Sunday, April 15, 2012

MysteryGame@Area47: THE ASYLUM™, episode 1

SELAMAT!! Kamu adalah penulis muda, beken, dan sukses yang berhasil selamat dalam keadaan hidup-hidup dari kejaran monster gila saat mengasingkan diri untuk menulis. Kamu dianggap sebagai figur hebat, tangguh, berani, bahkan sakti oleh media massa. Banyak yang mengelu-elukanmu, menyamakanmu dengan Harry Potter (dari dunia Muggle, tentu saja, karena kamu sama sekali tak punya kekuatan sihir, sudah terbukti dari tampang kacaumu saat melawan monster) dan menjulukimu "Bayi Penulis Keren Manusia Super Manusia Biasa yang Bertahan Hidup". Dalam beberapa foto, luka di keningmu memang terlihat mirip-mirip tanda tanya, terutama karena ada bisul yang mendadak nongol di situ. Yah, tanda tanya memang tak seberapa keren jika dibandingkan dengan gambar petir, tapi setidaknya kini semua orang selalu memperhatikan keningmu setiap kali kamu lewat.

Puncak dari semua ini adalah undangan ke Istora Senayan untuk menceritakan pengalamanmu di depan umum. Yang keren adalah, MC-nya ternyata Cherrybelle. Karena ngefans banget dengan Cherrybelle, kamu pun pergi ke Istora Senayan dengan penuh semangat. Kamu mengenakan pakaian terbaik, pakaian dalam terbaik, bahkan mampir ke salon untuk potong rambut shaggy ala Korea sejenak. Saat akhirnya nongol di atas panggung, penampilanmu tampak prima, penuh gaya dan sensasi. Pokoknya, kamu tak pernah terlihat lebih keren dari saat ini.

Sayangnya, Cherrybelle sedang berhalangan hadir karena ada acara lain yang lebih penting. Jadi terpaksa kamu dipandu oleh seseorang yang tampak mencurigakan.

"Halo, perkenalkan," kata orang yang mengenakan topeng itu. Topeng itu tidak terlalu menakutkan sebetulnya. Hanya saja, ketidaktahuanmu tentang jati diri orang tersebut membuatmu merasa tak nyaman. Suaranya terendam sehingga kamu bahkan tidak bisa menduga apakah dia pria atau wanita. Lebih misterius lagi, dia mengenakan tuksedo yang berlapis-lapis sehingga menyembunyikan bentuk badan yang sebenarnya. Sungguh orang yang misterius. "Saya adalah Oknum X, pembawa acara istimewa ini."

Kamu sama sekali belum pernah mendengar tentang orang ini. Tapi kamu tidak merasa curiga atau khawatir. Yang ada malah sedikit rasa terhina karena orang yang disamakan dengan Harry Potter seperti kamu malah harus dipandu oleh pembawa acara gaje tak beken. Tapi sudahlah, yang penting kan eksis!

"Jadi, bisa Anda ceritakan bagaimana pengalaman Anda di rumah kosong tersebut?"

Kamu pun mulai bercerita dengan lancar, dengan kepiawaian seorang penulis cerita berkualitas. Dimulai dengan bagaimana kamu mengawali malam itu dalam kegelapan, bagaimana kamu diserang si monster dan dikejar-kejar ke atap. Seluruh Istora hening mendengar ceritamu, jadi kamu pun semakin bersemangat menyerocos bagaimana kamu menyelinap ke lorong bawah tanah. Saat kamu menceritakan bagaimana kamu bertemu kakek-kakek yang rupanya adalah kakak si monster yang kemudian dicabik-cabik, kamu menyadari bahwa keheningan yang melingkupi seluruh Istora terasa aneh.

Mendadak, dari bangku penonton, terdengar celetukan keras, "Ceritanya lebay banget sih!"

"Iya, gak masuk akal!" timpal seseorang dari seberang ruangan.

Tuduhan berikutnya makin membuatmu stres. "Orangnya delusional tuh!"

"Bukan, dia pasti sudah gila!"

Kamu menatap khalayak ramai dengan ngeri. Sepertinya, sebentar lagi mereka semua akan melemparimu dengan tomat dan telur busuk (tadinya kamu mengharapkan hujan bunga dan duit seratusribuan). Kamu merunduk, siap untuk menyambut kemungkinan itu, tapi lalu dua orang menarik tanganmu dan membawamu keluar. Kamu baru saja merasa lega karena diselamatkan saat menyadari bahwa kamu digiring ke sebuah mobil bertuliskan: RUMAH SAKIT JIWA.

Apa-apaan ini?

