Sunday, June 23, 2013

MysteryGame@Area47: HOLIDAY IN HELL™, episode 2

Karena sudah capek banget, kamu pamit dengan Pak Kades dan si beruang untuk beristirahat di dalam kamar.

Kamar itu sangat sederhana. Dinding dan lantai dari kayu tanpa dicat, lemari dan laci-laci tanpa pintu, lampu minyak menebar cahaya berwarna kuning. Kasurnya pun hanya kasur busa, dengan sebuah bantal busa gepeng di atasnya. Akan tetapi, untuk kamu yang tenaganya sudah terkuras habis, begitu pun sudah bagus banget. Tidak terbayang kalau kamu harus tidur di bis seperti teman-temanmu yang lain.

Sial, karena memikirkan teman-teman yang harus tidur di bis, kamu jadi merasa bersalah. Jadilah kamu tidak bisa tidur. Kamu menatap langit-langit kayu yang bersemu cahaya kuning. Ada perasaan tidak enak, seolah-olah langit-langit itu begitu rapuh dan sewaktu-waktu bisa menimpamu. Di luar, dari kejauhan, terdengar suara si beruang. Ya ampun, suaranya keras banget. Sepertinya tidak ada suara lain yang terdengar selain suaranya deh. Kamu jadi semakin tidak bisa tidur. Akhirnya, dengan putus asa, kamu memutuskan untuk join dengan si beruang di luar saja.

Kamu bangkit dari tempat tidur dan merapikan rambutmu. Aneh, di kamar ini sama sekali tidak ada cermin. Tapi no problemo. Di tas ranselmu, kamu membawa cermin kecil kok. Kamu merogoh-rogoh ke dalam ranselmu yang penuh dan rada ajaib dan... voila! Akhirnya nemu juga cermin dan sisir. Buru-buru kamu dandan seadanya (baca: sisir sambil senyam-senyum) sambil duduk di tepi ranjang.

Jantungmu mendadak serasa berhenti berdetak. Dari cermin, kamu bisa melihat seseorang mendekat dari belakangmu. Hanya rambutnya saja yang terlihat dari balik pundakmu. Sepertinya sosok itu merangkak di atas ranjangmu, mendekatimu. Semakin dekat. Semakin dekat. Semakin dekat. 

Kamu menurunkan cermin dan menoleh cepat.

Tidak ada siapa-siapa.

Apa kamu hanya salah lihat? Mungkin seharusnya kamu melihat ke dalam kaca sekali lagi. Namun, tiba-tiba saja kamu dikuasai rasa takut yang amat sangat. Kamu yakin sekali, kalau sampai kamu mengangkat cermin itu, kamu akan melihat seraut wajah yang sangat mengerikan di atas bahumu. Jadi, alih-alih meneruskan menyisir, kamu meninggalkan cermin dan sisirmu dan lari pontang-panting keluar dari kamar itu, dari rumah Pak Kades. Dan di sepanjang jalan menuju ke pintu depan, matamu terus-terusan jelalatan ke sekeliling rumah dengan liar.

Kenapa di seluruh rumah ini tidak ada cermin sama sekali?

Tiba di luar rumah, kamu langsung terperangah. Tadinya kamu mengira akan mendapatkan suasana malam kampung yang damai dan tenteram. Kenyataannya, kampung itu mendadak berubah menjadi kampung kuliner. Setiap rumah memiliki warung kecil dan sederhana di depannya, berupa sebuah meja dengan kompor minyak, serta sebuah meja lagi yang berfungsi sebagai meja untuk pengunjung, berimpitan dengan meja untuk memasak. Di atas warung-warung itu dipasang terpal untuk berjaga-jaga dari hujan.

Dan yang lebih menarik lagi, setiap warung dipenuhi oleh pengunjung.

Meski sosok yang merangkak-rangkak di atas ranjang itu masih mengganggu di sudut pikiranmu, pemandangan menakjubkan itu berhasil membuatnya menyingkir sejenak. Sambil berjalan perlahan, kamu memandangi setiap warung dengan rada terpesona. Ada warung nasi goreng, warung soto, warung bubur, warung sate, gorengan--semuanya makanan khas lokal dengan wangi masakan yang menerbitkan air liurmu. Meski begitu, ada sesuatu yang sangat mengganggu pandanganmu. Yah, kamu tidak mengharapkan para penduduk kampung untuk tampil necis dengan jas dan gaun--tapi para penduduk di kampung ini dekil banget, jauh lebih dekil daripada orang-orang yang pernah kamu lihat, baik di kampung maupun di kota. Dipikir-pikir lagi, mungkin mereka memang tidak mengenal deterjen. Matamu terarah pada jemuran di samping rumah-rumah. Ya, pakaian-pakaian yang barusan dicuci itu juga tetap terlihat dekil.

Yah, semoga saja makanan yang mereka buat tidak jorok-jorok amat. Kan tidak lucu kalau kamu terserang diare di saat-saat seperti ini.

