Sunday, July 16, 2017

MysteryGame@Area47 4: The Murderer's House™ Episode 4 (Episode Battle #1)

WAKTUNYA EPISODE BATTLE! 

Sejauh ini, kamu memiliki HP (Health Points) sebesar 100 HP. Dalam perjalananmu, setiap kali kamu menemukan kata-kata seperti (HP: -x), itu berarti HP-mu akan dikurangi dengan bilangan yang diwakili x. Sementara itu, musuhmu adalah Iron Man alias Bebet yang bongsor dan nyaris tak terkalahkan, yang memiliki 200 BP (Bebet Points), yang akan dikurangi setiap kali kamu bertemu kata-kata seperti (BP: -x). Siapkan kertas dan alat tulis. Ini saatnya kemampuan berhitungmu diuji bersamaan dengan keberanianmu!

Pengumuman: Sebelum episode battle, kalian tidak boleh terlambat mengirim email jawaban. Bagi yang terlambat, otomatis akan dieliminasi. Untuk memberi kalian waktu lebih banyak, Kalex akan mengepos episode battle dua minggu setelah episode sebelumnya.

Jika pada episode 3 kamu memilih: 
  1. pisau saku, klik di sini.
  2. minyak sayur, klik di sini.
  3. paku payung, klik di sini.
  4. air botol mineral, klik di sini.
  5. pisang, klik di sini.





PAKU PAYUNG

Kamu menyambar tali tambang yang bergelantungan dan langsung memanjat dengan secepat mungkin. Sayangnya, berhubung selama ini kamu adalah anak alim yang jarang melakukan berbagai macam kenakalan seperti memanjat pohon atau sejenisnya, kamu kurang gesit meski sedang berusaha menyelamatkan nyawamu sendiri. Kamu bisa merasakan tangan besar Bebet memegangi pergelangan tanganmu. Kamu panik dan merogoh ranselmu, mengeluarkan kotak paku payung dan melemparkannya ke arah Bebet bak Naruto dengan shuriken-nya. Kamu merasa bersalah karena salah satu paku payung mengenai muka Bebet, tapi kamu tidak punya waktu untuk mengkhawatirkannya. Kamu harus menggunakan kesempatan ini untuk menyelamatkan diri. (BP = -30)

Klik di sini untuk melanjutkan.




PALU

Kamu berhasil memanjat ke atas, tapi kini rintangannya adalah lubang yang kamu buat sebelumnya. Di saat kamu sedang terbirit-birit dikejar Bebet begini, kamu tidak sempat berhati-hati lagi. Karena lubang yang kamu buat dengan palu rada-rada kasar, kamu jadi tergores-gores waktu berusaha merangkak keluar dari dalam lubang itu. (HP=-10)


Klik di sini untuk melanjutkan.





BERI DIA BOLA


Jarvis menjaga pintu belakang dengan tampang sangar dan mengerikan. Tapi perhatiannya agak terpecah dengan bola yang tadi kamu berikan padanya. Dia mencakarmu saat kamu berusaha mendekati pintu keluar, tapi tidak mengejarmu lagi. Kamu tidak punya pilihan lain, terpaksa kamu kembali ke ruang depan. (HP=-5)


Klik di sini untuk melanjutkan.




PISANG

Kamu menyambar tali tambang yang bergelantungan dan langsung memanjat dengan secepat mungkin. Sayangnya, berhubung selama ini kamu adalah anak alim yang jarang melakukan berbagai macam kenakalan seperti memanjat pohon atau sejenisnya, kamu kurang gesit meski sedang berusaha menyelamatkan nyawamu sendiri. Kamu bisa merasakan tangan besar Bebet memegangi pergelangan tanganmu. Kamu panik dan merogoh ranselmu, mengeluarkan pisang dan mengupasnya dengan satu tangan, menggigit isinya dengan kemampuan yang tidak kamu punya, lalu melemparkan kulitnya ke bawah. Kamu puas banget saat melihat Bebet jatuh terpelanting akibat terinjak kulit pisang bak Donald Duck yang dikerjain Chip and Dale, tapi kamu tidak punya waktu untuk menikmatinya. Kamu harus menggunakan kesempatan ini untuk menyelamatkan diri. (BP = -20)


Klik di sini untuk melanjutkan.




GOLOK

Kamu berhasil memanjat ke atas, tapi kini rintangannya adalah lubang yang kamu buat sebelumnya. Di saat kamu sedang terbirit-birit dikejar Bebet begini, kamu tidak sempat berhati-hati lagi. Karena lubang yang kamu buat dengan golok rada-rada kasar, kamu jadi tergores-gores waktu berusaha merangkak keluar dari dalam lubang itu. (HP=-10)


Klik di sini untuk melanjutkan.




