TERBIT 9 FEBRUARI 2016!
Penulis: Lexie Xu & Erlin Cahyadi
Editor: Tri Saputra
Sinopsis:
Erin Winata
Aku tidak pernah menyangka kehidupan SMA-ku menjadi rumit. Bayangkan, hanya baru saja resmi menjadi anak SMA, aku malah melihat pembunuhan! Yang lebih parah lagi, pelaku pembunuhan itu tahu aku telah melihatnya, dan kini mengincar nyawaku! Belum lagi aku harus menghadapi kenyataan bahwa satu-satunya cowok yang kusukai ternyata punya hubungan istimewa dengan sahabatku sendiri. Mana mungkin ada yang lebih sial daripada aku?
Lusi Rimba
Tadinya hari-hariku aman, damai, dan cenderung membosankan. Satu-satunya hal yang merecoki ketenangan hidupku hanya Joni alias Jonathan, si cowok sedingin es yang gaya rambutnya sudah ketinggalan mode sepuluh tahun. Namun, semua itu berubah saat aku menyaksikan pembunuhan bersama sahabatku. Lebih gawat lagi, korbannya malah menghantuiku dan mengatakan dia akan membalaskan dendamnya kepada kami semua karena sudah membuatnya menderita. Oh Tuhan, bagaimana cara kami meloloskan diri dari pembalasan hantu jahat dan dengki itu?
Showing posts with label thriller. Show all posts
Showing posts with label thriller. Show all posts
Wednesday, January 6, 2016
Monday, December 21, 2015
Update terbaru tentang When She's Dead
Dear readers,
When She's Dead bab delapan telah diupload! Kalian bisa membacanya di www.gwp.co.id/when-shes-dead/ atau di Wattpad. Oh ya, sebelumnya Kalex dan Kachris minta maaf dulu. Sehubungan dengan liburan akhir tahun, When She's Dead akan dipending untuk jangka waktu yang cukup lama. Tapi jika banyak peminatnya, kita berdua akan berusaha keras untuk mempercepat kelanjutan cerita ini. Tengkyu somadddd. xoxo.
Saturday, December 5, 2015
Read When She's Dead online ^o^
Mau baca naskah terbaruku, novel romantis thriller hasil kolaborasi bersama Christina Tirta? Ayo, gabung dengan Gramedia Writing Project dan baca secara onlen di http://gwp.co.id/when-shes-dead/. Kalian juga bisa membaca novel ini di akun Kalex di Wattpad. Happy reading!
Thursday, July 23, 2015
Coming Soon Omen #7: Target Terakhir
TERBIT 28 AGUSTUS 2015!
Penulis: Lexie Xu
Editor: Novera Kresnawati
Cover illustrator: Regina Feby
File 7: Kasus Pelenyapan Anggota-Anggota The Judges
Tertuduh: Siapa lagi kalau bukan Nikki si cewek bermulut nyaris sobek dan ibu angkatnya yang psikopat? Kali ini mereka juga mengajak serta satu oknum lain, yaitu Arman, pacar baru Nikki yang rupanya tidak kalah jahatnya dibanding Nikki. Selain itu, lagi-lagi mereka membawa geng motor Rapid Fire yang tinggal separuhnya setelah sebagian besar dikirim ke rumah sakit oleh si Obeng… maksudku, Les.
Fakta-fakta sejauh ini: Gara-gara terlalu nafsu mengalahkan kami di Pekan Olahraga, tahu-tahu saja Nikki mendapatkan dirinya mendapat beasiswa dan akan dikirim ke luar negeri dalam waktu singkat. Jadilah mereka mulai melakukan aksi-aksi gila, seperti menculik si Obeng dan menyiksanya habis-habisan, menjebak Rima, dan meledakkan rumah Daniel. Supaya tidak melibatkan lebih banyak orang lagi, ayah Val memerintahkan pembubaran The Judges. Sesuai dugaan, kemarahan Nikki dan ibunya tercurah pada kami, para anggota The Judges. Namun tidak disangka, satu per satu teman kami mulai lenyap. Ini adalah endgame Nikki dan ibunya, yang berarti, kemungkinan besar teman-teman kami tidak bakalan kembali hidup-hidup.
Misi kami: Menyelamatkan teman-teman kami sebelum semuanya tewas dibunuh Nikki dan ibunya.
Penulis: Lexie Xu
Editor: Novera Kresnawati
Cover illustrator: Regina Feby
File 7: Kasus Pelenyapan Anggota-Anggota The Judges
Tertuduh: Siapa lagi kalau bukan Nikki si cewek bermulut nyaris sobek dan ibu angkatnya yang psikopat? Kali ini mereka juga mengajak serta satu oknum lain, yaitu Arman, pacar baru Nikki yang rupanya tidak kalah jahatnya dibanding Nikki. Selain itu, lagi-lagi mereka membawa geng motor Rapid Fire yang tinggal separuhnya setelah sebagian besar dikirim ke rumah sakit oleh si Obeng… maksudku, Les.
Fakta-fakta sejauh ini: Gara-gara terlalu nafsu mengalahkan kami di Pekan Olahraga, tahu-tahu saja Nikki mendapatkan dirinya mendapat beasiswa dan akan dikirim ke luar negeri dalam waktu singkat. Jadilah mereka mulai melakukan aksi-aksi gila, seperti menculik si Obeng dan menyiksanya habis-habisan, menjebak Rima, dan meledakkan rumah Daniel. Supaya tidak melibatkan lebih banyak orang lagi, ayah Val memerintahkan pembubaran The Judges. Sesuai dugaan, kemarahan Nikki dan ibunya tercurah pada kami, para anggota The Judges. Namun tidak disangka, satu per satu teman kami mulai lenyap. Ini adalah endgame Nikki dan ibunya, yang berarti, kemungkinan besar teman-teman kami tidak bakalan kembali hidup-hidup.
Misi kami: Menyelamatkan teman-teman kami sebelum semuanya tewas dibunuh Nikki dan ibunya.
Penyidik Kasus Utama,
Erika Guruh
(dibantu para bawahan: Valeria Guntur, Viktor Yamada, Leslie Gunawan, Damian Erlangga, dan figuran-figuran lainnya)
Erika Guruh
(dibantu para bawahan: Valeria Guntur, Viktor Yamada, Leslie Gunawan, Damian Erlangga, dan figuran-figuran lainnya)
Saturday, October 11, 2014
Review The Silkworm (Robert Galbraith)
Sinopsis sampul belakang:
Seorang novelis bernama Owen Quine menghilang. Sang istri mengira suaminya hanya pergi tanpa pamit selama beberapa hari—seperti yang sering dia lakukan sebelumnya— lalu meminta Cormoran Strike untuk menemukan dan membawanya pulang.
Namun, ketika Strike memulai penyelidikan, dia mendapati bahwa perihal menghilangnya Quine tidak sesederhana yang disangka istrinya. Novelis itu baru saja menyelesaikan naskah yang menghujat orang banyak—yang berarti ada banyak orang yang ingin Quine dilenyapkan.
Kemudian mayat Quine ditemukan dalam kondisi ganjil dengan bukti-bukti telah dibunuh secara brutal. Kali ini Strike berhadapan dengan pembunuh keji, yang mendedikasikan waktu dan pikiran untuk merancang pembunuhan yang biadab tak terkira.
Detektif partikelir Cormoran Strike beraksi kembali bersama asistennya, Robin Ellacott, dalam novel misteri kedua karya Robert Galbraith, pengarang bestseller nomor 1 internasional The Cuckoo’s Calling. Robert Galbraith adalah nama alias J.K. Rowling.
“Kisah yang memikat, bukan hanya karena kejutan dan pelintirannya, tapi juga karena kerja tim yang seru... tokoh-tokoh yang ingin kita ketahui kelanjutan ceritanya.”
— Time
The Silkworm (Ulat Sutra)
Penulis : Robert Galbraith
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit: 11 Oktober 2014
Harga: Rp. 119.000,-
Tebal: 536 halaman
“Penulis memang berbeda,” kata Waldegrave. “Aku belum pernah bertemu penulis bagus yang tidak sedikit nyentrik.”
― The Silkworm oleh Robert Galbraith, halaman 118
“Jika Anda mengharapkan persahabatan seumur hidup, dan persahabatan yang tidak egois, bergabunglah dengan militer dan belajarlah membunuh. Kalau Anda menginginkan aliansi temporer seumur hidup dengan sesama yang akan menari gembira di atas setiap kegagalan Anda, menulislah novel.”
― Michael Fancourt, halaman 467, The Silkworm oleh Robert Galbraith
“Seluruh dunia menulis novel, tapi tidak ada yang membacanya.”
― Michael Fancourt, halaman 469, The Silkworm oleh Robert Galbraith
Alkisah, tersebutlah tiga orang penulis yang dipegang oleh seorang agen: Joe North, Michael Fancourt, dan Owen Quine. Mereka bertiga masih muda, penuh bakat, dan bersahabat baik. Namun seperti layaknya kisah-kisah tragis, Joe North yang justru paling ganteng dan berhati baik meninggal lantaran sakit, meninggalkan rumahnya yang indah untuk kedua sobat yang dikasihinya. Michael dan Owen mengatasi dukanya dengan caranya masing-masing. Michael mengerjakan naskah yang ditinggalkan Joe dan berhasil menjadikan peninggalan sobatnya itu sebagai novel bestseller, sementara Owen mengerjakan novelnya The Balzac Brothers, yang terinspirasi dari persahabatan mereka bertiga. Selang beberapa waktu kemudian, istri Michael bunuh diri lantaran novel barunya dijadikan parodi dan menjadi bahan tertawaan seluruh negeri. Tertuduh utama: Owen Quine.
Beginilah latar belakang kasus yang dihadapi oleh Cormoran Strike, detektif partikelir berkaki satu yang perfeksionis. Lagi capek-capeknya dengan berbagai masalah yang ada, tahu-tahu saja muncul Leonora Quine yang bertampang lusuh dan berharap Cormoran bisa membantunya menemukan suaminya yang hilang. Berhubung sedang capek—dan mungkin karena itu lupa dengan salah satu masalahnya adalah butuh duit—sifat idealis Cormoran nongol mendadak. Dengan tegas dia menolak klien yang menghasilkan dan justru menerima kasus yang kemungkinan besar tidak bakalan dibayar ini.
Dari sinopsis belakang novel, kita mengetahui bahwa Cormoran akan mendapatkan bahwa orang yang dicarinya, Owen Quine, tewas dengan cara yang sangat mengerikan di rumah peninggalan almarhum sobat dekatnya. Alasannya, gara-gara penulis yang sepertinya menyebalkan banget ini menulis naskah berjudul Bombyx Mori alias Ulat Sutra, yang isinya membongkar rahasia teman-teman sesama penulis, editor, bahkan pemilik penerbit, dengan bahasa yang vulgar dan menjijikkan ala Owen Quine. Celakanya, naskah ini pun tersebar ke seluruh negeri, membuatnya jadi musuh bebuyutan rekan-rekannya.
Pertanyaannya: siapa yang tega membunuh Owen Quine dengan cara yang begitu mengerikan? Apakah salah satu orang yang dicelakainya, ataukah justru sang penulis naskah sendiri?
Kisah The Silkworm menjadi personal bagi saya ketika kisah ini menceritakan kehidupan para penulis, yang kebetulan adalah profesi saya. Meski begitu, profesi penulis dipilih hanya untuk mewakili profesi-profesi lain, karena persaingan tidak sehat yang dilukiskan di novel ini tidak hanya terjadi dalam dunia kepenulisan, melainkan juga dalam profesi-profesi lain (termasuk juga ibu rumah tangga dan murid-murid sekolah). Omong-omong, saya punya banyak sobat penulis yang baik-baik, jadi saya yakin persaingan tidak sehat ini hanya dilakukan oleh segelintir orang. (^_^)v
Kisah pembunuhan yang diceritakan di The Silkworm luar biasa, dengan jalan penyelidikan yang menegangkan dan kisah-kisah menarik dari berbagai pihak, dan diakhiri dengan penyelesaian yang tidak terduga. Oke, pelakunya memang sudah bisa ditebak karena motif dan keterlibatannya tersebar di seluruh cerita, akan tetapi tetap saja, ada rahasia tak terduga yang luar biasa di akhir kisah, menciptakan ending yang membuktikan bahwa di dunia ini masih ada kebesaran hati. Sekali lagi saya mengucapkan “brilian!” untuk Robert Galbraith atas bukunya yang luar biasa, dengan karakter-karakter kuat yang mengagumkan, dan saya akan menantikan kelanjutan kisah ini dengan setia. Omong-omong, saya suka sekali dengan Al, adik Cormoran, yang sepertinya mengenal—atau lebih tepatnya lagi, dikenal—semua orang penting yang muncul. Semoga perannya di buku-buku berikutnya semakin besar.
The Silkworm diterjemahkan di Indonesia dengan judul Ulat Sutra oleh Siska Yuanita, editor senior, sementara puisi-puisinya diterjemahkan oleh M. Aan Mansyur. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dengan desain sampul mengikuti novel asli, dengan beberapa perubahan manis dilakukan oleh Marcel A.W.
Review ini juga di-post di Goodreads.
Seorang novelis bernama Owen Quine menghilang. Sang istri mengira suaminya hanya pergi tanpa pamit selama beberapa hari—seperti yang sering dia lakukan sebelumnya— lalu meminta Cormoran Strike untuk menemukan dan membawanya pulang.
Namun, ketika Strike memulai penyelidikan, dia mendapati bahwa perihal menghilangnya Quine tidak sesederhana yang disangka istrinya. Novelis itu baru saja menyelesaikan naskah yang menghujat orang banyak—yang berarti ada banyak orang yang ingin Quine dilenyapkan.
Kemudian mayat Quine ditemukan dalam kondisi ganjil dengan bukti-bukti telah dibunuh secara brutal. Kali ini Strike berhadapan dengan pembunuh keji, yang mendedikasikan waktu dan pikiran untuk merancang pembunuhan yang biadab tak terkira.
Detektif partikelir Cormoran Strike beraksi kembali bersama asistennya, Robin Ellacott, dalam novel misteri kedua karya Robert Galbraith, pengarang bestseller nomor 1 internasional The Cuckoo’s Calling. Robert Galbraith adalah nama alias J.K. Rowling.
“Kisah yang memikat, bukan hanya karena kejutan dan pelintirannya, tapi juga karena kerja tim yang seru... tokoh-tokoh yang ingin kita ketahui kelanjutan ceritanya.”
— Time
The Silkworm (Ulat Sutra)
Penulis : Robert Galbraith
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit: 11 Oktober 2014
Harga: Rp. 119.000,-
Tebal: 536 halaman
“Penulis memang berbeda,” kata Waldegrave. “Aku belum pernah bertemu penulis bagus yang tidak sedikit nyentrik.”
― The Silkworm oleh Robert Galbraith, halaman 118
“Jika Anda mengharapkan persahabatan seumur hidup, dan persahabatan yang tidak egois, bergabunglah dengan militer dan belajarlah membunuh. Kalau Anda menginginkan aliansi temporer seumur hidup dengan sesama yang akan menari gembira di atas setiap kegagalan Anda, menulislah novel.”
― Michael Fancourt, halaman 467, The Silkworm oleh Robert Galbraith
“Seluruh dunia menulis novel, tapi tidak ada yang membacanya.”
― Michael Fancourt, halaman 469, The Silkworm oleh Robert Galbraith
Alkisah, tersebutlah tiga orang penulis yang dipegang oleh seorang agen: Joe North, Michael Fancourt, dan Owen Quine. Mereka bertiga masih muda, penuh bakat, dan bersahabat baik. Namun seperti layaknya kisah-kisah tragis, Joe North yang justru paling ganteng dan berhati baik meninggal lantaran sakit, meninggalkan rumahnya yang indah untuk kedua sobat yang dikasihinya. Michael dan Owen mengatasi dukanya dengan caranya masing-masing. Michael mengerjakan naskah yang ditinggalkan Joe dan berhasil menjadikan peninggalan sobatnya itu sebagai novel bestseller, sementara Owen mengerjakan novelnya The Balzac Brothers, yang terinspirasi dari persahabatan mereka bertiga. Selang beberapa waktu kemudian, istri Michael bunuh diri lantaran novel barunya dijadikan parodi dan menjadi bahan tertawaan seluruh negeri. Tertuduh utama: Owen Quine.
Beginilah latar belakang kasus yang dihadapi oleh Cormoran Strike, detektif partikelir berkaki satu yang perfeksionis. Lagi capek-capeknya dengan berbagai masalah yang ada, tahu-tahu saja muncul Leonora Quine yang bertampang lusuh dan berharap Cormoran bisa membantunya menemukan suaminya yang hilang. Berhubung sedang capek—dan mungkin karena itu lupa dengan salah satu masalahnya adalah butuh duit—sifat idealis Cormoran nongol mendadak. Dengan tegas dia menolak klien yang menghasilkan dan justru menerima kasus yang kemungkinan besar tidak bakalan dibayar ini.
