Sunday, August 4, 2013

MysteryGame@Area47: HOLIDAY IN HELL™, episode 7 (battle #2)

Masih ingatkah kalian, berapa HP dan MP yang kamu dapatkan pada saat menempuh episode 4 (battle #1)? Siapkan kertas dan pensil, tuliskan nilai HP dan MP tersebut di sana. Kini, nilai-nilai itu akan mengalami perubahan lagi. Sanggupkah kamu mempertahankan HP sekaligus menurunkan MP lawan?

"Nah, sekarang sudah waktunya kamu pergi," ucap si kakek tua. "Kamu bisa menyelinap keluar melalui jendela. Setidaknya pondok ini akan menutupi kamu dari pandangan mereka. Cepatlah, sebelum fajar menyingsing dan roh itu lenyap."

"Tapi," kamu ternganga sejenak, "seandainya saya berhasil membunuh roh itu, apa lagi yang harus saya lakukan?"

"Tenang saja," si Kakek menyunggingkan senyumnya yang penuh keriput namun ramah. "Saya akan menyusulmu secepatnya. Tentunya, saya akan menipu mereka dulu supaya mengira saya tidak berbahaya bagi mereka."

Kakek ini memang sudah expert. Demi hidup sampai seratus tahun, sepertinya kamu harus menuruti kakek ini baik-baik. "Oke, Kek. Sampe ketemu nanti."

Jika pada Episode 5 kamu memilih:

1. Mengetuk dengan sopan, klik di sini.
2. Mengintip melalui jendela, klik di sini.
3. Membuat suara-suara mencurigakan, klik di sini.

SEKALENG MINYAK

Begitu kamu masuk, kamu sudah siap dengan satu tangan memegang cermin, sementara tangan yang satu lagi membawa kaleng minyak yang sudah dibuka. Dari cermin yang kamu arahkan ke sekeliling kamar, kamu tahu sosok merangkak itu sedang hinggap di tepi ranjang, siap menerkammu. Sebagian tubuh si sosok merangkak terlihat hangus, namun yang lebih mengerikan adalah geraman penuh dendam yang didenguskan si sosok merangkak dari tenggorokannya. Kamu tak ragu, kalau sampai kamu tertangkap olehnya, kamu pasti bakalan langsung diantar secara pribadi ke neraka.

Kamu berusaha menyiram minyak itu ke arah si sosok merangkak. Namun sialnya, upayamu yang pertama gagal. Bukan saja si sosok merangkak bisa menghindar, dia bahkan mengangkat tangannya yang mendadak memanjang, lalu siap mencakarmu. Kamu meloncat mundur namun terpeleset. Tahu-tahu saja kamu sudah melakukan gerakan split sempurna. Buset dah, sakitnya luar biasa sampai-sampai kakimu seperti terkilir rasanya!

Melihatmu berada dalam kondisi lemah, dengan girang si sosok merangkak meloncat ke arahmu. Oh mannnn. Kalau sampai dia berhasil menimpamu, sudah pasti kamu bakalan dicabik-cabik sampai mati. Jadi, kamu pun menggunakan kesempatan ini untuk mengguyurnya dengan seluruh minyak yang kamu miliki. Si sosok merangkak tampak seperti diguyur lava panas karena sempat menggelinjang-gelinjang, lalu memudar dan akhirnya lenyap.

Apa ini berarti tugasmu sudah berhasil? (HP: -8, MP: -30)

Klik di sini untuk melanjutkan.

GARPU TANAH

Kamu menyorongkan garpu tanahmu ke depan. Saat mereka mendekat, kamu langsung menyodok--tidak ke arah orang-orang itu, melainkan ke arah tulang yang mereka pegang. Dua darinya berhasil kamu jatuhkan dengan mudah, tetapi yang ketiga malah mental ke atas, lalu jatuh tepat di atas kepalamu.

Saat pandanganmu sedang gelap-gelapnya lantaran kepalamu dihantam tulang, ketiga orang itu menyerbu ke arahmu. Kamu menyerang membabi-buta, berharap supaya seranganmu mengenai sesuatu. Salah satunya berhasil mendekatimu, akan tetapi kamu hantam mukanya menggunakan gagang garpu tanah.