Kamu tidak sempat memprotes lantaran sudah keburu didorong ke bagian belakang mobil van itu. Saat kamu mengecek, rupanya pintu mobil diatur supaya tidak bisa dibuka dari dalam. Bagian depan dan belakang mobil dipisahkan dengan kaca plastik yang kedap suara. Kamu mengetuk, menggedor-gedor, dan menjeduk-jedukkan kepala, tapi dua petugas di depan sama sekali tidak memedulikanmu. Mungkin ulahmu malah membuatmu kelihatan benar-benar seperti orang gila, jadi kamu memutuskan untuk duduk dengan tenang dan menunggu sampai kamu dipertemukan dengan pihak yang berwenang--atau siapa pun juga yang bertanggung jawab atas lelucon yang sama sekali tidak lucu ini.

Kamu menatap ke luar jendela. Langit sudah gelap, sementara jalan tol yang kalian lalui diterangi lampu-lampu di pinggir jalan. Mobil-mobil di sekitar awalnya padat, tetapi setelah melewati gardu tol luar kota, jalanan semakin sepi. Perasaanmu makin tak enak saja saat mobil keluar dari jalan tol dan memasuki jalan pedesaan yang tak pernah kamu lalui sebelumnya.

Oke, sepertinya ini bukan lelucon lagi. Sebenarnya, apa yang terjadi sih?

Akhirnya mobil yang kamu tumpangi tiba juga di tempat tujuan. Kamu menempelkan mukamu ke kaca jendela, dan tercengang melihat bangunan di depanmu. Bangunan itu sudah tua, lebih mirip gudang raksasa daripada rumah sakit, dan sama sekali tidak mirip dengan rumah sakit jiwa yang ada dalam bayanganmu. Bangunan itu dikelilingi pagar kawat yang tinggi, dan seorang petugas sekuriti membuka pagar supaya mobil yang kamu tumpangi bisa lewat. Dikelilingi langit malam dan kosongnya lapangan di sekitar, bangunan itu memancarkan kesepian, kesedihan, dan keputusasaan, merasuk ke dalam lubuk hatimu, membuatmu merasakan hal yang sama...

Tidak, kamu tidak berminat tinggal di sini! Kamu kan tidak gila. Ada kesalahpahaman, dan kamu akan meluruskannya secepat mungkin.

Pekarangan itu sempit dan kosong. Mobil van berhenti tepat di depan pintu masuk, lalu dua petugas di depanmu keluar. Dalam waktu sekejap, pintu di sebelahmu terbuka dan kamu diseret ke luar. Kamu merasa tersinggung, tapi tak ingin digebuki para petugas karena bersikap kurang ajar. Maka kamu pun berkata dengan sehalus mungkin, "Bapak petugas yang baiki, maafkan saya, tapi bisa berhati-hati sedikit dengan saya?"

Tidak tahunya si petugas malah menggerutu. "Dasar orang gila, ngomongnya kelewat sopan banget!" Setelah bicara begitu, dia mendorongmu pada petugas yang lain. "Nih, sekarang dia jadi urusan lo!"

Petugas kedua ini menyeretmu ke dalam gedung. Tenaganya kuat banget, kamu sama sekali tak sanggup melawannya. Kamu lebih takut padanya dibanding petugas pertama, tapi setidaknya kamu sudah belajar sesuatu. Kali ini, dengan sikap kasar kamu berkata, "Eh, geblek! Jangan kasar-kasar dong! Gue ini orang penting, tahu?"

Tidak tahunya si petugas kedua menjitak kepalamu. "Diam kamu! Dasar orang gila, udah ditangkap begini masih aja berani bersikap kasar!"

Lha, kamu jadi bingung, bagaimana harus bersikap di tempat ini? Sopan salah, kasar juga salah. Parah!

Kamu tiba di sebuah loket dengan jendela kecil, di mana seorang kakek tua menunggu di dalamnya. Kamu perhatikan, di dalam loket itu ada banyak sekali loker-loker bernomor. Barang-barang pribadimu dilucuti: dompet, Blackberry, iPhone, jam tangan, tisu, dan permen penyegar napas. Benda-benda itu dimasukkan si kakek ke dalam loker nomor 47.

"Kenapa barang-barang saya diambil semua?" tanyamu bingung.

"Karena mulai saat ini kamu akan tinggal di sini," sahut si petugas dengan nada sok sabar.

"Tapi saya nggak gila!" protesmu. "Saya mau bicara dengan pimpinan di sini!"

"Maaf, semua surat sudah diurus." Eh? "Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Mulai saat ini, kamu resmi jadi penghuni Asylum 47."

Sambil berkata begitu, si petugas menunjuk sebuah papan di pintu kawat yang menghubungkan daerah pintu masuk dan bagian dalam gedung. Papan itu bertuliskan:
"ASYLUM 47. Tempat pembuangan orang-orang gila yang tak bisa disembuhkan lagi. Penghuni tidak boleh keluar sama sekali, dengan alasan apa pun juga."

"Apa maksudnya kata-kata terakhir ini?" tanyamu pada si petugas.

