Sunday, October 16, 2011

MysteryGame@Area47: THE WRITER, Episode 10 (Final Battle)

PERTARUNGAN TERAKHIR!
Pertarungan mati-matian antara kamu dan si monster berbau busuk! Apakah kamu sudah siap dengan angka-angka HP dan EP yang telah kamu hasilkan dari episode 4 (battle #1) dan episode 7 (battle #2)? Jangan lupakan kertas dan pensil untuk menghitung ya! Sukses untuk kalian semua, peserta MysteryGame@Area47 yang pemberani! \(^.^)/


Jika pada episode 9 kamu memilih:
1. menerkam si kakek tua dan merebut pistolnya, klik di sini.
2. ngumpet di balik sofa dan kabur, klik di sini.
3. pura-pura pingsan ketakutan, klik di sini.

Perhatian: Jangan sampai salah klik, karena akan sulit sekali untuk kembali ke awal.



KEMATIAN


Kamu meloncat ke belakang. Secara naluri kamu bersembunyi di belakang si kakek tua. Toh si kakek adalah kakak dari si monster, tak mungkin dia melukai kakak sendiri. Ya kan? Ya kan?

"Sudah kukatakan jangan memasuki rumahku," tegur si kakek dengan suara gemetar. Waduh, ternyata dia juga takut!

Si monster tidak menyahutnya. Yang terdengar hanyalah napasnya yang terengah-engah dengan keras disertai geraman yang senada dengan napasnya itu. Sepertinya dia agak kecapekan setelah mengejarku di jalanan. Dipikir-pikir, memang sih si monster ini kurang olah raga, kalau tiap harinya hanya mendekam di rumahnya yang gelap dan suram.

"Aku sudah janji aku pasti akan mencarikanmu mainan setiap bulan." Mainan? Dia menyebutmu mainan?! Kebangetan bener kakek tua keparat ini! Rasanya kamu sudah tak berminat menjaga sopan santun lagi. Kakek ini tak pantas mendapatkan kelakuan baik darimu! "Jadi kamu tak perlu mengacau di sini. Nih, kamu boleh bawa yang satu ini!"

Dia berbalik dan menghadapku. "Ayo, ikut dia."

Kamu memelototinya. Enak saja, dia kira kamu bodoh? "Nggak mau!"

"Cepat!"

"Bapak saja yang ikut dia!" serumu ngotot.

"Tidak bisa, aku harus menjaganya supaya tidak keluar dari..."

Si kakek tua tidak pernah menyelesaikan ucapannya. Aku hanya bisa terbelalak saat melihat si monster menamparkan tangannya ke arah si kakek tua, dan kepala si kakek pun terlepas dari lehernya. Darah hangat bermuncratan menyiramimu. Saat ini, rasanya kamu ingin menjerit-jerit histeris. Tapi kenyataannya, yang kamu bisa hanyalah berdiri terpaku di tempatmu. Kamu melihat si monster mencabik-cabik tubuh kakak kandungnya sendiri tanpa belas kasihan.

Dan saat itu kamu pun tahu, kematianmu sudah mendekat.

Klik di sini untuk melanjutkan.


JALAN KAKI


Kamu melihat ranselmu tergeletak tak jauh di dekatmu. Batang raket menyembul dari dalamnya. Sementara si kucing masih menarik perhatian si monster, kamu beringsut-ingsut mendekati ranselmu, menarik raket itu dengan tanganmu yang sudah tak bertenaga. Kamu tak tahu apa lagi yang bisa kamu lakukan dengan benda itu, tapi meski begitu, tindakan spontanmu adalah meraih setiap benda yang ada di dekatmu untuk mempertahankan hidup.

Dari celah matamu yang separuh tertutup, kamu melihat kaki si monster melangkah mendekatimu. Rupanya, hanya sebegini akhir hidupmu, pikirmu getir. Kamu mulai berdoa, mengucapkan maaf bagi orangtua yang sudah bersusah-payah membesarkanmu, teman-teman dan pembaca yang sudah mendukungmu, editor yang sudah banyak membantumu, kucing yang sudah berusaha menyelamatkanmu...

... ketika kamu melihat si monster melangkah masuk ke dalam lingkaran raket.

Ini dia kesempatanmu!

