Sunday, August 6, 2017

MysteryGame@Area47 4: The Murderer's House™ Episode 6

Sialan. Siapa sih tadi yang bernyanyi dan sempat-sempat menyapamu segala? Benar-benar mengerikan! Mungkin hanya anak kecil—atau cewek yang masih abege. Tapi kenapa kata-katanya begitu mengerikan? Mana dia satu-satunya orang yang kelihatan di sekitar sini. Kemungkinan besar, dia tahu soal kepala-kepala itu.

Kemungkinan besar, dia membantu Bebet memutilasi kepala-kepala itu dan menyimpannya di atas sini.

Gawat. Meski itu hanya seorang anak kecil, tetap saja itu anak kecil yang psycho—jelas dia bukan tawanan, karena dia tidak jejeritan minta tolong saat tahu kamu ada di atas plafon—dan saat ini kamu tidak punya nyali untuk menghadapinya. Berhubung anak itu sudah tahu kamu berada di atas plafon, kamu memutuskan untuk keluar dari bagian atas plafon ini secepatnya. Pertanyaannya, ke mana kamu harus pergi? Masa kamu harus turun ke ruangan tempat kamu naik tadi?

Tunggu dulu. Sebenarnya dari tadi ada satu hal yang bikin kamu terheran-heran.

Kenapa Bebet belum menyusulmu naik ke lantai atas?

Oke. Bukan waktunya main tebak-tebakan soal kelakuan Bebet yang memang bukan manusia normal biasa. Kamu kan bukan psycho, jadi mana mungkin kamu bisa mengikuti jalan pikiran Bebet? Yang penting kamu kumpulkan semua fakta dan bergerak sesuai semua fakta itu.

Kamu menemukan sebuah tingkap plafon lagi di ujung ruangan, dekat dengan keranjang-keranjang kepala itu. Sebenarnya, kalau bisa, kamu tidak ingin berada di dekat-dekat sini. Apa boleh buat, kamu ingin mencari tempat yang terjauh dari ruangan yang ditempati si anak kecil creepy, dan tingkap inilah yang kamu temukan. Kamu mengintip ke bawah tingkap, dan dengan girang menemukan ruangan itu adalah ruang makan. Ini berarti:
1. Kamu bisa makan.
2. Kamu bisa minum.
3. Kamu bisa mencari senjata lagi.

Setelah yakin tidak ada orang di dalam ruangan itu, kamu pun segera turun. Sama sekali tidak sulit karena ada meja di tengah-tengah ruangan, akan tetapi karena langit-langitnya cukup tinggi, kamu harus meloncat turun. Sebagai akibatnya, kamu terpeleset dan jatuh terbanting ke bawah meja. Untung saja lehermu tidak patah. Malu-maluin banget kalau berhasil lolos hidup-hidup dari kejaran Bebet tapi malah mati karena jatuh kepeleset!

Kamu bangun dengan tertatih-tatih. Sialan, kakimu keseleo! Tapi kamu tidak boleh membuang-buang waktu. Sambil bergerak secepat mungkin, kamu mengunci pintu ruangan. Nah, sekarang baru aman!

Kamu mengecek kakimu. Untunglah bengkaknya tidak parah. Kamu masih bisa berjalan atau bahkan berlari pelan. Tapi yang jelas, kakimu tidak bisa digunakan untuk lari-lari dari kejaran anjing neraka maupun Bebet. Kamu harus memikirkan cara untuk menghalangi Bebet untuk mengejarmu. Membuat perangkap baginya, mungkin?

Ruang makan ini, tanpa diduga, cukup bersih. Yang jelas jauh lebih bersih ketimbang ruang belajar tempat kamu berasal tadi, maupun ruangan-ruangan lain di lantai bawah. Bahkan ada sebuah kulkas meski ukurannya agak kecil. Berhubung kamu sudah lapar dan haus banget, kamu segera mengecek isinya.

Wow, isinya rapi banget! Ada kotak-kotak berisi daging segar, dipisahkan menurut jenisnya… Tunggu dulu. Binatang apa yang punya jantung begini besar? Bukan cuma jantung, tapi juga hati, ginjal, dan…

MAMAAA!!! KENAPA ADA TANGAN MANUSIA DI SINI???