BERI DIA MAKAN

Jarvis menjaga pintu belakang dengan tampang sangar dan mengerikan. Mana gara-gara sudah makan, kucing itu tampak gendut dan penuh semangat. Lupa bahwa kamulah yang memberinya makan tadi, kucing itu mulai menyerangmu dengan cakarnya yang saat ini tampak mematikan di matamu. Kalah melawan kucing garang itu, kamu pun terbirit-birit kembali ke ruang depan. (HP=-15)


Klik di sini untuk melanjutkan.




AIR BOTOR MINERAL

Kamu menyambar tali tambang yang bergelantungan dan langsung memanjat dengan secepat mungkin. Sayangnya, berhubung selama ini kamu adalah anak alim yang jarang melakukan berbagai macam kenakalan seperti memanjat pohon atau sejenisnya, kamu kurang gesit meski sedang berusaha menyelamatkan nyawamu sendiri. Kamu bisa merasakan tangan besar Bebet memegangi pergelangan tanganmu. Kamu panik dan merogoh ranselmu, mengeluarkan botol air mineral, dan menuang isinya pada Bebet yang langsung gelagapan, tidak menyangka bakalan diguyur. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, kamu juga melempar botol kosongnya pada Bebet. Bebet berusaha menghindar, akan tetapi dia malah menabrak tembok. Kamu lega melihat Bebet kehilangan orientasi selama beberapa saat, tapi kamu tidak punya waktu untuk menikmatinya. Kamu harus menggunakan kesempatan ini untuk menyelamatkan diri. (BP = -50)


Klik di sini untuk melanjutkan.




KAPAK

Kamu berhasil memanjat ke atas, tapi kini rintangannya adalah lubang yang kamu buat sebelumnya. Di saat kamu sedang terbirit-birit dikejar Bebet begini, kamu tidak sempat berhati-hati lagi. Karena lubang yang kamu buat dengan kapak rada-rada kasar, kamu jadi tergores-gores waktu berusaha merangkak keluar dari dalam lubang itu. (HP=-15)


Klik di sini untuk melanjutkan.




KELUAR DARI RUANG BAWAH TANAH

Kamu memanjat tali dengan susah-payah. Sarung tanganmu membuat kamu berkali-kali tergelincir, dan kamu terpaksa melepaskan benda itu dari tanganmu. Akibatnya lebih gawat lagi. Kini telapak tanganmu berdarah-darah karena bergesekan dengan tali. Tapi kamu bukan anak kecil yang cengeng. Kamu mengertakkan gigimu dan terus memanjat. Pada akhirnya, kamu melihat lubang yang tadi sempat kamu buat.


Jika pada episode 2 kamu memilih: 
  1. Gergaji, klik di sini.
  2. Kapak, klik di sini.
  3. Palu, klik di sini.
  4. Tongkat bisbol, klik di sini.
  5. Golok, klik di sini.



SURUH DIA MENCIUM JEMPOL KAKIMU

Kucing itu menjaga pintu belakang dengan tampang sangar dan mengerikan. Tapi tampangnya waswas, mungkin ingat dengan bau jempol kakimu yang tidak begitu menyenangkan. Dia mencakarmu saat kamu berusaha mendekati pintu keluar, tapi tidak mengejarmu lagi. Kamu tidak punya pilihan lain, terpaksa kamu kembali ke ruang depan. (HP=-5)


Klik di sini untuk melanjutkan.




PISAU SAKU

Kamu menyambar tali tambang yang bergelantungan dan langsung memanjat dengan secepat mungkin. Sayangnya, berhubung selama ini kamu adalah anak alim yang jarang melakukan berbagai macam kenakalan seperti memanjat pohon atau sejenisnya, kamu kurang gesit meski sedang berusaha menyelamatkan nyawamu sendiri. Kamu bisa merasakan tangan besar Bebet memegangi pergelangan tanganmu. Kamu panik dan merogoh ranselmu, mengeluarkan pisau saku dan mulai menyabet-nyabet ke arah tangan Bebet yang memegangi kakimu. Bebet melolong saat pisau sakumu mengenai tangannya. Astaga, itu hanya goresan kecil, tapi kenapa Bebet langsung jadi lebay begitu?! Tapi kamu tidak punya waktu untuk mengata-ngatai Bebet. Kamu harus menggunakan kesempatan ini untuk menyelamatkan diri. (BP = -10)


Klik di sini untuk melanjutkan.




TONGKAT BISBOL

Kamu berhasil memanjat ke atas, tapi kini rintangannya adalah lubang yang kamu buat sebelumnya. Di saat kamu sedang terbirit-birit dikejar Bebet begini, kamu tidak sempat berhati-hati lagi. Karena lubang yang kamu buat dengan tongkat bisbol rada-rada kasar, kamu jadi tergores-gores waktu berusaha merangkak keluar dari dalam lubang itu. (HP=-15)


Klik di sini untuk melanjutkan.