Seketika pikiranmu yang berkabut jernih kembali. Kamu menarik raket itu dengan sekuat tenaga, dan si monster langsung terjatuh dengan kepala duluan. Rasanya seluruh tenagamu pulih kembali--atau mungkin itu hanyalah seluruh tenaga yang tersisa yang berhasil kamu kumpulkan. Kamu menarik raket itu kembali, dan dengan sekuat tenaga, kamu pukulkan raket itu ke muka si monster, berkali-kali, sampai akhirnya si kucing menyeruak di antara kamu dan si monster, lalu menjilat-jilat si monster yang sudah tak bergerak lagi. (EP:-20)

Klik di sini untuk melanjutkan.


KELERENG


Kamu melemparkan kelereng-kelereng besar dan cantik yang menjadi pemberian terakhir si kakek tua yang sudah tercabik-cabik ke belakangmu. Sesuai harapanmu, si monster tidak sanggup menghindari kelereng-kelereng itu. Kamu bisa mendengar teriakan kaget si monster diikuti bunyi gedubrak yang menandakan dia tergelincir jatuh. Yang tak kamu sangka adalah bunyi BRAK yang sangat keras yang terdengar sesaat setelah bunyi jatuh si monster. Kamu tak sanggup menahan rasa penasaran, jadi kamu pun menoleh. Si monster sedang meraung sambil memegangi kepalanya yang sepertinya terbentur lantai. Astaga, rupanya keberuntungan masih memihakmu! (EP: -10)

Secercah harapan pun terbit di hatimu. Ada kemungkinan--meski kemungkinan itu kecil sekali--bahwa kamu bisa lolos dari sini. Dan kamu akan berjuang mati-matian demi kemungkinan itu.

Klik di sini untuk melanjutkan.


PERLAWANAN BALIK


Pemandangan di depanmu begitu mengerikan, sehingga selama beberapa waktu kamu hanya bisa mematung. Tapi lalu kamu tersadar, inilah saatnya kamu kabur. Sayangnya, kamu tidak bisa melarikan diri melalui pintu depan karena dihalangi oleh tubuh si monster yang super big size. Kamu menoleh ke belakang, dan teringat soal koridor yang mengantarmu ke arah toilet. Koridor itu memang memiliki beberapa pintu, tapi kamu tidak mengenal rumah itu dan ruangan-ruangannya. Kamu tidak tahu apakah ruangan yang kamu masuki memiliki akses ke luar rumah, atau malah akan menjadi jalan buntu bagimu. Tapi, kamu mengenal toilet itu--dan toilet itu ada jendela kecil di atasnya! Kamu bisa keluar dari situ!

Kamu melarikan diri ke koridor itu dengan secepat yang bisa kamu lakukan. Sialnya, gerakanmu yang mendadak rupanya menarik perhatian si monster. Dia langsung menghentikan kegiatannya dan mengejarmu. OH GOD. Ini seperti pelarian dari neraka, dengan si monster sekuat Hulk sebagai pengejar, dan kamu si malang berlumuran darah menjijikkan, menderita berbagai luka di sekujur tubuh, dan hati dipenuhi rasa takut sebagai mangsa! Orang bodoh pun bisa menebak apa akhir cerita ini, tapi kamu bukan orang yang mau menyerah begitu saja. Setidaknya, kamu akan memberikan perlawanan yang berarti!

Jika pada episode 8 kamu memilih:
1. tempat lilin, klik di sini.
2. patung kucing, klik di sini.
3. kelereng, klik di sini.
4. tabung gelas, klik di sini.

Perhatian: Jangan sampai salah klik, karena akan sulit sekali untuk kembali ke awal.



NGUMPET DI BALIK SOFA DAN KABUR


Meski kamu berada dalam posisi berbahaya, kamu masih saja merasa kasihan pada si kakek tua yang tampaknya sudah nyaris mendekati ajal itu dan sungkan untuk menggunakan kekerasan terhadapnya. Jadilah kamu merunduk di balik sofa dan ngumpet darinya.