Dari sinopsis belakang novel, kita mengetahui bahwa Cormoran akan mendapatkan bahwa orang yang dicarinya, Owen Quine, tewas dengan cara yang sangat mengerikan di rumah peninggalan almarhum sobat dekatnya. Alasannya, gara-gara penulis yang sepertinya menyebalkan banget ini menulis naskah berjudul Bombyx Mori alias Ulat Sutra, yang isinya membongkar rahasia teman-teman sesama penulis, editor, bahkan pemilik penerbit, dengan bahasa yang vulgar dan menjijikkan ala Owen Quine. Celakanya, naskah ini pun tersebar ke seluruh negeri, membuatnya jadi musuh bebuyutan rekan-rekannya.
Pertanyaannya: siapa yang tega membunuh Owen Quine dengan cara yang begitu mengerikan? Apakah salah satu orang yang dicelakainya, ataukah justru sang penulis naskah sendiri?
Kisah The Silkworm menjadi personal bagi saya ketika kisah ini menceritakan kehidupan para penulis, yang kebetulan adalah profesi saya. Meski begitu, profesi penulis dipilih hanya untuk mewakili profesi-profesi lain, karena persaingan tidak sehat yang dilukiskan di novel ini tidak hanya terjadi dalam dunia kepenulisan, melainkan juga dalam profesi-profesi lain (termasuk juga ibu rumah tangga dan murid-murid sekolah). Omong-omong, saya punya banyak sobat penulis yang baik-baik, jadi saya yakin persaingan tidak sehat ini hanya dilakukan oleh segelintir orang. (^_^)v
Kisah pembunuhan yang diceritakan di The Silkworm luar biasa, dengan jalan penyelidikan yang menegangkan dan kisah-kisah menarik dari berbagai pihak, dan diakhiri dengan penyelesaian yang tidak terduga. Oke, pelakunya memang sudah bisa ditebak karena motif dan keterlibatannya tersebar di seluruh cerita, akan tetapi tetap saja, ada rahasia tak terduga yang luar biasa di akhir kisah, menciptakan ending yang membuktikan bahwa di dunia ini masih ada kebesaran hati. Sekali lagi saya mengucapkan “brilian!” untuk Robert Galbraith atas bukunya yang luar biasa, dengan karakter-karakter kuat yang mengagumkan, dan saya akan menantikan kelanjutan kisah ini dengan setia. Omong-omong, saya suka sekali dengan Al, adik Cormoran, yang sepertinya mengenal—atau lebih tepatnya lagi, dikenal—semua orang penting yang muncul. Semoga perannya di buku-buku berikutnya semakin besar.
The Silkworm diterjemahkan di Indonesia dengan judul Ulat Sutra oleh Siska Yuanita, editor senior, sementara puisi-puisinya diterjemahkan oleh M. Aan Mansyur. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dengan desain sampul mengikuti novel asli, dengan beberapa perubahan manis dilakukan oleh Marcel A.W.
Review ini juga di-post di Goodreads.
Monday, September 22, 2014
Omen #6: Sang Pengkhianat
TERBIT 9 OKTOBER 2014!!
Penulis: Lexie Xu
Editor: Novera Kresnawati
Cover Illustrator: Regina Feby
File 6 : Kasus Penjahit Manusia dengan Korban Atlet-Atlet Unggulan Pekan Olahraga
Tertuduh : Kami. Yep, kalian tidak salah baca. Kami-kami yang seharusnya menyelidiki kasus ini malah menjadi tertuduh lantaran ada beberapa saksi yang mengatakan mereka melihat kami di tempat kejadian. Tentu saja kami tidak sudi pasrah dengan situasi ini dan bertekad untuk menyelidikinya. Kecurigaan kami jatuh pada dua cewek paling jahat di sekolah kami: Nikki dan Eliza. Tambahan lagi, kini mereka mendapat bantuan dari Damian Erlangga sang pangeran iblis, serta mantan sobat kami yang kini menjadi musuh bebuyutan kami: Erika Guruh.
Fakta-fakta : Pada hari-hari menjelang Pekan Olahraga, atlet badminton unggulan sekolah kami ditemukan di lapangan badminton dalam kondisi tidak sadar dengan mata, mulut, dan anggota badan terjahit rapat. Saksi mata berupa sahabat korban mengatakan dia melihat Rima berkeliaran di dekat lapangan pada saat kejadian. Di siang hari, pada hari yang sama, kapten tim futsal ditemukan mengalami kejadian tragis yang sama, dan kali ini orang-orang melihat Putri Badai melarikan diri dari tempat kejadian. Keesokan harinya ada “tips tepercaya” yang mengatakan Aya akan melakukan kejahatan berikutnya, dan sebelum kami sempat melakukan sesuatu Aya sudah ditahan polisi.
Misi kami : Menemukan pelaku sebenarnya sebelum kami dihukum untuk perbuatan yang tidak kami lakukan.
Penyidik kasus,
Valeria Guntur, Rima Hujan, Putri Badai, dan Aria Topan
Penulis: Lexie Xu
Editor: Novera Kresnawati
Cover Illustrator: Regina Feby
File 6 : Kasus Penjahit Manusia dengan Korban Atlet-Atlet Unggulan Pekan Olahraga
Tertuduh : Kami. Yep, kalian tidak salah baca. Kami-kami yang seharusnya menyelidiki kasus ini malah menjadi tertuduh lantaran ada beberapa saksi yang mengatakan mereka melihat kami di tempat kejadian. Tentu saja kami tidak sudi pasrah dengan situasi ini dan bertekad untuk menyelidikinya. Kecurigaan kami jatuh pada dua cewek paling jahat di sekolah kami: Nikki dan Eliza. Tambahan lagi, kini mereka mendapat bantuan dari Damian Erlangga sang pangeran iblis, serta mantan sobat kami yang kini menjadi musuh bebuyutan kami: Erika Guruh.
Fakta-fakta : Pada hari-hari menjelang Pekan Olahraga, atlet badminton unggulan sekolah kami ditemukan di lapangan badminton dalam kondisi tidak sadar dengan mata, mulut, dan anggota badan terjahit rapat. Saksi mata berupa sahabat korban mengatakan dia melihat Rima berkeliaran di dekat lapangan pada saat kejadian. Di siang hari, pada hari yang sama, kapten tim futsal ditemukan mengalami kejadian tragis yang sama, dan kali ini orang-orang melihat Putri Badai melarikan diri dari tempat kejadian. Keesokan harinya ada “tips tepercaya” yang mengatakan Aya akan melakukan kejahatan berikutnya, dan sebelum kami sempat melakukan sesuatu Aya sudah ditahan polisi.
Misi kami : Menemukan pelaku sebenarnya sebelum kami dihukum untuk perbuatan yang tidak kami lakukan.
Penyidik kasus,
Valeria Guntur, Rima Hujan, Putri Badai, dan Aria Topan
Sunday, May 25, 2014
Omen #5: Kutukan Hantu Opera
TERBIT 12 JUNI 2014!!
Penulis: Lexie Xu
Editor: Novera Kresnawati
Cover Illustrator: Regina Feby
File 5: Kasus Penganiayaan Anak-anak Pelaku Kejahatan SMA Harapan Nusantara Pada Malam Pementasan Kutukan Hantu Opera
Tertuduh: Lagi-lagi Kelompok Radikal Anti-Judges. Kali ini, muncul seseorang yang belum apa-apa sudah berani mati mengakui dirinya sebagai lawan kami. Damian Erlangga, anak baru misterius yang dipenuhi berbagai gosip brutal yang bikin dirinya ditakuti semua orang.Sepertinya dia menaruh minat pada Putri Badai. Mungkin naksir. Selain itu, kami juga harus memperhitungkan Nikki dengan senyum-mulut-robek-nya yang menghantui mimpi buruk kami, serta seseorang yang muncul dari masa lalu Erika.
Fakta-fakta sejauh ini: Diadakan pementasan Phantom of the Opera kendati sudah ada legenda mengenai kutukan Hantu Opera. Gosipnya, saat drama itu dipentaskan, akan ada banyak orang yang mati. Pada saat latihan drama, Aya nyaris saja mengalami kecelakaan yang mengancam nyawanya. Selain itu, masih ada banyak gangguan lain (dicurigai beberapa di antaranyabukan ulah iseng Erika). Kemudian, pada malam pementasan drama, satu per satu orang yang pernah melakukan kejahatan di SMA Harapan Nusantara ditemukan dalam kondisi kritis dan topeng terbelah. Lebih celakanya lagi, di tengah-tengah drama, Valeria hilang.
Misi kami: Menemukan Valeria dan membekuk pelaku kutukan Hantu Opera.
Penyidik Kasus,
Putri Badai, Aria Topan, & Rima Hujan
+ Erika Guruh & Valeria Guntur
Penulis: Lexie Xu
Editor: Novera Kresnawati
Cover Illustrator: Regina Feby
File 5: Kasus Penganiayaan Anak-anak Pelaku Kejahatan SMA Harapan Nusantara Pada Malam Pementasan Kutukan Hantu Opera
Tertuduh: Lagi-lagi Kelompok Radikal Anti-Judges. Kali ini, muncul seseorang yang belum apa-apa sudah berani mati mengakui dirinya sebagai lawan kami. Damian Erlangga, anak baru misterius yang dipenuhi berbagai gosip brutal yang bikin dirinya ditakuti semua orang.
Fakta-fakta sejauh ini: Diadakan pementasan Phantom of the Opera kendati sudah ada legenda mengenai kutukan Hantu Opera. Gosipnya, saat drama itu dipentaskan, akan ada banyak orang yang mati. Pada saat latihan drama, Aya nyaris saja mengalami kecelakaan yang mengancam nyawanya. Selain itu, masih ada banyak gangguan lain (dicurigai beberapa di antaranya
Misi kami: Menemukan Valeria dan membekuk pelaku kutukan Hantu Opera.
Penyidik Kasus,
Putri Badai, Aria Topan, & Rima Hujan
+ Erika Guruh & Valeria Guntur
Labels:
action,
GPU,
horor,
kho,
komedi,
kutukan,
kutukan hantu opera,
lexie xu,
misteri,
novel,
omen 5,
omen series,
summary,
teenlit,
thriller
Sunday, January 26, 2014
Background Music of Omen #4: Malam Karnaval Berdarah
Mau dengar? Klik link ini: https://soundcloud.com/lexiexu/canon-piano. Romantis banget ya?
Lagu yang dimainkan oleh Daniel untuk Rima, yaitu Canon yang diciptakan oleh Johann Pachelbel. Hmm, Johannn. Kebetulan?
Lagu yang dimainkan oleh Daniel untuk Rima, yaitu Canon yang diciptakan oleh Johann Pachelbel. Hmm, Johannn. Kebetulan?
Ingin Mendengarkan Suara Johan?
Ayo klik link ini: https://soundcloud.com/lexiexu/johan-series. Serem nggak? (^_^)v
Sebenarnya, rencananya soundcloud ini bakalan dipakai sebagai background sound dari booktrailer Johan Series. Tapi rasanya aneh juga tiba-tiba bikin booktrailer Johan Series padahal buku-bukunya sudah terbit lama. Yah, akan disimpan untuk kesempatan lain deh. Seperti Johan Series cetak ulang ganti cover. Menurut kalian gimana?
Sebenarnya, rencananya soundcloud ini bakalan dipakai sebagai background sound dari booktrailer Johan Series. Tapi rasanya aneh juga tiba-tiba bikin booktrailer Johan Series padahal buku-bukunya sudah terbit lama. Yah, akan disimpan untuk kesempatan lain deh. Seperti Johan Series cetak ulang ganti cover. Menurut kalian gimana?
Monday, January 20, 2014
Omen #4: Malam Karnaval Berdarah
TERBIT 6 FEBRUARI 2014!!
Penulis: Lexie Xu
Editor: Novera Kresnawati
Cover illustrator: Regina Feby
File 4 : Kasus perusakan wajah anggota OSIS SMA Harapan Nusantara di malam karnaval.
Tertuduh: Kelompok Radikal Anti-Judges. Tidak diketahui siapa sebenarnya anggota kelompok yang namanya jelek banget ini, meski kami punya dugaan kuat: Erika Guruh dan Valeria Guntur, dua anggota The Judges yang membelot lantaran tidak menyetujui kebijakan-kebijakan OSIS. Tambahan lagi, mereka berdua adalah kombinasi paling mematikan di sekolah kami yang sanggup melawan Putri Badai si Hakim Tertinggi, yang punya sekutu berupa ketua OSIS yang punya kemampuan misterius dan wakilnya yang berandalan, alias kami berdua.
Fakta-fakta: Putri Badai menerima surat-surat ancaman untuk membubarkan susunan keanggotaan OSIS dengan tuduhan pemungutan suaranya dimanipulasi. Saat Putri menolak menanggapi mereka, kami menemukan mayat binatang diletakkan di ruang OSIS. Lebih parahnya lagi, di acara pertama yang dilakukan oleh OSIS, mereka mulai mengincar anggota-anggota OSIS yang populer. Satu per satu ditemukan dalam kondisi pingsan, dengan tubuh penuh luka dan wajah yang dirusak.
Misi kami: Menemukan pelaku sebenarnya sebelum persahabatan kami hancur untuk selamanya.
Penyidik Kasus,
Rima Hujan & Daniel Yusman
Penulis: Lexie Xu
Editor: Novera Kresnawati
Cover illustrator: Regina Feby
File 4 : Kasus perusakan wajah anggota OSIS SMA Harapan Nusantara di malam karnaval.
Tertuduh: Kelompok Radikal Anti-Judges. Tidak diketahui siapa sebenarnya anggota kelompok yang namanya jelek banget ini, meski kami punya dugaan kuat: Erika Guruh dan Valeria Guntur, dua anggota The Judges yang membelot lantaran tidak menyetujui kebijakan-kebijakan OSIS. Tambahan lagi, mereka berdua adalah kombinasi paling mematikan di sekolah kami yang sanggup melawan Putri Badai si Hakim Tertinggi, yang punya sekutu berupa ketua OSIS yang punya kemampuan misterius dan wakilnya yang berandalan, alias kami berdua.
Fakta-fakta: Putri Badai menerima surat-surat ancaman untuk membubarkan susunan keanggotaan OSIS dengan tuduhan pemungutan suaranya dimanipulasi. Saat Putri menolak menanggapi mereka, kami menemukan mayat binatang diletakkan di ruang OSIS. Lebih parahnya lagi, di acara pertama yang dilakukan oleh OSIS, mereka mulai mengincar anggota-anggota OSIS yang populer. Satu per satu ditemukan dalam kondisi pingsan, dengan tubuh penuh luka dan wajah yang dirusak.
Misi kami: Menemukan pelaku sebenarnya sebelum persahabatan kami hancur untuk selamanya.
Penyidik Kasus,
Rima Hujan & Daniel Yusman
Wednesday, December 25, 2013
Review The Cuckoo's Calling (Robert Galbraith)
Ketika seorang supermodel jatuh dari ketinggian balkon di Mayfair yang bersalju, polisi menetapkan bahwa ini kasus bunuh diri. Namun, kakak korban meragukan keputusan itu, dan menghubungi sang detektif partikelir, Cormoran Strike, untuk menyelidikinya.
Strike seorang veteran perang yang memiliki luka fisik dan luka batin. Hidupnya sedang kisruh. Kasus ini memberinya kelonggaran dalam hal keuangan, tapi menuntut imbalan pribadi yang mahal: semakin jauh dia terbenam dalam kasus ini, semakin kelam kenyataan yang ditemuinya---dan semakin besar bahaya yang mengancam nyawanya...
Kisah misteri yang mencekam dan anggun, mengelana di antara atmosfer London yang pekat---dari jalanan Mayfair yang mewah dan sunyi, ke bar-bar suram di East End, hingga ke keriuhan Soho. The Cuckoo’s Calling adalah kisah misteri yang menawan.
Memperkenalkan Cormoran Strike, inilah novel kriminal pertama J.K. Rowling, menggunakan nama alias Robert Galbraith.
“Sesekali, muncul seorang detektif partikelir yang langsung merenggut imajinasi pembaca... [Galbraith] memiliki sentuhan ajaib dalam menggambarkan London dan memperkenalkan jagoan barunya.”
—Daily Mail

Penulis: Robert Galbraith
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 22 Desember 2013
Harga: Rp. 99.000,-
Tebal: 520 halaman
“Bagaimana kematian seseorang yang tak pernah kaukenal begitu memengaruhimu?”
― Robert Galbraith, The Cuckoo’s Calling
“Yang mati hanya bisa berbicara melalui mulut orang-orang yang ditinggalkan, dan melalui tanda-tanda yang terserak di belakang mereka.”
― Robert Galbraith, The Cuckoo’s Calling
Siapa yang tidak kenal dengan J.K. Rowling? Penulis serial Harry Potter ini sudah identik banget dengan novel-novel bergenre fantasi. Tidak diduga-duga, beliau akhirnya menulis novel bergenre misteri juga! Jelas, novel ini adalah salah satu novel yang paling dinantikan di tahun 2013 ini. Thanks God, saya memiliki kesempatan untuk membaca buku ini jauh lebih cepat dari yang saya duga.
The Cuckoo’s Calling ditulis oleh J.K. Rowling dengan nama pena Robert Galbraith. Mengingat salah satu penulis favorit saya yang lain yang juga menulis dengan nama pena (Nora Roberts sebagai J.D. Robb), saya sudah mengharapkan novel yang sangat jauh berbeda dengan Harry Potter. Ternyata, harapan saya tidak sia-sia, bahkan lebih baik lagi: gaya penulisan Robert Galbraith yang lincah, cerdas, dan kocak benar-benar sesuai dengan gaya penulisan yang saya sukai. Dalam sekejap, saya langsung jatuh cinta pada Robert Galbraith.