KURUNG DIA

Kucing itu menjaga pintu belakang dengan tampang sangar dan mengerikan. Tapi sepertinya dia agak ngeri padamu lantaran kamu pernah mengurungnya. Akan tetapi kamu tidak berani mengambil risiko karena tampangnya yang garang banget, terpaksa kamu kembali ke ruang depan. (HP=-0)


Klik di sini untuk melanjutkan.




DAPUR

Dengan badan berdarah-darah kamu berhasil lolos dari ruang bawah tanah itu. Di saat kamu mengira kamu sudah bisa kabur dari rumah itu, mendadak kamu melihat sosok hitam mungil di depanmu. Rupanya itu adalah Jarvis. Tadinya kamu menganggap Jarvis adalah kucing lucu yang malang, tapi kini dia tampak seperti macan kecil yang siap membela tuannya.


Jika pada episode 1 kamu memilih: 
  1. Beri dia makan, klik di sini.
  2. Kurung dia, klik di sini.
  3. Beri dia bola, klik di sini.
  4. Keluarkan dia dari rumah, klik di sini.
  5. Suruh dia mencium jempol kakimu, klik di sini.



MINYAK SAYUR

Kamu menyambar tali tambang yang bergelantungan dan langsung memanjat dengan secepat mungkin. Sayangnya, berhubung selama ini kamu adalah anak alim yang jarang melakukan berbagai macam kenakalan seperti memanjat pohon atau sejenisnya, kamu kurang gesit meski sedang berusaha menyelamatkan nyawamu sendiri. Kamu bisa merasakan tangan besar Bebet memegangi pergelangan tanganmu. Kamu panik dan merogoh ranselmu, mengeluarkan botol minyak sayur, dan mulai menuang isinya secara membabi-buta. Kamu merasa girang saat melihat Bebet kelabakan berjalan di atas tumpahan minyak, lalu tergelincir dan jatuh, tapi kamu tidak punya waktu untuk menikmatinya. Kamu harus menggunakan kesempatan ini untuk menyelamatkan diri. (BP = -10)


Klik di sini untuk melanjutkan.




GERGAJI

Kamu berhasil memanjat ke atas, tapi kini rintangannya adalah lubang yang kamu buat sebelumnya. Di saat kamu sedang terbirit-birit dikejar Bebet begini, kamu tidak sempat berhati-hati lagi. Karena lubang yang kamu buat dengan gergaji cukup halus, kamu berhasil keluar tanpa tergores sedikit pun waktu berusaha merangkak keluar dari dalam lubang itu. (HP=-0)


Klik di sini untuk melanjutkan.




KELUARKAN DIA DARI RUMAH

Kucing itu menjaga pintu belakang dengan tampang sangar dan mengerikan. Tapi sepertinya dia agak waswas terhadapmu lantaran kamu pernah mengeluarkan dia dari rumah. Rupanya kucing itu takut kamu melakukannya lagi. Dia mencakarmu saat kamu berusaha mendekati pintu keluar, tapi tidak mengejarmu lagi. Kamu tidak punya pilihan lain, terpaksa kamu kembali ke ruang depan. (HP=-5)


Klik di sini untuk melanjutkan.




AND THE STORY GOES

Kamu bisa mendengar geraman Bebet dari lubang menuju ruangan bawah tanah itu, semakin lama semakin mendekat. Di belakangmu, Jarvis tampak siap bertempur melawanmu. Saat ini, kamu tidak tahu siapa yang lebih berbahaya: Bebet ataukah Jarvis. Satu-satunya jalan bagimu saat ini adalah menaiki tangga menuju lantai dua. Tapi lantai dua pun tampak sangat berbahaya secara kamu tidak tahu apa yang menunggumu di atas sana. Setidaknya, kini kamu bisa mengakses lemari berisi barang-barang random yang kamu temui di episode 2 kemarin. Kini kamu akan menggunakan salah satu benda itu sebagai senjata.


INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:

Hai para peserta MysteryGame@Area47! 

Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan nama + nama FB/Twitter/Instagram + "The Murderer’s House episode 4" diikuti nama, "HP=" diikuti jumlah HP diikuti "BP=" diikuti jumlah BP, plus jawaban atas pertanyaan ini: 

SENJATA APA YANG KAMU AMBIL? (Pilih antara: gergaji, kapak, palu, tongkat bisbol, golok..)

Kalex tunggu jawabannya sampai enam hari lagi ^^

Good luck, everybody! 

xoxo,
Lexie

Saturday, June 24, 2017

MysteryGame@Area47 4: The Murderer's House™ Episode 3

Saat tiba di ruang bawah tanah itu, kamu hanya bisa melihat kegelapan saja.

