... soriii banget. Lexie lagi sibuk-sibuknya, dan mungkin karena terlalu capek, akhirnya sekarang tepar dengan sukses, dengan tambahan suara hilang. Jadi kalo kita ketemu, jangan kaget ya kalo aku bungkam seribu bahasa dan cuma senyam-senyum aja.
Demi mengurangi kesibukan & menjaga kesehatan, aku juga mengurangi waktu onlen. Maaf ya, buat yang menghubungiku di FB atau Twitter en belum dibalas! Nanti kalo kondisiku sudah lebih baik, aku akan usahain membalas satu-satu.
Mengenai Mystery Game, terpaksa harus ditunda dulu sampai kondisiku lebih fit. Aku mohon maaf buat yang udah nunggu-nungguin, apalagi ini episode terakhir. Apa daya, kalo dipaksain nanti malah jadinya nggak keruan. Kita semua kepengen merasakan episode terakhir yang seru kan? ^_~
At last but not least, dalam masa-masa ini ada kabar gembira menyeruak. Berkat dukungan teman-teman semua, novel OBSESI akhirnya menjalani cetakan ke-4. Wow! Rasanya nggak bisa dipercaya. Kirain tahun ini udah cukup diberkati dengan cetakan ke-3. Ternyata masa depan itu nggak bisa diduga ya! \(^o^)/
Seperti biasa aku akan mengadakan kuis untuk merayakan cetak ulang. Tapi karena kondisiku yang lagi nggak sip banget, kuisnya kuisnya barengan sama kuis Permainan Maut aja ya!
Thank you all, and until next time...
xoxo,
Lexie
Friday, September 30, 2011
Sunday, September 25, 2011
MysteryGame@Area47: THE WRITER, Episode 9
Kalian akhirnya duduk dan kamu diminta untuk menceritakan pengalamanmu. Sebagai penulis novel berbakat, kamu berhasil menuturkan pengalamanmu dengan kata-kata yang tersusun baik dan mendetail. Saat mendengarnya, sang pemilik rumah tampak terpesona--tidak, lebih tepat lagi, dia tampak sangat terkesan. Matanya menatapmu dengan penuh minat bercampur kagum. Kamu bertanya-tanya, apakah yang membuatnya begitu terkesan--ceritamu yang luar biasa dan nyaris tak dapat dipercayai, ataukah keberanian yang kamu tampakkan dalam ceritamu? Kamu mulai merasa malu. Kamu tidak berniat kedengaran seperti pahlawan. Sebenarnya, kamu ketakutan setengah mati dan kamu sudah tergoda banget mencuri BMW-nya biar kamu bisa meninggalkan tempat suram ini untuk selama-lamanya. Tapi kalau kamu ngacir seorang diri, bisa-bisa si monster menjadikan pemilik rumah yang baik hati ini sebagai sasaran berikutnya.
"Luar biasa." Mendengar komentar singkat itu, kamu merasakan sebersit rasa lega karena itu berarti yang dikaguminya adalah ceritamu. Lalu, kamu mulai khawatir lagi kalau dia menganggapmu mengada-ada. Memang sih, saat ini tingkat keparnoanmu sudah mencapai tingkat dewa. "Tak saya sangka, saya punya tetangga yang mengerikan begitu. Anda benar-benar hebat karena bisa lolos dari makhluk sekuat itu."
"Sebetulnya nggak juga, Pak," sahutmu, dan mendadak kamu merasa geli dengan kerendahan hatimu. Kemarin kamu masih begitu pongah karena kesuksesan yang kamu capai di usia muda, namun saat ini kamu berubah total. Tak pelak lagi, pengalaman ini telah mengubahmu menjadi orang yang jauh berbeda. "Saya sudah nyaris mati berkali-kali. Barangkali monster itu saja yang sedang menjadikan saya sebagai mainannya. Jujur saja, sekarang pun saya masih merasa terancam bahaya. Bagaimana kalau kita panggil polisi saja?"
"Baiklah," angguk sang pemilik rumah. "Saya akan menelepon polisi sekarang juga. Kebetulan telepon saya ada di ruang kerja. Mohon tunggu sebentar ya!"
Sebenarnya kamu ingin menawarkan BlackBerry-mu, tapi mungkin ada bagusnya kamu membiarkannya menggunakan teleponnya sendiri. Bagaimanapun juga, kamu perlu menghemat batere ponsel. Siapa tahu kamu akan membutuhkannya di saat-saat terjepit.