Mungkin karena malam mengerikan yang kamu alami, seluruh panca inderamu jadi tajam luar biasa. Kamu bisa merasakan gerakan si kakek tua mendekati sofa. Kamu mengikuti permainannya--ketika dia mendekati sofa, kamu malah memutari sofa dan mendekatinya dari belakang. Saat dia menyadari kamu ada di belakangnya, semua sudah terlambat. Kamu berhasil menangkap kedua tangan yang memegangi pistol itu dan merebut senjata itu dengan mudah. Oke, si kakek tua berhasil menyikut matamu--sepertinya lebam, sialan--tapi setidaknya tidak ada darah yang nongol di sini. (HP:-5)

Belum sempat kamu bernapas lega, pintu terbuka disertai raungan keras. Kamu langsung berbalik ke arah pintu dan menembakkan pistolmu. Tapi luar biasa memang si monster, kecepatannya membuatmu terperangah. Ternyata dia sudah berada di depanmu dan merebut pistol dari tanganmu. Kamu bisa merasakan peluru pistol menembus telapak tangannya, tapi pistol itu juga hancur di tangan si monster. (EP:-15)

Apa yang harus kamu lakukan sekarang?

Klik di sini untuk melanjutkan.


NAIK SEPEDA JELEK


Kamu melihat ranselmu tergeletak tak jauh di depan mukamu. Rantai sepeda menyembul dari salah satu kantong ransel itu, membentuk lingkaran tak jelas. Kamu beringsut-ingsut mendekatinya tanpa tahu apa yang harus kamu lakukan. Pada saat kamu akhirnya tiba di dekat ransel itu, kamu melihat kaki si monster melangkah mendekatimu dari celah matamu yang sudah separuh tertutup. Rupanya, hanya sebegini akhir hidupmu, pikirmu getir. Kamu mulai berdoa, mengucapkan maaf bagi orangtua yang sudah bersusah-payah membesarkanmu, teman-teman dan pembaca yang sudah mendukungmu, editor yang sudah banyak membantumu, kucing yang sudah berusaha menyelamatkanmu...

... ketika kamu melihat si monster melangkah masuk ke dalam lingkaran tak jelas yang dibuat oleh rantai sepeda itu.

Ini dia kesempatanmu!

Seketika pikiranmu yang berkabut jernih kembali. Kamu menarik kedua ujung rantai dengan sekuat tenaga, menjerat salah satu kaki si monster, yang langsung terjatuh dengan kepala duluan. Rasanya seluruh tenagamu pulih kembali--atau mungkin itu hanyalah seluruh tenaga yang tersisa yang berhasil kamu kumpulkan. Kamu menarik rantai itu, dan dengan sekuat tenaga, kamu pukulkan rantai itu ke muka si monster, berkali-kali, sampai akhirnya si kucing menyeruak di antara kamu dan si monster, lalu menjilat-jilat si monster yang sudah tak bergerak lagi. (EP:-20)

Klik di sini untuk melanjutkan.


TEMPAT LILIN


Kamu melemparkan tempat lilin yang diberikan oleh si kakek tua ke arah si monster. Itu hanya serangan untung-untungan, sebenarnya. Tak kamu sangka, si monster meraung keras, menandakan ada sesuatu yang terjadi berkaitan dengan si tempat lilin. Kamu tak sanggup menahan rasa penasaran, jadi kamu pun menoleh. Si monster sedang meraung sambil memegangi bahunya yang sepertinya terserempet ujung-ujung tajam si tempat lilin yang sebenarnya digunakan untuk menahan batang lilin. Astaga, rupanya keberuntungan masih memihakmu! (EP: -10)

Secercah harapan pun terbit di hatimu. Ada kemungkinan--meski kemungkinan itu kecil sekali--bahwa kamu bisa lolos dari sini. Dan kamu akan berjuang mati-matian demi kemungkinan itu.

Klik di sini untuk melanjutkan.


DI DALAM TOILET


Kamu berhasil mencapai toilet. Pintu toilet di rumah itu hanyalah pintu tipis murahan yang gampang didobrak, jadi menguncinya takkan memberimu banyak waktu. Tetap saja, kamu menguncinya, menurunkan tutup kloset, dan naik ke atas untuk menjangkau jendela. Jendela itu kecil, jauh lebih kecil dari yang kamu harapkan, dan letaknya terlalu tinggi. Kamu mengeluarkan ransel yang kamu bawa terlebih dahulu, barulah kamu memanjat jendela itu.

