri bahwa seluruh anggota badanmu masih utuh. Lalu di saat monster itu membelakangimu, kamu berdiri, merenggangkan tubuh sejenak dan mempersiapkan diri, lalu berlari sekencang-kencangnya ke arah monster itu dan menghantamkan dongkrak itu pada kepalanya. (EP: -20)

Monster itu tersungkur gara-gara serangan telakmu pada kepalanya. Namun kamu tahu, serangan itu tak berarti apa-apa karena tidak ada darah yang keluar. Maka, berhubung kamu orang cerdas, tentu saja kamu kabur dari ruangan itu dan berlari menuju ruangan depan.

Klik di sini untuk melanjutkan.


LANTAI ATAS

Kamu berhasil tiba di ujung atas tangga. Kamu mengintip ke bawah, dan melihat monster itu baru mencapai tangga. Kamu menatap pintu-pintu di depanmu dengan mata nyalang. Ada banyak ruangan di lantai atas, dan kebanyakan memiliki jendela--namun semua jendela itu diberi teralis. Berlindung di ruangan tanpa akses lain untuk melarikan diri sama saja dengan terjebak. Kalau sampai pintu berhasil dijebol oleh si raksasa, riwayatmu pasti akan tamat dan takkan pernah bersambung lagi. Mengenaskan.

Tidak, kamu tidak ingin hal itu terjadi. Kamu tidak boleh menyerah. Pasti ada satu tempat di mana kamu bisa berlindung dan ada akses yang memungkinkanmu untuk melarikan diri.

Benar juga. Ruangan yang itu!

Kamu pun menghambur ke pintu salah satu ruangan dan membukanya.

Klik di sini untuk melanjutkan.


RUANG TAMU

Kamu berjalan selangkah demi selangkah, sesekali mengecek ke belakangmu, berhubung kamu bukan anak ingusan yang tak tahu apa-apa. Kamu sudah sering nonton film horor, dan kebanyakan korban tolol yang disergap adalah orang yang tidak memperhatikan apa yang ada di balik punggung. Saat pandanganmu--yang dibantu oleh senter--mengarah pada lukisan wanita berambut panjang itu, kamu tercekat. Wanita itu menatap padamu, menyeringai lebar dengan wajah keji yang membuatnya tidak terlihat cantik lagi. Tidak mungkin ini lukisan yang kamu lihat tadi sore. Pasti ada sesuatu yang berubah. Saking takutnya, kamu melangkah mundur. Jantungmu mencelos saat kamu menginjak udara kosong. Kamu lupa ada undakan menurun di dekat sofa. Akibatnya, kamu terjatuh ke belakang. Kepalamu menghantam pinggiran meja yang ada di dekat sofa, membuat pandanganmu berkunang-kunang selama beberapa saat. Kamu berhasil bangkit berdiri dan meneruskan perjalananmu, meski kepalamu masih sedikit pusing. (HP: -4)

Klik di sini untuk melanjutkan.


MOUSE

Kamu menyembunyikan diri di balik sofa dengan mouse di tanganmu. Rencanamu kali ini benar-benar nekat. Kamu berniat menjegal monster itu dengan kabel mouse, lalu mematahkan kakinya dengan kedua tanganmu. Yep, ada kemungkinan dia akan bangkit berdiri dan melemparkanmu ke sudut ruangan, di mana dia akan menginjak-injakmu sampai mati. Tapi kamu tidak bisa terus melarikan diri kan? Kamu bukan korban dalam film horor. Tidak ada keberuntungan yang akan membuatmu selamat. Kamu harus berusaha keras dan bangkit melawan kalau kamu ingin tetap hidup.

Kamu menunggu dalam kegelapan. Jantungmu memukul-mukul dadamu dengan kuat, membuatmu ketakutan kalau-kalau suara itu menggema ke seluruh ruangan. Pada akhirnya, kamu mendengar bunyi napas yang perlahan, namun keras.

Monster itu sudah mendekat.

Tidak ada langkah yang terdengar. Hanya bunyi napas yang menandakan monster itu semakin mendekat. Untuk ukuran makhluk raksasa, gerakan monster ini tergolong cukup cepat dan tak bersuara. Mungkin itulah sebabnya dia berhasil lenyap begitu saja setelah mengetuk pintu tadi sore dan membuatmu kebingungan.