Satu-satunya persamaan dengan serial Harry Potter—hal yang sangat saya syukuri—adalah tokoh-tokoh dengan karakter kuat, baik tokoh-tokoh utama maupun para figuran. Beberapa menyebalkan, tetapi kebanyakan sangat menarik. Lebih banyak menggunakan adegan-adegan singkat dan menarik ketimbang kata-kata sifat, Robert Galbraith mampu membuat kita semua menyukai Cormoran Strike dan bersimpati pada kisah hidupnya yang tidak terlalu bahagia. Mau tidak mau kita juga langsung menyukai Robin Ellacott, sang asisten, yang lebih memilih gaji kecil dan pekerjaan mengasyikkan daripada gaji besar dengan pekerjaan membosankan. Kita ikut memikirkan kesedihan sang korban, Lula Landry alias Cuckoo, yang cantik dan eksotis, dengan hidup yang berantakan dan pacar yang lebih berantakan lagi. Yang tidak kalah menarik bagiku adalah Ciara Porter, si supermodel pirang yang aslinya ternyata jauh lebih menarik daripada foto-fotonya.
Sesuai dengan sinopsis di cover belakang, The Cuckoo’s Calling adalah kisah mengenai penyelidikan seorang detektif partikelir bernama Cormoran Strike atas pembunuhan seorang supermodel bernama Lula Landry yang juga dikenal dengan julukan Cuckoo. Di awal kisah, kondisi Cormoran Strike yang sedang malang-malangnya mulai berubah saat dia bertemu dengan asisten baru, Robin Ellacott yang cantik, cerdas, dan panjang akal. Penyelidikan mengenai Lula mengantarnya pada saksi-saksi yang menarik, yang bisa diandalkan maupun yang suka berbohong, yang benar-benar menyukai Lula maupun yang hanya menginginkan keuntungan pribadi. Pada akhirnya, kisah ditutup dengan penyelesaian yang sempurna, yang menjelaskan setiap kejanggalan dan keanehan yang ditemui oleh Cormoran.
Meski demikian, semuanya tidak benar-benar berakhir. Timbul banyak pertanyaan mengenai Cormoran dan Robin. Apakah Cormoran akan bertemu dengan ayahnya? Bagaimanakah kelanjutan hubungan Robin dengan Matthew setelah dia membuat keputusan penting mengenai karirnya? Apakah harapan kita para pembaca akan terwujud untuk melihat Cormoran bersama-sama dengan Robin? Saya rasa, setiap pembaca The Cuckoo’s Calling pasti akan memiliki keinginan yang sama: kami ingin segera membaca sekuelnya! Keinginan ini sepertinya akan terwujud, karena di Goodreads kita bisa melihat bahwa ini hanyalah buku pertama dari serial Cormoran Strike. Yayyy!
Secara singkat, pendapat saya untuk The Cuckoo’s Calling bisa diringkas dalam satu kata: brilian! Setelah menulis serial Harry Potter yang terkenal, J.K. Rowling sanggup menciptakan novel lain dengan genre dan gaya penulisan yang sangat berbeda dengan buku perdana yang sangat menjanjikan. Untuk selanjutnya, kita bisa mengharapkan buku-buku luar biasa lain lagi dari J.K. Rowling. Mungkin dengan genre lain—horor?
The Cuckoo’s Calling diterjemahkan di Indonesia dengan judul Dekut Burung Kukuk oleh Siska Yuanita, editor senior, dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Desain sampul yang manis dilakukan oleh Marcel A.W.
Review ini juga di-post di Goodreads.
Strike seorang veteran perang yang memiliki luka fisik dan luka batin. Hidupnya sedang kisruh. Kasus ini memberinya kelonggaran dalam hal keuangan, tapi menuntut imbalan pribadi yang mahal: semakin jauh dia terbenam dalam kasus ini, semakin kelam kenyataan yang ditemuinya---dan semakin besar bahaya yang mengancam nyawanya...
Kisah misteri yang mencekam dan anggun, mengelana di antara atmosfer London yang pekat---dari jalanan Mayfair yang mewah dan sunyi, ke bar-bar suram di East End, hingga ke keriuhan Soho. The Cuckoo’s Calling adalah kisah misteri yang menawan.
Memperkenalkan Cormoran Strike, inilah novel kriminal pertama J.K. Rowling, menggunakan nama alias Robert Galbraith.
“Sesekali, muncul seorang detektif partikelir yang langsung merenggut imajinasi pembaca... [Galbraith] memiliki sentuhan ajaib dalam menggambarkan London dan memperkenalkan jagoan barunya.”
—Daily Mail

The Cuckoo’s Calling (Dekut Burung Kukuk)
Penulis: Robert Galbraith
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 22 Desember 2013
Harga: Rp. 99.000,-
Tebal: 520 halaman
“Bagaimana kematian seseorang yang tak pernah kaukenal begitu memengaruhimu?”
― Robert Galbraith, The Cuckoo’s Calling
“Yang mati hanya bisa berbicara melalui mulut orang-orang yang ditinggalkan, dan melalui tanda-tanda yang terserak di belakang mereka.”
― Robert Galbraith, The Cuckoo’s Calling
Siapa yang tidak kenal dengan J.K. Rowling? Penulis serial Harry Potter ini sudah identik banget dengan novel-novel bergenre fantasi. Tidak diduga-duga, beliau akhirnya menulis novel bergenre misteri juga! Jelas, novel ini adalah salah satu novel yang paling dinantikan di tahun 2013 ini. Thanks God, saya memiliki kesempatan untuk membaca buku ini jauh lebih cepat dari yang saya duga.
The Cuckoo’s Calling ditulis oleh J.K. Rowling dengan nama pena Robert Galbraith. Mengingat salah satu penulis favorit saya yang lain yang juga menulis dengan nama pena (Nora Roberts sebagai J.D. Robb), saya sudah mengharapkan novel yang sangat jauh berbeda dengan Harry Potter. Ternyata, harapan saya tidak sia-sia, bahkan lebih baik lagi: gaya penulisan Robert Galbraith yang lincah, cerdas, dan kocak benar-benar sesuai dengan gaya penulisan yang saya sukai. Dalam sekejap, saya langsung jatuh cinta pada Robert Galbraith.
Satu-satunya persamaan dengan serial Harry Potter—hal yang sangat saya syukuri—adalah tokoh-tokoh dengan karakter kuat, baik tokoh-tokoh utama maupun para figuran. Beberapa menyebalkan, tetapi kebanyakan sangat menarik. Lebih banyak menggunakan adegan-adegan singkat dan menarik ketimbang kata-kata sifat, Robert Galbraith mampu membuat kita semua menyukai Cormoran Strike dan bersimpati pada kisah hidupnya yang tidak terlalu bahagia. Mau tidak mau kita juga langsung menyukai Robin Ellacott, sang asisten, yang lebih memilih gaji kecil dan pekerjaan mengasyikkan daripada gaji besar dengan pekerjaan membosankan. Kita ikut memikirkan kesedihan sang korban, Lula Landry alias Cuckoo, yang cantik dan eksotis, dengan hidup yang berantakan dan pacar yang lebih berantakan lagi. Yang tidak kalah menarik bagiku adalah Ciara Porter, si supermodel pirang yang aslinya ternyata jauh lebih menarik daripada foto-fotonya.
Sesuai dengan sinopsis di cover belakang, The Cuckoo’s Calling adalah kisah mengenai penyelidikan seorang detektif partikelir bernama Cormoran Strike atas pembunuhan seorang supermodel bernama Lula Landry yang juga dikenal dengan julukan Cuckoo. Di awal kisah, kondisi Cormoran Strike yang sedang malang-malangnya mulai berubah saat dia bertemu dengan asisten baru, Robin Ellacott yang cantik, cerdas, dan panjang akal. Penyelidikan mengenai Lula mengantarnya pada saksi-saksi yang menarik, yang bisa diandalkan maupun yang suka berbohong, yang benar-benar menyukai Lula maupun yang hanya menginginkan keuntungan pribadi. Pada akhirnya, kisah ditutup dengan penyelesaian yang sempurna, yang menjelaskan setiap kejanggalan dan keanehan yang ditemui oleh Cormoran.
Meski demikian, semuanya tidak benar-benar berakhir. Timbul banyak pertanyaan mengenai Cormoran dan Robin. Apakah Cormoran akan bertemu dengan ayahnya? Bagaimanakah kelanjutan hubungan Robin dengan Matthew setelah dia membuat keputusan penting mengenai karirnya? Apakah harapan kita para pembaca akan terwujud untuk melihat Cormoran bersama-sama dengan Robin? Saya rasa, setiap pembaca The Cuckoo’s Calling pasti akan memiliki keinginan yang sama: kami ingin segera membaca sekuelnya! Keinginan ini sepertinya akan terwujud, karena di Goodreads kita bisa melihat bahwa ini hanyalah buku pertama dari serial Cormoran Strike. Yayyy!
Secara singkat, pendapat saya untuk The Cuckoo’s Calling bisa diringkas dalam satu kata: brilian! Setelah menulis serial Harry Potter yang terkenal, J.K. Rowling sanggup menciptakan novel lain dengan genre dan gaya penulisan yang sangat berbeda dengan buku perdana yang sangat menjanjikan. Untuk selanjutnya, kita bisa mengharapkan buku-buku luar biasa lain lagi dari J.K. Rowling. Mungkin dengan genre lain—horor?
The Cuckoo’s Calling diterjemahkan di Indonesia dengan judul Dekut Burung Kukuk oleh Siska Yuanita, editor senior, dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Desain sampul yang manis dilakukan oleh Marcel A.W.
Review ini juga di-post di Goodreads.
Thursday, October 24, 2013
Kumpulan Cerpen: Tales From The Dark
Penulis: Christina Juzwar, Christina Tirta, Dadan Erlangga, Erlin Cahyadi, Lea Agustina Citra, Lexie Xu, Luna Torashyngu, Poppy D. Chusfani, Pricillia A.W., Regina Feby, Valleria Verawati, Veronica B. Vonny, Yennie HardiwidjajaEditor: Novera Kresnawati
Cover Illustrator: Dadan Erlangga
Sinopsis:
“Ini adalah kumpulan kisah kami. Kisah-kisah yang kami bisikkan dalam kegelapan, kisah-kisah sebelum kami bertemu kematian...”
Saat cewek-cewek populer mengadakan slumber party, Marcia malah menemukan sebuah video yang tidak boleh dilihat. Windy terpaksa tinggal di rumah tua milik kenalannya demi kuliah, dan tidak dinyana rumah itu menyimpan rahasia masa lalu yang tidak diingatnya lagi. Amira terkena hukuman untuk sesuatu yang bukan salahnya, dan semuanya berubah menjadi bencana saat dia menemukan jalan rahasia. Sementara Kinara tidak pernah mengerti, kenapa semuanya harus menjadi milik Galuh?
Ada pula kisah tentang rumah permintaan yang bisa mengabulkan apa saja untuk sebuah harga tinggi. Ada kisah tentang kakak-beradik yang terjebak di ruko tua. Ada kisah tentang pacar lama yang menagih janji. Ada kisah tentang seorang cewek yang sakit hati karena dijadikan taruhan. Dan ada kisah tentang sebuah keluarga misterius yang terlalu bersemangat membuat kostum Halloween.
Pernahkah kalian dikuntit oleh perempuan berponi dengan rambut panjang? Pernahkah kalian mendapat hadiah-hadiah aneh yang semakin lama semakin mengerikan? Pernahkah kalian menjanjikan sesuatu pada orang yang baru dikenal? Dan pernahkah kalian bertanya-tanya, apakah rahasia yang selalu disembunyikan sahabat terdekatmu?
Ini adalah kumpulan cerpen thriller dan horor dari 13 penulis dengan karakter yang berbeda-beda. Apakah kalian punya nyali untuk membacanya?
Thursday, October 3, 2013
OMEN #3: Misteri Organisasi Rahasia The Judges
Penulis: Lexie XuEditor: Novera Kresnawati
Cover Illustrator: Regina Feby
Sinopsis:
File 3 : Kasus penganiayaan murid-murid SMA Harapan Nusantara dalam proses seleksi anggota organisasi rahasia “The Judges”.
Tertuduh :
Penyelenggara proses seleksi itu, alias para anggota “The Judges” yang semuanya misterius, mencurigakan, dan menyebalkan. Sifat sok berkuasa mereka membuat mereka jadi tertuduh ideal. Belum lagi undangan demi undangan yang dilayangkan pada para anggota kendati sudah terjadi peristiwa-peristiwa tak mengenakkan, menandakan mereka tidak peduli pada korban. Tentu saja, tertuduh utama adalah pemimpin organisasi sok keren ini, si Hakim Tertinggi.
Fakta-fakta :
Pada minggu terakhir tahun ajaran, surat-surat undangan dilayangkan pada anak-anak paling cerdas dan berbakat di kelas X, mengajak kami untuk mengikuti proses seleksi untuk menjadi anggota organisasi paling berpengaruh di sekolah kami. Tidak dinyana, satu per satu kami diserang secara brutal pada proses seleksi, ditinggalkan dalam posisi seolah-olah mereka menjadi korban ritual sebuah upacara.
Misi kami :
Menemukan pelaku kejahatan sebelum kami sendiri menjadi korban.
Penyidik Kasus,
Erika Guruh, Valeria Guntur, dan Rima Hujan
Saturday, June 8, 2013
MysteryGame@Area47™ #3: How to play/cara bermain
THE STORY:
Menceritakan tentang kamu yang memutuskan untuk menghabiskan liburan dengan traveling seorang diri. Namun kemalangan sepertinya selalu mengikutimu. Tahu-tahu saja, bus mogok di tengah jalan dan kamu harus mencari tempat untuk menghabiskan malam. Satu-satunya tempat terdekat adalah sebuah desa misterius dengan penghuni-penghuni yang tidak biasa. Lebih celakanya lagi, siapa yang sudah masuk ke dalam desa itu, tak bakalan bisa keluar lagi. Kecuali...
Cara mengikuti permainan:
1. Menjadi member page fanpage Lexie Xu dan Lexsychopaths dengan menekan tombol like DAN/ATAU follow akun Twitter @lexiexu dan @lexsychopaths untuk mengetahui kapan ada episode MysteryGame yang terbaru. Setelah itu, kirimkan email kosong ke lexiexu47@gmail.com dengan subject bertuliskan nama dan nama FB/Twitter kamu sebagai email pendaftaran. Ditunggu sampai tanggal 16 Juni ya! ^^
2. Setiap episode baru akan di-upload ke blog pada hari Minggu (biasanya sore).
3. Baca ceritanya baik-baik, lalu lakukan instruksi di akhir cerita. Kirimkan hasilnya ke lexiexu47@gmail.com paling telat hari Sabtu (enam hari setelah cerita di-post). Supaya adil, yang telat akan didiskualifikasi.
4. Pemenang dipilih berdasarkan nilai yang tertinggi setelah mengikuti keseluruhan cerita, dan berhak mendapatkan satu kupon MysteryGame@Area47™. Kupon ini bisa ditukar dengan novel karya Lexie pilihanmu. ^^
5. Good luck, everybody, and may the odds be ever in your favor! ^^
xoxo,
Lexie
Menceritakan tentang kamu yang memutuskan untuk menghabiskan liburan dengan traveling seorang diri. Namun kemalangan sepertinya selalu mengikutimu. Tahu-tahu saja, bus mogok di tengah jalan dan kamu harus mencari tempat untuk menghabiskan malam. Satu-satunya tempat terdekat adalah sebuah desa misterius dengan penghuni-penghuni yang tidak biasa. Lebih celakanya lagi, siapa yang sudah masuk ke dalam desa itu, tak bakalan bisa keluar lagi. Kecuali...
Cara mengikuti permainan:
1. Menjadi member page fanpage Lexie Xu dan Lexsychopaths dengan menekan tombol like DAN/ATAU follow akun Twitter @lexiexu dan @lexsychopaths untuk mengetahui kapan ada episode MysteryGame yang terbaru. Setelah itu, kirimkan email kosong ke lexiexu47@gmail.com dengan subject bertuliskan nama dan nama FB/Twitter kamu sebagai email pendaftaran. Ditunggu sampai tanggal 16 Juni ya! ^^
2. Setiap episode baru akan di-upload ke blog pada hari Minggu (biasanya sore).
3. Baca ceritanya baik-baik, lalu lakukan instruksi di akhir cerita. Kirimkan hasilnya ke lexiexu47@gmail.com paling telat hari Sabtu (enam hari setelah cerita di-post). Supaya adil, yang telat akan didiskualifikasi.
4. Pemenang dipilih berdasarkan nilai yang tertinggi setelah mengikuti keseluruhan cerita, dan berhak mendapatkan satu kupon MysteryGame@Area47™. Kupon ini bisa ditukar dengan novel karya Lexie pilihanmu. ^^
5. Good luck, everybody, and may the odds be ever in your favor! ^^
xoxo,
Lexie
Thursday, June 6, 2013
OMEN #2: Tujuh Lukisan Horor
Penulis: Lexie XuEditor: Novera Kresnawati
Cover Illustrator: Regina Feby
File 2 : Kasus lenyapnya sejumlah orang secara misterius di SMA Harapan Nusantara.