Saat sedang menunggu dengan gelisah sambil menyeruput teh manis yang disediakan oleh si tuan rumah, rasa parnomu muncul lagi. Kamu berjalan ke balik tirai jendela dan menyibakkannya sedikit. Tidak ada si monster. Melegakan, tapi kamu belum sepenuhnya selamat. Kamu segera mengecek pintu depan. Untunglah kamu melakukannya! Ternyata pintu itu tidak terkunci sama sekali! Kamu baru saja hendak menguncinya dengan anak kunci yang menempel pada pintu, ketika terdengar suara dari balik punggungmu.
"Kalau saya jadi Anda, saya tidak akan melakukannya."
Kamu terpaku mendengar suara sang pemilik rumah yang, meski mash terdengar ramah, menyiratkan ancaman. Mendapat firasat buruk, perlahan-lahan kamu membalikkan badan. Firasat burukmu jadi kenyataan saat kamu menemukan dirimu sedang ditodong si pemilik rumah dengan sepucuk pistol antik yang entah masih bisa berfungsi atau tidak. Tapi kamu tak berniat menjadi kelinci percobaan sama sekali.
"Siapa Anda sebenarnya?" tanyamu berusaha terdengar tenang, tapi suaramu yang bergetar tidak bisa menutupi rasa takutmu.
"Saya adalah kakak dari manusia yang Anda sebut monster itu."
Kamu terkejut setengah mati. "Jadi Anda masih hidup?"
Si pemilik rumah mengangguk sedih. "Satu-satunya yang tersisa. Anda tahu, hidup adalah sesuatu yang aneh. Meski terlahir sebagai anak-anak berdarah biru, dikaruniai begitu banyak harta dan kesempatan, saya dan kakak saya sama sekali tidak bisa menikmatinya. Awalnya, kami berdua adalah kakak-beradik yang rukun dan saling menyayangi. Oh, tentu saja kami bertengkar, sama seperti kakak-beradik lain, tapi dalam waktu singkat kami akan rukun kembali dan bermain bersama. Kami tinggal jauh dari orang lain, karena ibuku selalu sakit-sakitan dan membutuhkan udara pedesaan yang segar. Karena itu, kami hanya memiliki satu sama lain. Saat-saat itu adalah saat-saat terindah dalam hidupku."
Pandangan si kakek menerawang, sepertinya dia sedang kembali pada masa-masa yang hanya ada dalam khayalannya saja. Ini adalah kesempatan bagimu. Perlahan-lahan, kamu beringsut mendekatinya.
"Lalu mendadak penyakit itu muncul. Tak ada yang tahu, dari manakah asalnya, dan bagaimana cara pengobatannya. Dan kini, saat pengobatan sudah begini maju, saya tidak sanggup membawanya pergi ke dokter, karena dia akan membunuh siapa saja yang tak menyenangkan hatinya. Pokoknya, pada saat itu, hidup terasa bagaikan neraka. Awalnya, dia hanya merasa gatal-gatal di seluruh tubuhnya. Namun setiap kali dia menggaruknya, kulitnya pun terkelupas dan menyebabkannya kesakitan. Kami semua merasa kasihan dan mengalah padanya. Dia membenciku yang sehat walafiat, jadi aku pun disingkirkannya ke atas loteng. Dia memukuli semua orang yang bersikap kasar waktu merawatnya, karena itu menimbulkan rasa sakit yang amat sangat pada kulitnya. Orangtua kami membiarkannya berbuat semaunya, karena mereka kasihan terhadapnya.
"Entah kenapa, penyakit itu malah membuatnya tumbuh pesat. Pada usia tiga belas tahun, dia sudah jauh lebih tinggi dariku. Bahkan, dia lebih tinggi dari semua orang di dalam rumah, termasuk ayahku yang bule. Kekuatannya pun jauh lebih besar daripada orang-orang lain. Suatu hari, rasa sakitnya rupanya tak tertahankan lagi. Dia mulai mengamuk dan menghancurkan barang-barang di ruang bermain. Seorang perawat berusaha menenangkannya, namun perawat itu malah dicabik-cabiknya hingga tak berbentuk lagi. Pada saat itu, aku sedang berada di atas loteng. Akibatnya, seluruh kejadian itu terlihat olehku. Mengerikan! Betapa mengerikannya! Hingga saat ini, kejadian itu masih menghantuiku."
Kamu bergidik mendengar ceritanya. Jadi begitukah cara yang ditempuh monster itu untuk membunuh orang? Mencabik-cabik korbannya?
"Anehnya, setelah mencabik-cabik perawat itu, dia jadi tenang kembali. Bahkan ketenangannya berlangsung hingga sebulan lebih. Karena itulah, orangtuaku mulai memberikannya... korban."
Kamu menatap kakek itu dengan ngeri.