Kaki kamu langsung lemas. Kotak-kotak berisi daging segar ini… kamu yakin semuanya adalah milik manusia. Manusia yang kepalanya berakhir di atas plafon, bagian-bagian tubuhnya berakhir di kulkas ini. Meski tidak ada yang memberitahu kamu, kamu tahu betul kenapa bagian-bagian tubuh itu disimpan.

Bebet memakan semua bagian tubuh itu.

Gila! Ini semua benar-benar gila! Kamu tidak pernah menyangka bakalan ketemu rahasia yang begini mengerikan. Kamu berharap semua ini hanyalah mimpi buruk, akan tetapi sayangnya semua ini adalah kenyataan. Kenyataan yang lebih buruk daripada mimpimu yang terburuk.

Kamu bersumpah, andai kamu keluar hidup-hidup dari sini, kamu bakalan menemani si Emak memuja si anak tetangga. Kamu tidak bakalan mau bersaing dengannya lagi. Biarlah si anak tetangga mendapatkan semua kehormatan dan popularitas, kamu sih hanya ingin hidup damai dan bekerja di perusahaan multinasional serta menikmati gaji delapan digit-mu. Pokoknya menjadi manusia normal dengan rutinitas boring adalah yang terbaik.

Benar kata orang. Pengalaman adalah guru terbaik. Jika selama ini kamu sering mendengar “jangan cari-cari masalah” dan menganggapnya semacam bullshit, kini kamu baru tahu bahwa kata-kata itu adalah nasehat terbaik yang bisa didapatkan seseorang.

Mendadak saja kamu sudah tidak lapar maupun haus lagi. Dengan tangan gemetar kamu memeriksa isi kulkas tersebut. Kamu menemukan bahwa kulkas ini adalah tempat penyimpanan anggota tubuh manusia yang paling lengkap. Tentu saja, dengan mengecualikan kepala dan semua anggota badan yang ada di dalamnya, termasuk otak. Bagian-bagian itu sih ada di atas plafon—dan di dalam ranselmu.

Yang tidak kalah ngeri, ada banyak sekali botol plastik berisi cairan merah. Tanpa perlu kamu periksa lagi, kamu yakin banget cairan merah itu adalah darah.

Kesimpulan yang kamu dapat, Bebet pemakan daging manusia dan peminum darah. Kamu tidak tahu dia mengkonsumsi daging-daging itu setelah dimasak ataukah mentah-mentah, tapi itu tidak membuat perbedaan… Oke, kalau dia makan mentah-mentah, itu lebih mengerikan sih. Tapi kalaupun dimasak seperti dalam serial televisi Hannibal, tetap saja disgusting dan creepy banget.

Tidak ada gunanya kamu mencari makanan dan minuman lagi, jadi kamu memutuskan untuk mencari persenjataan. Lumayan ada cukup banyak peralatan makan. Sendok rasa-rasanya tidak bakalan banyak gunanya, jadi kamu mengisi saku dalam jaketmu dengan garpu dan pisau sebanyak yang bisa kamu bawa.

Setelah merasa cukup kuat, meski tidak lapar, kamu mulai merasa haus lagi. Kamu mencari-cari minuman, dan menemukan sebotol besar air mineral. Kamu tidak berani minum banyak-banyak karena takut kebelet. Tidak lucu kan, kalau di tengah adegan kejar-mengejar, mendadak kamu kepingin ke toilet? Jadi kamu menenggak sedikit saja air minum, cukup untuk menghilangkan rasa haus, lalu mengecek ruangan itu.

Kali ini, kamu merasa beruntung karena menemukan jendela. Kamu berusaha melihat ke luar, akan tetapi kegelapan menyambut matamu. Seingatmu, di depan rumah ada lampu jalanan yang berkedap-kedip. Meski letaknya agak jauh, seharusnya lampu itu sedikit menerangi jalan. Jika kamu tidak bisa melihat jalanan sama sekali, ini berarti kamar ini menghadap ke belakang rumah.

Kamu berusaha mengingat-ingat bagian belakang rumah. Kamu sempat melihat sekilas saat kamu berusaha menjebol masuk ke dalam rumah ini. Seingatmu, yang ada di sana hanyalah semak belukar dan pepohonan. Semua itu tidak membuat takut dirimu. Yang lebih bikin keder adalah kenyataan bahwa bagian belakang rumah itu dekat dengan pintu belakang. Jika Bebet saat ini masih ada di lantai bawah, dalam sekejap dia bisa mencapai ke pintu belakang dan menemukanmu. Tidak lucu kalau kamu bersusah-payah turun ke bawah seraya menyabung nyawa hanya demi ditangkap oleh Bebet.