Setelah beberapa saat, matamu mulai menyesuaikan diri dengan kegelapan, dan perlahan-lahan kamu bisa melihat sedikit-sedikit. Ruangan itu bukan semacam gua yang digali ala kadarnya, melainkan sebuah ruangan yang dibuat dengan sangat baik. Kamu merogoh sakumu dan mengeluarkan ponselmu, lalu menyorotkan sinarnya ke sekeliling ruangan itu.

Benar dugaanmu, di salah satu bagian ruangan, terdapat tangga menuju ke atas (kemungkinan besar mengarah ke dapur). Hanya saja, pintunya kini sudah ditutup dengan semen. Pantas saja tidak ada yang tahu ada ruang bawah tanah. Kamu memandangi sekelilingmu. Apakah di sini tempatnya Bebet menyimpan semua jejak kejahatannya?

Lantai ruangan itu tidak dilapisi apa-apa, hanya tanah saja. Jika kamu menggalinya, kamu mungkin akan mendapatkan sesuatu. Di sisi lain, kamu rasa penemuan ini saja sudah lebih dari cukup. Jika kamu minta polisi yang mengurusnya, kemungkinan mereka akan berhasil menemukan bukti-bukti kejahatan Bebet.

Akan tetapi, tujuanmu pada malam ini bukan hanya ini kan? Yang ingin kamu dapatkan adalah pengakuan dari ibumu, bahwa kamu lebih hebat dari si anak tetangga sialan. Yang kamu inginkan adalah supaya ibumu berhenti memuja-muja si anak tetangga dan lebih fokus pada anaknya sendiri. Padahal si anak tetangga adalah anak yang berhasil mengalahkan monster, lolos dari rumah sakit jiwa, dan berhasil kembali selamat dari kecelakaan mengerikan.

Kamu tidak bisa berhenti begitu saja. Kamu harus melakukan sesuatu, lebih dari ini, untuk membuktikan kehebatanmu.

Kamu melangkah ke tengah-tengah ruangan dan mulai memeriksa ruangan itu. Bagian tengahnya kosong, sementara di daerah di dekat dinding terdapat berbagai rak, kardus, dan karung. Sebuah ranjang kecil terdapat di ujung ruangan, ranjang yang tampak jelek dengan kasur yang jahitannya terkelupas, menampakkan busa di bagian dalamnya.

Lalu kamu mengerti apa sebenarnya ruangan itu.

Ruangan itu adalah kamar tidur seorang anak perempuan. Ranjang itu sudah tampak dekil, tapi tadinya adalah ranjang mungil berwarna pink. Rak di dekatnya juga memiliki banyak mainan anak-anak perempuan—boneka Barbie, boneka beruang, kotak perhiasan, dan mainan masak-masakan. Di bawah ranjang, terdapat piring dan gelas kosong yang saat ini menjadi sarang kecoak.

Bebet pasti sempat mengurung adiknya di kamar ini.

Gila. Ini benar-benar gila. Setiap detail yang kamu temukan membawamu pada kenyataan yang semakin mengerikan saja.

Mendadak ada angin membelai punggungmu lagi, dan tubuhmu langsung merinding. Kamu segera membalikkan badan, akan tetapi tidak ada siapa pun juga di belakangmu. Tidak ada jendela atau apa pun yang mungkin menyebabkan bertiupnya angin dingin tersebut. Apakah itu hanyalah angin yang berhasil memasuki ruang bawah tanah ini tanpa sengaja, ataukah memang ada sesuatu yang supranatural di bawah sini? Teringat anak perempuan yang harus menghabiskan sisa hidupnya hingga kematian menjemputnya di tempat ini…

Kamu bergidik lagi. Sebenarnya kamu sudah kepingin cepat-cepat keluar. Suasana di bawah sini benar-benar bikin gelisah saja. Tapi kamu belum bisa pergi. Penyelidikanmu belum tuntas.

Perhatianmu tertumpu pada piring dan gelas yang tergeletak di lantai. Peralatan makan itu memang tidak terlihat baru, akan tetapi juga tidak tampak seperti sesuatu yang sudah lama sekali. Sepertinya baru saja ada di situ—mungkin beberapa bulan lalu.

Berarti selain anak perempuan itu, ada orang lain yang pernah tinggal di sini juga?

Turis-turis yang lenyap?

Kamu ingin memeriksa karung-karung yang tergeletak, tapi semuanya sudah dijahit meski dengan cara serampangan. Jika kamu membukanya, nanti kamu tidak bisa menutupnya lagi, belum lagi bisa jadi tindakanmu dianggap sebagai merusak barang bukti. Kardus-kardus juga sama—semuanya sudah dilakban, meski tidak rapi-rapi amat, tapi tidak mungkin kamu buka begitu saja. Kamu mencoba meraba-raba karung-karung itu, dan kamu menduga di dalam karung-karung itu terdapat pakaian—atau sesuatu yang pokoknya tidak terlalu keras.