Sialnya, kamu tersangkut di bagian pantat. Astaga, ini benar-benar memalukan! Pahlawan-pahlawan di berbagai film dan cerita novel, kalau ada bagian yang nyangkut, pasti bagiannya keren-keren: sepatu bot, ban pinggang, apa sajalah. Kenapa dalam kasusmu, yang nyangkut malah pantat?! Kamu berjanji, kalau kamu berhasil lolos dari si monster malam ini, kamu akan banyak-banyak latihan di gym demi mengencangkan pantat--atau kalau mau gampang, sedot lemak saja. Tapi membayangkan adegan sedot lemak membuatmu bergidik karena jijik. Tidak, latihan di gym jelas lebih oke. Siapa tahu kamu berhasil dapat pacar keren di situ.

Kamu mendengar bunyi dobrakan di belakang dan kamu semakin panik. Kamu berusaha menahan napas, mengempiskan perut, apa sajalah yang menurutmu mungkin bisa membuat pantatmu kempis sedikit. Dari sekian banyak usaha yang kamu lakukan, ternyata salah satunya berhasil: kamu meluncur turun dari jendela tepat saat si monster berhasil mendobrak pintu toilet. Kamu merasakan dia menarik celanamu--yang untungnya, sobek di bagian lutut. Kamu tak bisa membayangkan bagaimana akhir cerita ini kalau sampai celanamu diambil alih oleh si monster. Bisa-bisa cerita ini berakhir memalukan.

Kamu menyambar tas ranselmu dan berlari mengitari rumah. Dalam waktu singkat kamu pun tiba di pekarangan depan.

Klik di sini untuk melanjutkan.


MENERKAM SI KAKEK TUA DAN MEREBUT PISTOLNYA


Sebenarnya kamu sungkan melakukan ini. Jelas kan, si kakek tua udah tua banget, sementara kamu lagi muda-mudanya dan dalam puncak kesehatanmu. Nggak pantas rasanya kamu main seruduk-seruduk sama dia. Masalahnya, ini menyangkut hidup dan matimu, dan kamu ogah banget memilih mati hanya karena sungkan bergulat dengan kakek tua. Jadi, kamu pun menerkam si kakek tua yang, saking kagetnya dengan manuver dadakanmu, malah menembakkan pistolnya ke arahmu!

Kamu merasa lenganmu panas bagaikan terbakar. Gawat, apakah kamu kena tembak? Tapi kamu tak sempat mengeceknya. Kamu meneruskan rencanamu dan berhasil merebut pistol sialan itu dari si kakek tua. Begitu mencapai tujuanmu, buru-buru kamu berdiri dan menodong si kakek tua. Sekilas kamu melirik tanganmu. Oh, ternyata cuma keserempet peluru. Untunglah. Tapi tetap saja, tak bisa kamu sangkal, luka itu sakit luar biasa. (HP: -10)

"Jangan bergerak!"

Teriakanmu nyaris tak terdengar karena pada saat itulah pintu terbuka disertai raungan keras. Kamu langsung berbalik ke arah pintu dan menembakkan pistolmu. Tapi luar biasa memang si monster, kecepatannya membuatmu terperangah. Ternyata dia sudah berada di depanmu dan merebut pistol dari tanganmu. Kamu bisa merasakan peluru pistol menembus telapak tangannya, tapi pistol itu juga hancur di tangan si monster. (EP:-15)

Apa yang harus kamu lakukan sekarang?

Klik di sini untuk melanjutkan.


MENELEPON TAKSI


Dari celah matamu yang separuh tertutup, kamu melihat kaki si monster melangkah mendekatimu. Rupanya, hanya sebegini akhir hidupmu, pikirmu getir. Kamu mulai berdoa, mengucapkan maaf bagi orangtua yang sudah bersusah-payah membesarkanmu, teman-teman dan pembaca yang sudah mendukungmu, editor yang sudah banyak membantumu, kucing yang sudah berusaha memberimu waktu untuk kabur...

... ketika kamu mendengar dengung mobil dari belakangmu.

Secara spontan, kamu langsung menggulingkan tubuhmu ke pinggir jalan. Biarpun kamu sudah siap dibunuh monster, kamu tak sudi dilindas mobil begitu saja. Dengan mata terbelalak kamu melihat taksi yang kamu tunggu-tunggu berhenti di sampingmu. Kaca jendela pintu di kursi pengemudi turun, dan muka brewokan nongol di sana.

"Hei, Anda tak apa-apa?" tanyanya dengan muka cemas.

"Tabrak monster itu!" teriakmu sekeras yang kamu sanggup. "Dia berbahaya!"