Tertuduh :
Algojo bertampang monster dan bersenjata parang yang mengerikan, yang konon keluar dari Tujuh Lukisan Horor karya Rima Hujan. Gosipnya, dia berniat menjatuhkan hukuman kepada orang-orang yang terlibat dalam tragedi tahun lalu. Tidak diketahui apakah tokoh ini nyata atau hasil imajinasi.
Fakta-fakta :
Sebuah surat ancaman dilayangkan ke Kepala Sekolah SMA Harapan Nusantara, menyebabkan kami dilibatkan dalam peristiwa ini. Dengan bantuan mantan tukang ojek bermuka masam dan montir baik hati garis miring bos geng motor, kami pun mengadakan berbagai penyelidikan mengenai tragedi tahun lalu. Namun, satu demi satu orang yang terlibat dalam kejadian ini mulai lenyap. Yang tertinggal hanyalah ruangan berantakan akibat pergulatan dan lukisan yang menggambarkan hukuman mengerikan yang diterima oleh orang-orang tersebut. Tidak diketahui orang-orang ini masih hidup atau tidak.
Misi kami :
Menemukan orang-orang yang lenyap dan menyelamatkan mereka sekaligus membekuk pelaku kejahatan yang sebenarnya.
Penyidik Kasus,
Erika Guruh & Valeria Guntur
Monday, December 3, 2012
Before The Last Day
TERBIT 17 DESEMBER 2012!!Penulis: Lexie Xu, Regina Feby, Erlin Cahyadi, Retni Sb, Dadan Erlangga, Valleria Verawati, Eva Sri Rahayu, Teresa Bertha, Irena Tjiunata, etc
Editor: Novera Kresnawati, Donna Widjajanto
Cover Illustrator: eMTe
Megie menerima pekerjaan sebagai peramal jadi-jadian hanya karena ingin meramaikan kedai kopi temannya, namun dia terpaksa mulai mengarang-ngarang cerita saat gambar-gambar di kopi mulai terasa mengerikan. Smile hanya ingin melihat senyum Kakek sebelum dia meninggal, namun tiba-tiba dia mendapatkan dirinya bakalan dikurbankan untuk ritual menyelamatkan Bumi. Sementara Feby yang memenuhi bucket list-nya sebelum kiamat, mendadak kebagian tugas untuk melenyapkan mayat.
Kalau bukan gara-gara kiamat, Anette tidak akan berani menyelidiki bunyi-bunyian menyeramkan dari loteng rumahnya. Rasi tidak akan mengalami time slip yang membuatnya bertemu Rezky kembali. Sementara Dinda dan Salsa akan terus melanjutkan meneruskan permusuhan mereka tanpa mengindahkan masa lalu yang pernah mengikat mereka.
16 kisah gelap dan mencekam, ditulis oleh 16 penulis dengan gaya berbeda. Kisah-kisah yang diawali dengan pembunuhan, pengkhianatan, penglihatan, kebencian, ketakutan, dan kesedihan. Kisah-kisah yang kemudian membawa pada harapan, keajaiban, dan pada akhirnya… cinta.
Besok adalah hari kiamat. Apa yang akan kalian lakukan hari ini?
Wednesday, September 5, 2012
Things You Should Know About OMEN
Dear Lexsychopaths,
Berhubung ada banyak pertanyaan sehubungan dengan terbitnya OMEN, maka Kalex akan memberikan sejumlah kisi-kisi supaya kalian punya bayangan seperti apakah cerita OMEN:
1. OMEN adalah sebuah cerita baru dan bukan lanjutan dari Johan Series. Meski begitu, akan ada beberapa hubungan dengan Johan Series seperti munculnya Inspektur Lukas yang masih berpangkat rendah (ahahaha), menandakan kisah ini terjadi sebelum Johan Series (jadi bukan karena Inspektur Lukas diturunin pangkatnya, ohohohohoho).
2. Harapannya, OMEN bakalan punya sekuel, tapi belum tentu akan dijadikan serial atau tidak. Kedua tokoh utama cewek sudah terungkap di OMEN, sementara tokoh utama cowok, selain tokoh utama di OMEN, adalah Leslie Gunawan yang waktu itu masih imut-imut. ^^v
3. Apa artinya OMEN? Sebenarnya, ada film horor klasik yang terkenal sekali berjudul The Omen. Penjahatnya adalah anak kecil yang dirasukin iblis. Nah, OMEN yang jadi judul novel terbaruku ini adalah julukan bagi si tokoh utama yang dianggap mirip penjahat di film tersebut. ^^
4. Harga OMEN 47 ribu (maaf ya, tadinya Kalex kirain 48 ribu, tapi untung jadi lebih murah, bukannya jadi lebih mahal ^o^). Apakah ini suatu kebetulan menyangkut Area 47? Yah, Kalex percaya angka 47 itu selalu menghiasi hal-hal baik dalam hidup Kalex. Sebagai contoh, nomor produk Obsesi dan Permainan Maut berakhir dengan angka 47 (no kidding!!).
5. Tanggal terbit OMEN 17 September 2012. Awalnya dijadwalkan tanggal 13, tapi rupanya ada penundaan. ^^ Ini berarti, tanggal 17 September OMEN akan beredar di Jabodetabek, lalu tanggal 20 September ke bagian-bagian lain di pulau Jawa. Harapannya, dalam waktu sepuluh hari berikutnya bisa menyebar ke pulau-pulau lain juga.
6. Untuk pemesanan dengan diskon 15% plus tanda tangan dari Kalex bisa hubungi www.lexiemedia.com.
Segitu dulu dari Kalex. Thank you everybody, and until next time... ♥
xoxo,
Lexie
Berhubung ada banyak pertanyaan sehubungan dengan terbitnya OMEN, maka Kalex akan memberikan sejumlah kisi-kisi supaya kalian punya bayangan seperti apakah cerita OMEN:
1. OMEN adalah sebuah cerita baru dan bukan lanjutan dari Johan Series. Meski begitu, akan ada beberapa hubungan dengan Johan Series seperti munculnya Inspektur Lukas yang masih berpangkat rendah (ahahaha), menandakan kisah ini terjadi sebelum Johan Series (jadi bukan karena Inspektur Lukas diturunin pangkatnya, ohohohohoho).
2. Harapannya, OMEN bakalan punya sekuel, tapi belum tentu akan dijadikan serial atau tidak. Kedua tokoh utama cewek sudah terungkap di OMEN, sementara tokoh utama cowok, selain tokoh utama di OMEN, adalah Leslie Gunawan yang waktu itu masih imut-imut. ^^v
3. Apa artinya OMEN? Sebenarnya, ada film horor klasik yang terkenal sekali berjudul The Omen. Penjahatnya adalah anak kecil yang dirasukin iblis. Nah, OMEN yang jadi judul novel terbaruku ini adalah julukan bagi si tokoh utama yang dianggap mirip penjahat di film tersebut. ^^
4. Harga OMEN 47 ribu (maaf ya, tadinya Kalex kirain 48 ribu, tapi untung jadi lebih murah, bukannya jadi lebih mahal ^o^). Apakah ini suatu kebetulan menyangkut Area 47? Yah, Kalex percaya angka 47 itu selalu menghiasi hal-hal baik dalam hidup Kalex. Sebagai contoh, nomor produk Obsesi dan Permainan Maut berakhir dengan angka 47 (no kidding!!).
5. Tanggal terbit OMEN 17 September 2012. Awalnya dijadwalkan tanggal 13, tapi rupanya ada penundaan. ^^ Ini berarti, tanggal 17 September OMEN akan beredar di Jabodetabek, lalu tanggal 20 September ke bagian-bagian lain di pulau Jawa. Harapannya, dalam waktu sepuluh hari berikutnya bisa menyebar ke pulau-pulau lain juga.
6. Untuk pemesanan dengan diskon 15% plus tanda tangan dari Kalex bisa hubungi www.lexiemedia.com.
Segitu dulu dari Kalex. Thank you everybody, and until next time... ♥
xoxo,
Lexie
Labels:
chat,
horor,
komedi,
lexie xu,
misteri,
novel,
omen,
omen series,
personal,
romance,
teenlit,
thriller
Tuesday, August 28, 2012
Coming Soon: OMEN
TERBIT 17 SEPTEMBER!Penulis: Lexie Xu
Editor: Novera Kresnawati
Cover Ilustrator: Regina Feby
File 1: Kasus Penusukan Siswa-Siswi SMA Harapan Nusantara
Tertuduh: Erika Guruh, dikenal juga dengan julukan si Omen. Berhubung tertuduh memang punya tampang seram, sifat nyolot, reputasi jelek penuh cela, tidak ada yang ragu bahwa dia pelakunya. Tambahan lagi, ditemukan bukti-bukti yang mengarah padanya.
Fakta-fakta sejauh ini: Bukan rahasia lagi tertuduh saling membenci dengan korban pertama. Perselisihan antara keduanya semakin menajam saat timbul spekulasi bahwa tertuduh ingin merebut pacar korban pertama. Tidak heran saat korban ditemukan nyaris tewas di proyek pembangunan, kecurigaan langsung tertuju pada tertuduh. Menambah sulit masalah, saat disuruh mendekam di rumah oleh pihak kepolisian, tertuduh malah kabur dengan tukang ojek langganannya yang bertampang residivis. Dan yang pada akhirnya membuat tertuduh terpojok, dia juga orang pertama yang tiba di TKP korban-korban berikutnya.
Misiku: Membuktikan tertuduh tidak bersalah dan menemukan pelaku kejahatan yang sebenarnya.
Penyidik Utama,
Valeria Guntur
Labels:
action,
horor,
komedi,
lexie xu,
misteri,
novel,
omen,
omen series,
summary,
teenlit,
thriller
Sunday, July 22, 2012
MysteryGame@Area47: THE ASYLUM™, episode 10 (final battle)
PERTARUNGAN TERAKHIR!
Pertarungan terakhir kalian melawan Dokter X yang kini dibantu oleh Johan, mantan rekan seperjuanganmu yang telah berkhianat! Apakah kamu sudah siap dengan HP, JP, dan XP yang kamu dapatkan pada saat menempuh episode 7 (battle #2)? Siapkan kertas dan pensil, tuliskan nilai HP, JP, dan XP tersebut di sana. Inilah saat penentuan, apakah kamu akan mengakhiri kisah ini dengan selamat, penuh luka-luka, ataukah nyaris mati? Dan bagaimana akhir kedua lawan yang sudah siap menghabisimu? Sanggupkah kamu menghalangi niat mereka demi mempertahankan hidupmu sendiri? Semua jawaban ada dalam pilihan-pilihanmu!
Jika pada Episode 9 kamu memilih:
1. Merobohkan rak yang dipenuhi berbagai peralatan menyeramkan dan membuat kekacauan, klik di sini.
2. Ngumpet di dalam kamar mandi laboratorium, klik di sini.
3. Kabur sambil mendobrak sekuat tenaga, klik di sini.
Permen
"Permen apa ini?" tanya si Kakek dengan muka takjub. "Nano-nano? Saya suka sekali Nano-nano! Tapi sudah lama saya tak pernah berhasil menemukannya!"
"Nanti saya beliin lagi buat Kakek yang banyak!" janjimu dengan sepenuh hati.
"Beneran? Baiklah, saya akan bukakan pintu."
Tepat saat si Kakek membukakan pintu, mendadak terdengar gerungan mengerikan dari belakang. Kamu menoleh dan mendapatkan Dokter X yang separuh badannya mengalami luka bakar. Bau gosong menguar darinya, sementara wajahnya yang berkerut-kerut tampak mengerikan. Ajaibnya, dia masih saja mengenakan maskernya.
"Dasar cacing!" teriaknya. "Berani-beraninya kau menghancurkan pusat penelitianku yang berharga! Akan kukoyak-koyakkan kau!"
Kamu terperanjat saat Dokter X meloncat ke arahmu dan mulai melaksanakan ancamannya dengan menarik kupingmu sekuat tenaga. Gila, rasanya kupingmu nyaris putus! (HP: -5) Tapi saat itu juga ada yang merenggut Dokter X darimu. Sambil meraba-raba kupingmu yang nyaris berpisah denganmu, kamu menatap Dokter X yang kini sedang digebuki ramai-ramai oleh teman-temanmu sesama penghuni rumah sakit jiwa. (XP:-30)
"Jangan berani-beraninya menyentuh bos kami!"
"Ya benar! Dia lawan yang terlalu kecil buatmu, tahu?"
"Apa kau tidak tahu kau kalah jumlah?"
Dengan susah-payah Dokter X melepaskan diri dan kabur dari ruangan itu. Kamu berjalan ke arah pintu dan si Kakek tersenyum padamu.
"Pergilah," katanya, "dan selamatkan orang-orang malang ini."
Klik di sini untuk melanjutkan.
Kabur sambil mendobrak sekuat tenaga
Kamu teringat kata-kata Johan bahwa kamu punya kekuatan super. Oke, kalau itu memang benar, seharusnya kamu bisa mendobrak keluar dari sini. Jadi, dengan mengerahkan seluruh tenagamu, kamu pun mendobrak kerumunan di depan.
Sialnya, sepertinya Johan salah. Seseorang bertenaga kuat mendorongmu, membuatmu mental sampai menabrak semua meja. Tanpa berpikir panjang, kamu meraih setiap barang yang ada di meja itu dan melemparkannya pada kerumunan massa yang siap mengeroyokmu. Scalpel, penjepit, berbagai botol...
Tunggu dulu. Sepertinya kamu melemparkan sesuatu yang berbau tajam. Astaga, ini kan bau alkohol! Kalau begitu... kamu bisa menimbulkan kebakaran di sini.
Atau, lebih bagus lagi, di ruangan bos.
Kamu meraih kompor kecil yang sedang menyala di atas meja dan melemparkannya jauh ke depan, ke ruangan yang ditempati Johan dan Dokter X. Dalam sekejap api pun berkobar. Dengan ngeri kamu melihat api yang kamu timbulkan membakar banyak orang, termasuk Johan dan Dokter X yang langsung berteriak-teriak kesakitan. (JP: -40, XP:-50)
Tapi kamu tahu kamu tidak bisa tetap tinggal. Terbirit-birit, kamu pun melarikan diri dari ruangan itu.
Klik di sini untuk melanjutkan.
Tongkat Besi
Kamu memegangi tongkat besimu laksana tongkat bisbol, siap untuk mengayunkannya.
"Ayo," tantangmu sambil memasang kuda-kuda, "kita akhirnya semuanya sekarang juga!"
Johan dan Dokter X saling berpandangan, lalu mengangguk. Dalam sekejap, mereka sudah berada di dekatmu. Rupanya, meski dengan tubuh-tubuh dipenuhi luka bakar, keduanya masih bisa bergerak dengan sangat cepat. Benar-benar hebat.
Kamu bukan orang yang jago berantem. Bahkan, sebelum semua ini terjadi, kamu hanyalah anak yang senang membaca dan menulis di rumah. Kamu sama sekali bukan tipe anak jalanan. Dikeroyok dua orang yang siap mati begini seharusnya membuatmu ketakutan dan kelabakan.
Tapi, anehnya, kamu merasa tenang. Sekelilingmu terasa sunyi sepi, yang ada hanyalah aliran udara cepat yang menandakan datangnya serangan. Dan setiap kali kamu merasakannya, kamu selalu berhasil mengelaknya. Sebaliknya, aneh sekali, setiap kali kamu melancarkan serangan, kamu selalu berhasil mengenai mereka. Kamu berhasil melukai kaki keduanya sampai berdarah-darah, anggota badan yang paling kamu incar supaya kamu bisa kabur tanpa dikejar mereka. (JP: -10, XP: -20)
Tetap saja, dikeroyok dua orang bukanlah sesuatu yang gampang. Apalagi Johan juga membawa pisau belatinya. Dia berhasil melukai tangan kananmu, membuat seranganmu makin lama makin melambat pula. Sial. (HP:-15)
Sebuah ledakan besar menyentakkan kalian semua. Mendadak pusat penelitian itu ambruk semuanya. Kamu shock, menyadari pastinya ada orang-orang yang masih berada di dalam gedung. Mungkin beberapa penjaga yang tak berhasil menyelamatkan diri, belum lagi penghuni rumah sakit jiwa yang jadi kelinci percobaan dan tak sempat kamu selamatkan. Betapa mengerikan semua kejadian ini!
"Pusat penelitianku!" raung Dokter X sambil menghambur pada reruntuhan itu. Namun kejadian itu ternyata tidak terlalu romantis seperti yang ada pada cerita-cerita, karena pada saat itu juga, sebongkah pecahan bangunan jatuh menimpanya. (XP:-10)
Klik di sini untuk melanjutkan.
Bangsal THE ASYLUM
Kamu berlari menyusuri koridor yang panjang. Terdengar bunyi beberapa ledakan di belakangmu, menandakan kebakaran yang kamu buat berhasil menghancurkan sebagian besar musuh! Itu sesuatu yang tak terduga, tapi kamu merasa sangat bangga karenanya.
Setelah beberapa saat, kamu menyadari kamu berada di jalan yang benar. Koridor ini mengarah pada bangsal tempat pintu keluar berada! Benar saja, tak lama kemudian, kamu tiba di depan pintu kayu raksasa tempat kamu berpisah dengan Johan. Seperti saat itu, pintu itu terkunci rapat. Iseng-iseng kamu menggunakan tuas di samping pintu--dan pintu itu terbuka! Sebelum masuk ke dalam, untuk berjaga-jaga, kamu mengintip ke dalam.