"Orangtua kami mulai membangun rumah kedua, yaitu rumah ini. Tak terlalu jauh dari rumah lama sehingga bisa mengawasi adikku, tapi tak terlalu dekat sehingga membahayakan nyawa kami. Setelah rumah ini jadi, kami pun pindah ke sini bersama dengan pengurus rumah, tukang kebun, dan kusir kereta kami. Selama kami mengirimkan seorang perawat setiap bulan, kehidupan kami tak diganggu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Orangtua kami meninggal, dan aku mewarisi seluruh kekayaan mereka--sekaligus juga amanat terakhir mereka. Aku harus menjaga adikku hingga napasku yang terakhir, supaya dia tidak keluar dari kompleks ini dan mengganggu orang lain."
"Sementara itu, Anda tetap mengirimkan korban setiap bulan, dengan cara menyewakan rumah itu," selamu geram.
"Tidak hanya menyewakan rumah itu," kata si kakek datar. "Kadang aku memasang iklan lowongan kerja, iklan undian berhadiah, apa sajalah yang menarik orang untuk datang ke sini. Sejauh ini, semuanya berjalan baik-baik saja. Tak ada yang curiga. Pernah beberapa kali polisi mencari orang ke sini, tapi mereka tidak menemukan apa-apa. Aku berhasil menyembunyikan semuanya dengan baik. Setiap kali adikku membunuh, aku yang membersihkannya. Mungkin karena tahu akulah yang mencarikan korban untuknya, adikku tak pernah menyentuhku. Hubungan kami mirip dengan binatang buas di kebun binatang dan pelatihnya. Anda lihat betapa kuat dan sehat tubuhku? Diperlukan kepercayaan diri dan kekuatan batin yang besar untuk bersikap dominan terhadap adikku, untuk meyakinkannya bahwa aku adalah makhluk alfa yang harus ditaatinya.
"Sejauh ini, semua baik-baik saja, hingga kedatanganmu. Kukira anak muda yang katanya ada penulis itu adalah anak muda yang bertubuh lemah dan berjiwa penakut--korban terbaik untuk adikku. Tak kusangka, Anda berhasil meloloskan diri dari rumah itu. Hingga saat ini, Andalah satu-satunya yang berhasil kabur sejauh ini. Tapi maafkan saya, Anda harus kembali lagi ke sana."
"Anda gila!" teriakmu. "Memangnya saya mau menuruti Anda begitu saja?"
"Anda tak punya pilihan lain," katanya. "Anda harus mau, atau saya tembak Anda di sini."
Sayang bagi si kakek tua, kamu belum berencana untuk mati hari ini. Pikiranmu bekerja dengan keras dan cepat, membentuk tiga rencana yang sama bagusnya:
1. Menerkam si kakek tua dan merebut pistolnya
2. Ngumpet di balik sofa dan kabur
3. Pura-pura pingsan ketakutan
Selagi kamu menimbang-nimbang, kamu mendengar bunyi gemeretak kerikil di luar.
Si monster sudah tiba.
INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:
Hai para peserta MysteryGame@Area47!
Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan nama panggilan diikuti dengan jawaban atas pertanyaan ini:
RENCANA MANAKAH YANG AKAN KAMU JALANKAN? (Pilih antara: menerkam si kakek tua, ngumpet di balik sofa, pura-pura pingsan. Tidak perlu sebutkan alasannya.)
Di dalam email, tuliskan hasil HP dan EP yang kamu peroleh sejauh ini. Lexie tunggu jawabannya sampai enam hari lagi. Jangan sampai telat ya mengirimkan jawabannya! ^^
Good luck, everybody!
xoxo,
Lexie
Sunday, September 18, 2011
MysteryGame@Area47: THE WRITER, Episode 8
Jika pada episode 7 kamu memilih:
1. jalan kaki, klik di sini.
2. naik sepeda jelek, klik di sini.
3. menelepon taksi, klik di sini.
4. menelepon agen properti, klik di sini.
JALAN KAKI
Kamu berjalan secepat-cepatnya sambil berusaha menajamkan setiap panca inderamu. Setiap benda di tengah jalan, setiap bunyi-bunyian, setiap bau yang berbeda (apalagi bau nanah busuk yang kini sudah akrab di hidungmu), semua itulah yang menentukan langkahmu.
Di belokan pertama, di dekat sebuah tong sampah umum yang sepertinya sudah tak dipakai selama bertahun-tahun, kamu menemukan sebuah raket tenis yang sudah tak ada senarnya. Kamu memutuskan bahwa kamu membutuhkan senjata, karena itu kamu memungutnya dan berjalan terus.
Klik di sini untuk melanjutkan.