Tapi saat ini, mata kamu sudah mulai terbiasa dengan kegelapan. Saat kamu mengintip dari balik sofa, kamu bisa melihatnya--besar, pelan, dan hati-hati, menyeberangi ruangan dengan langkah pasti. Jantungmu berdebar semakin cepat saat dia berjalan menuju arahmu. Saat monster itu melewati sofa tempatmu bersembunyi, inilah saatnya kamu bertindak! Kamu menjerat kedua kakinya dengan kabel mouse dan menariknya keras-keras. Si monster raksasa pun jatuh terjerambap dan mukanya menghantam lantai dengan keras. Tanpa ampun, kamu duduk di atas kedua kakinya--dan mulai menarik kaki kanannya ke belakang dengan sekuat tenaga. Si monster meraung keras dan semakin keras lagi saat terdengar bunyi retak yang sangat keras. (EP:-30)

Karena kesakitan yang amat sangat, monster itu memberontak hebat--dan kamu terlempar ke depan tangga. Pergelangan kakimu tertekuk dan terkilir, membuatmu mengernyit kesakitan. Kamu menoleh ke belakang, dan melihat si monster sedang meratapi kakinya yang patah. Ini kesempatanmu untuk kabur. Kamu pun mendaki tangga dan berlari untuk menyelamatkan hidupmu. (HP: -15)

Klik di sini untuk melanjutkan.


ALAT PEMANGGANG OUTDOOR

Kamu melompat mundur, sementara kedua tanganmu bersiaga. Sentermu tak dibutuhkan lagi, jadi kamu bisa menggunakan kedua tanganmu untuk memegang senjata. Tangan kirimu memegangi bagian alat pemanggang yang berbentuk pinggan dari besi, yang kini kamu jadikan perisau, sementara ketiga kaki alat pemanggang kamu copot hingga menjadi tongkat yang bisa kamu gunakan sebagai senjata--apalagi bagian ujung dari setiap kaki itu cukup runcing.

Si monster raksasa menyerang lagi, dan kamu merunduk sekaligus melindungi kepalamu dengan perisai. Sementara itu, kamu menyerang bagian perutnya yang tak terjaga sama sekali. Perutnya tidak six-pack, tapi masih tak tertembuskan olehmu. Kamu berguling saat monster itu menyerangmu lagi, dan berhasil menempatkan diri di belakang si monster. Kamu menggunakan kaki alat pemanggang yang pertama untuk menombak bagian belakang lutut si monster. Meski tidak berhasil menembus tempurung lutut yang keras, alat pemanggang itu tertancap dan si monster langsung berlutut sambil berteriak kesakitan.

Ini saatnya kamu bertindak, mumpung si monster sedang meraung-raung lantaran kakinya yang lumpuh. Kamu menombak lagi dengan kaki alat pemanggang yang kedua--dan benda itu berhasil mengenai bahu si monster. Lagi-lagi tubuhnya terlalu keras untuk ditembus, tapi yang penting kamu berhasil melukainya.

Kamu langsung melancarkan serangan terakhir. Sayangnya, serangan terakhir ini berhasil ditangkis oleh si monster. Dia merebut kaki alat pemanggangmu yang terakhir dan membalas menombakmu. Kamu melompat dan berhasil menghindari serangan itu. Namun si monster yang sudah marah banget tidak berniat mengambil jeda. Dia meraih ke depan seakan-akan ingin menjambak kulit mukamu--dan dia mungkin saja berhasil kalau saja kamu tidak menggunakan perisai. Sebagai gantinya, perisaimu itulah yang akhirnya berhasil dijambak oleh si monster.

Sekarang kamu tidak punya senjata dan perisai. Kamu merasa tak berdaya dan bakalan mati diterkam si monster gila. Namun mendadak kamu menyadari bahwa kaki alat pemanggangmu yang ketiga tertancap tak jauh dari situ. Kamu segera berlari ke sana dan menariknya. Namun bukan hanya kamu yang menyadari hal itu. Si monster, meski kesakitan karena luka-luka yang kamu perbuat, segera berlari ke arahmu juga. Kamu menarik-narik tombak itu, dan berusaha tak mengacuhkan kenyataan bahwa monster itu semakin mendekatimu.

