Wednesday, December 25, 2013

Review The Cuckoo's Calling (Robert Galbraith)

Ketika seorang supermodel jatuh dari ketinggian balkon di Mayfair yang bersalju, polisi menetapkan bahwa ini kasus bunuh diri. Namun, kakak korban meragukan keputusan itu, dan menghubungi sang detektif partikelir, Cormoran Strike, untuk menyelidikinya.

Strike seorang veteran perang yang memiliki luka fisik dan luka batin. Hidupnya sedang kisruh. Kasus ini memberinya kelonggaran dalam hal keuangan, tapi menuntut imbalan pribadi yang mahal: semakin jauh dia terbenam dalam kasus ini, semakin kelam kenyataan yang ditemuinya---dan semakin besar bahaya yang mengancam nyawanya...

Kisah misteri yang mencekam dan anggun, mengelana di antara atmosfer London yang pekat---dari jalanan Mayfair yang mewah dan sunyi, ke bar-bar suram di East End, hingga ke keriuhan Soho. The Cuckoo’s Calling adalah kisah misteri yang menawan.

Memperkenalkan Cormoran Strike, inilah novel kriminal pertama J.K. Rowling, menggunakan nama alias Robert Galbraith.

“Sesekali, muncul seorang detektif partikelir yang langsung merenggut imajinasi pembaca... [Galbraith] memiliki sentuhan ajaib dalam menggambarkan London dan memperkenalkan jagoan barunya.”
—Daily Mail



The Cuckoo’s Calling (Dekut Burung Kukuk)


Penulis: Robert Galbraith
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 22 Desember 2013
Harga: Rp. 99.000,-
Tebal: 520 halaman


“Bagaimana kematian seseorang yang tak pernah kaukenal begitu memengaruhimu?”
― Robert Galbraith, The Cuckoo’s Calling

“Yang mati hanya bisa berbicara melalui mulut orang-orang yang ditinggalkan, dan melalui tanda-tanda yang terserak di belakang mereka.”
― Robert Galbraith, The Cuckoo’s Calling

Siapa yang tidak kenal dengan J.K. Rowling? Penulis serial Harry Potter ini sudah identik banget dengan novel-novel bergenre fantasi. Tidak diduga-duga, beliau akhirnya menulis novel bergenre misteri juga! Jelas, novel ini adalah salah satu novel yang paling dinantikan di tahun 2013 ini. Thanks God, saya memiliki kesempatan untuk membaca buku ini jauh lebih cepat dari yang saya duga.

The Cuckoo’s Calling ditulis oleh J.K. Rowling dengan nama pena Robert Galbraith. Mengingat salah satu penulis favorit saya yang lain yang juga menulis dengan nama pena (Nora Roberts sebagai J.D. Robb), saya sudah mengharapkan novel yang sangat jauh berbeda dengan Harry Potter. Ternyata, harapan saya tidak sia-sia, bahkan lebih baik lagi: gaya penulisan Robert Galbraith yang lincah, cerdas, dan kocak benar-benar sesuai dengan gaya penulisan yang saya sukai. Dalam sekejap, saya langsung jatuh cinta pada Robert Galbraith.

Satu-satunya persamaan dengan serial Harry Potter—hal yang sangat saya syukuri—adalah tokoh-tokoh dengan karakter kuat, baik tokoh-tokoh utama maupun para figuran. Beberapa menyebalkan, tetapi kebanyakan sangat menarik. Lebih banyak menggunakan adegan-adegan singkat dan menarik ketimbang kata-kata sifat, Robert Galbraith mampu membuat kita semua menyukai Cormoran Strike dan bersimpati pada kisah hidupnya yang tidak terlalu bahagia. Mau tidak mau kita juga langsung menyukai Robin Ellacott, sang asisten, yang lebih memilih gaji kecil dan pekerjaan mengasyikkan daripada gaji besar dengan pekerjaan membosankan. Kita ikut memikirkan kesedihan sang korban, Lula Landry alias Cuckoo, yang cantik dan eksotis, dengan hidup yang berantakan dan pacar yang lebih berantakan lagi. Yang tidak kalah menarik bagiku adalah Ciara Porter, si supermodel pirang yang aslinya ternyata jauh lebih menarik daripada foto-fotonya.

Sesuai dengan sinopsis di cover belakang, The Cuckoo’s Calling adalah kisah mengenai penyelidikan seorang detektif partikelir bernama Cormoran Strike atas pembunuhan seorang supermodel bernama Lula Landry yang juga dikenal dengan julukan Cuckoo. Di awal kisah, kondisi Cormoran Strike yang sedang malang-malangnya mulai berubah saat dia bertemu dengan asisten baru, Robin Ellacott yang cantik, cerdas, dan panjang akal. Penyelidikan mengenai Lula mengantarnya pada saksi-saksi yang menarik, yang bisa diandalkan maupun yang suka berbohong, yang benar-benar menyukai Lula maupun yang hanya menginginkan keuntungan pribadi. Pada akhirnya, kisah ditutup dengan penyelesaian yang sempurna, yang menjelaskan setiap kejanggalan dan keanehan yang ditemui oleh Cormoran.

Meski demikian, semuanya tidak benar-benar berakhir. Timbul banyak pertanyaan mengenai Cormoran dan Robin. Apakah Cormoran akan bertemu dengan ayahnya? Bagaimanakah kelanjutan hubungan Robin dengan Matthew setelah dia membuat keputusan penting mengenai karirnya? Apakah harapan kita para pembaca akan terwujud untuk melihat Cormoran bersama-sama dengan Robin? Saya rasa, setiap pembaca The Cuckoo’s Calling pasti akan memiliki keinginan yang sama: kami ingin segera membaca sekuelnya! Keinginan ini sepertinya akan terwujud, karena di Goodreads kita bisa melihat bahwa ini hanyalah buku pertama dari serial Cormoran Strike. Yayyy!

Secara singkat, pendapat saya untuk The Cuckoo’s Calling bisa diringkas dalam satu kata: brilian! Setelah menulis serial Harry Potter yang terkenal, J.K. Rowling sanggup menciptakan novel lain dengan genre dan gaya penulisan yang sangat berbeda dengan buku perdana yang sangat menjanjikan. Untuk selanjutnya, kita bisa mengharapkan buku-buku luar biasa lain lagi dari J.K. Rowling. Mungkin dengan genre lain—horor?

The Cuckoo’s Calling diterjemahkan di Indonesia dengan judul Dekut Burung Kukuk oleh Siska Yuanita, editor senior, dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Desain sampul yang manis dilakukan oleh Marcel A.W.

Review ini juga di-post di Goodreads.

1 comment:

Rosyida Safitri said...

Saya juga sudah baca novel ini kalex xD. keren banget. Tegang baca novel ini hampir sama dengan tegangnya baca omen seris ataupun johan seris punya kalex :$ walau humor di omen lebih mengibur sih :3