NAIK SEPEDA JELEK
Kamu menaiki sepeda jelek yang tergeletak di luar pekarangan depan. Sepeda itu sudah berkarat, rantai dan rodanya sudah lama tak diminyaki, sehingga mengayuhnya pun terasa berat luar biasa. Astaga, bisa-bisa tenagamu sudah terkuras habis di saat kamu baru saja menempuh sepuluh meter! Kamu putuskan berjalan kaki akan jauh lebih mudah. Sebagai gantinya, kamu mencopot rantai sepeda itu dan berlari sekuat tenaga menjauhi rumah mengerikan itu.
Klik di sini untuk melanjutkan.
MENELEPON TAKSI
Teleponmu berlangsung dengan sangat mengecewakan. Tidak ada taksi yang sedang berkeliaran di sekitar situ. Perusahaan taksi bersedia mengirimkan salah satu taksi, akan tetapi itu akan memakan waktu lima belas menit. Dasar perusahaan bodoh, apa mereka tidak tahu kamu tidak punya waktu lima belas menit?
Tapi kamu tidak memaki mereka seperti keinginanmu. Kamu mengucapkan terima kasih dan mengatakan bahwa kamu akan menunggu mereka di ujung kompleks. Setidaknya, kamu bisa menunggu di tempat yang jauh dari rumah mengerikan itu. Setelah itu, kamu pun berlari sekuat tenaga menuju ujung kompleks.
Klik di sini untuk melanjutkan.
MENELEPON AGEN PROPERTI
Agen properti itu terdengar tidak terlalu senang saat disuruh kembali ke rumah mengerikan itu. Tapi dia mencoba untuk bersikap profesional dan mengatakan dia akan datang secepatnya. "Saya akan tiba di sana dalam waktu lima belas menit."
Lima belas menit? Bisa-bisa nyawamu sudah melayang kalau kamu masih nongkrong di situ selama lima belas menit! Kamu pun mengatakan padanya kala ukamu akan menunggunya di ujung kompleks. Setidaknya, kamu bisa menunggu di tempat yang jauh dari rumah mengerikan itu. Setelah itu, kamu pun berlari sekuat tenaga menuju ujung kompleks.
Klik di sini untuk melanjutkan.
PEMILIK RUMAH TERDEKAT
Sejauh mata memandang, yang ada hanyalah kavling-kavling kosong tak terurus, dengan rumput-rumput yang sangat tinggi dan pohon-pohon berbatang besar yang menandakan usia mereka yang sudah tua. Seandainya si monster menguntitmu di belakang, kamu takkan bisa melihatnya. Kamu bertanya-tanya, separah apakah luka yang sudah kamu akibatkan padanya? Siapakah yang kondisinya lebih mengenaskan, kamu ataukah dia?
Kamu mendengar suara geretak kerikil di kejauhan--suara yang nyaris tak terdengar saking jauhnya, tapi pengalaman tegang hari ini telah mengasah panca inderamu. Kamu menyadari, meski dia masih jauh, hanya tinggal tunggu waktu dia menemukan dirimu. Aneh sekali, kamu kan menempuh jalan berkelok-kelok, kenapa dia masih saja bisa menguntitmu? Apakah itu hanya kebetulan, ataukah dia memang bisa mencium baumu?
Baru kemarin sore kamu tiba di rumah itu, tapi rasanya sudah berabad-abad--sampai-sampai kamu lupa bahwa kamu sempat melewati sebuah rumah yang jauhnya lumayan banget. Tiga kilometer, begitulah menurut si agen properti. Jarak yang membuatmu yakin kamu tak bakalan direcoki oleh tetangga cerewet.
Kini kamu berdiri di hadapan rumah si tetangga. Rumah yang tidak kalah besarnya--dan tak kalah tua--dibandingkan dengan rumah yang kamu sewa, dengan halaman yang hanya sedikit lebih rapi ketimbang rumahmu, dan sebuah mobil BMW terbaru yang kontras dengan kondisi rumah itu. Melihat mobil itu, kamu jadi ngiler. Bukan hanya keindahan dan kemewahan mobil itu--yang memang patut dikagumi--tapi kamu bisa menggunakan mobil itu, bisa dipastikan monster itu tak bakalan mengejarmu lagi untuk selama-lamanya.
Niat buruk pun terbersit dalam pikiranmu. Niat buruk yang biasanya tak bakalan ada, tapi saat ini terbentuk karena ketakutan dan keinginanmu untuk meloloskan diri.
Seandainya saja kamu bisa mencuri mobil itu...
