Saturday, June 24, 2017

MysteryGame@Area47 4: The Murderer's House™ Episode 3

Saat tiba di ruang bawah tanah itu, kamu hanya bisa melihat kegelapan saja.

Setelah beberapa saat, matamu mulai menyesuaikan diri dengan kegelapan, dan perlahan-lahan kamu bisa melihat sedikit-sedikit. Ruangan itu bukan semacam gua yang digali ala kadarnya, melainkan sebuah ruangan yang dibuat dengan sangat baik. Kamu merogoh sakumu dan mengeluarkan ponselmu, lalu menyorotkan sinarnya ke sekeliling ruangan itu.

Benar dugaanmu, di salah satu bagian ruangan, terdapat tangga menuju ke atas (kemungkinan besar mengarah ke dapur). Hanya saja, pintunya kini sudah ditutup dengan semen. Pantas saja tidak ada yang tahu ada ruang bawah tanah. Kamu memandangi sekelilingmu. Apakah di sini tempatnya Bebet menyimpan semua jejak kejahatannya?

Lantai ruangan itu tidak dilapisi apa-apa, hanya tanah saja. Jika kamu menggalinya, kamu mungkin akan mendapatkan sesuatu. Di sisi lain, kamu rasa penemuan ini saja sudah lebih dari cukup. Jika kamu minta polisi yang mengurusnya, kemungkinan mereka akan berhasil menemukan bukti-bukti kejahatan Bebet.

Akan tetapi, tujuanmu pada malam ini bukan hanya ini kan? Yang ingin kamu dapatkan adalah pengakuan dari ibumu, bahwa kamu lebih hebat dari si anak tetangga sialan. Yang kamu inginkan adalah supaya ibumu berhenti memuja-muja si anak tetangga dan lebih fokus pada anaknya sendiri. Padahal si anak tetangga adalah anak yang berhasil mengalahkan monster, lolos dari rumah sakit jiwa, dan berhasil kembali selamat dari kecelakaan mengerikan.

Kamu tidak bisa berhenti begitu saja. Kamu harus melakukan sesuatu, lebih dari ini, untuk membuktikan kehebatanmu.

Kamu melangkah ke tengah-tengah ruangan dan mulai memeriksa ruangan itu. Bagian tengahnya kosong, sementara di daerah di dekat dinding terdapat berbagai rak, kardus, dan karung. Sebuah ranjang kecil terdapat di ujung ruangan, ranjang yang tampak jelek dengan kasur yang jahitannya terkelupas, menampakkan busa di bagian dalamnya.

Lalu kamu mengerti apa sebenarnya ruangan itu.

Ruangan itu adalah kamar tidur seorang anak perempuan. Ranjang itu sudah tampak dekil, tapi tadinya adalah ranjang mungil berwarna pink. Rak di dekatnya juga memiliki banyak mainan anak-anak perempuan—boneka Barbie, boneka beruang, kotak perhiasan, dan mainan masak-masakan. Di bawah ranjang, terdapat piring dan gelas kosong yang saat ini menjadi sarang kecoak.

Bebet pasti sempat mengurung adiknya di kamar ini.

Gila. Ini benar-benar gila. Setiap detail yang kamu temukan membawamu pada kenyataan yang semakin mengerikan saja.

Mendadak ada angin membelai punggungmu lagi, dan tubuhmu langsung merinding. Kamu segera membalikkan badan, akan tetapi tidak ada siapa pun juga di belakangmu. Tidak ada jendela atau apa pun yang mungkin menyebabkan bertiupnya angin dingin tersebut. Apakah itu hanyalah angin yang berhasil memasuki ruang bawah tanah ini tanpa sengaja, ataukah memang ada sesuatu yang supranatural di bawah sini? Teringat anak perempuan yang harus menghabiskan sisa hidupnya hingga kematian menjemputnya di tempat ini…

Kamu bergidik lagi. Sebenarnya kamu sudah kepingin cepat-cepat keluar. Suasana di bawah sini benar-benar bikin gelisah saja. Tapi kamu belum bisa pergi. Penyelidikanmu belum tuntas.

Perhatianmu tertumpu pada piring dan gelas yang tergeletak di lantai. Peralatan makan itu memang tidak terlihat baru, akan tetapi juga tidak tampak seperti sesuatu yang sudah lama sekali. Sepertinya baru saja ada di situ—mungkin beberapa bulan lalu.

Berarti selain anak perempuan itu, ada orang lain yang pernah tinggal di sini juga?

Turis-turis yang lenyap?

Kamu ingin memeriksa karung-karung yang tergeletak, tapi semuanya sudah dijahit meski dengan cara serampangan. Jika kamu membukanya, nanti kamu tidak bisa menutupnya lagi, belum lagi bisa jadi tindakanmu dianggap sebagai merusak barang bukti. Kardus-kardus juga sama—semuanya sudah dilakban, meski tidak rapi-rapi amat, tapi tidak mungkin kamu buka begitu saja. Kamu mencoba meraba-raba karung-karung itu, dan kamu menduga di dalam karung-karung itu terdapat pakaian—atau sesuatu yang pokoknya tidak terlalu keras.