Bunyi deringan mengagetkanmu, dan kamu menyadari bahwa kamu lupa mengeset ponselmu pada silent mode. Kamu memandangi layar ponsel dan melihat telepon dari nyokapmu.

“Lo ada di mana?” jerit nyokapmu histeris.

“Gue lagi maen di rumah temen, Mak. Kenapa?”

“Cepetan pulang! Si Bebet…”

Mendadak tubuhmu terasa kaku. Rasanya kamu bisa menduga apa yang akan dikatakan nyokapmu. “Si Bebet kenapa, Mak?”

“Si Bebet kabur dari penjara! Dan sekarang nggak ada yang tau dia ada di mana! Tetangga-tetangga di sini ketakutan Bebet bakalan mulai bacok-bacokin orang, jadi semuanya ngumpet di rumah! Lo juga buruan balik dong!”

“Mak,” katamu berusaha mengulur waktu. “Kalo Bebet lagi kelayapan di jalan, mendingan gue nginep aja di rumah temen. Besok pagi pas udah terang, baru gue pulang. Gimana?”

“Nggak bisa!” Nyokapmu tidak mau dibantah. “Apa-apaan lo pake nginep-nginepan di rumah temen? Pokoknya lo harus pulang sekarang juga, ngerti?! Kalo ketemu Bebet, lo teriak aja yang kenceng! Emak pasti bisa denger!”

Seandainya saja urusannya begitu gampang. Kenyataannya, rumah Bebet terlalu jauh dari rumahmu. Kalau sampai Bebet muncul di sini, teriak sampai lehermu lepas juga nyokapmu tidak bakalan dengar! Tapi kamu tidak mau membuat nyokapmu khawatir, jadi kamu berkata, “Okelah, Mak. Gue akan buruan pulang. Bentar gue selesaikan dulu urusan gue di sini. Gue cuma itung-itungan utang aja sebelum gue pergi nginep di mess. Bentar ya, Mak!”

“Ya udah. Pokoknya cepet pulang!”

Kamu buru-buru menyudahi pembicaraan di telepon. Namun begitu kamu menutup telepon, kamu menyadari ada bunyi lain dalam keheningan yang sedari tadi melingkupi rumah ini.

Bunyi pintu berderit.

Omaygattt!!!

Kamu mulai mencari-cari senjata yang bisa kamu gunakan dari dalam tasmu. Tidak diduga, pada saat-saat seperti ini, sepertinya kamu tidak membawa banyak barang yang berguna. Kalau sampai tahu ada kejadian begini, seharusnya kamu membawa pistol, samurai, atau parang kesayangan si Emak. Sayangnya kamu tidak menduga Bebet bakalan berhasil kabur dari penjara. Jadilah yang ada di dalam tasmu cuma barang-barang konyol yang tidak berguna untuk mempertahankan hidupmu.

Kamu mendengarkan bunyi langkah di atas, lalu bunyi itu terhenti. Tidak pelak lagi, siapa pun juga yang berada di atas, sudah mengetahui bahwa ruang bawah tanah rahasianya sudah diketahui. Kamu berdiri dengan tegang, menunggu-nunggu apa yang akan terjadi.

Kamu nyaris menjerit histeris dan lari tunggang-langgang saat seseorang meloncat dari atas dan mendarat di depanmu. Sayangnya, kamu terlalu takut untuk menjerit dan kamu tidak punya tempat untuk melarikan diri, jadi kamu hanya bisa terbelalak menatap orang yang baru muncul tersebut. Bisa diduga, itulah Bebet yang menjadi trending topic hari ini.

Sejujurnya saja, hingga saat ini kamu belum pernah benar-benar memperhatikan Bebet. Maklumlah, Bebet kerjanya di laundry, sementara biasanya yang bertugas pergi ke laundry adalah nyokapmu. Kadang kamu menemani nyokap, tapi biasanya kamu hanya menunggu di depan laundry sambil bermain ponsel. Kini kamu punya kesempatan untuk mengamati Bebet.