Yang perlu kamu lakukan hanyalah mengetuk pintu rumah itu sampai ada yang membukakan, lalu kamu mencari tempat gantungan kunci mobil. Memang ada orang-orang yang menyimpan kunci mobil di kamar tidur, tapi kebanyakan orang menyimpan kunci mobil di dekat pintu keluar--atau pintu garasi. Andai kamu menemukan kunci itu, kamu akan menyambarnya dan melarikan diri dengan mobil BMW tersebut. Lalu adios, monster, dan sori, tetangga!
Rupanya ada tombol bel di dekat pintu, jadi kamu pun memencetnya.
Selama kamu menunggu di ambang pintu, ketakutan semakin menguasai dirimu. Bagaimana kalau monster itu keburu tiba? Bisa-bisa kamu diterkam olehnya di depan BMW, saranamu menuju kebebasan! Itu kan mengenaskan banget. Tidak, kamu harus membuat rencana cadangan alias plan B. Seandainya saja monster itu datang sebelum pintu dibuka...
Klik.
Oh, untunglah si pemilik rumah yang akan kamu curi mobilnya itu membukakan pintu!
"Siapa ya?"
Sial, si pemilik rumah rupanya cukup berhati-hati. Dia hanya membukakan pintu sedikit, sementara ada rantai yang menghubungi pintu dengan selot. Dengan demikian, kamu takkan bisa memaksa masuk ke dalam. Ya, tentu saja dia bersikap hati-hati. Tak ada orang yang bakalan bersikap ceroboh di saat pintu rumahnya diketuk di subuh hari, sementara rumahnya terletak jauh dari peradaban.
"Tolong saya!" teriakmu histeris. Oke, kamu sebenarnya berniat datang baik-baik dan bicara sesopan mungkin, tapi rupanya ketakutan membuatmu sulit mengendalikan diri. "Ada monster yang mengejar saya!"
Ups. Gawat. Harusnya kamu tidak bilang begitu. Bisa-bisa dia ikut ketakutan dan meninggalkan kamu di luar sana untuk dimangsa si monster. Kamu memang bodoh.
Namun, berlawanan dengan kecemasanmu, si pemilik rumah malah segera melepaskan rantai yang menahan pintu seraya berkata, "Astaga, monster apa? Anda tidak apa-apa?"
Kamu masuk ke dalam rumah, lalu terpaku di tempat saat wajah itu menyambutmu. Wajah wanita berambut panjang yang keji, dengan matanya yang beradu pandang denganmu, sementara tangannya menyembunyikan sebilah pisau di pangkuannya.
Tubuhmu langsung gemetaran hebat.
"Anda tak apa-apa?"
Suara si pemilik rumah terdengar sayup-sayup, seolah-olah datang dari tempat yang jauh. Kamu masih tidak bisa melepaskan pandangan dari wanita itu, yang menyunggingkan senyum culas, dan kamu bisa mendengar suaranya yang merdu namun mengerikan, "Kamu akan mati di sini..."
"Hei!!"
Kamu terperanjat dan kembali pada kenyataan. Astaga, si pemilik rumah kelihatan bete banget karena dicuekin!
"Sori, sori," ucapmu segera. "Lukisan ini membuatku takut..."
"Lukisan ini?" tanya si pemilik rumah dengan suara heran. Baru kamu sadari, si pemilik rumah adalah seorang laki-laki tua yang masih berbadan tegap dan kelihatan bugar. Jelas dia bukan tipe kakek-kakek yang cepat mati, tapi kakek-kakek keren sejenis Gandalf dan Albus Dumbledore. "Ini lukisan tua yang saya warisi turun-temurun dari nenek moyang. Kabarnya, lukisan ini dibuat oleh nenek moyangku. Tapi itu tidak penting. Yang lebih penting adalah, apa yang Anda maksud dengan dikejar monster? Apakah yang Anda maksud adalah perampok atau pembunuh..."
"Nggak!" Kamu menggeleng. "Saya dikejar monster beneran. Monster yang berdiam di rumah lain di kompleks ini..."
"Oh ya?" Mata si pemilik rumah membelalak. "Rumah tua dan cantik yang terbengkalai itu?"
Kamu mengangguk.
"Astaga, padahal selama ini saya kira rumah itu kosong! Monster, Anda bilang? Monster seperti apa..." Ucapan si pemilik rumah terhenti. "Ya ampun, saya benar-benar tidak sopan. Anda butuh sesuatu? Makanan, minuman, atau apa saja?"
"Kalau boleh, saya ingin minuman, air putih saja, dan kalau boleh, saya ingin meminjam toilet."
"Tentu saja, akan saya ambilkan minuman," sahut si pemilik rumah dengan ramah. "Sedangkan toilet ada di ujung lorong ini, belok kiri."