Bunyi deringan mengagetkanmu, dan kamu menyadari bahwa kamu lupa mengeset ponselmu pada silent mode. Kamu memandangi layar ponsel dan melihat telepon dari nyokapmu.

“Lo ada di mana?” jerit nyokapmu histeris.

“Gue lagi maen di rumah temen, Mak. Kenapa?”

“Cepetan pulang! Si Bebet…”

Mendadak tubuhmu terasa kaku. Rasanya kamu bisa menduga apa yang akan dikatakan nyokapmu. “Si Bebet kenapa, Mak?”

“Si Bebet kabur dari penjara! Dan sekarang nggak ada yang tau dia ada di mana! Tetangga-tetangga di sini ketakutan Bebet bakalan mulai bacok-bacokin orang, jadi semuanya ngumpet di rumah! Lo juga buruan balik dong!”

“Mak,” katamu berusaha mengulur waktu. “Kalo Bebet lagi kelayapan di jalan, mendingan gue nginep aja di rumah temen. Besok pagi pas udah terang, baru gue pulang. Gimana?”

“Nggak bisa!” Nyokapmu tidak mau dibantah. “Apa-apaan lo pake nginep-nginepan di rumah temen? Pokoknya lo harus pulang sekarang juga, ngerti?! Kalo ketemu Bebet, lo teriak aja yang kenceng! Emak pasti bisa denger!”

Seandainya saja urusannya begitu gampang. Kenyataannya, rumah Bebet terlalu jauh dari rumahmu. Kalau sampai Bebet muncul di sini, teriak sampai lehermu lepas juga nyokapmu tidak bakalan dengar! Tapi kamu tidak mau membuat nyokapmu khawatir, jadi kamu berkata, “Okelah, Mak. Gue akan buruan pulang. Bentar gue selesaikan dulu urusan gue di sini. Gue cuma itung-itungan utang aja sebelum gue pergi nginep di mess. Bentar ya, Mak!”

“Ya udah. Pokoknya cepet pulang!”

Kamu buru-buru menyudahi pembicaraan di telepon. Namun begitu kamu menutup telepon, kamu menyadari ada bunyi lain dalam keheningan yang sedari tadi melingkupi rumah ini.

Bunyi pintu berderit.

Omaygattt!!!

Kamu mulai mencari-cari senjata yang bisa kamu gunakan dari dalam tasmu. Tidak diduga, pada saat-saat seperti ini, sepertinya kamu tidak membawa banyak barang yang berguna. Kalau sampai tahu ada kejadian begini, seharusnya kamu membawa pistol, samurai, atau parang kesayangan si Emak. Sayangnya kamu tidak menduga Bebet bakalan berhasil kabur dari penjara. Jadilah yang ada di dalam tasmu cuma barang-barang konyol yang tidak berguna untuk mempertahankan hidupmu.

Kamu mendengarkan bunyi langkah di atas, lalu bunyi itu terhenti. Tidak pelak lagi, siapa pun juga yang berada di atas, sudah mengetahui bahwa ruang bawah tanah rahasianya sudah diketahui. Kamu berdiri dengan tegang, menunggu-nunggu apa yang akan terjadi.

Kamu nyaris menjerit histeris dan lari tunggang-langgang saat seseorang meloncat dari atas dan mendarat di depanmu. Sayangnya, kamu terlalu takut untuk menjerit dan kamu tidak punya tempat untuk melarikan diri, jadi kamu hanya bisa terbelalak menatap orang yang baru muncul tersebut. Bisa diduga, itulah Bebet yang menjadi trending topic hari ini.

Sejujurnya saja, hingga saat ini kamu belum pernah benar-benar memperhatikan Bebet. Maklumlah, Bebet kerjanya di laundry, sementara biasanya yang bertugas pergi ke laundry adalah nyokapmu. Kadang kamu menemani nyokap, tapi biasanya kamu hanya menunggu di depan laundry sambil bermain ponsel. Kini kamu punya kesempatan untuk mengamati Bebet.

Bebet ternyata sangat tinggi, mungkin sekitar seratus delapan puluh sentimeter atau lebih—kira-kira kayak Lee Min Ho, hanya saja sama sekali tidak cakep—dan rada kekar. Bisa dibayangkan waktu kecil pun tubuhnya sudah besar dan kuat sampai-sampai bisa melukai orangtuanya. Kepalanya plontos, dengan muka yang licin bak Voldemort (setidaknya hidung Bebet sedikit lebih mancung, sedikiiit saja) sementara pakaiannya sederhana ala kaus berukuran pas-pasan dan celana jins. Penampilannya mungkin bisa dibilang biasa-biasa saja kalau kita tidak memperhatikan wajahnya yang tidak wajar. Matanya bergerak-gerak liar seolah-olah hatinya tidak pernah tenang, sementara senyumnya tidak bisa dikatakan senyum, melainkan lebih mirip ringisan kesakitan atau apalah, seakan-akan memberitahu kita bahwa Bebet tidak tahu caranya tersenyum.