Ketika pandanganmu pulih kembali, kamu shock melihat ketiga orang itu terkapar dengan tubuh berlubang-lubang. Seandainya pandanganmu tidak menggelap tadi, kamu tidak akan tega melukai mereka separah itu. Namun kini semuanya sudah terlambat. (HP: -5, MP: -30)

Klik di sini untuk melanjutkan.

MEMBUAT SUARA-SUARA MENCURIGAKAN

"Tunggu dulu." Mendadak si Kakek menyetopmu. "Tidak baik bagimu untuk pergi dengan perut kosong. Sebaiknya kamu membawa makanan yang bisa dimakan sambil jalan."

Si kakek membuka pintu sebuah lemari, sementara kamu menatap dengan sorot mata berbinar-binar. Oke, tidak mungkin si Kakek memberimu semacam burger atau pizza, tapi pastinya tidak akan mengecewakan...

"Ini," kata si kakek sambil memberimu sebutir anggur. "Makanlah sambil jalan. Bagus karena mengandung air, jadi kamu nggak akan haus juga."

Yah, cuma sebutir anggur. Kamu merasa sedikit kecewa. Tapi tak apalah. Benar kata si kakek, saat kamu mulai mengunyah anggur yang ternyata cukup manis itu, kamu tidak saja merasa lebih kenyang, tetapi juga rasa hausmu berkurang. (HP: +5)

Klik di sini untuk melanjutkan.

DI DALAM RUMAH

Kamu memasuki rumah Pak Kades. Rumah itu tampak kosong. Kesunyian yang melingkupi rumah itu nyaris tak tertahankan, membuat tubuhmu sedikit gemetar. Oke, kamu sudah sampai di sini. Memangnya kamu sudi mundur?

Seraya berjingkat-jingkat, kamu menyeberangi koridor kayu yang, celakanya, terus berderik setiap kali diinjak olehmu. Untunglah si Ibu Kades aka Kirsten tidak nongol-nongol, tapi itu tidak berarti dia sudah mati atau apalah. Bisa saja dia sedang ke toilet.

Semakin mendekati kamar yang dulunya kamu tempati itu, nyalimu semakin menciut. Jelas, kalau boleh, kamu berharap tidak perlu menemui si sosok merangkak lagi. Akan tetapi kamu tidak punya pilihan lain lagi. Bukan saja kamu harus menemuinya, kamu juga harus memusnahkannya. Kalau tidak, kamu tidak akan pernah terlepas dari orang-orang kampung ini selamanya. Lebih baik takut sehari daripada terkutuk selamanya, bukan?

Terkutuk. Ya, itulah sebutan yang cocok untuk kampung ini, untuk para penduduknya. Mereka adalah orang-orang yang terkutuk, dan kamu tidak ingin bergabung dengan mereka. Jadi, kamu harus maju terus.

Akhirnya kamu berhenti di depan pintu kamar. Tanganmu siap memutar pintu hendel, akan tetapi rasa takut membuatmu sempat lumpuh sejenak. Kamu memejamkan mata, berdoa berkali-kali, lalu mengeluarkan dua buah benda dari ranselmu. Yang pertama adalah sebuah cermin. Cermin yang kali ini berbeda dengan cermin pertama, karena cermin kali ini adalah cermin meja yang punya penahan di belakangnya, sehingga kamu bisa menggunakannya dengan gaya memegang perisai. Sedangkan benda yang satu lagi adalah benda yang kamu terima dari si kakek tua. Lalu, tanpa berpikir lagi, kamu pun menerjang masuk ke dalam kamar itu.

Jika pada Episode 6 kamu memilih:

1. Sekotak korek api, klik di sini.
2. Sekaleng minyak, klik di sini.
3. Tiga butir telur, klik di sini.

GUNTING KEBUN

Dengan canggung kamu memegangi gunting kebunmu dengan dua tangan dan menyorongkannya ke depan. Saat mereka mendekat, kamu langsung menjepit dengan hentakan cepat. Melelahkan, tapi kamu tidak bisa berhenti. Kalau gagal, bisa-bisa kamu jadi makanan berikutnya. Tulang yang mereka pegang bisa jadi adalah tulangmu. Oh mannn, itu pemikiran yang menakutkan banget!