Jadi saat ini ada tiga pilihan bagimu. Keluar melalui pintu dan turun ke bawah, naik ke atas plafon lagi dan mencari jalan melalui ruangan lain, atau turun melalui jendela. Jika kamar ini menghadap ke belakang rumah, kamu yakin ruangan yang ditempati anak kecil atau siapalah itu menghadap ke pintu depan. Meski melalui pintu depan sama seramnya dengan pintu belakang, setidaknya pintu depan dekat dengan sepedamu. Kalau kamu berhasil mencapai sepedamu, kamu yakin kamu bisa kabur dari tempat ini.

Masalahnya, apakah kamu berani menghadapi anak kecil di kamar itu? Anak itu terdengar sangat mengerikan, dengan nyanyiannya yang terdengar seperti pemangsa dan kata-katanya yang seolah-olah justru ingin bertemu padamu. Kamu tidak tahu siapa dia, tapi siapa pun yang tinggal dengan Bebet pasti bukan orang baik. Bisa jadi dia juga pemakan daging manusia seperti Bebet. Hiii. Kalau bisa, seumur hidup kamu tidak ingin bertemu dengan anak itu.

Tapi kalau dibandingkan dengan ketemu Bebet, tentu saja kamu lebih memilih bertemu anak itu.

Mendadak kamu mendengar bunyi-bunyian aneh. Dari mana bunyi-bunyian itu berasal…

Oh, crap. Bunyi-bunyian itu berasal dari atas plafon! Bagaimana ini?

Kamu tidak sanggup bergerak. Selama beberapa saat, kamu hanya bisa mendongak dan memandangi langit-langit saja dengan perasaan tegang yang membuatmu nyaris gila. Kamu bisa melihat lubang gelap yang tadi kamu tinggalkan tanpa sempat menutupnya kembali. Perlahan-lahan kamu melihat warna hitam yang berbeda dengan kegelapan lubang itu, lalu kening seseorang, lalu sepasang mata, lalu…

Kamu nyaris menjerit saat sosok itu tiba-tiba jatuh dari atas plafon. Namun alih-alih terguling seperti kamu tadi, sosok itu jatuh ke atas meja dengan gaya yang lebih menyerupai Naruto yang baru saja selesai bersalto-ria.

Sosok itu ternyata seorang anak perempuan yang berusia sekitar tiga belas atau empat belas tahun. Bukan anak kecil lagi, tapi juga masih terlalu muda untuk disebut remaja. Anak itu menatapmu dengan tampang polos yang membuatmu menyesal karena sudah ketakutan.

“Kakak, kenapa tadi nggak main ke kamarku?” tanyanya sambil meloncat turun dari atas meja dengan ringan. Dia mengenakan daster Hello Kitty yang manis.

Alih-alih menjawabnya, kamu balas bertanya, “Kamu siapa?”

“Aku Tata.”

Tata? Kenapa nama itu terdengar familier? Anak yang pernah diberitakan hilang? Tunggu dulu…

“Roberta?” tanyamu tak percaya.

“Iya, tapi semua orang manggil aku Tata.”

Astaga! Ini kan adik Bebet yang disangka mati oleh semua orang! Ternyata dia masih hidup! “Orangtuamu di mana?”

“Orangtuaku? Udah meninggal.”

Kamu memperhatikan, anak itu tidak tampak sedih. Yah, mungkin dia sudah move on, soalnya kejadian itu sudah lama berlalu, sekitar tujuh atau delapan tahun lalu.

“Kenapa bisa meninggal?”

“Kecelakaan.”

“Kok nggak ada yang tau?”

“Bang Bebet nggak mau ada yang tau. Waktu itu mereka mau… membawaku ke rumah sakit. Aku nolak dan melawan. Bebet mendorong mereka untuk memisahkan kami, tapi lalu mereka jatuh dari tangga.”

“Lalu mati?” tanyamu ngeri.