“Kamu… anak sekretaris RT,” katanya menebak dengan tepat profesi sampingan ayahmu—dan hal itu bikin kamu tambah takut, karena itu berarti Bebet tahu di mana rumahmu. “Kenapa kamu ada di sini?”

Otakmu berputar cepat. Oke, Bebet kenal ayahmu, tapi kamu bisa berpura-pura tidak kenal dia dan tidak tahu bahwa dia adalah napi yang sedang buron. “Oh, Om kenal bokap saya? Maaf, Om, saya nggak tau ini rumah temen bokap. Saya, ehm, tadi ngejer kucing dan kucingnya masuk ke dalam sini…”

“Ke bawah sini?” tanya Bebet dengan suara sinis.

“Dia menggaruk-garuk dinding ini.” Dalam sikon seperti ini, kamu tidak malu-malu lagi dan berusaha keras untuk menimpakan semua kesalahan pada Jarvis. “Saya pikir anaknya jatuh ke bawah sini atau apa, jadi saya berusaha bantuin…”

Tentu saja ucapanmu tidak masuk akal. Mana mungkin ada yang bisa jatuh ke bawah sini, tidak peduli yang dimaksud adalah anak kucing yang seimut-imutnya? Tapi untunglah Bebet tampak percaya. Mungkin juga dia mengira kamu tidak mengenalnya, jadi saat ini dia merasa aman. Mana kata-katamu sopan pula. Bisa jadi dia menganggapmu anak baik.

“Nggak usah dibantu. Itu kucing saya, dan dia nggak punya anak. Paling-paling dia hanya jail saja. Kamu pulang sana!”

“Baik!” Meski sikap si Bebet rada ketus, kamu girang karena dia melepaskanmu. “Maaf ya, Om. Nanti saya bilang sama bokap supaya dikasih duit buat ganti rugi dinding yang saya ancurin…”

“Nggak usah! Nggak seberapa itu!”

“Baik, Om. Terima kasih, Om.”

Kamu sudah siap untuk mendekati tambang dan memanjat naik ketika Bebet tiba-tiba bertanya, “Tunggu dulu. Bunyi apa itu?”

Kamu memaki-maki di dalam hati. “Bunyi hape saya, Om.”

“Bunyi-bunyi terus. Mengganggu banget. Coba diangkat.”

Kamu melihat layar ponsel. Nooo! Itu si Emak lagi! “Nggak deh. Biarin aja. Saya matiin aja.”

“Jangan begitu! Tidak sopan!”

Dengan hati sangat terpaksa kamu mengangkat telepon, dan sialnya suara Emak terdengar begitu keras bahkan tanpa perlu pakai speakerphone. “Lo kok lama belum pulang?! Lo mau digorok si Bebet ya?!”

Omaygattt! Mak, lo mau bunuh anak lo?!

“Jadi kamu sebenarnya tau siapa aku?”

Holy crap! Nyawamu akan berakhir di ruang bawah tanah ini, dan semuanya gara-gara si Emak! Bukan juga sih, sebenarnya salahmu yang berlama-lama di sini, tapi si Emak juga punya peranan penting. Tapi enak saja. Kamu tidak akan sudi menyerah begitu saja. Si anak tetangga bisa lolos dari kejaran monster, kamu pasti juga bisa lolos dari kejaran Bebet. Sekaranglah waktunya kamu beraksi!

INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:

Hai, para peserta MysteryGame@Area47 yang sudah mendaftarkan diri!

Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan nama FB/username Twitter/username Instagram dan nama panggilan + Episode 3 lalu isi email kalian dengan jawaban atas pertanyaan ini:

BENDA APA YANG AKAN KAMU AMBIL DARI DALAM RANSEL SEBAGAI SENJATA? (Pilih antara: pisau saku, minyak sayur, paku payung, air botol mineral, pisang.)

Kalex tunggu jawabannya sampai dua minggu lagi ya, tepatnya tanggal 8 Juli 2017. Maklum, Kalex juga mau mudik. Hahahaha. Untuk yang merayakan, selamat hari raya Idul Fitri, minal aidin wal faidzin, mohon maaf jika selama ini Kalex ada salah kata atau perbuatan. m(_ _)m

xoxo,
Lexie

2 comments:

Anonymous said...

Kampret lu mak pake telpon lagi segala

Anonymous said...

Btw Paku payung