Kamu berhasil menjatuhkan tulang orang pertama, namun sebelum kamu sempat bertindak lagi, orang kedua menyerangmu. Tulangnya menyodok pipimu keras-keras hingga kamu tergigit pipi sendiri. Ludahmu bercampur dengan darah, terasa menjijikkan hingga membuatmu terpaksa harus meludah.

Namun itu tidak cukup. Kamu mual banget, dan matamu berair menahan dorongan makanan yang hendak keluar dari lambung. Saat itulah, orang-orang itu menyerbu ke arahmu lagi. Kamu menyerang membabi-buta, berharap supaya seranganmu mengenai sesuatu.

Ketika pandanganmu pulih kembali, kamu shock melihat dua dari ketiga orang itu terkapar dengan tubuh berlubang-lubang. Salah satunya kabur dengan terbirit-birit. Aih, seandainya kamu tidak mual tadi, kamu tidak akan tega melukai mereka separah itu. Namun kini semuanya sudah terlambat. (HP: -10, MP: -20)

Klik di sini untuk melanjutkan.

TIGA BUTIR TELUR

Begitu kamu masuk, kamu sudah siap dengan satu tangan memegang cermin, sementara tangan yang satu lagi memegangi telur pertama yang siap kamu lemparkan. Dari cermin yang kamu arahkan ke sekeliling kamar, kamu tahu sosok merangkak itu sedang hinggap di tepi ranjang, siap menerkammu. Sebagian tubuh si sosok merangkak terlihat hangus, namun yang lebih mengerikan adalah geraman penuh dendam yang didenguskan si sosok merangkak dari tenggorokannya. Kamu tak ragu, kalau sampai kamu tertangkap olehnya, kamu pasti bakalan langsung diantar secara pribadi ke neraka.

Kamu melemparkan telur itu ke arah si sosok merangkak. Yes! Kena! Si sosok merangkak bereaksi seolah-olah dilempar duren saja. Raungannya yang terendam terdengar mengerikan. Dia berusaha menyerangmu, akan tetapi kamu sudah merogoh saku dan mengeluarkan telur berikutnya. Kamu melempar lagi dan... voila! Kena lagi!

Si sosok merangkak meraih ke arahmu, dan kamu terperanjat melihat tangannya yang rupanya bisa memanjang. Kamu meloncat mundur dan membentur tembok. Sialan, sakit bener! Semoga kamu tidak jadi gegar otak karenanya! Kamu membelalak saat si sosok merangkak meloncat ke arahmu. Kamu merogoh kantongmu dan mengeluarkan telur terakhir, lalu melemparkannya tepat mengenai muka si sosok merangkak.

Mendadak saja, si sosok merangkak lenyap seolah-olah ditelan udara.

Apa ini berarti tugasmu sudah berhasil? (HP: -5, MP: -35)

Klik di sini untuk melanjutkan.

MENGINTIP MELALUI JENDELA

"Tunggu dulu." Mendadak si Kakek menyetopmu. "Tidak baik bagimu untuk pergi dengan perut kosong. Sebaiknya kamu membawa makanan yang bisa dimakan sambil jalan."

Si kakek membuka pintu sebuah lemari, sementara kamu menatap dengan sorot mata berbinar-binar. Oke, tidak mungkin si Kakek memberimu semacam burger atau pizza, tapi pastinya tidak akan mengecewakan...

"Ini," kata si kakek sambil memberimu sebutir jeruk. "Makanlah sambil jalan. Bagus karena mengandung air, jadi kamu nggak akan haus juga."

Yah, cuma sebutir jeruk, kecil pula. Kamu merasa sedikit kecewa. Tapi tak apalah. Benar kata si kakek, saat kamu mulai memakan jeruk yang ternyata cukup manis itu, kamu tidak saja merasa lebih kenyang, tetapi juga rasa hausmu berkurang. (HP: +10)

Klik di sini untuk melanjutkan.

SABIT

Kamu menyorongkan sabitmu ke samping dengan gaya siap menyerang. Meski begitu, di dalam hati kamu merasa ragu-ragu. Oke, orang-orang ini mungkin bukan manusia hidup yang normal lagi, tapi apa itu berarti kamu berhak mencabut nyawa mereka dengan darah dingin?