“Nggak. Cuma patah kaki aja. Tapi aku nggak mau dibawa ke rumah sakit. Jadi aku bunuh mereka.”

Holy crap! Jadi anak ini yang…

“Lalu mereka dikubur di mana?” Kamu bertanya, padahal kamu sudah tahu jawabannya.

“Nggak dikubur. Aku potong kepalanya untuk kenang-kenangan. Badannya buat dimakan…”

“Kenapa???” jeritmu. “Kamu tega makan orangtuamu sendiri???”

“Habis di rumah udah nggak ada makanan, dan aku lapar. Lagian, ini berarti mereka akan tetap hidup selamanya di dalam diriku. Penyelesaian yang baik kan?”

Gila! Ini benar-benar gila! Jadi selama ini semua orang salah sudah menuduh Bebet membunuhi orang-orang. Sebenarnya pembunuhnya adalah anak perempuan ini!

“Makanya,” anak perempuan itu melanjutkan, “Bang Bebet nggak mau orang-orang tau kematian orangtua kami. Kalau mereka tau, kami berdua pasti ditangkap polisi. Penjara lebih buruk lagi daripada rumah sakit jiwa. Aku nggak mau tinggal di sana, Bang Bebet juga nggak mau!”

Oke, kalau begini ceritanya, Bebet bukannya tidak bersalah juga. Karena sayang pada adiknya, dia menutupi semua perbuatan jahatnya itu. Bisa jadi dia juga membantu kejahatan adiknya itu. Tidak mungkin anak kecil bisa memutilasi orang dewasa. Itu kan bukan pekerjaan mudah!

“Turis-turis itu,” ucapmu. “Kamu yang bunuh juga?”

“Iya. Kalo Bang Bebet pergi kerja, aku bisa jalan-jalan dan mencari makan untuk kami berdua.” Benar dugaanmu. Kakak-beradik ini menjadi kanibal bersama. “Gaji Bang Bebet kecil, soalnya. Nggak ada yang curiga sama anak perempuan, jadi semuanya gampang saja. Aku tinggal memancing mereka ke rumah ini, lalu menjebak mereka ke dalam ruang bawah tanah. Aku berpura-pura tinggal dengan mereka di ruang bawah tanah, sampai mereka lemah dan tidak berdaya, lalu kubunuh. Setelah itu Bang Bebet yang beresin sisanya.”

Mendadak kamu merasa ngeri. Bebet tidak ikut naik ke atas, itu karena tugasnya bukanlah mengejar mangsa. Yang mengejar mangsa dan membunuh mangsa itu adalah anak kecil ini. Mumpung anak ini mengira kamu masih belum tahu bahwa kamu diincar, kamu harus melarikan diri secepatnya!


INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:

Hai para peserta MysteryGame@Area47! 

Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan nama + nama FB/Twitter/Instagram + "The Murderer’s House episode 4" diikuti nama, "HP=" diikuti jumlah HP diikuti "BP=" diikuti jumlah BP, plus jawaban atas pertanyaan ini: 

KE MANAKAH KAMU AKAN MELARIKAN DIRI? (Pilih antara: jendela, pintu, plafon.)

Kalex tunggu jawabannya sampai dua minggu lagi. Berhubung dua minggu lagi adalah episode battle, jangan sampai telat mengirim jawaban ya!

Good luck, everybody! 

xoxo,
Lexie

Sunday, July 23, 2017

MysteryGame@Area47 4: The Murderer's House™ Episode 5

Dengan bodi berdarah-darah, kamu kabur tunggang-langgang ke lantai atas. Lantai kayu serasa begitu rapuh di bawah kakimu. Bunyinya berderak-derik keras saat kamu injak. Jantungmu nyaris copot saat salah satu anak tangga patah saat kamu injak. Gila, memangnya kamu seberat apa?! Bebet yang bodinya segede gajah bisa naik ke sini, masa kamu sampai kejeblos di tangga begitu?

Tunggu dulu. Siapa bilang Bebet bisa naik ke sini? Siapa tahu, dia sudah bertahun-tahun tidak pernah naik ke atas!

Tapi saat ini kamu tidak sempat berpikir panjang-lebar. Yang kamu pikirkan adalah, dengan semua keributan ini, Bebet pasti tahu kamu sedang lari-lari ke lantai atas. Kamu harus buru-buru menemukan jendela dan meloloskan diri dari rumah yang mengerikan ini.

