Friday, March 16, 2012

Kumcer Supertragis™: Gara-gara Salah Deklamasi

Namaku Lexie, dan aku benci baca puisi. Menurutku, baca puisi sama saja dengan curhat di depan umum dengan gaya superlebay. Curhat sama temen saja aku malu-malu, apalagi curhat di depan jutaan orang.

Bukannya aku pernah baca puisi di depan jutaan orang. Hanya saja, kalau kau suka demam panggung sepertiku, ditonton dua orang saja pun sudah bikin mata berkunang-kunang. Nggak heran aku salah kaprah, mengira dua orang itu mengajak jutaan orang lain untuk menontonku.

Sialnya, guru-guru SMA memang suka menyuruh yang nggak-nggak. Terutama guru Bahasa. Enak saja dia menyuruh kami baca puisi di depan kelas. Puisi orang lain pula! Minimal kalau puisi buatan sendiri, aku kan bisa bikin puisi pendek--atau pantun sekalian. "Buah mangga buah duku, mau mangga kejarlah daku." Judulnya "Tukang Mangga Centil".

Tentunya aku nggak sudi dikalahkan oleh guru Bahasa. Dia suruh kita cari puisi beken, ya tentunya kita harus cari yang paling beken. Pilihanku, tentu saja, puisinya si Chairil Anwar, "Aku".

Seperti dugaanku, si guru mencoba mencari perkara denganku. Setelah selesai mendengarkan si cewek sok pintar dalam kelasku membacakan "Antara Karawang dan Bekasi" sampai berbusa-busa, namaku pun dipanggil dengan suara judes. Dengan penuh gaya aku berdiri dan berjalan ke depan kelas.

"Kertasnya mana?" tanya si guru.

Ups. Aku lupa. Tapi sudah kepalang tanggung bergaya, aku tak sudi mengakui kesalahan. "Nggak usah, Pak. Saya hafal puisinya."

Sepertinya si guru terkesan dengan jawabanku. Baguslah, ini berarti kesombonganku tidak sia-sia.

Begitu berada di undakan tangga teratas di depan papan tulis, aku pun menarik napas dalam-dalam.

"Aku!!!" bentakku keras-keras, lalu meneruskan dengan suara lembut merayu, "Buah karya, Chairil Anwar."

Salah satu yang kusukai dari puisi "Aku" ini adalah, aku berhak bentak-bentak semua orang tanpa perlu takut akibatnya. Biasanya kan, kita harus mengira-ngira, apa orang yang kita bentak itu cengeng atau tidak, atau jangan-jangan dia bentak balik. Sekarang aku bisa merajalela di depan kelas. Kupelototi setiap orang termasuk si guru Bahasa, kukibaskan tanganku dengan berang, kusemburkan ludahku bila perlu.

"Bila sudah sampai waktuku, kumau tak seorang kan merayu! Tidak juga kau! Tak perlu sedu-sedan itu!"

Wah, bait pertama puisiku sangat memukau. Semua orang tampak tegang mendengarkanku. Jadi kuteruskan lagi dengan penuh semangat.

"Aku ini wanita jalang..."

Tunggu dulu. Kayaknya aku salah ngomong.

Oh ya! Seharusnya kan binatang jalang dan bukannya wanita jalang! Dasar oon. Jadilah sekarang aku mempermalukan diri.

Kulayangkan pandanganku ke seluruh kelas dengan mengkal. Wajah beberapa orang tampak menahan tawa. Kurang ajar. Salah ucap satu kata saja aku sudah ditertawakan. Dunia ini memang tidak pemaaf.

Lebih parah lagi, tahu-tahu ada yang berteriak dari belakang, "Lo emang wanita jalang!"

Sial! Itu si eks alias mantan pacar! Brengsek betul dia mengataiku begitu di depan umum!

Tanpa berpikir panjang lagi, aku meraih penghapus papan tulis dan melemparkan benda itu kuat-kuat. Sesuai bidikanku, benda itu mengenai tepat di jidat si eks. Tidak sesuai dugaanku, si eks terjengkang ke belakang, kepalanya menghantam tembok kelas dengan keras.

Prakkk!

Saat dia melorot turun ke bawah lantai, terlihat bekas darah di tembok mengikuti gerakannya.

Si ketua kelas menghampiri si eks, memeriksa sebentar dengan wajah tegang.

"Dia udah mati," ucapnya pelan sambil menoleh ke arahku.

"Jadi?" Aku menoleh ke arah guru Bahasa. "Kita lanjutkan baca puisi atau urus mayatnya?"

Guru Bahasa menimbang-nimbang sejenak sambil melirik penghapus papan tulis cadangan yang terletak di antara kami berdua.

"Lanjutkan baca puisi saja," putusnya.

Hari itu, deklamasi puisiku mendapat nilai A untuk pertama kalinya.

T A M A T

8 comments:

AlfiRahmaa said...

Hahahahaha koplaaakkk. si eks matinya gak elit banget kena penghapus papan tulis... orang mati mah udah biasa kali di sekolah itu, tapi kalau kalex baca puisi baru gak biasa maka'y guru bahasa minta lanjut baca puisi hahaha

Naranty said...

ngakak pol kak, aku baca ini :D

Lexie Xu said...

@Alfi: Nggak Fi, gurunya takut ditimpuk juga wkwk

@Naranty: Ini namanya dark humor. ^o^

Naranty said...

tapi keren lo kak. pertama baca rasanya lucu, begitu bagian si eks nya meninggal, langsung ngagetin tiba-tiba. begitu selesai baca jadi geli tapi deg-degan juga^_^ keren!

Annesya said...

mbak bagus banget ceritamu bikin ketawa ngakak terpingkal-pingkal. serasa nonton happy three friends gitu deh. hahaha, si mantan matinya ga asik banget... gila...

Agatha's Dustbin said...

Ceritanya kocak bangt!! Saya sampe harus ngebekep mulut saya supaya nggak ketawa kenceng2 di warnet...

ChillaClaw said...

wkwkwkwkwk!! hebaaaat banget kalex ini!! hahahahaaa

Liza Thesany said...

WakakakaKka ada2 ajaa kalex kalo bikin kumcer emang ngga diduga2 akhirannya