Bebet ternyata sangat tinggi, mungkin sekitar seratus delapan puluh sentimeter atau lebih—kira-kira kayak Lee Min Ho, hanya saja sama sekali tidak cakep—dan rada kekar. Bisa dibayangkan waktu kecil pun tubuhnya sudah besar dan kuat sampai-sampai bisa melukai orangtuanya. Kepalanya plontos, dengan muka yang licin bak Voldemort (setidaknya hidung Bebet sedikit lebih mancung, sedikiiit saja) sementara pakaiannya sederhana ala kaus berukuran pas-pasan dan celana jins. Penampilannya mungkin bisa dibilang biasa-biasa saja kalau kita tidak memperhatikan wajahnya yang tidak wajar. Matanya bergerak-gerak liar seolah-olah hatinya tidak pernah tenang, sementara senyumnya tidak bisa dikatakan senyum, melainkan lebih mirip ringisan kesakitan atau apalah, seakan-akan memberitahu kita bahwa Bebet tidak tahu caranya tersenyum.

“Kamu… anak sekretaris RT,” katanya menebak dengan tepat profesi sampingan ayahmu—dan hal itu bikin kamu tambah takut, karena itu berarti Bebet tahu di mana rumahmu. “Kenapa kamu ada di sini?”

Otakmu berputar cepat. Oke, Bebet kenal ayahmu, tapi kamu bisa berpura-pura tidak kenal dia dan tidak tahu bahwa dia adalah napi yang sedang buron. “Oh, Om kenal bokap saya? Maaf, Om, saya nggak tau ini rumah temen bokap. Saya, ehm, tadi ngejer kucing dan kucingnya masuk ke dalam sini…”

“Ke bawah sini?” tanya Bebet dengan suara sinis.

“Dia menggaruk-garuk dinding ini.” Dalam sikon seperti ini, kamu tidak malu-malu lagi dan berusaha keras untuk menimpakan semua kesalahan pada Jarvis. “Saya pikir anaknya jatuh ke bawah sini atau apa, jadi saya berusaha bantuin…”

Tentu saja ucapanmu tidak masuk akal. Mana mungkin ada yang bisa jatuh ke bawah sini, tidak peduli yang dimaksud adalah anak kucing yang seimut-imutnya? Tapi untunglah Bebet tampak percaya. Mungkin juga dia mengira kamu tidak mengenalnya, jadi saat ini dia merasa aman. Mana kata-katamu sopan pula. Bisa jadi dia menganggapmu anak baik.

“Nggak usah dibantu. Itu kucing saya, dan dia nggak punya anak. Paling-paling dia hanya jail saja. Kamu pulang sana!”

“Baik!” Meski sikap si Bebet rada ketus, kamu girang karena dia melepaskanmu. “Maaf ya, Om. Nanti saya bilang sama bokap supaya dikasih duit buat ganti rugi dinding yang saya ancurin…”

“Nggak usah! Nggak seberapa itu!”

“Baik, Om. Terima kasih, Om.”

Kamu sudah siap untuk mendekati tambang dan memanjat naik ketika Bebet tiba-tiba bertanya, “Tunggu dulu. Bunyi apa itu?”

Kamu memaki-maki di dalam hati. “Bunyi hape saya, Om.”

“Bunyi-bunyi terus. Mengganggu banget. Coba diangkat.”

Kamu melihat layar ponsel. Nooo! Itu si Emak lagi! “Nggak deh. Biarin aja. Saya matiin aja.”

“Jangan begitu! Tidak sopan!”

Dengan hati sangat terpaksa kamu mengangkat telepon, dan sialnya suara Emak terdengar begitu keras bahkan tanpa perlu pakai speakerphone. “Lo kok lama belum pulang?! Lo mau digorok si Bebet ya?!”

Omaygattt! Mak, lo mau bunuh anak lo?!

“Jadi kamu sebenarnya tau siapa aku?”

Holy crap! Nyawamu akan berakhir di ruang bawah tanah ini, dan semuanya gara-gara si Emak! Bukan juga sih, sebenarnya salahmu yang berlama-lama di sini, tapi si Emak juga punya peranan penting. Tapi enak saja. Kamu tidak akan sudi menyerah begitu saja. Si anak tetangga bisa lolos dari kejaran monster, kamu pasti juga bisa lolos dari kejaran Bebet. Sekaranglah waktunya kamu beraksi!

INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:

Hai, para peserta MysteryGame@Area47 yang sudah mendaftarkan diri!

Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan nama FB/username Twitter/username Instagram dan nama panggilan + Episode 3 lalu isi email kalian dengan jawaban atas pertanyaan ini:

BENDA APA YANG AKAN KAMU AMBIL DARI DALAM RANSEL SEBAGAI SENJATA? (Pilih antara: pisau saku, minyak sayur, paku payung, air botol mineral, pisang.)