Gara-gara keragu-raguanmu, kamu jadi lengah. Para lawanmu yang merasa mendapat kesempatan langsung memukulimu dengan tulang-tulang keras itu. Gila, rasanya seperti dipukuli tongkat bisbol! Sesaat kamu kewalahan dan berusaha menangkis, akan tetapi kamu tetap mendapat pukulan bertubi-tubi.

Okay, that's it! Kamu tidak tahan lagi. Kamu mengayunkan sabitmu dengan ganas, dan para lawanmu langsung meloncat ke belakang. Sabetanmu berhasil mengenai tangan dua dari mereka. Yes!

Namun bukannya menghadapimu dengan jantan, para lawanmu malah langsung terbirit-birit. Sialan! Akan tetapi, di dalam hati kamu rada lega. Setidaknya, kamu tidak perlu menghadapi dilema apakah kamu harus membunuh mereka atau tidak. (HP: -15, MP: -15)

Klik di sini untuk melanjutkan.

PELARIAN

Seperti kata si kakek, pondok itu menutupi dirimu dari pandangan orang-orang kampung yang menyerbu dari arah yang berlawanan. Kamu bergidik lantaran bisa mendengar bunyi langkah yang begitu banyak, akan tetapi tak ada suara yang terdengar. Setidaknya zombie-zombie dalam game Plants vs Zombies masih bisa teriak-teriak, "Brainnnnn!" Yang beginian, benar-benar misterius dan membuatmu merinding.

Sebenarnya kamu tidak begitu tahu jalan kembali ke kampung yang tidak menyenangkan itu. Yang kamu lakukan hanyalah berlari seraya ngumpet dari satu pohon ke pohon lain dengan gaya cupu. Bahkan ada waktu-waktu di mana kamu merangkak-rangkak di atas tanah lantaran tidak ada pohon untuk dijadikan tempat ngumpet. Tapi, tahu-tahu saja kamu sudah tiba di belakang rumah Pak Kades lagi. Yep, si Pak Kades yang gosipnya bernama Robert. Ya ampun, sekarang kamu tak bakalan bisa memandang atau bahkan memikirkan si Pak Kades--maupun istrinya--tanpa teringat nama-nama mereka yang keren.

Kampung itu tampak sepi. Tentu saja, kan para penghuninya sedang mencarimu di pondok si kakek. Kamu menggedor pintu belakang, namun pintu itu digembok. Dengan pede kamu berlari ke pintu depan.

Sialnya, ada yang sedang menjaga di sana--dan bukan hanya satu.

Ada tiga orang yang sedang nongkrong di depan rumah Pak Kades, dan ketiganya sedang menggerogoti sesuatu yang mirip... tulang manusia? Oh, mannn. Benar-benar mengerikan. Mana saat melihatmu mendekat, mereka langsung memegangi tulang mereka bak senjata. Muka mereka yang tanpa ekspresi terlihat sangat menyeramkan. Seolah-olah mereka bukanlah manusia.

Dipikir-pikir lagi, mereka memang bukan manusia lagi.

Jika pada Episode 4 kamu memilih:

1. Sekop, klik di sini.
2. Kapak, klik di sini.
3. Sabit, klik di sini.
4. Garpu tanah, klik di sini.
5. Gunting kebun, klik di sini.

KAPAK

Kamu mengangkat kapakmu ke atas kepala dengan gaya siap menyerang. Meski begitu, di dalam hati kamu merasa ragu-ragu. Oke, orang-orang ini mungkin bukan manusia hidup yang normal lagi, tapi apa itu berarti kamu berhak mencabut nyawa mereka dengan darah dingin?

Gara-gara keragu-raguanmu, kamu jadi lengah. Para lawanmu yang merasa mendapat kesempatan langsung memukulimu dengan tulang-tulang keras itu. Gila, rasanya seperti dipukuli tongkat bisbol! Sesaat kamu kewalahan dan berusaha menangkis, akan tetapi kamu tetap mendapat pukulan bertubi-tubi. Lebih gawat lagi, salah satu pukulan mengenai mukamu. Brengsek! Darah jadi bercucuran dari hidungmu, semua gara-gara kamu terlalu baik!