Ternyata aula itu dipenuhi para pasien rumah sakit jiwa. Rupanya mereka semua sedang dikumpulkan di bangsal besar tersebut. Seperti biasa, kebanyakan dari mereka hanya berjalan-jalan tanpa juntrungan--sisanya duduk atau berdiri tanpa semangat hidup.
Setelah yakin tidak ada penjaga di dalamnya, kamu pun masuk ke dalam dan berdiri di atas podium.
"Teman-teman!" teriakmu. "Ayo, kita dobrak pintu tempat ini dan kabur bersama-sama!"
Sama sekali tidak ada reaksi. Semua orang tetap menjalankan kegiatan mereka seperti biasa seolah-olah kamu tidak pernah berbicara. Ya ampun, malunya! Tapi ini bukan saatnya mikirin gengsi. Kalau kamu kabur seorang diri, itu berarti kamu meninggalkan semua orang ini untuk dijadikan kelinci percobaan.
"Teman-teman!" teriakmu lagi. "Kalian mau menunggu mati di sini???"
Mungkin ada kata "mati" disebut-sebut, semua jadi menoleh ke arahmu.
"Kalau kalian tetap di sini, kalian pasti akan mati!" Dengan berapi-api kamu menekankan kata "mati" supaya mereka mau mendengarkan pidatomu. "Tapi kalau kita meloloskan diri bersama-sama, kita punya harapan untuk hidup!"
Setelah hening beberapa saat, seseorang memecahkan keheningan dengan suaranya yang sedih, "Tapi bagaimana caranya? Keluargaku yang membuangku ke sini. Kalaupun aku keluar, aku tak punya siapa-siapa di luar sana."
"Ya, betul," sahut seseorang. "Aku juga!"
"Aku juga!"
Teriakan semacam itu bersahut-sahutan memenuhi ruangan, menimbulkan kepedihan di hatimu. Rupanya orang-orang ini tampak kosong dan tak punya pengharapan, karena mereka menyadari bahwa mereka tidak punya kehidupan lagi di luar sana, dan satu-satunya tempat mereka hanyalah di sini. Tapi manusia tidak seharusnya begitu. Meski sudah dibuang oleh keluarganya, mereka seharusnya masih bisa berjuang untuk bangkit. Bagaimanapun juga, seperti kata Dokter X, di sini adalah tempat dia mengumpulkan orang-orang yang punya kemampuan melebihi manusia-manusia pada umumnya kan?
"Pasti ada kehidupan yang lebih baik menunggu kita di luar sana!" teriakmu berusaha membesarkan hati orang-orang itu. "Meski harus mulai dari nol, kalau kita berusaha keras, kita pasti bisa membangun kehidupan yang baik. Jauh lebih baik daripada menjadi kelinci percobaan di sini dan berakhir sebagai monster!"
Kamu bisa merasakan kata-katamu membuat semua jadi galau dan gelisah.
"Apa kalian mau jadi monster?" tanyamu berapi-api. "Kalian mau anggota badan kalian digunakan sementara nyawa kalian dibuang ke tong sampah?"
"Nggak mau!"
"Nggak sudi!"
"Ayo, kita kabur dari sini!"
Kamu girang setengah mati karena usahamu berhasil. "Ayo, kita dobrak pintu keluar!"
Kalian semua segera menyerbu pintu keluar yang terbuat dari kawat itu. Namun, meski sudah didobrak beramai-ramai, pintu itu hanya bergeming. Kamu melihat si kakek tua bungkuk penjaga loket sedang duduk-duduk di dalam, mengamati kelakuan kalian yang mirip kumpulan gajah mengamuk.
"Kek, tolong bukain pintu ini!" teriakmu dengan suara yang jelas-jelas menyiratkan permohonan. "Tolong Kek, hanya Kakek yang bisa selamatkan kami semua!"
Kakek itu menatapmu dengan bete. "Kamu kan yang waktu itu mencuri barang saya."
Ups. Ketahuan. "Yah, maafin saya lah, Kek. Itu kan udah lama kejadiannya. Lagian barang murahan gitu. Nanti setelah saya keluar, saya akan berikan apa saja yang Kakek mau! Ditambah ini!"
Tanpa berpikir panjang, kamu menyodorkan benda yang kamu copet dari penjaga yang membawamu ke kuburan massal.
Jika pada Episode 7 kamu memilih:
1. Senter kecil, klik di sini.
2. Permen, klik di sini.
3. Tisu, klik di sini.
4. Dompet, klik di sini.
Senter kecil
"Senter?" Si Kakek mengerutkan alis. "Sepertinya saya pernah melihatnya..." Tiba-tiba si Kakek melotot. "Dasar anak kurang ajar! Ini kan senter saya juga!"
Hah?
"Saya tidak akan membukakan kamu pintu. Biar ini akan mengajarkanmu supaya tidak mencopet barang orang seenak jidat lagi."
Kamu ingin memprotes dengan mengatakan benda ini bukan kamu copet darinya, melainkan dari orang lain. Tapi apa pun alasan yang kamu kemukakan, kamu memang mendapatkan barang itu berkat ilmu copetmu.
Belum sempat kamu mengeluarkan jurus-jurusan rayuanmu pada si Kakek, mendadak terdengar gerungan mengerikan dari belakang. Kamu menoleh dan mendapatkan Dokter X yang separuh badannya mengalami luka bakar. Bau gosong menguar darinya, sementara wajahnya yang berkerut-kerut tampak mengerikan. Ajaibnya, dia masih saja mengenakan maskernya.
"Dasar cacing!" teriaknya. "Berani-beraninya kau menghancurkan pusat penelitianku yang berharga! Akan kukoyak-koyakkan kau!"
Kamu terperanjat saat Dokter X meloncat ke arahmu dan mulai melaksanakan ancamannya dengan menarik kupingmu sekuat tenaga. Gila, rasanya kupingmu nyaris putus! Kamu tak punya pilihan lain selain menggigit tangan yang menarik kupingmu itu. Ewww, rasanya seperti daging hangus yang sangat menjijikkan!
Celakanya, daging yang kamu gigit malah copot seperti daging yang tidak kepingin menempel pada majikannya lagi. (XP: -15) Kamu meludah saking jijiknya, tetapi pada saat itu juga, kamu merasakan tinju si Dokter X menghantam mukamu. Sepertinya tulang hidungmu retak karenanya. (HP: -15) Sebelum dia sempat memukulimu lagi, kamu merasakan Dokter X direnggut ke belakang.
"Jangan memukuli bos kami!"
"Ya benar! Dia lawan yang terlalu kecil buatmu, tahu?"
"Apa kau tidak tahu kau kalah jumlah?"
Dengan mata berkunang-kunang, kamu menatap Dokter X yang menyadari posisinya yang tak menguntungkan. Lalu, tanpa berkata apa-apa, si Dokter X pun mundur ke belakang.
Terdengar bunyi ceklikan dari arah pintu. Kamu menoleh dan melihat si Kakek sudah membukakan pintu kawat untukmu.
"Pergilah," kata si Kakek sambil tersenyum, "dan selamatkan orang-orang malang ini."
Klik di sini untuk melanjutkan.
Ngumpet di dalam kamar mandi laboratorium
Kamu melihat pintu kamar mandi terbuka, dan kamu segera menghambur ke dalamnya lalu mengunci pintu. Sekali pandang saja pada kamar mandi yang sempit itu, kamu tahu tidak ada jalan keluar lain selain pintu yang barusan kamu kunci itu. Dengan panik kamu memeriksa lemari kamar mandi, berharap bisa menemukan sesuatu untuk membantumu meloloskan diri. Bazoka, misalnya.
Namun yang kamu temukan adalah sebotol alkohol dan sebuah geretan. Ini sudah jauh lebih dari cukup. Dengan membawa kedua benda itu, kamu pun keluar dari kamar mandi.
Segerombolan musuh langsung menyambutmu, tapi kamu sudah siap. Dengan geretan menyala dan botol alkohol teracung tinggi, kamu berteriak dengan muka siap mati, "Berani menyerang, aku bakar kita semua!"
Untunglah semua takut mati, jadinya tidak ada yang berani menyerangmu. Kalau saja mereka tetap nekat, sudah pasti kalian jadi barbeque semuanya. Kamu melangkah perlahan-lahan, penuh dengan kewaspadaan, sementara orang-orang mengelilingimu. Gawat, kalau begini terus, kamu akan terus dikelilingi sampai kapan pun juga. Kamu harus melakukan sesuatu untuk mengalihkan perhatian mereka.
Saat melewati ruangan yang ditempati Johan dan Dokter X, kamu melihat kedua orang itu mengintaimu dari sana. Mendadak sebuah ide mengerikan terbentik di benakmu--ide yang biasanya tak mungkin kamu lakukan, tapi saat ini kamu tidak melihat pilihan lain. Dengan sekuat tenaga, kamu melemparkan botol alkohol itu ke arah Johan dan Dokter X. Botol itu pecah mengenai lantai di dekat Johan dan Dokter X.
Lalu kamu melemparkan geretan yang sudah menyala itu ke arah mereka.
Dengan ngeri kamu melihat api menjalar dengan cepat, mengenai Johan dan Dokter X yang langsung berteriak-teriak kesakitan. (JP: -40, XP:-50) Tapi kamu tidak bisa tetap tinggal. Terbirit-birit, kamu pun melarikan diri dari ruangan itu.
Klik di sini untuk melanjutkan.
Pisau Belati
Kamu mengacungkan pisau belatimu, siap untuk menyerang.
"Ayo," tantangmu sambil memasang kuda-kuda, "kita akhirnya semuanya sekarang juga!"
Johan dan Dokter X saling berpandangan, lalu mengangguk. Dalam sekejap, mereka sudah berada di dekatmu. Rupanya, meski dengan tubuh-tubuh dipenuhi luka bakar, keduanya masih bisa bergerak dengan sangat cepat. Benar-benar hebat.
Kamu bukan orang yang jago berantem. Bahkan, sebelum semua ini terjadi, kamu hanyalah anak yang senang membaca dan menulis di rumah. Kamu sama sekali bukan tipe anak jalanan. Dikeroyok dua orang yang siap mati begini seharusnya membuatmu ketakutan dan kelabakan.
Tapi, anehnya, kamu merasa tenang. Sekelilingmu terasa sunyi sepi, yang ada hanyalah aliran udara cepat yang menandakan datangnya serangan. Dan setiap kali kamu merasakannya, kamu selalu berhasil mengelaknya. Sebaliknya, aneh sekali, setiap kali kamu melancarkan serangan, kamu selalu berhasil mengenai mereka. Kamu berhasil melukai kaki keduanya sampai berdarah-darah, anggota badan yang paling kamu incar supaya kamu bisa kabur tanpa dikejar mereka. (JP: -15, XP: -20)
Tetap saja, dikeroyok dua orang bukanlah sesuatu yang gampang. Apalagi Johan juga membawa pisau belatinya, yang ternyata berhasil melukai tangan kirimu. Tapi untungnya, hal itu tidak membuat gerakanmu melambat. (HP:-10)
Sebuah ledakan besar menyentakkan kalian semua. Mendadak pusat penelitian itu ambruk semuanya. Kamu shock, menyadari pastinya ada orang-orang yang masih berada di dalam gedung. Mungkin beberapa penjaga yang tak berhasil menyelamatkan diri, belum lagi penghuni rumah sakit jiwa yang jadi kelinci percobaan dan tak sempat kamu selamatkan. Betapa mengerikan semua kejadian ini!
"Pusat penelitianku!" raung Dokter X sambil menghambur pada reruntuhan itu. Namun kejadian itu ternyata tidak terlalu romantis seperti yang ada pada cerita-cerita, karena pada saat itu juga, sebongkah pecahan bangunan besar jatuh menimpanya. (XP:-20)
Klik di sini untuk melanjutkan.
Pekarangan
Si Kakek yang baik hati membagi-bagikan barang milik kalian yang sempat dititipkan padanya.
"Gunakan mobil di pekarangan," katanya. "Jangan khawatir. Kuncinya semua tertancap di dalam."
Saat kalian tiba di pekarangan, semua seperti yang dikatakan si Kakek. Tempat itu dipenuhi banyak sekali mobil ambulans dengan kunci kontak tertancap di tempatnya. Sepertinya, jumlah mobil yang ada cukup untuk menampung kalian semua--selama ada cukup banyak orang yang bisa berperan sebagai supir.
"Berapa banyak orang di sini yang bisa menyetir dan punya SIM?" tanyamu. Kamu senang sekali saat melihat orang-orang yang maju lebih dari sepuluh orang, tapi kalian semua harus bergegas. Pasalnya, satpam di pos depan mulai curiga melihat begitu banyak orang keluar. "Ayo, semuanya menempati mobil ambulans! Dan kalian sisanya, ayo masuk ke mobil yang sudah ada supirnya!"
Kamu berteriak-teriak pada mobil ambulans yang pertama saat satpam mulai mendekat. "Terjang, terjang!"
Kamu memandang takjub sekaligus senang saat ambulans itu menerjang ke luar dengan kecepatan tinggi dan sukses meloloskan diri dari tempat ini. Ambulans kedua menyusul, lalu ambulans ketiga, keempat, dan seterusnya, sementara si satpam menelepon dengan kalang-kabut--barangkali sedang meminta bala bantuan.
Kamu memandangi kepergian semua orang dengan perasaan puas. Kamu telah berhasil menyelamatkan banyak orang! Setelah semua pergi, kamu menuju ambulans terakhir yang sudah nyaris penuh, sementara rekan-rekan di mobil itu memanggil-manggilmu dengan gembira.
"Ayo, Bos! Kita pulang ke rumah!"
"Nanti saya traktir Bos, saya jago bikin mi tektek!"
"Belakang rumah saya ada empang Bos, kita bisa mancing bareng!"
Kamu menggamit si Kakek. "Ayo, Kek, kita pulang bersama."
Baru saja kamu bicara begitu, terdengar suara familier dan sinis di belakangmu, suara yang membuatmu langsung merinding ketakutan.
"Tidak begitu cepat, Bos."
Klik di sini untuk melanjutkan.
Dompet
"Dompet?" Si Kakek tertawa. "Kamu kira saya materialistis? Mana dompet ini bukan milikmu lagi." Ups. "Dasar pencopet! Kamu pasti bukan orang baik-baik! Saya tidak akan membukakan kamu pintu. Biar ini akan mengajarkanmu supaya tidak mencopet barang orang seenak jidat lagi."
Belum sempat kamu mengeluarkan jurus-jurusan rayuanmu pada si Kakek, mendadak terdengar gerungan mengerikan dari belakang. Kamu menoleh dan mendapatkan Dokter X yang separuh badannya mengalami luka bakar. Bau gosong menguar darinya, sementara wajahnya yang berkerut-kerut tampak mengerikan. Ajaibnya, dia masih saja mengenakan maskernya.
"Dasar cacing!" teriaknya. "Berani-beraninya kau menghancurkan pusat penelitianku yang berharga! Akan kukoyak-koyakkan kau!"
Kamu terperanjat saat Dokter X meloncat ke arahmu dan mulai melaksanakan ancamannya dengan menarik kupingmu sekuat tenaga. Gila, rasanya kupingmu nyaris putus! Kamu tak punya pilihan lain selain menggigit tangan yang menarik kupingmu itu. Ewww, rasanya seperti daging hangus yang sangat menjijikkan! (XP: -10) Mana sebagai balasannya, kamu merasakan tinju si Dokter X menghantam mukamu. Sepertinya tulang hidungmu retak karenanya. Tinju keduanya mengenai tulang rusukmu yang rasanya seperti patah juga. (HP: -20) Sebelum dia melancarkan pukulan ketiga, kamu merasakan Dokter X direnggut ke belakang.
"Jangan memukuli bos kami!"
"Ya benar! Dia lawan yang terlalu kecil buatmu, tahu?"
"Apa kau tidak tahu kau kalah jumlah?"
Dengan mata berkunang-kunang, kamu menatap Dokter X yang menyadari posisinya yang tak menguntungkan. Lalu, tanpa berkata apa-apa, si Dokter X pun mundur ke belakang.
Terdengar bunyi ceklikan dari arah pintu. Kamu menoleh dan melihat si Kakek sudah membukakan pintu kawat untukmu.
"Pergilah," kata si Kakek sambil tersenyum, "dan selamatkan orang-orang malang ini."
Klik di sini untuk melanjutkan.
Merobohkan rak yang dipenuh berbagai peralatan menyeramkan dan membuat kekacauan
Dengan sekuat tenaga, kamu mendorong rak terdekat yang dipenuhi berbagai peralatan operasi yang menyeramkan. Bunyi gebrakan memecahkan telinga bersamaan dengan bunyi denting peralatan operasi yang terjatuh ke atas lantai dan bunyi botol-botol yang pecah, membuat suasana langsung kacau-balau. Tercium bau steril yang amat sangat kuat, dan mendadak kamu sadari dari salah satu botol yang jatuh, terdapat botol alkohol pembersih yang sepertinya cukup besar sampai-sampai sanggup menimbulkan bau yang begini menusuk. Terlihat aliran cairan berwarna putih menjalar di lantai, menuju ke ruangan di mana Johan dan Dokter X berada.