"Terima kasih."
Kamu segera ngacir ke arah yang ditunjuknya. Setelah keluar dari toilet, kamu merasa jauh lebih baik. Lalu, saat kamu kembali ke ruang depan, kamu menyadari bahwa kamu melewati sebuah lemari hias dengan banyak benda-benda indah.
"Suka?"
Suara si pemilik rumah mengejutkanmu.
Kamu mengangguk. "Benda-benda ini bagus banget."
"Ambil saja yang Anda suka," kata si pemilik rumah ramah.
Kamu terkejut lagi. "Oh, nggak. Saya nggak bermaksud..."
"Jangan malu-malu," kata si pemilik rumah sambil tertawa. "Ayo, ambil saja. Anggap saja hadiah perkenalan."
Sekali lagi kamu memandangi isi lemari hias itu. Ada sebuah tempat lilin perak berukir yang sangat indah, patung kucing emas yang tangannya bisa melambai-lambai, kelereng-kelereng sebesar kepalan tangan anak kecil, dan tabung gelas raksasa dengan serbuk-serbuk cantik di dalamnya. Keempat benda itulah yang paling menarik hatimu, dan kamu tidak bisa memutuskan yang mana yang lebih kamu sukai.
Baca episode berikutnya.
INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:
Hai para peserta MysteryGame@Area47!
Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan nama panggilan diikuti dengan jawaban atas pertanyaan ini:
BENDA APA YANG KAMU PILIH? (Pilih antara: tempat lilin, patung kucing, kelereng, tabung gelas. Tidak perlu sebutkan alasannya.)
Di dalam email, tuliskan hasil HP dan EP yang kamu peroleh sejauh ini. Lexie tunggu jawabannya sampai enam hari lagi. Jangan sampai telat ya mengirimkan jawabannya!
Good luck, everybody!
xoxo,
Lexie
1. jalan kaki, klik di sini.
2. naik sepeda jelek, klik di sini.
3. menelepon taksi, klik di sini.
4. menelepon agen properti, klik di sini.
JALAN KAKI
Kamu berjalan secepat-cepatnya sambil berusaha menajamkan setiap panca inderamu. Setiap benda di tengah jalan, setiap bunyi-bunyian, setiap bau yang berbeda (apalagi bau nanah busuk yang kini sudah akrab di hidungmu), semua itulah yang menentukan langkahmu.
Di belokan pertama, di dekat sebuah tong sampah umum yang sepertinya sudah tak dipakai selama bertahun-tahun, kamu menemukan sebuah raket tenis yang sudah tak ada senarnya. Kamu memutuskan bahwa kamu membutuhkan senjata, karena itu kamu memungutnya dan berjalan terus.
Klik di sini untuk melanjutkan.
NAIK SEPEDA JELEK
Kamu menaiki sepeda jelek yang tergeletak di luar pekarangan depan. Sepeda itu sudah berkarat, rantai dan rodanya sudah lama tak diminyaki, sehingga mengayuhnya pun terasa berat luar biasa. Astaga, bisa-bisa tenagamu sudah terkuras habis di saat kamu baru saja menempuh sepuluh meter! Kamu putuskan berjalan kaki akan jauh lebih mudah. Sebagai gantinya, kamu mencopot rantai sepeda itu dan berlari sekuat tenaga menjauhi rumah mengerikan itu.
Klik di sini untuk melanjutkan.
MENELEPON TAKSI
Teleponmu berlangsung dengan sangat mengecewakan. Tidak ada taksi yang sedang berkeliaran di sekitar situ. Perusahaan taksi bersedia mengirimkan salah satu taksi, akan tetapi itu akan memakan waktu lima belas menit. Dasar perusahaan bodoh, apa mereka tidak tahu kamu tidak punya waktu lima belas menit?
Tapi kamu tidak memaki mereka seperti keinginanmu. Kamu mengucapkan terima kasih dan mengatakan bahwa kamu akan menunggu mereka di ujung kompleks. Setidaknya, kamu bisa menunggu di tempat yang jauh dari rumah mengerikan itu. Setelah itu, kamu pun berlari sekuat tenaga menuju ujung kompleks.
Klik di sini untuk melanjutkan.
MENELEPON AGEN PROPERTI
Agen properti itu terdengar tidak terlalu senang saat disuruh kembali ke rumah mengerikan itu. Tapi dia mencoba untuk bersikap profesional dan mengatakan dia akan datang secepatnya. "Saya akan tiba di sana dalam waktu lima belas menit."