Monster itu akhirnya berhasil menghampirimu. Dia menjambak rambutmu, siap untuk melancarkan serangan terakhir. Tapi pada saat itu juga, kamu berhasil mencabut tombak itu dan menancapkan ke perutnya. Wajah si monster tampak syok, akan tetapi lalu dia mencoba menarik keluar tombak itu. (EP: -30)

Kamu sadar, betapapun banyaknya luka yang sudah kamu perbuat pada monster itu, dia masih bukan tandinganmu. Karena itu, kamu pun mengambil langkah seribu dan kabur ke ruangan depan. (HP: -5)

Klik di sini untuk melanjutkan.


LANTAI ATAS

Saat melewati kamar mandi, kamu menyorot sentermu ke dalamnya. Terdengar suara air menetes, pelan saja, namun dari jarak sedekat ini terasa mengganggu. Kamu memutuskan untuk memeriksa kamar mandi itu--minimal mengencangkan keran sialan itu. Saat kamu masuk ke dalam kamar mandi itu, kamu merasakan sesuatu melintas di belakangmu. Kamu menoleh dengan cepat, namun tidak menemukan apa-apa. Mungkin hanya angin saja. Kamu mengencangkan keran hingga tidak ada air yang menetes lagi, lalu keluar dari kamar mandi. Saat hendak menuruni tangga, mendadak kamu tersandung sesuatu. Brengsek, rupanya si kucing tak tahu terima kasih! Rupanya dialah sesuatu yang melintas di belakangmu tadi--dan kini, gara-gara dia, kamu terjatuh dari tangga. Hanya peganganmu yang erat yang berhasil menghindarkanmu dari patah leher. Namun kini pergelangan kakimu terkilir. Kamu meringis. Sedikit sakit, tapi bukan halangan untuk orang setangguhmu. Kamu pun meneruskan perjalanan. (HP: -3)

Klik di sini untuk melanjutkan.


RUANG BERMAIN

Ya, inilah satu-satunya ruangan di mana kamu bisa menyelamatkan diri. Ada tangga menuju loteng, dan seingatmu jendela di loteng tidak diberi teralis. Mungkin kamu bisa memanjat ke atas atap dan turun melalui apa sajalah yang ada. Harapan membuncah di dalam hatimu. Kamu pasti bisa meloloskan diri!

Kamu menutup pintu dan menguncinya dengan kunci berlabel 'Ruang Bermain'. Sesaat kamu merasa ada yang memperhatikanmu dari belakang. Kamu menoleh dengan cepat dan panik. Tapi yang ada di hadapanmu hanyalah mainan-mainan anak kecil. Mobil-mobilan dan kereta api yang sudah rusak, jam-jam yang tidak berdetak lagi, gasing dan balok-balokan, serta boneka-boneka bermata kosong.

Kamu bergidik. Pastilah tatapan yang kamu rasakan berasal dari boneka-boneka itu.

Kamu menghampiri tumpukan mainan itu. Memang semua ini hanyalah mainan anak-anak, tapi mungkin saja ada sesuatu yang berguna bagimu di sini. Kamu mencari-cari dan menemukan sejumlah barang yang tampaknya masih bisa digunakan: kapal di dalam botol, ukulele, seprei anak-anak, dan layang-layang. Sayangnya, berhubung semua itu berukuran cukup besar, kamu hanya bisa membawa satu barang.

Dan sekali lagi, kamu diingatkan siapakah monster yang sudah menyerangmu itu.

Baca episode berikutnya.


INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:


Hai para peserta MysteryGame@Area47!

Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan nama panggilan diikuti dengan jawaban atas pertanyaan ini:

MAINAN APAKAH YANG KAMU PILIH? (Pilih antara: kapal di dalam botol, ukulele, seprei anak-anak, dan layang-layang. Tidak perlu sebutkan alasannya.)

Lexie tunggu jawabannya sampai enam hari lagi. Jangan sampai telat ya mengirimkan jawabannya!

Good luck, everybody!

xoxo,
Lexie

1 comment:

Ricky rulistian said...

kalex aku pusing ng kliknya :v