Kalex tunggu jawabannya sampai dua minggu lagi ya, tepatnya tanggal 8 Juli 2017. Maklum, Kalex juga mau mudik. Hahahaha. Untuk yang merayakan, selamat hari raya Idul Fitri, minal aidin wal faidzin, mohon maaf jika selama ini Kalex ada salah kata atau perbuatan. m(_ _)m

xoxo,
Lexie

Sunday, June 18, 2017

MysteryGame@Area47 4: The Murderer's House™ Episode 2

Bagian dalam rumah itu bahkan lebih mengerikan lagi dibandingkan dengan bagian luarnya. Suasananya gelap, tapi kamu bisa melihat samar-samar dapur yang berantakan. Piring-piring kotor berserakan di meja makan dan menumpuk bak cuci piring, sampah menggunung di pojokan dan bertebaran di lantai, dua kursi terguling sementara dua lain tergeletak tidak beraturan dan tidak menghadap meja makan. Beberapa ekor tikus melintas, dan kamu curiga mereka rada hepi karena tidak bertemu Jarvis. Kamu yakin, di siang hari, rumah ini pasti bau banget serta dipenuhi lalat dan semut. Di rumahmu, kamu sudah terbiasa dipukuli si Emak dengan sapu dan pengki jika kamu malas bersih-bersih, jadi kini kamu rada tidak mengerti bagaimana orang bisa hidup di rumah yang begini kotor dan berantakan.

Kamu mulai melihat-lihat di dapur dengan menggunakan hape sebagai penerangan. Kamu sudah pernah mendengar tentang TKP yang tidak boleh diutak-atik, jadi kamu berusaha untuk tidak memindahkan apa pun juga dan tidak menginjak apa pun juga. Sejauh pengamatanmu yang terbatas di tengah kegelapan ini, sepertinya tidak ada yang menarik perhatian selain kejorokan ruangan ini.

Kamu memutuskan untuk berjalan menyusuri rumah itu. Di bagian depan hanya ada ruang tamu yang sepertinya digunakan Bebet untuk tidur. Kamu berkeliling sebentar sambil mengais-ngais tumpukan selimut, tapi tidak ada yang menarik.

Sebuah pintu mengarah ke kamar tidur. Pintunya tidak terkunci, jadi kamu langsung main nyelonong saja. Pintu itu sudah tua dan engselnya sudah lama tidak diminyaki. Saat kamu membukanya, terdengar deritan yang menyeramkan.

Memandangi kamar tidur di depanmu, perasaanmu makin tidak enak saja. Berbeda dengan ruangan-ruangan berantakan di depan, kamar itu rapi—terlalu rapi. Akan tetapi, kamar itu juga dipenuhi debu dan sarang laba-laba. Kamu bisa menebak kamar itu tidak pernah dipakai lagi setelah ditinggal oleh pemiliknya. Pemilik yang sudah lama pergi.

Mendadak bulu kudukmu berdiri. Rasanya seperti ada yang baru saja berdiri di belakangmu. Tapi, tentu saja ini hanya perasaanmu saja. Hantu itu tidak ada, dan di rumah ini tidak ada manusia lain selain dirimu…

… atau ada?

Lagi-lagi kamu ingat cerita yang kamu dengar soal si Bebet. Berhubung badannya bongsor, sejak kecil dia lumayan kuat. Berkali-kali dia mendorong ibu dan adiknya hingga jatuh. Sudah biasa keluarga itu muncul dengan tubuh lebam-lebam, bahkan adiknya pernah patah tangan dan kaki karenanya. Pernah sekali ayahnya jadi korban dan jatuh di depan rumah, lalu nyaris ditabrak truk yang melintas. Banyak yang curiga pada akhirnya orangtua dan adik Bebet tewas akibat didorong Bebet—mungkin jatuh dari atas tangga? Akan tetapi tidak ada yang tahu kebenarannya, dan tidak ada yang tahu bagaimana caranya Bebet melenyapkan jenazah-jenazah itu. Lama-lama orang-orang melupakan cerita itu, dan akhirnya Bebet diterima warga RT kalian yang kebanyakan memang baik-baik meski rada hobi gosip.

Bagaimana kalau semua cerita itu benar? Bagaimana kalau keluarga Bebet mati di rumah ini? Bagaimana kalau hantu-hantu mereka menunggui rumah ini, menunggu seseorang untuk membongkar penyebab kematian mereka?

Jantungmu berdebar keras. Kamu tahu, jika ada orang yang bisa membongkar kejadian itu, kamulah orangnya. Di RT ini, cuma kamulah satu-satunya orang yang cukup peduli untuk melakukannya…

Oke. Stop memikirkan semua gosip ini. Kamu sedang mencari bukti bahwa Bebet adalah pembunuh berantai seperti yang dikatakan polisi, jadi jangan buang-buang waktu dengan semua gosip di masa lalu ini. Lagi pula, daripada menakut-nakuti dirimu, lebih baik kamu fokus dengan penyelidikanmu. Berhubung kamar tidur ini sudah lama tidak digunakan, sepertinya tidak ada gunanya diselidiki, jadi sebaiknya kamu kabur saja.