Lima belas menit? Bisa-bisa nyawamu sudah melayang kalau kamu masih nongkrong di situ selama lima belas menit! Kamu pun mengatakan padanya kala ukamu akan menunggunya di ujung kompleks. Setidaknya, kamu bisa menunggu di tempat yang jauh dari rumah mengerikan itu. Setelah itu, kamu pun berlari sekuat tenaga menuju ujung kompleks.
Klik di sini untuk melanjutkan.
PEMILIK RUMAH TERDEKAT
Sejauh mata memandang, yang ada hanyalah kavling-kavling kosong tak terurus, dengan rumput-rumput yang sangat tinggi dan pohon-pohon berbatang besar yang menandakan usia mereka yang sudah tua. Seandainya si monster menguntitmu di belakang, kamu takkan bisa melihatnya. Kamu bertanya-tanya, separah apakah luka yang sudah kamu akibatkan padanya? Siapakah yang kondisinya lebih mengenaskan, kamu ataukah dia?
Kamu mendengar suara geretak kerikil di kejauhan--suara yang nyaris tak terdengar saking jauhnya, tapi pengalaman tegang hari ini telah mengasah panca inderamu. Kamu menyadari, meski dia masih jauh, hanya tinggal tunggu waktu dia menemukan dirimu. Aneh sekali, kamu kan menempuh jalan berkelok-kelok, kenapa dia masih saja bisa menguntitmu? Apakah itu hanya kebetulan, ataukah dia memang bisa mencium baumu?
Baru kemarin sore kamu tiba di rumah itu, tapi rasanya sudah berabad-abad--sampai-sampai kamu lupa bahwa kamu sempat melewati sebuah rumah yang jauhnya lumayan banget. Tiga kilometer, begitulah menurut si agen properti. Jarak yang membuatmu yakin kamu tak bakalan direcoki oleh tetangga cerewet.
Kini kamu berdiri di hadapan rumah si tetangga. Rumah yang tidak kalah besarnya--dan tak kalah tua--dibandingkan dengan rumah yang kamu sewa, dengan halaman yang hanya sedikit lebih rapi ketimbang rumahmu, dan sebuah mobil BMW terbaru yang kontras dengan kondisi rumah itu. Melihat mobil itu, kamu jadi ngiler. Bukan hanya keindahan dan kemewahan mobil itu--yang memang patut dikagumi--tapi kamu bisa menggunakan mobil itu, bisa dipastikan monster itu tak bakalan mengejarmu lagi untuk selama-lamanya.
Niat buruk pun terbersit dalam pikiranmu. Niat buruk yang biasanya tak bakalan ada, tapi saat ini terbentuk karena ketakutan dan keinginanmu untuk meloloskan diri.
Seandainya saja kamu bisa mencuri mobil itu...
Yang perlu kamu lakukan hanyalah mengetuk pintu rumah itu sampai ada yang membukakan, lalu kamu mencari tempat gantungan kunci mobil. Memang ada orang-orang yang menyimpan kunci mobil di kamar tidur, tapi kebanyakan orang menyimpan kunci mobil di dekat pintu keluar--atau pintu garasi. Andai kamu menemukan kunci itu, kamu akan menyambarnya dan melarikan diri dengan mobil BMW tersebut. Lalu adios, monster, dan sori, tetangga!
Rupanya ada tombol bel di dekat pintu, jadi kamu pun memencetnya.
Selama kamu menunggu di ambang pintu, ketakutan semakin menguasai dirimu. Bagaimana kalau monster itu keburu tiba? Bisa-bisa kamu diterkam olehnya di depan BMW, saranamu menuju kebebasan! Itu kan mengenaskan banget. Tidak, kamu harus membuat rencana cadangan alias plan B. Seandainya saja monster itu datang sebelum pintu dibuka...
Klik.
Oh, untunglah si pemilik rumah yang akan kamu curi mobilnya itu membukakan pintu!
"Siapa ya?"
Sial, si pemilik rumah rupanya cukup berhati-hati. Dia hanya membukakan pintu sedikit, sementara ada rantai yang menghubungi pintu dengan selot. Dengan demikian, kamu takkan bisa memaksa masuk ke dalam. Ya, tentu saja dia bersikap hati-hati. Tak ada orang yang bakalan bersikap ceroboh di saat pintu rumahnya diketuk di subuh hari, sementara rumahnya terletak jauh dari peradaban.
"Tolong saya!" teriakmu histeris. Oke, kamu sebenarnya berniat datang baik-baik dan bicara sesopan mungkin, tapi rupanya ketakutan membuatmu sulit mengendalikan diri. "Ada monster yang mengejar saya!"
Ups. Gawat. Harusnya kamu tidak bilang begitu. Bisa-bisa dia ikut ketakutan dan meninggalkan kamu di luar sana untuk dimangsa si monster. Kamu memang bodoh.