Okay, that's it! Kamu tidak tahan lagi. Kamu mengayunkan kapakmu dengan ganas, dan para lawanmu langsung meloncat ke belakang. Sabetanmu berhasil mengenai tangan dua dari mereka. Yes!

Namun bukannya menghadapimu dengan jantan, para lawanmu malah langsung terbirit-birit. Sialan! Akan tetapi, di dalam hati kamu rada lega. Setidaknya, kamu tidak perlu menghadapi dilema apakah kamu harus membunuh mereka atau tidak. (HP: -20, MP: -10)

Klik di sini untuk melanjutkan.

SEKOTAK KOREK API

Begitu kamu masuk, kamu sudah siap dengan satu tangan memegang cermin dan kotak korek api, sementara tangan yang satu lagi menyalakan korek. Dari cermin yang kamu arahkan ke sekeliling kamar, kamu tahu sosok merangkak itu sedang hinggap di tepi ranjang, siap menerkammu. Sebagian tubuh si sosok merangkak terlihat hangus, namun yang lebih mengerikan adalah geraman penuh dendam yang didenguskan si sosok merangkak dari tenggorokannya. Kamu tak ragu, kalau sampai kamu tertangkap olehnya, kamu pasti bakalan langsung diantar secara pribadi ke neraka.

Kamu melemparkan korek yang sudah menyala ke arah si sosok merangkak. Namun sialnya, korek itu padam di tengah jalan. Kamu langsung menyalakan sebatang korek lagi, namun korek-korek itu tidak selalu berhasil menyala pada upaya pertama. Kamu merasakan si sosok merangkak mengangkat tangannya yang mendadak memanjang, lalu mencakarmu.

Gila, sakit bener!

Kamu terpaksa lari-lari keliling ranjang sambil terus menyalakan korek dan melemparkannya pada si sosok merangkak. Makin lama, kamu makin jago saja. Hampir sekitar lima atau enam korek mengenainya secara beruntun. Akan tetapi, kamu tidak tahu apakah kamu berhasil melukainya atau tidak. Sebagai balasannya, kamu masih juga kena cakar dua kali. Setiap bekas cakaran mengeluarkan darah bercampur nanah, tapi peduli amat. Kamu terlalu sibuk menyelamatkan nyawa.

Lalu, mendadak saja, si sosok merangkak memudar, lalu lenyap.

Apa ini berarti tugasmu sudah berhasil? (HP: -15, MP: -15)

Klik di sini untuk melanjutkan.

MENGETUK DENGAN SOPAN

"Tunggu dulu." Mendadak si Kakek menyetopmu. "Tidak baik bagimu untuk pergi dengan perut kosong. Sebaiknya kamu membawa makanan yang bisa dimakan sambil jalan."

Si kakek membuka pintu sebuah lemari, sementara kamu menatap dengan sorot mata berbinar-binar. Oke, tidak mungkin si Kakek memberimu semacam burger atau pizza, tapi pastinya tidak akan mengecewakan...

"Ini," kata si kakek sambil memberimu satu paha ayam bakar dan sebotol air minum. "Tadi kamu sudah bersikap sopan sekali, jadi saya tidak akan pelit-pelit juga sama kamu. Makan dan minumlah sambil jalan."

Ayam itu terasa lezat dan memberimu tambahan tenaga yang lumayan. Ditambah dengan air minum yang cukup banyak, kamu merasa segar banget. Sepertinya, hari ini semuanya akan berjalan lebih lancar dari yang kamu duga. (HP: +20)

Klik di sini untuk melanjutkan.

SEKOP

Kamu menyorongkan sekopmu ke depan. Saat mereka mendekat, kamu langsung menyodok--tidak ke arah orang-orang itu, melainkan ke arah tulang yang mereka pegang. Dua darinya berhasil kamu jatuhkan dengan mudah, tetapi yang ketiga malah mental ke atas, lalu jatuh tepat di atas kepalamu.

