Saturday, April 14, 2012

Kumcer Supertragis™: Peserta MOS Harus Mati

Masa-masa MOS adalah masa-masa yang paling menderita selama kita menjadi murid SMA. Sebagai murid baru yang masih cupu banget, kita disiksa, dihina, disuruh-suruh, dibikin jorok. Hanya demi memasuki masa SMA yang tidak jelas seru atau tidaknya! Kalau saja orangtuaku tidak mengancam untuk menjadikanku gelandangan kalau aku tidak sekolah, pasti aku sudah membuat rusuh saat disuruh menyikat toilet lama yang, katanya, tidak dipakai lagi karena dari lubang toilet bisa keluar tangan. Benar-benar pekerjaan yang bikin sport jantung.

Belum lagi tampang-tampang kakak kelas yang jadi pengurus MOS. Benar-benar bikin emosi! Pengurus MOS yang berasal dari kelas tiga sih okelah, mereka memang galak tapi masih punya belas kasihan. Tapi para pengurus MOS dari kelas dua benar-benar bikin ilfil. Yang bertubuh pendek itu, misalnya. Namanya Benji atau Bejo, aku lupa. Dari sekian banyak pengurus MOS, dia paling sadis. Dialah yang memaksaku menyikat toilet berhantu itu. Lalu ada lagi ketua tim atletik yang kerjanya menyuruh kami lari-lari. Mungkin dia berniat mencari tahu bakat atletik kami, tapi masalahnya, bakat atletikku nol besar. Saat disuruh lari-lari, aku malah terguling-guling.

Satu-satunya senior yang paling kami sukai dari kelas dua adalah Kak Lexie. Dia bukan pengurus MOS. Menurut gosip, hanya anak-anak paling populer yang boleh menjadi pengurus MOS, dan rupanya Kak Lexie sama sekali tidak populer di kelas dua. Kata anak-anak, Kak Lexie terlalu jail, dan kejailannya sering menelan korban jiwa. Akibatnya, semua orang ogah dekat-dekat dengannya.

Mungkin karena itulah, para pengurus MOS tidak berani mencari masalah dengan Kak Lexie. Berkali-kali Kak Lexie menyelamatkan kami dari cengkeraman Bejo (atau Benji, tak tahulah), si ketua atletik maut, sosok berkepala duren, dan masih banyak lagi pengurus MOS yang seram-seram. Bagi kami, Kak Lexie sudah jadi semacam
superhero. Mungkin mirip jagoan di X-Men, itu lhooo... Magneto. Yah, Kak Lexie memang tidak terlalu pantas disamakan dengan jagoan baik, soalnya tampangnya rada-rada ngenges.

Pada hari terakhir MOS, kami disuruh meminta tanda tangan dari kakak-kakak kelas. Setelah minta tanda tangan tiga kakak kelas terdekat, beramai-ramai kami pun mencari kakak kelas favorit kami itu. Setelah muter-muter, rupanya Kak Lexie sedang makan di restoran depan sekolah. Biasanya restoran itu menjadi tempat mangkal ibu-ibu yang menunggui anak karena tempatnya nyaman dan sejuk, namun hari ini udara di dalam restoran tercium aroma yang sama sekali tidak enak. Kami langsung tahu alasannya saat melihat Kak Lexie sedang mengangin-anginkan ketiaknya di depan AC. Pantas saja, selain Kak Lexie, tidak ada tamu lain yang nangkring di restoran saat ini.

"Kakak!"

"Haii!" Wajahnya berubah ceria saat melihat kami, tapi dia tetap tidak memindahkan ketiaknya dari depan AC. Terpaksa kami semua menahan napas. "Ada apa? Kok nyariin ke sini?"

"Begidi, Kak," ucapku dengan suara mirip orang pilek gara-gara menahan napas. "Kabi kebigin binda dandadanan."

Aku tahu kata-kataku nyaris tak bisa dimengerti, tapi anehnya Kak Lexie langsung mengangguk-angguk. "Ooh, kepingin minta tanda tangan ya? Boleh, boleh."

Kami semua langsung kegirangan, soalnya tiga kakak senior pertama yang kami mintai tanda tangan tak membiarkan kami mendapatkan keinginan kami dengan begitu gampang. Kami disuruh bernyanyi, menari, dan lompat katak. Untunglah Kak Lexie tidak meminta apa pun...

"Dengan satu syarat."

Kami semua tercekat. "Syarat apa, Kak?"

"Bayarin makanan gue."

Kami melirik meja Kak Lexie dan menahan senyum. Memang makanannya cukup banyak. Ada semangkuk yamien, semangkuk pangsit, beberapa kantong plastik bekas kerupuk, dan segelas jus alpukat. Tapi kami kan berenam. Kalau dibagi-bagi, paling-paling seorang bayar lima ribu perak.

"Gambang, Kak!" sahutku pede.

Kak Lexie pun mencorat-coret di buku tanda tangan kami dengan gaya profesional, lalu ditutupnya sebelum diberikan kembali pada kami. Lalu, dia melambai, "Kalo gitu, gue serahkan urusan bon ini ke lo semua ya!"

Sesaat kami merasakan hawa dingin menghinggapi leher belakang kami. Senyum Kak Lexie tampak aneh. Sepertinya, senyum itu terlalu lebar untuk ukuran mulut manusia biasa.