Dalam waktu sepersekian detik, sebuah rencana terbentik dalam pikiranmu. Kamu menerjang penjaga yang tadi ditugaskan untuk mengecek kuburan massal itu. Penjaga itu langsung berusaha melawanmu, tapi targetmu bukanlah mengalahkannya--melainkan merebut lampu minyak yang dibawanya. Begitu lampu itu berpindah tangan, kamu langsung melemparkan benda itu ke ruangan yang sedang ditempati Johan dan Dokter X.
Lampu itu pecah tepat di antara genangan alkohol. Kebakaran pun tercipta dengan begitu cepat. Dengan ngeri kamu melihat api menjalar dengan cepat, membakar Johan dan Dokter X yang berteriak-teriak kesakitan. (JP: -40, XP:-50) Tapi kamu tidak bisa tetap tinggal di situ. Terbirit-birit, kamu pun melarikan diri dari ruangan itu.
Klik di sini untuk melanjutkan.
Tali Tambang
Kamu memegangi tali tambangmu laksana pecut, siap untuk menyerang.
"Ayo," tantangmu sambil memasang kuda-kuda, "kita akhirnya semuanya sekarang juga!"
Johan dan Dokter X saling berpandangan, lalu mengangguk. Dalam sekejap, mereka sudah berada di dekatmu. Rupanya, meski dengan tubuh-tubuh dipenuhi luka bakar, keduanya masih bisa bergerak dengan sangat cepat. Benar-benar hebat.
Kamu bukan orang yang jago berantem. Bahkan, sebelum semua ini terjadi, kamu hanyalah anak yang senang membaca dan menulis di rumah. Kamu sama sekali bukan tipe anak jalanan. Dikeroyok dua orang yang siap mati begini seharusnya membuatmu ketakutan dan kelabakan.
Tapi, anehnya, kamu merasa tenang. Sekelilingmu terasa sunyi sepi, yang ada hanyalah aliran udara cepat yang menandakan datangnya serangan. Dan setiap kali kamu merasakannya, kamu selalu berhasil mengelaknya. Sebaliknya, aneh sekali, setiap kali kamu melancarkan serangan, kamu selalu berhasil mengenai mereka. Kamu berhasil memecut kaki keduanya sampai berdarah-darah, anggota badan yang paling kamu incar supaya kamu bisa kabur tanpa dikejar mereka. (JP: -10, XP: -20)
Tetap saja, dikeroyok dua orang bukanlah sesuatu yang gampang. Apalagi Johan membawa pisau belatinya. Kedua tanganmu sempat dilukai, membuat seranganmu makin lama makin melambat pula. Sial. (HP:-20)
Sebuah ledakan besar menyentakkan kalian semua. Mendadak pusat penelitian itu ambruk semuanya. Kamu shock, menyadari pastinya ada orang-orang yang masih berada di dalam gedung. Mungkin beberapa penjaga yang tak berhasil menyelamatkan diri, belum lagi penghuni rumah sakit jiwa yang jadi kelinci percobaan dan tak sempat kamu selamatkan. Betapa mengerikan semua kejadian ini!
"Pusat penelitianku!" raung Dokter X sambil menghambur pada reruntuhan itu.
Klik di sini untuk melanjutkan.
Final Battle
Kamu menoleh ke belakang dan melihat kedua lawanmu yang dipenuhi luka bakar. Johan yang masih saja tersenyum dan Dokter X yang tampak berang. Mereka berdua bagaikan pasangan pembunuh dari neraka. Di belakang mereka, gedung pusat penelitian terbakar hebat. Sebagian tempat malah mulai runtuh. Para penjaga kabur kocar-kacir, tak ada satu pun yang memedulikan nasib tempat kerja maupun bos mereka. Rupanya, begitu lahan pekerjaan mereka hancur, loyalitas mereka pun lenyap. Pusat penelitian ini sudah berakhir, dan semuanya adalah berkat ulahmu.
Mendadak kamu merasa kamu tak bakalan dibiarkan keluar hidup-hidup dari tempat ini.
"Kakek, suruh teman-teman keluar dari tempat ini secepatnya," katamu pada si Kakek. "Aku akan menyusul, tapi sekarang aku harus menghadapi mereka dulu."
Si Kakek menatapmu dengan tenang. "Kamu takkan menang melawan mereka."
"Aku tahu," sahutmu sedih. "Tapi aku tidak punya pilihan lain. Akulah yang mereka kejar, bukan teman-teman. Aku tidak bisa mencelakai mereka dengan kabur bersama-sama mereka. Lagi pula," kamu memandangi senjata terakhir di tanganmu, "aku masih punya sedikit harapan."
"Harapan, meski cuma sedikit, sangat besar kekuatannya," kata si Kakek sambil menggenggam tanganmu. "Kamu harus selamat, Anak Muda."
Kamu mengangguk. "Terima kasih, Kek."
Kamu memandangi mobil itu pergi meninggalkan pekarangan rumah sakit jiwa.
"Mengharukan sekali, semua pertunjukan ini," ejek Johan. "Berniat jadi pahlawan, eh? Sayangnya, tidak seperti dalam cerita fiksi, dalam dunia nyata, yang namanya pahlawan itu biasanya sudah mati."
"Masalahnya, Han," kamu menyeringai, "siapa bilang ini bukan cerita fiksi?"
Jika pada Episode 8 kamu memilih:
1. Tongkat besi, klik di sini.
2. Pisau belati, klik di sini.
3. Tali tambang, klik di sini.
4. Botol bir, klik di sini.
Tisu
"Tisu?" tanya si Kakek bengong.
"Ini," sesaat kamu tidak tahu harus berkata apa karena merasa sangat konyol, "untuk kesedihan Kakek, harus menyaksikan semua penderitaan ini dari hari ke hari."
Si Kakek menatapmu lama sekali. Lalu dia pun membukakan pintu untukmu.
Yes!
Namun baru saja si Kakek membukakan pintu, mendadak terdengar gerungan mengerikan dari belakang. Kamu menoleh dan mendapatkan Dokter X yang separuh badannya mengalami luka bakar. Bau gosong menguar darinya, sementara wajahnya yang berkerut-kerut tampak mengerikan. Ajaibnya, dia masih saja mengenakan maskernya.
"Dasar cacing!" teriaknya. "Berani-beraninya kau menghancurkan pusat penelitianku yang berharga! Akan kukoyak-koyakkan kau!"
Kamu terperanjat saat Dokter X meloncat ke arahmu untuk melaksanakan ancamannya padamu. Namun saat itu juga, ada yang merenggutmu ke belakang sementara Dokter X direnggut menjauh darimu. Kamu tercengang seraya menatap Dokter X yang kini sedang digebuki ramai-ramai oleh teman-temanmu sesama penghuni rumah sakit jiwa. (XP: -40)
"Jangan berani-beraninya menyentuh bos kami!"
"Ya benar! Dia lawan yang terlalu kecil buatmu, tahu?"
"Apa kau tidak tahu kau kalah jumlah?"
Dengan susah-payah Dokter X melepaskan diri dan kabur dari ruangan itu. Kamu berjalan ke arah pintu dan si Kakek tersenyum padamu.
"Pergilah," katanya, "dan selamatkan orang-orang malang ini."
Klik di sini untuk melanjutkan.
Botol Bir
Kamu memecahkan botolmu, membiarkan serpihan-serpihan kaca menyebar di jalan.
"Ayo," tantangmu sambil memasang kuda-kuda, "kita akhirnya semuanya sekarang juga!"
Johan dan Dokter X saling berpandangan, lalu mengangguk. Dalam sekejap, mereka sudah berada di dekatmu. Rupanya, meski dengan tubuh-tubuh dipenuhi luka bakar, keduanya masih bisa bergerak dengan sangat cepat. Benar-benar hebat.
Kamu bukan orang yang jago berantem. Bahkan, sebelum semua ini terjadi, kamu hanyalah anak yang senang membaca dan menulis di rumah. Kamu sama sekali bukan tipe anak jalanan. Dikeroyok dua orang yang siap mati begini seharusnya membuatmu ketakutan dan kelabakan.
Tapi, anehnya, kamu merasa tenang. Sekelilingmu terasa sunyi sepi, yang ada hanyalah aliran udara cepat yang menandakan datangnya serangan. Dan setiap kali kamu merasakannya, kamu selalu berhasil mengelaknya. Sebaliknya, aneh sekali, setiap kali kamu melancarkan serangan, kamu selalu berhasil mengenai mereka. Kamu berhasil melukai kaki keduanya, anggota badan yang paling kamu incar supaya kamu bisa kabur tanpa dikejar mereka. (JP: -10, XP: -20)
Secara kebetulan, rupanya serpihan-serpihan kaca botol yang tersebar di atas tanah juga membantumu. Soalnya, saat kebakaran tadi, rupa-rupanya sepatu Johan dan Dokter X ikut terbakar sehingga kini keduanya bertelanjang kaki. Akibatnya, telapak kaki mereka terluka karena serpihan-serpihan kaca itu. (JP: -10, XP: -10)
Sebuah ledakan besar menyentakkan kalian semua. Mendadak pusat penelitian itu ambruk semuanya. Kamu shock, menyadari pastinya ada orang-orang yang masih berada di dalam gedung. Mungkin beberapa penjaga yang tak berhasil menyelamatkan diri, belum lagi penghuni rumah sakit jiwa yang jadi kelinci percobaan dan tak sempat kamu selamatkan. Betapa mengerikan semua kejadian ini!
"Pusat penelitianku!" raung Dokter X sambil menghambur pada reruntuhan itu. Namun kejadian itu ternyata tidak terlalu romantis seperti yang ada pada cerita-cerita, karena pada saat itu juga, sebongkah pecahan bangunan besar jatuh menimpanya. (XP:-20)
Klik di sini untuk melanjutkan.
Akhir Pertempuran
"Sepertinya, pertempuran sudah usai."
Hah?
Kamu memandang Johan dengan tidak mengerti. Memang sih, Johan sudah babak-belur, demikian juga Dokter X, tapi kondisi kamu juga sama payahnya. Kalau diteruskan, belum tentu kamu bisa keluar hidup-hidup.
Mengapa Johan ingin pertempuran ini dihentikan?
"Bagi dokter sesat ini, pusat penelitian ini adalah hidupnya. Tempat ini hancur, dia pun hancur." Johan memandangi si dokter yang telengkup di atas tanah. "Sedangkan aku, sebenarnya, tak punya permusuhan denganmu. Kita berdua hanya ingin berjuang sekuat tenaga untuk selamat. Bedanya, aku berpihak pada mereka untuk tetap hidup, sedangkan kamu tidak. Tapi, setelah kini kita bisa bebas, kita bukan musuh lagi kan?"
Kamu mengangguk. Ya, kamu juga tidak ingin bermusuhan dengan Johan. Bagaimanapun juga, kamu akan selalu teringat bagaimana dia membantumu melarikan diri pada awal kisah ini.
"Kamu boleh pergi sekarang," kata Johan.
"Lalu?" tanyamu. "Bagaimana denganmu?"
"Aku akan memastikan dia mati," kata Johan sambil mengedik ke arah Dokter X.
Kamu ragu-ragu sejenak, lalu berkata, "Sampai ketemu lagi, Johan."
Johan tersenyum dengan cara khasnya, senyum yang tak pernah mencapai matanya yang dingin itu. "Ya, kita pasti akan bertemu lagi."
Kamu pun berbalik dan berjalan pergi. Tiba-tiba sesuatu terlintas dalam pikiranmu. Bagaimana kalau Johan tidak memastikan Dokter X mati, sebaliknya memastikan dokter itu untuk tetap hidup? Bagaimana kalau mereka kini mundur untuk menyusun siasat, lalu kembali untuk memastikan kematianmu? Seharusnya kamu tetap tinggal bersama Johan untuk memastikan kematian Dokter X!
Kamu menoleh dengan cepat, berharap masih bisa menemukan keduanya.
Namun, tempat tadi Johan menghampiri Dokter X kini sudah kosong. Dua orang itu lenyap tak berbekas dalam waktu yang begitu singkat.
Kamu menghela napas. Satu kesalahan kecil saja, dan kini seumur hidupmu kamu akan dibayang-bayangi rasa takut atas pembalasan kedua orang itu. Tapi, kamu kini juga sudah menjadi orang yang tangguh. Kamu takkan menyerah hanya karena diancam dua penjahat. Lagi pula, kamu bertekad untuk menghubungi semua teman-teman yang lolos dari pusat penelitian ini dan mengumpulkan mereka. Kalian akan saling menjaga dan menjadi sekutu yang kuat.
Dan tidak peduli kata-kata ini terdengar klise, kamu selalu percaya, kebenaran akan mengalahkan kejahatan. Selamanya.
SELAMAT UNTUK PARA PESERTA MYSTERYGAME@AREA47: THE ASYLUM™!!!
Kalian akhirnya berhasil selamat dalam kisah menyeramkan melawan Johan dan Dokter X! Nah, bagaimana dengan hasil akhir HP, JP dan XP kalian? Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan "MysteryGame@Area47: THE ASYLUM episode 10," diikuti nama panggilan diikuti "HP=" diikuti jumlah HP diikuti "JP=" diikuti jumlah JP diikuti "XP=" diikuti jumlah XP.
Lexie tunggu emailnya hingga enam hari lagi. Pemenang akan diumumkan tiga minggu dari sekarang, atau dua minggu setelah semua email peserta diterima.
Thank you, everybody, for your participation in MysteryGame@Area47: THE ASYLUM!
xoxo,
Lexie
Pertarungan terakhir kalian melawan Dokter X yang kini dibantu oleh Johan, mantan rekan seperjuanganmu yang telah berkhianat! Apakah kamu sudah siap dengan HP, JP, dan XP yang kamu dapatkan pada saat menempuh episode 7 (battle #2)? Siapkan kertas dan pensil, tuliskan nilai HP, JP, dan XP tersebut di sana. Inilah saat penentuan, apakah kamu akan mengakhiri kisah ini dengan selamat, penuh luka-luka, ataukah nyaris mati? Dan bagaimana akhir kedua lawan yang sudah siap menghabisimu? Sanggupkah kamu menghalangi niat mereka demi mempertahankan hidupmu sendiri? Semua jawaban ada dalam pilihan-pilihanmu!
Jika pada Episode 9 kamu memilih:
1. Merobohkan rak yang dipenuhi berbagai peralatan menyeramkan dan membuat kekacauan, klik di sini.
2. Ngumpet di dalam kamar mandi laboratorium, klik di sini.
3. Kabur sambil mendobrak sekuat tenaga, klik di sini.
Permen
"Permen apa ini?" tanya si Kakek dengan muka takjub. "Nano-nano? Saya suka sekali Nano-nano! Tapi sudah lama saya tak pernah berhasil menemukannya!"
"Nanti saya beliin lagi buat Kakek yang banyak!" janjimu dengan sepenuh hati.
"Beneran? Baiklah, saya akan bukakan pintu."
Tepat saat si Kakek membukakan pintu, mendadak terdengar gerungan mengerikan dari belakang. Kamu menoleh dan mendapatkan Dokter X yang separuh badannya mengalami luka bakar. Bau gosong menguar darinya, sementara wajahnya yang berkerut-kerut tampak mengerikan. Ajaibnya, dia masih saja mengenakan maskernya.
"Dasar cacing!" teriaknya. "Berani-beraninya kau menghancurkan pusat penelitianku yang berharga! Akan kukoyak-koyakkan kau!"
Kamu terperanjat saat Dokter X meloncat ke arahmu dan mulai melaksanakan ancamannya dengan menarik kupingmu sekuat tenaga. Gila, rasanya kupingmu nyaris putus! (HP: -5) Tapi saat itu juga ada yang merenggut Dokter X darimu. Sambil meraba-raba kupingmu yang nyaris berpisah denganmu, kamu menatap Dokter X yang kini sedang digebuki ramai-ramai oleh teman-temanmu sesama penghuni rumah sakit jiwa. (XP:-30)
"Jangan berani-beraninya menyentuh bos kami!"
"Ya benar! Dia lawan yang terlalu kecil buatmu, tahu?"
"Apa kau tidak tahu kau kalah jumlah?"
Dengan susah-payah Dokter X melepaskan diri dan kabur dari ruangan itu. Kamu berjalan ke arah pintu dan si Kakek tersenyum padamu.
"Pergilah," katanya, "dan selamatkan orang-orang malang ini."
Klik di sini untuk melanjutkan.
Kabur sambil mendobrak sekuat tenaga
Kamu teringat kata-kata Johan bahwa kamu punya kekuatan super. Oke, kalau itu memang benar, seharusnya kamu bisa mendobrak keluar dari sini. Jadi, dengan mengerahkan seluruh tenagamu, kamu pun mendobrak kerumunan di depan.
Sialnya, sepertinya Johan salah. Seseorang bertenaga kuat mendorongmu, membuatmu mental sampai menabrak semua meja. Tanpa berpikir panjang, kamu meraih setiap barang yang ada di meja itu dan melemparkannya pada kerumunan massa yang siap mengeroyokmu. Scalpel, penjepit, berbagai botol...
Tunggu dulu. Sepertinya kamu melemparkan sesuatu yang berbau tajam. Astaga, ini kan bau alkohol! Kalau begitu... kamu bisa menimbulkan kebakaran di sini.