Akan tetapi, begitu kamu tiba di lantai atas, yang kamu lihat adalah koridor gelap tanpa jendela. Jadi kamu melakukan semua yang kamu bisa. Kamu menjangkau satu per satu hendel pintu dan membukanya. Pintu pertama terkunci, akan tetapi kamu berhasil membuka pintu kedua, dan kamu langsung menerjang masuk.

Ruangan itu gelap dan, seperti ruangan-ruangan lain di rumah ini, terasa pengap. Meski dalam kegelapan, kamu bisa merasakan ruangan itu kotor penuh debu. Hidungmu mulai gatal-gatal, tapi kamu berusaha menahan bersin. Kamu memasang selot pintu, lalu memandangi kamar itu. Sial, dalam kegelapan ini kamu menyadari, ruangan itu tidak memiliki jendela! Jadi buat apa kamu capek-capek masuk ke sini?

Dengan tangan gemetar kamu menyalakan ponsel untuk menerangi ruangan itu. Ruangan itu ternyata berukuran kecil dan hanya berisi sebuah lemari, meja, serta sebuah kursi. Sepertinya semacam ruang belajar. Ruangan itu tampak menyedihkan. Setiap anak yang harus belajar di ruangan yang begini tertutup pasti depresi. Kamu tidak bisa membayangkan siapa yang dulu menggunakan ruangan ini.

Kamu memandangi ponselmu dan menyadari sebuah masalah gawat darurat lain: batere ponselmu sekarat. Aneh sekali, padahal tadinya kamu sudah charge hingga baterenya full. Kini kamu bahkan tidak yakin bisa menelepon keluar. Kamu takut hapemu keburu mati sebelum kamu sempat menjerit-jerit minta tolong.

Ternyata pengalaman dikejar-kejar penjahat itu sama sekali tidak enak. Kenapa selama ini kamu malah iri pada anak tetangga? Seharusnya kamu lega dulu kamu selalu hidup dalam kedamaian. Kini kamu mencari-cari masalah sendiri, dan nyawamu terancam bahaya. Kamu bahkan tidak yakin bisa kembali ke rumah orangtuamu hidup-hidup.

Kalau kamu berhasil pulang ke rumah hidup-hidup, kamu berjanji untuk selamanya tidak merasa kesal di saat harus mendengarkan ocehan ibumu soal kehebatan anak tetangga lagi.

Kamu memutuskan untuk tidak berdiam diri saja. Jika Bebet tiba di lantai atas, dia pasti bisa menerjang pintu yang terlihat bobrok ini dan mencincang dirimu hidup-hidup. Jadi kamu pun naik ke atas meja, lalu mulai menekan-nekan langit-langit. Secara ajaib, kamu menemukan satu petak tingkap plafon yang bisa dibuka, tapi kamu harus menggeser meja sedikit. Tidak masalah, meski dengan begitu Bebet pasti tahu kamu naik ke atas plafon. Yang ingin kamu lakukan bukanlah bersembunyi dengan tampang idiot bak korban-korban yang hendak menemui kematian di film-film thriller, melainkan mencari jalan keluar dari rumah ini.

Kamu menggeser meja, dan tindakanmu menimbulkan bunyi keras yang tidak enak didengar. Tapi kamu tidak peduli. Kamu memasang kursi di atas meja, lalu membuka tingkap dan naik ke atas plafon. Tanpa diduga, meski gelap, bagian atas plafon malah tidak terlalu kotor. Setidaknya kamu tidak menyenggol sarang laba-laba dan hidungmu tidak gatal-gatal. Kamu menarik kursi hingga ikut terangkat ke atas plafon juga. Dengan begini, jika Bebet mengejarmu ke atas, dia bakalan mengalami kesulitan.

Dalam kegelapan, kamu menduga bagian atas plafon ini digunakan untuk menyimpan mainan anak-anak atau semacamnya. Soalnya ada beberapa keranjang yang sepertinya dipenuhi bola. Aneh sekali, kenapa begini banyak bola? Kamu mendekati salah satu keranjang dengan hape menyala…

… dan menemukan bahwa keranjang-keranjang itu tidak berisi bola, melainkan kepala-kepala manusia.