Si supir terperanjat mendengar instruksimu, tapi tak percuma dia menjadi supir taksi yang berpengalaman. Dengan cepat dia menyadari situasinya, apalagi si monster sudah berlari dengan ganas ke arahnya. Dia menginjak gas sedalam mungkin, menimbulkan suara berdecit, dan meluncurkan mobil secepat yang dimungkinkan dalam jarak sedekat itu. Kamu masih sempat melihat bagaimana si monster menepiskan si kucing di saat-saat terakhir, lalu menyambut moncong mobil dengan tubuhnya sendiri. (EP:-25)

Kamu merasakan kelegaan tak terkira saat si supir taksi menarikmu bangun.

"Maaf," katanya. "Kelihatannya kita harus jalan kaki. Mobilnya nggak bisa di-starter lagi."

Klik di sini untuk melanjutkan.


PATUNG KUCING


Kamu mengeluarkan patung kucing tanda keberuntungan yang diberikan oleh si kakek tua padamu. Kamu betul-betul bodoh. Seharusnya kamu mengambil sesuatu yang bisa berguna sebagai senjata, bukannya patung kucing tolol yang tidak kelihatan berbahaya ini! Tapi hanya ini yang bisa kamu lakukan, jadi kamu pun menggulingkan patung kucing itu ke belakang, dengan harapan si monster menginjak si patung kucing dan terjatuh atau apa sajalah.

Mendadak bunyi langkah keras si monster di belakangmu terhenti. Mengapa? Kamu tak bisa menahan rasa penasaranmu dan menoleh ke belakang. Astaga, si monster memungut si patung kucing dan mengamatinya dengan penuh perhatian.

What the hell is that?!

Mendadak lantai kayu di bawah di monster hancur, dan si monster meluncur ke bawah sambil berteriak kaget. Rupanya lantai yang sudah tua itu tidak sanggup menahan berat badan si monster. Namun antara lantai kayu dan tanah di bawahnya tidak terlalu jauh, karena si monster hanya terjerumus hingga ke paha. Saat dia bangkit dari lubang itu, kamu melihat kakinya berdarah-darah akibat gesekan dengan ujung-ujung lantai kayu yang hancur. (EP:-15)

Secercah harapan pun terbit di hatimu. Ada kemungkinan--meski kemungkinan itu kecil sekali--bahwa kamu bisa lolos dari sini. Dan kamu akan berjuang mati-matian demi kemungkinan itu.

Klik di sini untuk melanjutkan.


PERTEMPURAN TERAKHIR


Kalau kamu mengira kamu sudah selamat, kamu salah! Meski si monster sudah cukup lelah dengan adegan kejar-kejaran ini, dia masih bisa bergerak cepat. Saat kamu sedang berlari ke jalanan depan, kamu merasa ranselmu dijambak dengan sebegitu kuatnya, sampai-sampai kamu ikut terlontar ke atas. Ranselmu terlepas, sementara kamu merasakan tubuhmu melayang--lalu menabrak dinding luar rumah dengan keras, begitu kerasnya sampai kamu
menggigit lidah sendiri dan tersedak darah segar yang keluar. Pandanganmu berkunang-kunang, sementara kepalamu pusing akibat kepala yang terbentur.

Belum sempat kamu memulihkan diri, si monster sudah menghampirimu. Terasa jelas hawa pembunuhnya yang begitu kental, membuatmu berpikir, "Bukannya si kakek tua bilang si monster ini akan tenang selama sebulan setelah dia mendapatkan satu korban? Kenapa ini belum sampai beberapa menit, dia sudah haus darah lagi?"

Si monster mencengkeram bahumu, dan kamu berteriak karena cengkeraman itu begitu keras, sampai-sampai rasanya ada yang retak. Tapi kamu tak sanggup memejamkan mata. Kamu menatap si monster dengan terbelalak, seolah-olah kamu sedang menatap kematian itu sendiri, dan mata itu membalas tatapanmu. Mata yang begitu hitam dan dalam, seolah-olah menelanmu ke dalam pusaran kematian yang gelap dan tak berdasar.