Atau, lebih bagus lagi, di ruangan bos.
Kamu meraih kompor kecil yang sedang menyala di atas meja dan melemparkannya jauh ke depan, ke ruangan yang ditempati Johan dan Dokter X. Dalam sekejap api pun berkobar. Dengan ngeri kamu melihat api yang kamu timbulkan membakar banyak orang, termasuk Johan dan Dokter X yang langsung berteriak-teriak kesakitan. (JP: -40, XP:-50)
Tapi kamu tahu kamu tidak bisa tetap tinggal. Terbirit-birit, kamu pun melarikan diri dari ruangan itu.
Klik di sini untuk melanjutkan.
Tongkat Besi
Kamu memegangi tongkat besimu laksana tongkat bisbol, siap untuk mengayunkannya.
"Ayo," tantangmu sambil memasang kuda-kuda, "kita akhirnya semuanya sekarang juga!"
Johan dan Dokter X saling berpandangan, lalu mengangguk. Dalam sekejap, mereka sudah berada di dekatmu. Rupanya, meski dengan tubuh-tubuh dipenuhi luka bakar, keduanya masih bisa bergerak dengan sangat cepat. Benar-benar hebat.
Kamu bukan orang yang jago berantem. Bahkan, sebelum semua ini terjadi, kamu hanyalah anak yang senang membaca dan menulis di rumah. Kamu sama sekali bukan tipe anak jalanan. Dikeroyok dua orang yang siap mati begini seharusnya membuatmu ketakutan dan kelabakan.
Tapi, anehnya, kamu merasa tenang. Sekelilingmu terasa sunyi sepi, yang ada hanyalah aliran udara cepat yang menandakan datangnya serangan. Dan setiap kali kamu merasakannya, kamu selalu berhasil mengelaknya. Sebaliknya, aneh sekali, setiap kali kamu melancarkan serangan, kamu selalu berhasil mengenai mereka. Kamu berhasil melukai kaki keduanya sampai berdarah-darah, anggota badan yang paling kamu incar supaya kamu bisa kabur tanpa dikejar mereka. (JP: -10, XP: -20)
Tetap saja, dikeroyok dua orang bukanlah sesuatu yang gampang. Apalagi Johan juga membawa pisau belatinya. Dia berhasil melukai tangan kananmu, membuat seranganmu makin lama makin melambat pula. Sial. (HP:-15)
Sebuah ledakan besar menyentakkan kalian semua. Mendadak pusat penelitian itu ambruk semuanya. Kamu shock, menyadari pastinya ada orang-orang yang masih berada di dalam gedung. Mungkin beberapa penjaga yang tak berhasil menyelamatkan diri, belum lagi penghuni rumah sakit jiwa yang jadi kelinci percobaan dan tak sempat kamu selamatkan. Betapa mengerikan semua kejadian ini!
"Pusat penelitianku!" raung Dokter X sambil menghambur pada reruntuhan itu. Namun kejadian itu ternyata tidak terlalu romantis seperti yang ada pada cerita-cerita, karena pada saat itu juga, sebongkah pecahan bangunan jatuh menimpanya. (XP:-10)
Klik di sini untuk melanjutkan.
Bangsal THE ASYLUM
Kamu berlari menyusuri koridor yang panjang. Terdengar bunyi beberapa ledakan di belakangmu, menandakan kebakaran yang kamu buat berhasil menghancurkan sebagian besar musuh! Itu sesuatu yang tak terduga, tapi kamu merasa sangat bangga karenanya.
Setelah beberapa saat, kamu menyadari kamu berada di jalan yang benar. Koridor ini mengarah pada bangsal tempat pintu keluar berada! Benar saja, tak lama kemudian, kamu tiba di depan pintu kayu raksasa tempat kamu berpisah dengan Johan. Seperti saat itu, pintu itu terkunci rapat. Iseng-iseng kamu menggunakan tuas di samping pintu--dan pintu itu terbuka! Sebelum masuk ke dalam, untuk berjaga-jaga, kamu mengintip ke dalam.
Ternyata aula itu dipenuhi para pasien rumah sakit jiwa. Rupanya mereka semua sedang dikumpulkan di bangsal besar tersebut. Seperti biasa, kebanyakan dari mereka hanya berjalan-jalan tanpa juntrungan--sisanya duduk atau berdiri tanpa semangat hidup.
Setelah yakin tidak ada penjaga di dalamnya, kamu pun masuk ke dalam dan berdiri di atas podium.
"Teman-teman!" teriakmu. "Ayo, kita dobrak pintu tempat ini dan kabur bersama-sama!"
Sama sekali tidak ada reaksi. Semua orang tetap menjalankan kegiatan mereka seperti biasa seolah-olah kamu tidak pernah berbicara. Ya ampun, malunya! Tapi ini bukan saatnya mikirin gengsi. Kalau kamu kabur seorang diri, itu berarti kamu meninggalkan semua orang ini untuk dijadikan kelinci percobaan.
"Teman-teman!" teriakmu lagi. "Kalian mau menunggu mati di sini???"
Mungkin ada kata "mati" disebut-sebut, semua jadi menoleh ke arahmu.
"Kalau kalian tetap di sini, kalian pasti akan mati!" Dengan berapi-api kamu menekankan kata "mati" supaya mereka mau mendengarkan pidatomu. "Tapi kalau kita meloloskan diri bersama-sama, kita punya harapan untuk hidup!"
Setelah hening beberapa saat, seseorang memecahkan keheningan dengan suaranya yang sedih, "Tapi bagaimana caranya? Keluargaku yang membuangku ke sini. Kalaupun aku keluar, aku tak punya siapa-siapa di luar sana."
"Ya, betul," sahut seseorang. "Aku juga!"
"Aku juga!"
Teriakan semacam itu bersahut-sahutan memenuhi ruangan, menimbulkan kepedihan di hatimu. Rupanya orang-orang ini tampak kosong dan tak punya pengharapan, karena mereka menyadari bahwa mereka tidak punya kehidupan lagi di luar sana, dan satu-satunya tempat mereka hanyalah di sini. Tapi manusia tidak seharusnya begitu. Meski sudah dibuang oleh keluarganya, mereka seharusnya masih bisa berjuang untuk bangkit. Bagaimanapun juga, seperti kata Dokter X, di sini adalah tempat dia mengumpulkan orang-orang yang punya kemampuan melebihi manusia-manusia pada umumnya kan?
"Pasti ada kehidupan yang lebih baik menunggu kita di luar sana!" teriakmu berusaha membesarkan hati orang-orang itu. "Meski harus mulai dari nol, kalau kita berusaha keras, kita pasti bisa membangun kehidupan yang baik. Jauh lebih baik daripada menjadi kelinci percobaan di sini dan berakhir sebagai monster!"
Kamu bisa merasakan kata-katamu membuat semua jadi galau dan gelisah.
"Apa kalian mau jadi monster?" tanyamu berapi-api. "Kalian mau anggota badan kalian digunakan sementara nyawa kalian dibuang ke tong sampah?"
"Nggak mau!"
"Nggak sudi!"
"Ayo, kita kabur dari sini!"
Kamu girang setengah mati karena usahamu berhasil. "Ayo, kita dobrak pintu keluar!"
Kalian semua segera menyerbu pintu keluar yang terbuat dari kawat itu. Namun, meski sudah didobrak beramai-ramai, pintu itu hanya bergeming. Kamu melihat si kakek tua bungkuk penjaga loket sedang duduk-duduk di dalam, mengamati kelakuan kalian yang mirip kumpulan gajah mengamuk.
"Kek, tolong bukain pintu ini!" teriakmu dengan suara yang jelas-jelas menyiratkan permohonan. "Tolong Kek, hanya Kakek yang bisa selamatkan kami semua!"
Kakek itu menatapmu dengan bete. "Kamu kan yang waktu itu mencuri barang saya."
Ups. Ketahuan. "Yah, maafin saya lah, Kek. Itu kan udah lama kejadiannya. Lagian barang murahan gitu. Nanti setelah saya keluar, saya akan berikan apa saja yang Kakek mau! Ditambah ini!"
Tanpa berpikir panjang, kamu menyodorkan benda yang kamu copet dari penjaga yang membawamu ke kuburan massal.
Jika pada Episode 7 kamu memilih:
1. Senter kecil, klik di sini.
2. Permen, klik di sini.
3. Tisu, klik di sini.
4. Dompet, klik di sini.
Senter kecil
"Senter?" Si Kakek mengerutkan alis. "Sepertinya saya pernah melihatnya..." Tiba-tiba si Kakek melotot. "Dasar anak kurang ajar! Ini kan senter saya juga!"
Hah?
"Saya tidak akan membukakan kamu pintu. Biar ini akan mengajarkanmu supaya tidak mencopet barang orang seenak jidat lagi."
Kamu ingin memprotes dengan mengatakan benda ini bukan kamu copet darinya, melainkan dari orang lain. Tapi apa pun alasan yang kamu kemukakan, kamu memang mendapatkan barang itu berkat ilmu copetmu.
Belum sempat kamu mengeluarkan jurus-jurusan rayuanmu pada si Kakek, mendadak terdengar gerungan mengerikan dari belakang. Kamu menoleh dan mendapatkan Dokter X yang separuh badannya mengalami luka bakar. Bau gosong menguar darinya, sementara wajahnya yang berkerut-kerut tampak mengerikan. Ajaibnya, dia masih saja mengenakan maskernya.
"Dasar cacing!" teriaknya. "Berani-beraninya kau menghancurkan pusat penelitianku yang berharga! Akan kukoyak-koyakkan kau!"
Kamu terperanjat saat Dokter X meloncat ke arahmu dan mulai melaksanakan ancamannya dengan menarik kupingmu sekuat tenaga. Gila, rasanya kupingmu nyaris putus! Kamu tak punya pilihan lain selain menggigit tangan yang menarik kupingmu itu. Ewww, rasanya seperti daging hangus yang sangat menjijikkan!
Celakanya, daging yang kamu gigit malah copot seperti daging yang tidak kepingin menempel pada majikannya lagi. (XP: -15) Kamu meludah saking jijiknya, tetapi pada saat itu juga, kamu merasakan tinju si Dokter X menghantam mukamu. Sepertinya tulang hidungmu retak karenanya. (HP: -15) Sebelum dia sempat memukulimu lagi, kamu merasakan Dokter X direnggut ke belakang.
"Jangan memukuli bos kami!"
"Ya benar! Dia lawan yang terlalu kecil buatmu, tahu?"
"Apa kau tidak tahu kau kalah jumlah?"
Dengan mata berkunang-kunang, kamu menatap Dokter X yang menyadari posisinya yang tak menguntungkan. Lalu, tanpa berkata apa-apa, si Dokter X pun mundur ke belakang.
Terdengar bunyi ceklikan dari arah pintu. Kamu menoleh dan melihat si Kakek sudah membukakan pintu kawat untukmu.
"Pergilah," kata si Kakek sambil tersenyum, "dan selamatkan orang-orang malang ini."
Klik di sini untuk melanjutkan.
Ngumpet di dalam kamar mandi laboratorium
Kamu melihat pintu kamar mandi terbuka, dan kamu segera menghambur ke dalamnya lalu mengunci pintu. Sekali pandang saja pada kamar mandi yang sempit itu, kamu tahu tidak ada jalan keluar lain selain pintu yang barusan kamu kunci itu. Dengan panik kamu memeriksa lemari kamar mandi, berharap bisa menemukan sesuatu untuk membantumu meloloskan diri. Bazoka, misalnya.
Namun yang kamu temukan adalah sebotol alkohol dan sebuah geretan. Ini sudah jauh lebih dari cukup. Dengan membawa kedua benda itu, kamu pun keluar dari kamar mandi.
Segerombolan musuh langsung menyambutmu, tapi kamu sudah siap. Dengan geretan menyala dan botol alkohol teracung tinggi, kamu berteriak dengan muka siap mati, "Berani menyerang, aku bakar kita semua!"
Untunglah semua takut mati, jadinya tidak ada yang berani menyerangmu. Kalau saja mereka tetap nekat, sudah pasti kalian jadi barbeque semuanya. Kamu melangkah perlahan-lahan, penuh dengan kewaspadaan, sementara orang-orang mengelilingimu. Gawat, kalau begini terus, kamu akan terus dikelilingi sampai kapan pun juga. Kamu harus melakukan sesuatu untuk mengalihkan perhatian mereka.
Saat melewati ruangan yang ditempati Johan dan Dokter X, kamu melihat kedua orang itu mengintaimu dari sana. Mendadak sebuah ide mengerikan terbentik di benakmu--ide yang biasanya tak mungkin kamu lakukan, tapi saat ini kamu tidak melihat pilihan lain. Dengan sekuat tenaga, kamu melemparkan botol alkohol itu ke arah Johan dan Dokter X. Botol itu pecah mengenai lantai di dekat Johan dan Dokter X.
Lalu kamu melemparkan geretan yang sudah menyala itu ke arah mereka.
Dengan ngeri kamu melihat api menjalar dengan cepat, mengenai Johan dan Dokter X yang langsung berteriak-teriak kesakitan. (JP: -40, XP:-50) Tapi kamu tidak bisa tetap tinggal. Terbirit-birit, kamu pun melarikan diri dari ruangan itu.
Klik di sini untuk melanjutkan.
Pisau Belati
Kamu mengacungkan pisau belatimu, siap untuk menyerang.
"Ayo," tantangmu sambil memasang kuda-kuda, "kita akhirnya semuanya sekarang juga!"
Johan dan Dokter X saling berpandangan, lalu mengangguk. Dalam sekejap, mereka sudah berada di dekatmu. Rupanya, meski dengan tubuh-tubuh dipenuhi luka bakar, keduanya masih bisa bergerak dengan sangat cepat. Benar-benar hebat.
Kamu bukan orang yang jago berantem. Bahkan, sebelum semua ini terjadi, kamu hanyalah anak yang senang membaca dan menulis di rumah. Kamu sama sekali bukan tipe anak jalanan. Dikeroyok dua orang yang siap mati begini seharusnya membuatmu ketakutan dan kelabakan.
Tapi, anehnya, kamu merasa tenang. Sekelilingmu terasa sunyi sepi, yang ada hanyalah aliran udara cepat yang menandakan datangnya serangan. Dan setiap kali kamu merasakannya, kamu selalu berhasil mengelaknya. Sebaliknya, aneh sekali, setiap kali kamu melancarkan serangan, kamu selalu berhasil mengenai mereka. Kamu berhasil melukai kaki keduanya sampai berdarah-darah, anggota badan yang paling kamu incar supaya kamu bisa kabur tanpa dikejar mereka. (JP: -15, XP: -20)
Tetap saja, dikeroyok dua orang bukanlah sesuatu yang gampang. Apalagi Johan juga membawa pisau belatinya, yang ternyata berhasil melukai tangan kirimu. Tapi untungnya, hal itu tidak membuat gerakanmu melambat. (HP:-10)
Sebuah ledakan besar menyentakkan kalian semua. Mendadak pusat penelitian itu ambruk semuanya. Kamu shock, menyadari pastinya ada orang-orang yang masih berada di dalam gedung. Mungkin beberapa penjaga yang tak berhasil menyelamatkan diri, belum lagi penghuni rumah sakit jiwa yang jadi kelinci percobaan dan tak sempat kamu selamatkan. Betapa mengerikan semua kejadian ini!
"Pusat penelitianku!" raung Dokter X sambil menghambur pada reruntuhan itu. Namun kejadian itu ternyata tidak terlalu romantis seperti yang ada pada cerita-cerita, karena pada saat itu juga, sebongkah pecahan bangunan besar jatuh menimpanya. (XP:-20)
Klik di sini untuk melanjutkan.
Pekarangan
Si Kakek yang baik hati membagi-bagikan barang milik kalian yang sempat dititipkan padanya.
"Gunakan mobil di pekarangan," katanya. "Jangan khawatir. Kuncinya semua tertancap di dalam."
Saat kalian tiba di pekarangan, semua seperti yang dikatakan si Kakek. Tempat itu dipenuhi banyak sekali mobil ambulans dengan kunci kontak tertancap di tempatnya. Sepertinya, jumlah mobil yang ada cukup untuk menampung kalian semua--selama ada cukup banyak orang yang bisa berperan sebagai supir.
"Berapa banyak orang di sini yang bisa menyetir dan punya SIM?" tanyamu. Kamu senang sekali saat melihat orang-orang yang maju lebih dari sepuluh orang, tapi kalian semua harus bergegas. Pasalnya, satpam di pos depan mulai curiga melihat begitu banyak orang keluar. "Ayo, semuanya menempati mobil ambulans! Dan kalian sisanya, ayo masuk ke mobil yang sudah ada supirnya!"
Kamu berteriak-teriak pada mobil ambulans yang pertama saat satpam mulai mendekat. "Terjang, terjang!"
Kamu memandang takjub sekaligus senang saat ambulans itu menerjang ke luar dengan kecepatan tinggi dan sukses meloloskan diri dari tempat ini. Ambulans kedua menyusul, lalu ambulans ketiga, keempat, dan seterusnya, sementara si satpam menelepon dengan kalang-kabut--barangkali sedang meminta bala bantuan.