Eh, tunggu dulu. Ada yang harus kamu pastikan.

Perlahan-lahan kamu membuka pintu lemari. Seperti pintu kamar, pintu lemari juga mengeluarkan deritan yang tidak menyenangkan. Kamu menahan napas, bersiap-siap menemukan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Akan tetapi lemari itu kosong.

Oke. Bisa jadi orangtua Bebet memang pergi ke luar kota dan tidak kembali lagi, meninggalkan Bebet seorang diri di sini. Tapi di sisi lain, bisa jadi Bebet sudah membuang semua pakaian orangtuanya untuk melenyapkan bukti. Untuk menegaskan penyelidikanmu, kamu membuka-buka laci-laci lain. Semuanya kosong melompong. Entah memang mereka pergi betulan, atau Bebet memang pandai menghilangkan jejak orangtuanya.

Perlahan kamu menutup pintu kamar, lalu beralih pada tangga menuju lantai atas. Kamu memandangi tangga curam itu, ragu-ragu untuk naik. Dibanding lantai bawah, lantai atas terlihat lebih seram—dan jika ada sesuatu, lebih sulit untuk melarikan diri.

Mendadak ada udara dingin membelai punggungmu, dan kamu langsung berbalik. Tidak ada jendela, ventilasi, atau apa pun juga di belakangmu. Yang ada hanyalah tembok di depan tangga curam tersebut. Dari mana angin itu berasal?

Hantu?

Oke. Sekali lagi, stop. Jangan berhalusinasi sembarangan. Mungkin ada sesuatu yang aneh pada tembok itu. Sesuatu yang tidak kelihatan. Sesuatu yang mungkin dilewatkan oleh para polisi yang sempat memasuki rumah ini.

Kamu memeriksa tembok yang tadinya di belakangmu itu. Tembok itu sama sekali tidak terlihat aneh. Kamu meraba tembok itu dengan tanganmu yang berlapis sarung tangan kulit. Tembok itu rata, sedikit agak kasar, tapi sekali lagi, tidak ada yang aneh. Kamu mencoba mengetuknya. Keras seperti tembok. Kamu mengetuk tempat lain. Masih saja juga. Kamu mengetuk sekali lagi di bagian bawah, tapi kali ini bukan tembok yang kamu ketuk, melainkan semacam tripleks.

Kamu berjongkok dan mengetuk beberapa bagian tembok. Sebagian besar terasa keras, tapi ada satu bagian kecil di bagian bawah yang terasa seperti kosong di belakangnya. Seolah-olah pernah ada lubang pada tembok ini. Lubang di depan tangga curam. Lubang yang mungkin dibuat oleh seseorang untuk memindahkan sesuatu dari depan tangga.

Mayat, mungkin?

Kamu mengusap tembok itu. Tenggorokanmu tercekat menyadari bahwa catnya masih baru. Ada sesuatu di balik tembok ini. Kamu tahu pasti. Tapi kamu tidak membawa peralatan yang bisa kamu gunakan untuk membobol dinding tripleks tersebut. Terpaksa kamu pergi ke dapur dan mulai membongkar-bongkar setiap lemari dan rak.

Ini dia! Ada sebuah lemari yang isinya random banget. Ada gergaji, kapak, palu, tongkat bisbol, dan semacam golok. Kamu mengambil salah satunya, dan mulai membobol dinding di depan tangga. Napasmu tertahan saat melihat lubang gelap yang kamu buat. Lubang itu mengarah ke bawah.

Ternyata ada ruang bawah tanah rahasia di rumah ini!

Kamu mengambil tali tambang yang kamu bawa, lalu mengikatnya pada pegangan tangga. Setelah yakin sudah kuat benar, perlahan-lahan kamu menuruni lubang itu dengan menggunakan tali tambang untuk menahan dirimu. Tentu saja, tidak lupa kamu menggunakan hapemu untuk menerangi lubang itu. Untunglah, lubang itu tidak terlalu dalam—paling-paling hanya dua meter. Dalam sekejap, kamu sudah tiba di ruangan bawah tanah yang gelap gulita itu.

INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:

Hai, para peserta MysteryGame@Area47 yang sudah mendaftarkan diri!

Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan nama FB/username Twitter/username Instagram dan nama panggilan + Episode 2 lalu isi email kalian dengan jawaban atas pertanyaan ini:

BENDA APA YANG KAMU AMBIL DARI LEMARI RANDOM? (Pilih antara: gergaji, kapak, palu, tongkat bisbol, golok.)

Kalex tunggu jawabannya sampai enam hari lagi. Jangan sampai telat ya, mengirimkan jawabannya! (^o^)v

Good luck, everybody!

xoxo,
Lexie