Kamu sudah siap dengan kematian paling mengerikan--dicabik-cabik sampai mati--tapi sekali lagi si monster melemparkanmu. Kali ini kamu terjerambap di atas aspal yang keras. Kamu merasakan seluruh tubuhmu, terutama kulit wajahmu yang tipis, tergesek jalanan aspal hingga menimbulkan goresan yang perih. Kini seluruh tubuhmu yang dipenuhi rasa sakit serasa tak sanggup bangkit kembali. (HP:-30)

Kamu sudah nyaris pasrah, ketika mendengar suara kucing mengeong keras. Kamu membuka mata dengan susah payah, dan mendapatkan pemandangan super aneh di depanmu. Ternyata si kucing jelek yang mengemis makanan di awal cerita dan menghilang pada saat kamu terancam bahaya, kini nongol di saat-saat terakhir! Dengan penuh semangat dia meloncat-loncat di depan si monster, seolah-olah dia berniat menghalangi si monster mencelakaimu.

Dasar kucing bodoh, pikirmu letih. Sekali ditabok, bisa-bisa dia mental sampai ke ujung bumi.

Anehnya, si monster tidak berniat menabok si kucing--bahkan dia kelihatan bingung dan tak berkutik. Pada saat itulah kamu menyadari sesuatu: kucing itu berkeliaran di rumah si monster dengan santai, seolah-olah itu adalah rumahnya sendiri. Hal itu hanya bisa terjadi kalau kucing itu berteman dengan si monster. Dan, seperti yang kamu saksikan kini, si monster yang berkekuatan setara Hulk sama sekali tak berdaya karena kucing jelek meloncat-loncat di depannya. Pemandangan yang luar biasa anehnya.

Lalu mendadak kamu sadari. Si kucing memberimu waktu, meski tidak banyak. Dan waktu singkat ini harus kamu pergunakan untuk sebaik-baiknya, untuk menyelamatkan nyawamu yang sudah berada di ujung tanduk.

Jika pada episode 7 kamu memilih:
1. jalan kaki, klik di sini.
2. naik sepeda jelek, klik di sini.
3. menelepon taksi, klik di sini.
4. menelepon agen properti, klik di sini.

Perhatian: Jangan sampai salah klik, karena akan sulit sekali untuk kembali ke awal.



PURA-PURA PINGSAN KETAKUTAN


Meski kamu berada dalam posisi berbahaya, kamu masih saja merasa kasihan pada si kakek tua yang tampaknya sudah nyaris mendekati ajal itu dan sungkan untuk menggunakan kekerasan terhadapnya. Lebih baik kamu gunakan trik saja. Berhubung kamu memang pada dasarnya sudah ketakutan banget, tak sulit bagimu untuk berlagak pingsan.

Setelah kamu sudah pingsan, kamu baru sadar--bagaimana kalau si monster tahu-tahu muncul dan menemukanmu dalam kondisi tak berdaya begitu? Bisa-bisa kamu langsung dicabik-cabiknya. Tapi sekarang sudah telat untuk mengubah rencana. Jantungmu berdebar makin keras setiap detiknya, sampai-sampai rasanya kamu sudah nyaris kena serangan jantung.

Tapi lalu kamu merasakan moncong si pistol yang dingin menyentuh lenganmu. Kamu menghitung sampai tiga di dalam hati, lalu membuka mata--tepat saat si kakek tua sudah berdiri lagi setelah mengiramu beneran pingsan. Kamu menendang ke tangannya, dan pistol pun terlempar ke atas. Kamu dan si kakek tua meloncat bersamaan untuk merebut si pistol--tapi mana mungkin kakek tua menang melawan anak muda yang sedang dipacu adrenalin? Tak urung si kakek tua yang merasa kesal karena ditipu tidak ingin menyerah begitu saja. Ditinjunya mukamu, tepat mengenai hidungmu yang langsung mengucurkan darah. Masa bodoh, pistol ada di tanganmu! (HP:-10)

Tepat pada saat itu, pintu terbuka disertai raungan keras. Kamu langsung berbalik ke arah pintu dan menembakkan pistolmu. Tapi luar biasa memang si monster, kecepatannya membuatmu terperangah. Ternyata dia sudah berada di depanmu dan merebut pistol dari tanganmu. Kamu bisa merasakan peluru pistol menembus telapak tangannya, tapi pistol itu juga hancur di tangan si monster. (EP:-10)

Apa yang harus kamu lakukan sekarang?

Klik di sini untuk melanjutkan.