Namun, berlawanan dengan kecemasanmu, si pemilik rumah malah segera melepaskan rantai yang menahan pintu seraya berkata, "Astaga, monster apa? Anda tidak apa-apa?"
Kamu masuk ke dalam rumah, lalu terpaku di tempat saat wajah itu menyambutmu. Wajah wanita berambut panjang yang keji, dengan matanya yang beradu pandang denganmu, sementara tangannya menyembunyikan sebilah pisau di pangkuannya.
Tubuhmu langsung gemetaran hebat.
"Anda tak apa-apa?"
Suara si pemilik rumah terdengar sayup-sayup, seolah-olah datang dari tempat yang jauh. Kamu masih tidak bisa melepaskan pandangan dari wanita itu, yang menyunggingkan senyum culas, dan kamu bisa mendengar suaranya yang merdu namun mengerikan, "Kamu akan mati di sini..."
"Hei!!"
Kamu terperanjat dan kembali pada kenyataan. Astaga, si pemilik rumah kelihatan bete banget karena dicuekin!
"Sori, sori," ucapmu segera. "Lukisan ini membuatku takut..."
"Lukisan ini?" tanya si pemilik rumah dengan suara heran. Baru kamu sadari, si pemilik rumah adalah seorang laki-laki tua yang masih berbadan tegap dan kelihatan bugar. Jelas dia bukan tipe kakek-kakek yang cepat mati, tapi kakek-kakek keren sejenis Gandalf dan Albus Dumbledore. "Ini lukisan tua yang saya warisi turun-temurun dari nenek moyang. Kabarnya, lukisan ini dibuat oleh nenek moyangku. Tapi itu tidak penting. Yang lebih penting adalah, apa yang Anda maksud dengan dikejar monster? Apakah yang Anda maksud adalah perampok atau pembunuh..."
"Nggak!" Kamu menggeleng. "Saya dikejar monster beneran. Monster yang berdiam di rumah lain di kompleks ini..."
"Oh ya?" Mata si pemilik rumah membelalak. "Rumah tua dan cantik yang terbengkalai itu?"
Kamu mengangguk.
"Astaga, padahal selama ini saya kira rumah itu kosong! Monster, Anda bilang? Monster seperti apa..." Ucapan si pemilik rumah terhenti. "Ya ampun, saya benar-benar tidak sopan. Anda butuh sesuatu? Makanan, minuman, atau apa saja?"
"Kalau boleh, saya ingin minuman, air putih saja, dan kalau boleh, saya ingin meminjam toilet."
"Tentu saja, akan saya ambilkan minuman," sahut si pemilik rumah dengan ramah. "Sedangkan toilet ada di ujung lorong ini, belok kiri."
"Terima kasih."
Kamu segera ngacir ke arah yang ditunjuknya. Setelah keluar dari toilet, kamu merasa jauh lebih baik. Lalu, saat kamu kembali ke ruang depan, kamu menyadari bahwa kamu melewati sebuah lemari hias dengan banyak benda-benda indah.
"Suka?"
Suara si pemilik rumah mengejutkanmu.
Kamu mengangguk. "Benda-benda ini bagus banget."
"Ambil saja yang Anda suka," kata si pemilik rumah ramah.
Kamu terkejut lagi. "Oh, nggak. Saya nggak bermaksud..."
"Jangan malu-malu," kata si pemilik rumah sambil tertawa. "Ayo, ambil saja. Anggap saja hadiah perkenalan."
Sekali lagi kamu memandangi isi lemari hias itu. Ada sebuah tempat lilin perak berukir yang sangat indah, patung kucing emas yang tangannya bisa melambai-lambai, kelereng-kelereng sebesar kepalan tangan anak kecil, dan tabung gelas raksasa dengan serbuk-serbuk cantik di dalamnya. Keempat benda itulah yang paling menarik hatimu, dan kamu tidak bisa memutuskan yang mana yang lebih kamu sukai.
Baca episode berikutnya.
INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:
Hai para peserta MysteryGame@Area47!
Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan nama panggilan diikuti dengan jawaban atas pertanyaan ini:
BENDA APA YANG KAMU PILIH? (Pilih antara: tempat lilin, patung kucing, kelereng, tabung gelas. Tidak perlu sebutkan alasannya.)
Di dalam email, tuliskan hasil HP dan EP yang kamu peroleh sejauh ini. Lexie tunggu jawabannya sampai enam hari lagi. Jangan sampai telat ya mengirimkan jawabannya!
Good luck, everybody!
xoxo,
Lexie
Subscribe to:
Posts (Atom)