Rasanya ada yang tak wajar di sini.

Sebelum kami sempat bereaksi, Kak Lexie sudah keburu kabur, nyaris seperti terbirit-birit.

Lega karena bau ketiak yang asam banget sudah lenyap, kami pun melenggang ke arah kasir. Bayangan senyum seram Kak Lexie sudah lenyap dari benak kami. "Kami mau bayar makanan Kak Lexie."

"Akhirnya!" Si pemilik restoran tampak girang saat menyodorkan pada kami bon yang lumayan panjang. "Semuanya satu juta tiga ratus ribu!"

"Hah?" teriakku. "Kok bisa begitu banyak?"

"Lho, anak itu udah ngutang bertahun-tahun nggak pernah bayar. Tak saya sangka, hari ini akhirnya bon ini bisa dilunaskan juga!"

"Tapi kami nggak punya duit sebanyak itu..."

"Apa kata kalian?" Kami semua terperanjat saat si pemilik restoran berdiri. Rupanya bodinya gede banget, dengan otot-otot lengan yang lebih besar dari kepalaku dan tato di mana-mana. Kontan kami semua saling berpelukan. "Jadi kalian hanya bohong waktu bilang mau bayar makanan si Lexie?"

"Nggak, Pak, bukan begitu!" seruku ketakutan. "Kami akan tetap bayar! Tapi kami nggak punya duitnya. Gimana kalau kami bekerja di sini saja sebagai gantinya?"

Si pemilik restoran berpikir sejenak. "Oke. Begitu juga bagus. Tapi ini berarti kalian tidak boleh pulang sebelum utangnya lunas, mengerti?"

Kami semua mengangguk-angguk dengan muka pucat.

"Kebetulan, di belakang ada toilet yang sudah lama nggak disikat. Sana, urus toilet itu!"

Kami segera ngibrit ke belakang sebelum si pemilik restoran berubah pikiran. Namun, saat tiba di depan toilet itu, kamilah yang kepingin berubah pikiran. Habis, toilet itu seram bangeeet. Sarang laba-laba di bagian atas, lampu yang berkedap-kedip saat dinyalakan, keran yang tetap menetes meski sudah dimatikan, dan lobang toilet yang agak kelewat besar. Sepertinya, lobang toilet itu sanggup memuat kepala manusia.

Dengan ragu bercampur takut, kami memasuki toilet itu. Aku yang masuk paling terakhir, dan tersentak saat pintu toilet itu menghempas tertutup dengan sendirinya.

"Gawat!" Aku mengguncang-guncang hendel pintu toilet, dan benda itu langsung copot. "Kita terkurung di sini!"

"Cepat teriak minta tolong!"

"Percuma, toilet ini terlalu jauh dari rumah utama! Nggak akan ada yang bisa mendengar!"

"Ini benar-benar seram!" Salah satu dari kami mulai menangis. "Kenapa kita harus terlibat urusan seperti ini???"

"Guys, coba lihat." Kami semua langsung mengerubungi salah satu temanku yang membuka buku tanda tangannya. "Ini tanda tangan Kak Lexie buat kita."

Jantungku serasa nyaris berhenti membaca tulisan yang tertera di situ. Aku segera membuka buku tanda tanganku.

Tulisannya sama.

"Peserta MOS Harus Mati."

Mendadak aku teringat senyum Kak Lexie sesaat sebelum meninggalkan kami. Senyum yang teramat sangat mengerikan itu.

Dan aku pun tahu, selamanya kami takkan bisa lolos dari neraka jahanam ini.

T A M A T

Judul asli: Terkurung di Toilet

9 comments:

sapphira.pphira said...

keren ka !!!

Lexie Xu said...

Thanks ya Fir ^^

Suci Rahmalita said...

aaaaa kalo yang novel kakak kmren pengurus mos harus mati yg cerita ini peseta mos harus mati hiii serem ><

Akira_Shimotsuki said...

Ka smua novelnya keren..
kk kepikiran apa sih waktu nulis ceritanya..
serem+Menegangkan+Seru+lumayan Buat cintanya
pokoknya keren deh (y)

Akira_Shimotsuki said...

Keren kak...

Novel"nya jga keren banget..

Kak waktu itu mikirin apa sih jd ceritanya semua teror gitu..

tpi Keren+Seru+Menegangkan+Horor+Lucu
dan bla..bla..bla..

ceritanya bikin org penasaran sama lanjutannya..
sukses kak Lexie Xu (y) :)

Misanti Putri said...

okay- this is one masterpiece ; _ ;
kakak, inspire ak bgt buat nulis cerita dgn genre yg serem dan misterius gini walaupun tentu aj, ak msh jauh dibawah level kk.
yg jelas, mudah-mudahan novel yg nantiny akan kukirim di terima supaya mungkin aj dri situ bsa ngobrol lebih dekat dgn kakak. o/
love all your works. sobs.

bellangelina27 said...

kak tulis cerpen lagi dong!

henna ayu nibras said...

waah keren banget, emang kalex paling top bkin cerita yg ngenes2 heheg

Chavyn Agatha said...

Jadi ingin kolaborasi sama KaLex, ^_^. Amazing KaLex.