MENELEPON AGEN PROPERTI


Dari celah matamu yang separuh tertutup, kamu melihat kaki si monster melangkah mendekatimu. Rupanya, hanya sebegini akhir hidupmu, pikirmu getir. Kamu mulai berdoa, mengucapkan maaf bagi orangtua yang sudah bersusah-payah membesarkanmu, teman-teman dan pembaca yang sudah mendukungmu, editor yang sudah banyak membantumu, kucing yang sudah berusaha memberimu waktu untuk kabur...

... ketika kamu mendengar dengung mobil dari belakangmu.

Secara spontan, kamu langsung menggulingkan tubuhmu ke pinggir jalan. Biarpun kamu sudah siap dibunuh monster, kamu tak sudi dilindas mobil begitu saja. Dengan mata terbelalak kamu melihat mobil si agen properti meluncur dengan kencang ke arah si monster yang, tanpa diduga, menepiskan si kucing ke samping. Mobil itu menabrak si monster, dan tetap melaju hingga menabrak tembok rumah--dan dengan demikian menjepit si monster hingga tak sanggup melepaskan diri lagi. (EP:-30)

Kamu merasakan kelegaan tak terkira saat si agen properti menarikmu bangun.

"Maaf," katanya. "Kelihatannya kita harus jalan kaki. Mobilnya rusak."

Klik di sini untuk melanjutkan.


TABUNG GELAS


Kamu mencampakkan tabung gelas tinggi dan cantik ke lantai di belakangmu, sehingga tabung itu pecah dan menghasilkan pecahan-pecahan kaca tajam. Sesuai harapanmu, terdengar teriakan si monster saat menjejakkan kakinya pada pecahan-pecahan kaca itu. Bagus, kamu berhasil melambatkan gerakannya! (EP: -5)

Secercah harapan pun terbit di hatimu. Ada kemungkinan--meski kemungkinan itu kecil sekali--bahwa kamu bisa lolos dari sini. Dan kamu akan berjuang mati-matian demi kemungkinan itu.

Klik di sini untuk melanjutkan.


AKHIR CERITA


Sekali lagi, buku keduamu meluncur ke pasaran dan disambut dengan gegap-gempita oleh para pembaca yang sudah menanti-nantikannya. Kali ini bahkan kamu berhasil memecahkan rekormu sendiri: bukumu berhasil memasuki cetakan kesepuluh di akhir bulan pertama. Kamu diselamati semua orang, mulai dari tukang becak yang hobi nangkring di ujung gang hingga wakil partai politik yang sedang berkampanye. Sebagai puncak keberhasilanmu, Lord Voldemort7 follow akun Twitter-mu dan mengatakan kamu adalah lawan yang patut diperhitungkan.

Tapi berbeda dengan dulu, kamu tidak terlalu pongah lagi. Bekas-bekas luka yang kamu dapatkan di malam mengerikan itu, bekas-bekas luka yang selamanya takkan hilang, adalah pengingat bagimu untuk terus rendah hati. Apa yang kamu capai hari ini bukanlah karena kejeniusanmu, melainkan karena usaha keras yang nyaris kamu tebus dengan nyawamu. Ya, betul, di buku kedua, kamu menceritakan kembali pengalamanmu di malam yang luar biasa itu, dengan bumbu humor dan anekdot yang dipanjang-panjangkan supaya ceritamu lebih menghibur dan bukumu kelihatan tebal.

Kamu tidak pernah melupakan akhir malam itu. Tentu saja, kamu akhirnya berhasil lolos dari perumahan yang bagaikan mimpi buruk itu dengan mobil BMW milik si kakek tua. Tak lupa, tentu saja, kamu membawa serta kucing yang sudah membantumu di saat-saat terjepit. Kamu mampir di kantor polisi, menceritakan pengalamanmu dan sempat dikira gila, sebelum akhirnya para polisi itu menemukan si monster yang masih saja terkapar di tempatnya. Pada saat siuman, monster itu sempat mengamuk dan melukai banyak polisi, dan baru tenang saat kamu melepaskan si kucing jelek yang langsung menghambur ke pelukan si monster. Rupanya, di antara mereka memang terjalin persahabatan yang aneh.

Kini kucing itu menjadi binatang peliharaan kesayanganmu. Kucing yang selalu mengingatkanmu untuk menyayangi binatang, tak peduli betapa jeleknya mereka. Dan seberapa pun suksesnya kamu, setiap kali kamu melihat kucing itu, kamu akan selalu teringat malam mengerikan itu, malam di mana nyawamu nyaris melayang, dan kamu hanya berhasil selamat berkat satu kebaikan remeh yang tak sengaja kamu tanamkan pada binatang kecil yang kelihatan tak berguna ini.