Si petugas menyeringai. "Maksudnya adalah, seumur hidup kamu akan tinggal di sini."

APA???

Pikiranmu mulai bekerja. Kamu tidak bisa tinggal di sini seumur hidup. Kamu tidak gila. Masa depanmu seharusnya cerah, dengan karir bagus menunggu di luar sana. Apa pun yang terjadi, kamu harus keluar dari sini.

Kamu putuskan, kamu akan kabur. Secepatnya. Malam ini juga, kalau perlu.

Pandanganmu beralih ke meja loker yang sempit. Ada beberapa barang yang kelihatan rapi, tapi ada juga yang disisihkan ke samping seolah-olah tak terlalu penting: sebuah bolpen, sebuah stapler, sebuah penggaris besi, dan sebuah mug keramik yang masih ada ampas kopinya. Kamu cukup yakin, kalau kamu mengambil salah satu benda itu, si kakek tak bakalan sadar. Jadi, saat si petugas sedang sibuk mengirim pesan dengan ponselnya, kamu pun mencopet salah satu benda itu.

Si petugas membuka pintu kawat, lalu mendorongmu masuk. Sebelum kamu sempat mengatakan sesuatu, pintu itu sudah tertutup lagi. Kamu menghela napas, lalu memandang ke dalam ruangan yang baru kamu masuki itu.

Dan melihat empat orang gila merangsek ke arahmu seperti segerombolan zombie buas.

Kamu berteriak ketakutan sambil menutupi mukamu dengan kedua lengan. Tapi setelah menunggu-nunggu beberapa saat, kamu tidak diserang-serang juga. Saat kamu mengintip dari sela-sela lenganmu, kamu baru menyadari bahwa sasaran empat orang gila itu bukanlah kamu, melainkan pintu yang terbuka. Kini mereka menggedor-gedor pintu kawat dengan liar, mengeluarkan gerungan mirip zombie. Kamu mencium bau tak enak, dan menyadari bahwa bau tak enak itu berasal dari orang-orang itu. Bau orang yang sudah lama tak membersihkan diri.

Ugh.

Kamu memandangi ruangan itu. Ruangan yang luas, dengan dinding yang catnya sudah terkelupas, langit-langit tinggi, dan penerangan remang-remang. Bau tak enak yang tadi kamu cium memenuhi udara, samar-samar, tapi semakin kuat saat seseorang mendekatimu. Ada sebuah panggung di depan, mengingatkanmu pada kenyataan pedih bahwa beberapa jam lalu kamu masih berkoar-koar di atas panggung Istora Senayan dan kini kamu malah jadi penghuni rumah sakit jiwa. Berbeda dengan Istora, di bawah panggung terdapat banyak sekali meja, ada yang besar dan ada yang kecil. Beberapa ditempati orang, sisanya kosong. Ada banyak sekali orang yang berkeliaran di ruangan itu, mungkin jumlahnya sekitar seratus orang, dan hampir semuanya bergerak seperti robot atau zombie. Kamu melihat beberapa tampak normal, tapi mereka berusaha untuk menyesuaikan diri dan tidak membuat masalah.

Yang paling kental terasa dari ruangan itu adalah rasa kesedihan, kesepian, dan keputusasaan.

"Orang baru?"

Kamu mendongak dan melihat seseorang duduk di sebuah meja besar sendirian. Cowok itu masih muda--masih remaja, sebenarnya. Rambutnya acak-acakan, dengan kacamata bergagang miring yang rupanya pernah patah dan senyum sinis yang tak mencapai matanya. Ada sebuah papan catur terletak di tengah-tengah, dan sebuah kursi kosong di seberang meja.

"Kamu akan senang tinggal di sini," kata cowok itu sambil mengamatimu. "Omong-omong, namaku Johan."

Baca episode berikutnya.

INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:

Hai para peserta MysteryGame@Area47 yang sudah mendaftarkan diri!

Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan nama panggilan diikuti dengan jawaban atas pertanyaan ini:

BENDA APAKAH YANG KAMU AMBIL DARI LOKET SI KAKEK TUA? (Pilih antara: bolpen, stapler, penggaris besi, mug.)

Lexie tunggu jawabannya sampai enam hari lagi. Jangan sampai telat ya mengirimkan jawabannya! ^^v

Good luck, everybody!

xoxo,
Lexie

3 comments:

Tachijima Makoto said...

saya kira udah selesai, taunya masih lanjut. yang ini malah bikin tambah penasaran. kayaknya kakak ngefans banget yah sama nama Johan. sampe hampir diseluruh ceritanya ada nama Johan. :)

Lexie Xu said...

@Tachijima: Hahaha, benernya ini cerita untuk menyambut terbitnya Teror. Semacam cerita spin-off gitu. ^^

Erica Cornelia said...

jadiin novel aja kaakkk :3