Saturday, August 11, 2012

Tiga Aturan Menulis ala Lexie

Dear Lexsychopaths,

Banyak banget pertanyaan yang ditanyakan sehubungan topik ini. Karena itu, meski masih belum cukup jago menulis dan mungkin belum qualified untuk mengajari, Lexie akan berusaha sebaik-baiknya untuk membantu para pembaca yang juga bercita-cita untuk menjadi penulis. Jika ajaran di bawah ini ternyata sesat, Lexie mohon maaf sedalam-dalamnya. m(_ _)m

Bagi Lexie, aturan terpenting sebagai seorang penulis adalah:
menguasai EYD dan pemakaian kata yang benar. Soalnya, tulisan yang ditulis dengan benar dan rapi akan membuat para pembaca lebih mudah mengerti apa yang akan kalian sampaikan. Dan ingat, para pembaca pertama kalian adalah editor. Kalau kita tidak menulis dengan benar, para editor yang sehari harus menyeleksi begitu banyak naskah tak bakalan tertarik dengan naskah kalian.

Ini berarti, kalian harus mengerahkan ilmu-ilmu yang kalian dapatkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia sebanyak-banyaknya. Tempat yang tepat untuk menggunakan titik dan koma, bagaimana susunan kata yang baik, juga yang mana penulisan kata yang benar. Gampang sekali bagi editor untuk menilai kemampuan seseorang dalam pelajaran Bahasa Indonesia dari kata-kata yang mereka gunakan. Silahkan atau silakan, napas atau nafas, di mana atau dimana. Apakah kalian tahu mana penggunaan kata yang benar? ^_~

Penulis yang senang belajar akan berusaha menggunakan kata-kata yang baik dan benar setiap waktu, tidak peduli mereka sedang menulis cerita, mengetik SMS, menulis status di FB atau nge-
tweet. Jadi buat kalian yang bercita-cita menjadi penulis tapi masih sering menulis gaya alay, ubahlah secepatnya sebelum kebiasaan itu merusak gaya penulisan kalian. ^_~

Sebagian besar penulis menggunakan kerangka karangan, tetapi Lexie tidak menggunakannya. Mungkin ini karena Lexie bukan penulis terlatih, tapi Lexie lebih suka tidak membuat kerangka karangan karena cerita yang Lexie tulis terkadang tidak terduga, bahkan oleh penulisnya sendiri. Biasanya yang Lexie butuhkan hanyalah sinopsis cerita, sehingga kita tahu inti cerita dan pokok permasalahan. Pada akhirnya, cerita akan digerakkan oleh para tokoh yang terlibat.

Ini membawa kepada aturan kedua dalam penulisan cerita: penokohan. Sebelum menulis cerita, Lexie senang membuat daftar tokoh-tokoh utama, sifat-sifat mereka, latar belakang, anggota keluarga, bahkan tanggal lahir. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana hubungan awal satu tokoh dengan tokoh lain. Hubungan ini mungkin akan berubah seiring dengan perubahan cerita--atau barangkali juga tidak berubah sama sekali. Semua keputusan dalam cerita akan diserahkan pada tokoh-tokoh itu. Ini berarti, akhir cerita mungkin tidak sesuai dengan harapan penulis--dan ini adalah sebuah kejutan yang sangat ditunggu-tunggu oleh penulis kisah itu sendiri. Menakjubkan, bukan? ^o^

Aturan terakhir dalam menulis cerita adalah habit alias kebiasaan. Biasakan diri menulis setiap hari, tidak peduli apa pun halangannya. Penulis (dalam hal ini penulis fiksi) adalah profesi yang bebas. Kita tidak punya bos atau deadline. Akibatnya, kalau kita tidak membiasakan diri untuk menulis setiap hari, kita akan terbiasa untuk membuat alasan kenapa kita tidak sempat menulis. Padahal, setiap orang punya kesibukan setiap hari, capek menghadapi rutinitas dan masalah, serta punya waktu luang yang sempit. Tapi, kalau kita memang benar-benar ingin menjadi penulis, kita pasti sanggup menyisihkan waktu barang satu atau dua jam untuk menulis. Toh kalian tidak perlu menulis banyak-banyak. Ingat, batas minimal untuk pengiriman naskah hanyalah 100 halaman. Ini berarti, kalau kalian menulis satu halaman saja setiap hari, kalian akan sanggup menyelesaikan sebuah naskah dalam waktu 3,5 bulan. Gampang sekali, kan? ^^v

Menulis adalah profesi panggilan hidup. Banyak orang senang menulis, tapi bisa hidup tanpa menulis berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Tapi orang yang benar-benar terpanggil untuk menjadi penulis tidak bisa melewatkan satu hari pun tanpa menulis. Bagi orang-orang yang tak terpanggil untuk menulis, menulis setiap hari adalah ritual yang menyiksa dan membosankan, tapi bagi para penulis sejati, menulis adalah bagaikan air bagi tumbuhan. Tanpa menulis, mereka akan layu dan mati. Dalam hari-hari supersibuk, bisa jadi mereka melewatkan satu hari tanpa menulis. Tapi begitu mereka menemukan waktu untuk menulis, mereka akan langsung mengetik dengan rakus.

Jadi, apakah kalian sudah siap untuk menjadi seorang penulis? ^^

xoxo,
Lexie

2 comments:

kutukamus said...

Menarik sekali, cerita digerakkan oleh tokohnya. Menulis tiap hari? Wah berat, bukan soal sibuk, tapi lebih karena masih jago bikin alasan mangkir. :D Jadi tertarik yang 7 Desember nanti.

Triani Retno said...

Pemakaian kata yang benar. Hahahaha..... Supaya nggak ada kejadian "celanaku suka melorot" ya, Mbak :D :D