SELAMAT UNTUK PARA PESERTA MYSTERYGAME@AREA47!!!


Kalian akhirnya berhasil selamat dalam kisah menyeramkan ini! Nah, bagaimana dengan hasil akhir HP dan EP kalian? Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan nama Facebook dan nama panggilan, sementara di dalam email, tuliskan hasil HP dan EP yang kamu dapatkan hari ini.

Lexie tunggu emailnya hingga enam hari lagi. Pemenang akan diumumkan tiga minggu dari sekarang, atau dua minggu setelah semua email peserta diterima.

Thank you, everybody, for your participation in MysteryGame@Area47! \(^o^)/

xoxo,
Lexie

18 comments:

Agnes KyukeYewookie ShineElf said...

Huaaa :'( Walaupun gk bisa ikut tpi menyedihkan sekali :'(
hasib HP ku sisa 26 -.-" sedangkan si lawan alias EP masih ada 33 -.-" ceritanya bener-2 bikin penasaran ><

Lexie Xu said...

Hahaha itu termasuk lumayan, Agnes. Nanti kalo ada yang baru, ikutan yaa ^_~

^..dema ..^ said...

nyeselll bngt....., g daftar dari awal ,!!

Lexie Xu said...

@Dema: Iya sayang sekali ya... tapi gapapa, kalo sempet nanti aku mau bikin yang baru lagi bulan Januari. Ikutan ya! ^^

Tachijima Makoto said...

Ini salah satu cerita yg paling menegangkan yg pernah aku baca. walaupun aku g ngitung berapa HP dan EPnya, yg jelas cerita ini keren banget! MAaf saya baru baca.. =D

Lexie Xu said...

@Tachijima: Seneng banget dehh suka sama ceritanya! Ikut yang baru kan? ^_~

dbrnn♥ said...

kak, sebenarnya aku baru baca malam ini. dan selesai malam ini juga hehe. dan jujur, aku dapet HP: 25 dan EP: 5. hehe aku pilihnya, kamar depan, gergaji, mouse, kapal dalam botol, garpu, dapur, naik sepeda jelek, kelereng, dan menerkam kakek2 tua. itu dia hehe ;) pengen ikut yang baru tapi udah telat 3episode;(-_-

Lexie Xu said...

@dbrnn: hihi padahal nilainya lumayan ya ^^

Reffylia Esna Tiara said...

huwa degdegan -__- HPku nyaris abis tinggal 8, EPsi monster jelek masih 25, keren kak kerennn

Reffylia Esna Tiara said...

huwaa degdegan kak, aku telat banget nih bacanya :'( HPku sudah nyaris habis nih tinggal 8, EPsi monster jelek masih 25

Mira said...

sumpah kak "MysteryGame@Area47: THE WRITER" seru banget! bikin deg degan! aku sampe kaget pas tau2 pintu kamarku kebuka. aku kirain si monster bau. ternyata kakak ku :p
nyesel gak ikutan dari awal. btw, HPku tinggal 8, tapi EP si monster 5. berarti aku menang dong :p

Mira said...

sumpah "MysteryGame@Area47: THE WRITER" keren banget! seru! bikin deg degan! kak lexie hebat bisa bikin cerita kayak gini :D
btw, HPku tinggal 8, tapi EPnya 5. berarti aku menang ya kak :p

Nur Azizah said...

Argh kagak ikut dari awal -.-

Adelia Happy Rizky Ramadhani said...

akkkh seru banget ini ceritanya. huohohohoho HP sisa 13 dan EP sisa 15-___- parahhh X)) wkwkwkwk

Indi Destia S. said...

Kaleeexxx HPku 46, EP 68 :'))
Kapan ada game lagiii??? Pngn daftar niih :(

Vala said...

Seru bgt kalex uaaa! Sebenarnya udah berkali-kali baca ini, tapi aku baca ulang untuk kesekian kalinya hehe. HPku 31, EP 25. Menang dong? :p

tomtom yoosh said...

HP tinggal 1, EP 0
Musuh mati tapi sendirinya juga sekarat :3

Jocelin Tania said...

HP ku minus 82 n EP nya minus 105 XD