Saat pandanganmu sedang gelap-gelapnya lantaran kepalamu dihantam tulang, ketiga orang itu menyerbu ke arahmu. Kamu menyerang membabi-buta, berharap supaya seranganmu mengenai sesuatu. Salah satunya berhasil mendekatimu, akan tetapi kamu hantam mukanya menggunakan gagang garpu tanah.

Ketika pandanganmu pulih kembali, kamu shock melihat ketiga orang itu terkapar dengan tubuh penuh darah dan luka goresan. Seandainya pandanganmu tidak menggelap tadi, kamu tidak akan tega melukai mereka separah itu. Namun kini semuanya sudah terlambat. (HP: -5, MP: -30)

Klik di sini untuk melanjutkan.

SELANJUTNYA

Oke, tidak peduli misimu sudah tercapai atau belum, tidak ada lagi yang bisa kamu lakukan di sini. Kamu pun keluar dari kamar itu, siap untuk keluar dari rumah Pak Kades. Tapi lalu mendadak kamu sadari, di luar tidak hening lagi. Kamu mengintip melalui jendela, dan melihat orang-orang kampung sudah kembali. Akan tetapi, kali ini mereka tidak berjalan.

Mereka merangkak.

"Kamu sudah mencuri kaki kami."

Kamu terperanjat dan serta-merta membalikkan tubuh dengan sikap siaga. Di depanmu, Ibu Kades sedang merangkak pula, menatapmu seraya mendongakkan kepalanya.

"Makhluk di atas itu meminjamkan kakinya untuk kami, supaya kami bisa berjalan saat kami keluar dari kuburan," kata si Ibu Kades tanpa menggerakkan mulutnya. "Tanpa dia, kami hanya bisa merangkak-rangkak. Kami semua, dari anak-anak hingga orang-orang yang sudah tua. Kamu mencuri dari kami!"

"Kalian makanin teman-temanku!" balasmu tidak mau kalah. "Itu lebih keji lagi!"

"Kami butuh mereka untuk hidup, dan seharusnya kamu juga. Seharusnya kamu tidak bisa mengelak dari takdirmu, seperti yang sudah kami alami. Ini tidak adil, tidak adil, tidak adil!"

Si Ibu Kades mengejarmu dengan gerakan mirip kelinci ganas yang siap memangsa wortel berjalan. Kamu pun lari terbirit-birit mengitari rumah itu. Kamu menyadari, tidak mungkin kamu bisa selamat kalau kamu keluar dari rumah itu begitu saja. Habis, di depan sana ada banyak orang yang sedang merangkak-rangkak dan tidak kalah dengan si Ibu Kades dalam soal dendam padamu. Jadi kamu hanya bisa berlindung di dalam rumah ini.

Dengan catatan, seharusnya kamu bisa menyingkirkan si Ibu Kades sebelum dia memangsamu.

Pandanganmu tertuju pada kamar pasangan Kades itu. Pintunya terbuka! Tanpa berpikir panjang lagi, kamu pun menghambur masuk ke dalam kamar itu dan mengunci pintu. Sementara si Ibu Kades menggedor-gedor dari luar, kamu memandangi sekeliling kamar itu.

Kamar itu tidak ada bedanya dengan kamar-kamar lain di dalam rumah ini. Perabotannya sederhana, tanpa peralatan elektronik, dan tidak ada cermin di sana. Sebuah lampu minyak diletakkan di atas meja, menerangi benda-benda yang terlihat aneh banget di tempat ini: sebuah ponsel, sebuah radio HT, dan sebuah tablet, semuanya dengan kondisi batere penuh. Ini benar-benar hebat, soalnya ponsel dan tabletmu sudah mati sejak kamu berada di dalam bis.

INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:

Hai para peserta MysteryGame@Area47!

Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan "Holiday in Hell episode 7" diikuti nama, "HP=" diikuti jumlah HP diikuti "MP=" diikuti jumlah MP, serta jawaban atas pertanyaan ini:

BENDA APA YANG KAMU AMBIL? (Pilih antara: ponsel, radio HT, tablet. Tidak perlu sebutkan alasannya.)

Kalex tunggu jawabannya sampai enam hari lagi ^^

Good luck, everybody!

xoxo,
Lexie

1 comment:

donny marcius said...

Kalex tulisan HP sama MP-nya di subject atau langsung di-isi?