Kamu memandangi kepergian semua orang dengan perasaan puas. Kamu telah berhasil menyelamatkan banyak orang! Setelah semua pergi, kamu menuju ambulans terakhir yang sudah nyaris penuh, sementara rekan-rekan di mobil itu memanggil-manggilmu dengan gembira.
"Ayo, Bos! Kita pulang ke rumah!"
"Nanti saya traktir Bos, saya jago bikin mi tektek!"
"Belakang rumah saya ada empang Bos, kita bisa mancing bareng!"
Kamu menggamit si Kakek. "Ayo, Kek, kita pulang bersama."
Baru saja kamu bicara begitu, terdengar suara familier dan sinis di belakangmu, suara yang membuatmu langsung merinding ketakutan.
"Tidak begitu cepat, Bos."
Klik di sini untuk melanjutkan.
Dompet
"Dompet?" Si Kakek tertawa. "Kamu kira saya materialistis? Mana dompet ini bukan milikmu lagi." Ups. "Dasar pencopet! Kamu pasti bukan orang baik-baik! Saya tidak akan membukakan kamu pintu. Biar ini akan mengajarkanmu supaya tidak mencopet barang orang seenak jidat lagi."
Belum sempat kamu mengeluarkan jurus-jurusan rayuanmu pada si Kakek, mendadak terdengar gerungan mengerikan dari belakang. Kamu menoleh dan mendapatkan Dokter X yang separuh badannya mengalami luka bakar. Bau gosong menguar darinya, sementara wajahnya yang berkerut-kerut tampak mengerikan. Ajaibnya, dia masih saja mengenakan maskernya.
"Dasar cacing!" teriaknya. "Berani-beraninya kau menghancurkan pusat penelitianku yang berharga! Akan kukoyak-koyakkan kau!"
Kamu terperanjat saat Dokter X meloncat ke arahmu dan mulai melaksanakan ancamannya dengan menarik kupingmu sekuat tenaga. Gila, rasanya kupingmu nyaris putus! Kamu tak punya pilihan lain selain menggigit tangan yang menarik kupingmu itu. Ewww, rasanya seperti daging hangus yang sangat menjijikkan! (XP: -10) Mana sebagai balasannya, kamu merasakan tinju si Dokter X menghantam mukamu. Sepertinya tulang hidungmu retak karenanya. Tinju keduanya mengenai tulang rusukmu yang rasanya seperti patah juga. (HP: -20) Sebelum dia melancarkan pukulan ketiga, kamu merasakan Dokter X direnggut ke belakang.
"Jangan memukuli bos kami!"
"Ya benar! Dia lawan yang terlalu kecil buatmu, tahu?"
"Apa kau tidak tahu kau kalah jumlah?"
Dengan mata berkunang-kunang, kamu menatap Dokter X yang menyadari posisinya yang tak menguntungkan. Lalu, tanpa berkata apa-apa, si Dokter X pun mundur ke belakang.
Terdengar bunyi ceklikan dari arah pintu. Kamu menoleh dan melihat si Kakek sudah membukakan pintu kawat untukmu.
"Pergilah," kata si Kakek sambil tersenyum, "dan selamatkan orang-orang malang ini."
Klik di sini untuk melanjutkan.
Merobohkan rak yang dipenuh berbagai peralatan menyeramkan dan membuat kekacauan
Dengan sekuat tenaga, kamu mendorong rak terdekat yang dipenuhi berbagai peralatan operasi yang menyeramkan. Bunyi gebrakan memecahkan telinga bersamaan dengan bunyi denting peralatan operasi yang terjatuh ke atas lantai dan bunyi botol-botol yang pecah, membuat suasana langsung kacau-balau. Tercium bau steril yang amat sangat kuat, dan mendadak kamu sadari dari salah satu botol yang jatuh, terdapat botol alkohol pembersih yang sepertinya cukup besar sampai-sampai sanggup menimbulkan bau yang begini menusuk. Terlihat aliran cairan berwarna putih menjalar di lantai, menuju ke ruangan di mana Johan dan Dokter X berada.
Dalam waktu sepersekian detik, sebuah rencana terbentik dalam pikiranmu. Kamu menerjang penjaga yang tadi ditugaskan untuk mengecek kuburan massal itu. Penjaga itu langsung berusaha melawanmu, tapi targetmu bukanlah mengalahkannya--melainkan merebut lampu minyak yang dibawanya. Begitu lampu itu berpindah tangan, kamu langsung melemparkan benda itu ke ruangan yang sedang ditempati Johan dan Dokter X.
Lampu itu pecah tepat di antara genangan alkohol. Kebakaran pun tercipta dengan begitu cepat. Dengan ngeri kamu melihat api menjalar dengan cepat, membakar Johan dan Dokter X yang berteriak-teriak kesakitan. (JP: -40, XP:-50) Tapi kamu tidak bisa tetap tinggal di situ. Terbirit-birit, kamu pun melarikan diri dari ruangan itu.
Klik di sini untuk melanjutkan.
Tali Tambang
Kamu memegangi tali tambangmu laksana pecut, siap untuk menyerang.
"Ayo," tantangmu sambil memasang kuda-kuda, "kita akhirnya semuanya sekarang juga!"
Johan dan Dokter X saling berpandangan, lalu mengangguk. Dalam sekejap, mereka sudah berada di dekatmu. Rupanya, meski dengan tubuh-tubuh dipenuhi luka bakar, keduanya masih bisa bergerak dengan sangat cepat. Benar-benar hebat.
Kamu bukan orang yang jago berantem. Bahkan, sebelum semua ini terjadi, kamu hanyalah anak yang senang membaca dan menulis di rumah. Kamu sama sekali bukan tipe anak jalanan. Dikeroyok dua orang yang siap mati begini seharusnya membuatmu ketakutan dan kelabakan.
Tapi, anehnya, kamu merasa tenang. Sekelilingmu terasa sunyi sepi, yang ada hanyalah aliran udara cepat yang menandakan datangnya serangan. Dan setiap kali kamu merasakannya, kamu selalu berhasil mengelaknya. Sebaliknya, aneh sekali, setiap kali kamu melancarkan serangan, kamu selalu berhasil mengenai mereka. Kamu berhasil memecut kaki keduanya sampai berdarah-darah, anggota badan yang paling kamu incar supaya kamu bisa kabur tanpa dikejar mereka. (JP: -10, XP: -20)
Tetap saja, dikeroyok dua orang bukanlah sesuatu yang gampang. Apalagi Johan membawa pisau belatinya. Kedua tanganmu sempat dilukai, membuat seranganmu makin lama makin melambat pula. Sial. (HP:-20)
Sebuah ledakan besar menyentakkan kalian semua. Mendadak pusat penelitian itu ambruk semuanya. Kamu shock, menyadari pastinya ada orang-orang yang masih berada di dalam gedung. Mungkin beberapa penjaga yang tak berhasil menyelamatkan diri, belum lagi penghuni rumah sakit jiwa yang jadi kelinci percobaan dan tak sempat kamu selamatkan. Betapa mengerikan semua kejadian ini!
"Pusat penelitianku!" raung Dokter X sambil menghambur pada reruntuhan itu.
Klik di sini untuk melanjutkan.
Final Battle
Kamu menoleh ke belakang dan melihat kedua lawanmu yang dipenuhi luka bakar. Johan yang masih saja tersenyum dan Dokter X yang tampak berang. Mereka berdua bagaikan pasangan pembunuh dari neraka. Di belakang mereka, gedung pusat penelitian terbakar hebat. Sebagian tempat malah mulai runtuh. Para penjaga kabur kocar-kacir, tak ada satu pun yang memedulikan nasib tempat kerja maupun bos mereka. Rupanya, begitu lahan pekerjaan mereka hancur, loyalitas mereka pun lenyap. Pusat penelitian ini sudah berakhir, dan semuanya adalah berkat ulahmu.
Mendadak kamu merasa kamu tak bakalan dibiarkan keluar hidup-hidup dari tempat ini.
"Kakek, suruh teman-teman keluar dari tempat ini secepatnya," katamu pada si Kakek. "Aku akan menyusul, tapi sekarang aku harus menghadapi mereka dulu."
Si Kakek menatapmu dengan tenang. "Kamu takkan menang melawan mereka."
"Aku tahu," sahutmu sedih. "Tapi aku tidak punya pilihan lain. Akulah yang mereka kejar, bukan teman-teman. Aku tidak bisa mencelakai mereka dengan kabur bersama-sama mereka. Lagi pula," kamu memandangi senjata terakhir di tanganmu, "aku masih punya sedikit harapan."
"Harapan, meski cuma sedikit, sangat besar kekuatannya," kata si Kakek sambil menggenggam tanganmu. "Kamu harus selamat, Anak Muda."
Kamu mengangguk. "Terima kasih, Kek."
Kamu memandangi mobil itu pergi meninggalkan pekarangan rumah sakit jiwa.
"Mengharukan sekali, semua pertunjukan ini," ejek Johan. "Berniat jadi pahlawan, eh? Sayangnya, tidak seperti dalam cerita fiksi, dalam dunia nyata, yang namanya pahlawan itu biasanya sudah mati."
"Masalahnya, Han," kamu menyeringai, "siapa bilang ini bukan cerita fiksi?"
Jika pada Episode 8 kamu memilih:
1. Tongkat besi, klik di sini.
2. Pisau belati, klik di sini.
3. Tali tambang, klik di sini.
4. Botol bir, klik di sini.
Tisu
"Tisu?" tanya si Kakek bengong.
"Ini," sesaat kamu tidak tahu harus berkata apa karena merasa sangat konyol, "untuk kesedihan Kakek, harus menyaksikan semua penderitaan ini dari hari ke hari."
Si Kakek menatapmu lama sekali. Lalu dia pun membukakan pintu untukmu.
Yes!
Namun baru saja si Kakek membukakan pintu, mendadak terdengar gerungan mengerikan dari belakang. Kamu menoleh dan mendapatkan Dokter X yang separuh badannya mengalami luka bakar. Bau gosong menguar darinya, sementara wajahnya yang berkerut-kerut tampak mengerikan. Ajaibnya, dia masih saja mengenakan maskernya.
"Dasar cacing!" teriaknya. "Berani-beraninya kau menghancurkan pusat penelitianku yang berharga! Akan kukoyak-koyakkan kau!"
Kamu terperanjat saat Dokter X meloncat ke arahmu untuk melaksanakan ancamannya padamu. Namun saat itu juga, ada yang merenggutmu ke belakang sementara Dokter X direnggut menjauh darimu. Kamu tercengang seraya menatap Dokter X yang kini sedang digebuki ramai-ramai oleh teman-temanmu sesama penghuni rumah sakit jiwa. (XP: -40)
"Jangan berani-beraninya menyentuh bos kami!"
"Ya benar! Dia lawan yang terlalu kecil buatmu, tahu?"
"Apa kau tidak tahu kau kalah jumlah?"
Dengan susah-payah Dokter X melepaskan diri dan kabur dari ruangan itu. Kamu berjalan ke arah pintu dan si Kakek tersenyum padamu.
"Pergilah," katanya, "dan selamatkan orang-orang malang ini."
Klik di sini untuk melanjutkan.
Botol Bir
Kamu memecahkan botolmu, membiarkan serpihan-serpihan kaca menyebar di jalan.
"Ayo," tantangmu sambil memasang kuda-kuda, "kita akhirnya semuanya sekarang juga!"
Johan dan Dokter X saling berpandangan, lalu mengangguk. Dalam sekejap, mereka sudah berada di dekatmu. Rupanya, meski dengan tubuh-tubuh dipenuhi luka bakar, keduanya masih bisa bergerak dengan sangat cepat. Benar-benar hebat.
Kamu bukan orang yang jago berantem. Bahkan, sebelum semua ini terjadi, kamu hanyalah anak yang senang membaca dan menulis di rumah. Kamu sama sekali bukan tipe anak jalanan. Dikeroyok dua orang yang siap mati begini seharusnya membuatmu ketakutan dan kelabakan.
Tapi, anehnya, kamu merasa tenang. Sekelilingmu terasa sunyi sepi, yang ada hanyalah aliran udara cepat yang menandakan datangnya serangan. Dan setiap kali kamu merasakannya, kamu selalu berhasil mengelaknya. Sebaliknya, aneh sekali, setiap kali kamu melancarkan serangan, kamu selalu berhasil mengenai mereka. Kamu berhasil melukai kaki keduanya, anggota badan yang paling kamu incar supaya kamu bisa kabur tanpa dikejar mereka. (JP: -10, XP: -20)
Secara kebetulan, rupanya serpihan-serpihan kaca botol yang tersebar di atas tanah juga membantumu. Soalnya, saat kebakaran tadi, rupa-rupanya sepatu Johan dan Dokter X ikut terbakar sehingga kini keduanya bertelanjang kaki. Akibatnya, telapak kaki mereka terluka karena serpihan-serpihan kaca itu. (JP: -10, XP: -10)
Sebuah ledakan besar menyentakkan kalian semua. Mendadak pusat penelitian itu ambruk semuanya. Kamu shock, menyadari pastinya ada orang-orang yang masih berada di dalam gedung. Mungkin beberapa penjaga yang tak berhasil menyelamatkan diri, belum lagi penghuni rumah sakit jiwa yang jadi kelinci percobaan dan tak sempat kamu selamatkan. Betapa mengerikan semua kejadian ini!
"Pusat penelitianku!" raung Dokter X sambil menghambur pada reruntuhan itu. Namun kejadian itu ternyata tidak terlalu romantis seperti yang ada pada cerita-cerita, karena pada saat itu juga, sebongkah pecahan bangunan besar jatuh menimpanya. (XP:-20)
Klik di sini untuk melanjutkan.
Akhir Pertempuran
"Sepertinya, pertempuran sudah usai."
Hah?
Kamu memandang Johan dengan tidak mengerti. Memang sih, Johan sudah babak-belur, demikian juga Dokter X, tapi kondisi kamu juga sama payahnya. Kalau diteruskan, belum tentu kamu bisa keluar hidup-hidup.
Mengapa Johan ingin pertempuran ini dihentikan?
"Bagi dokter sesat ini, pusat penelitian ini adalah hidupnya. Tempat ini hancur, dia pun hancur." Johan memandangi si dokter yang telengkup di atas tanah. "Sedangkan aku, sebenarnya, tak punya permusuhan denganmu. Kita berdua hanya ingin berjuang sekuat tenaga untuk selamat. Bedanya, aku berpihak pada mereka untuk tetap hidup, sedangkan kamu tidak. Tapi, setelah kini kita bisa bebas, kita bukan musuh lagi kan?"
Kamu mengangguk. Ya, kamu juga tidak ingin bermusuhan dengan Johan. Bagaimanapun juga, kamu akan selalu teringat bagaimana dia membantumu melarikan diri pada awal kisah ini.
"Kamu boleh pergi sekarang," kata Johan.
"Lalu?" tanyamu. "Bagaimana denganmu?"
"Aku akan memastikan dia mati," kata Johan sambil mengedik ke arah Dokter X.
Kamu ragu-ragu sejenak, lalu berkata, "Sampai ketemu lagi, Johan."
Johan tersenyum dengan cara khasnya, senyum yang tak pernah mencapai matanya yang dingin itu. "Ya, kita pasti akan bertemu lagi."
Kamu pun berbalik dan berjalan pergi. Tiba-tiba sesuatu terlintas dalam pikiranmu. Bagaimana kalau Johan tidak memastikan Dokter X mati, sebaliknya memastikan dokter itu untuk tetap hidup? Bagaimana kalau mereka kini mundur untuk menyusun siasat, lalu kembali untuk memastikan kematianmu? Seharusnya kamu tetap tinggal bersama Johan untuk memastikan kematian Dokter X!
Kamu menoleh dengan cepat, berharap masih bisa menemukan keduanya.
Namun, tempat tadi Johan menghampiri Dokter X kini sudah kosong. Dua orang itu lenyap tak berbekas dalam waktu yang begitu singkat.
Kamu menghela napas. Satu kesalahan kecil saja, dan kini seumur hidupmu kamu akan dibayang-bayangi rasa takut atas pembalasan kedua orang itu. Tapi, kamu kini juga sudah menjadi orang yang tangguh. Kamu takkan menyerah hanya karena diancam dua penjahat. Lagi pula, kamu bertekad untuk menghubungi semua teman-teman yang lolos dari pusat penelitian ini dan mengumpulkan mereka. Kalian akan saling menjaga dan menjadi sekutu yang kuat.
Dan tidak peduli kata-kata ini terdengar klise, kamu selalu percaya, kebenaran akan mengalahkan kejahatan. Selamanya.
SELAMAT UNTUK PARA PESERTA MYSTERYGAME@AREA47: THE ASYLUM™!!!
Kalian akhirnya berhasil selamat dalam kisah menyeramkan melawan Johan dan Dokter X! Nah, bagaimana dengan hasil akhir HP, JP dan XP kalian? Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan "MysteryGame@Area47: THE ASYLUM episode 10," diikuti nama panggilan diikuti "HP=" diikuti jumlah HP diikuti "JP=" diikuti jumlah JP diikuti "XP=" diikuti jumlah XP.
Lexie tunggu emailnya hingga enam hari lagi. Pemenang akan diumumkan tiga minggu dari sekarang, atau dua minggu setelah semua email peserta diterima.
Thank you, everybody, for your participation in MysteryGame@Area47: THE ASYLUM!
xoxo,
Lexie
Subscribe to:
Posts (Atom)