Suara si beruang membahana di antara keramaian itu, membuat kamu menyadari keanehan lain. Ya, minus bunyi kesibukan memasak, sepertinya tidak ada yang bicara sama sekali. Para pemilik warung memasak tanpa bicara, para pengunjung makan tanpa bicara, bahkan anak-anak yang bermain di tengah jalan bermain tanpa suara. Kamu ingat, pertama kali kamu ketemu anak-anak di desa itu, ada suara anak-anak yang sedang bermain--suara riang bercampur tawa. Akan tetapi, raut wajah anak-anak itu tidak tampak sedang ceria, apalagi tertawa.

Seolah-olah suara-suara itu muncul dari tempat lain.

Di sisi lain, mereka tampak seperti orang-orang kampung yang tidak berbahaya. Mereka hanyalah pemilik warung dan pengunjung warung. Memang, tebersit dalam hatimu, rasanya tak mungkin ada begitu banyak penduduk di kampung ini untuk memenuhi konter pemilik warung dan kursi-kursi pengunjung. Tapi apa pun yang terjadi, kamu tak punya pilihan lain. Kamu tidak sudi kembali ke kamarmu yang mengerikan. Satu-satunya pilihan hanyalah menghadapi orang-orang yang pendiam ini. Ya, mungkin itulah satu-satunya keanehan mereka--pendiam. Dan dekil. Dan agak terlalu banyak.

Kamu melihat si beruang duduk bersama Pak Kades, menikmati bubur porsi besar, sambil asyik berkoar-koar, menceritakan bis yang terendam banjir entah untuk keberapa juta kalinya. Kamu ingin duduk di sampingnya, karena bersama si beruang kamu merasa lebih aman. Toh dengan bodi sebesar itu, sepertinya dia sanggup bertahan andai diamuk seluruh kampung. Sayangnya, semua kursi penuh. Saat kamu sedang bingung, kamu menyadari bahwa ada yang sedang memperhatikanmu.

Kamu menoleh, dan untuk kedua kalinya malam ini, jantung kamu serasa berhenti berdetak.

Ada seorang anak perempuan sedang memandangimu dari dalam kegelapan.

Oke, dilihat-lihat lagi, anak perempuan itu sebenarnya cantik. Rambutnya panjang, matanya lebar, bibirnya tipis. Hanya saja, dia sama dekilnya dengan para penduduk kampung yang lain. Tambahan lagi, kulitnya bercemong debu dan tanah. Tangan kanannya meremas sebuah boneka kain yang sudah tidak jelas bentuknya saking kotornya.

"Hai," sapamu sambil melambai dan tersenyum. "Siapa namamu?"

Anak perempuan itu tidak menjawab, melainkan hanya menatapmu saja. Tatapan yang membuat perasaanmu tidak enak banget. Rasanya seolah-olah anak perempuan itu menganggapmu sebagai pengunjung yang tak diharapkan. Kamu sudah ingin beranjak pergi saat anak perempuan itu menggerakkan jarinya.

Ikuti aku.

Terheran-heran, kamu mengikuti anak perempuan itu ke lorong di antara dua rumah, menyelinap di antara jemuran-jemuran, dan tiba di pekarangan belakang. Mendadak saja, kamu mendapatkan dirimu hanya berduaan dengan anak perempuan itu. Sejenak kamu bertatapan dengannya, sementara rasa ngeri mulai merambah hatimu. Habis, anak perempuan ini aneh banget sih.

"Kamu mau apa?" tanyamu setengah tidak sabar, setengah ketakutan.

Anak perempuan itu menunjuk ke atas tanah.

Di atas tanah, ada empat buah benda: sekeping batu, sebuah dahan pohon, sehelai daun pisang, tali kecil yang terjalin dari gelang karet. Sejenak terlihat seperti mainan anak-anak yang berserakan, tapi lalu kamu menyadari sesuatu.

"Kamu mau memberiku salah satu dari empat benda ini?" tanyamu pada si anak kecil.

Anak itu mengangguk perlahan.

Ah, sepertinya anak itu menganggapmu teman. Mendadak saja ketakutanmu berubah menjadi rasa haru. "Terima kasih. Kamu baik sekali."

INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:

Hai para peserta MysteryGame@Area47 yang sudah mendaftarkan diri!

Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan "Episode 2" dan nama kalian diikuti dengan jawaban atas pertanyaan ini:

BENDA MANAKAH YANG KALIAN AMBIL? (Pilihan jawaban: batu, dahan, daun, tali.)

Lexie tunggu jawabannya sampai enam hari lagi. Jangan sampai telat ya mengirimkan jawabannya! ^^v

Good luck, everybody!

xoxo,
Lexie

2 comments:

Maryama Masofia said...

kak lex kira" email aku masuk gak ya?

benedikta wina said...

belum ada lanjutan nya ya?