Kamu ingin menjerit sejadi-jadinya, akan tetapi kengerian melumpuhkanmu sehingga kamu tidak sanggup melakukan apa pun juga. Seluruh tubuhmu gemetar hebat, dan selama beberapa saat kamu tidak bisa berpikir. Tapi lalu, setelah kamu berhasil menenangkan diri, otakmu mulai berputar lagi. Kenapa bisa ada begitu banyak kepala di sini? Maksudnya, mayat biasanya membusuk kan? Kenapa kepala-kepala ini tampak oke-oke saja? Apakah diberi formalin?

Kamu tidak bisa mencium bau kepala-kepala itu karena semuanya dibungkus pembungkus plastik yang biasanya digunakan untuk membungkus makanan, tapi kamu mulai menyadari samar-samar ada bau tidak enak di atas plafon ini. Bau yang menjijikkan, yang belakangan kamu ketahui sebagai bau formalin.

Kamu memberanikan diri dan mendekati salah satu keranjang itu lagi. Kamu tidak berani menyentuh apa-apa, tapi beberapa kepala yang sempat kamu lihat, semuanya adalah kepala bule. Rambut pirang atau cokelat, kulit putih yang pucat kelam, hidung yang agak terlalu mancung. Kasihan sekali orang-orang ini, turis-turis tak bersalah yang nyasar ke lingkungan kami, lalu tanpa dinyana menjadi korban Bebet dan kepalanya dimutilasi untuk dikoleksi. Kemungkinan besar tubuh mereka dimutilasi di ruang bawah tanah. Tubuh mereka dikubur di sana, sementara kepalanya yang sudah diawetkan dibawa ke atas sini. Mungkin untuk kenang-kenangan.

Kenapa ada orang yang begini psycho sih?

Kamu mulai mengecek bagian atas plafon itu lagi, dan kali ini kamu menyadari bahwa plafon itu jauh lebih besar daripada ruangan belajar tadi. Itu berarti bagian atas ini melingkupi seluruh rumah atau sebagian besar rumah. Sayang sekali tidak ada lubang di atas plafon itu. Kamu berusaha melepaskan genteng yang menaungi plafon, tapi masih ada bagian rangka dari kayu yang tidak bisa kamu tembus. Terpaksa kamu harus turun melewati ruangan lain.

Perlahan-lahan kamu merangkak-rangkak di atas plafon yang berlangit-langit rendah seraya memeriksa lantai, siapa tahu ada tingkap plafon yang bisa dibuka. Itu bukan perbuatan yang mudah, tapi kamu lakukan dengan sabar. Dengan lega kamu sadari Bebet tidak mengejarmu ke atas. Kemungkinan dia masih sibuk naik dari bawah ruang bawah tanah, atau dia memang tidak pernah naik ke atas sini…

Tidak mungkin. Kalau bukan dia yang naik ke sini, siapa yang menyimpan kepala-kepala itu?

Apakah dia punya partner yang membantunya melakukan semua itu?

Sebelum kamu sempat merenungkan pemikiranmu, kamu menemukan tingkap yang bisa dibuka. Perlahan-lahan kamu menggeser tingkap itu, dan menemukan bahwa ruangan di bawah agak terang. Tidak terang-terang amat, karena lampu yang menyala paling-paling lampu lima Watt. Tapi melihat lampu itu, kamu langsung menyadari bahwa di bawah sana ada orang.

Kamu berusaha mengintip-intip, tapi kamu tidak melihat siapa pun juga. Kamu sudah nyaris nekat turun ke bawah ketika kamu mendengar lagu itu.

“Cicak cicak di dinding
Diam-diam merayap
Datang seekor nyamuk
Hap! Lalu ditangkap.”


Jantungmu serasa berhenti berdetak. Suara itu suara yang lembut sekali. Bisa jadi suara anak kecil, bisa jadi suara anak perempuan yang imut. Tapi dalam kegelapan ini, dalam suasana yang begitu menegangkan, dengan kepala-kepala manusia yang diawetkan di belakangmu, suara itu terdengar begitu mengerikan. Kamu merasa seseorang sedang merayap di dinding, mengawasimu, siap untuk mencaplokmu.

Lalu membawamu ke ruang bawah tanah untuk dimutilasi.

“Aku bisa lihat kamu. Kamu bisa lihat aku nggak?”

Holy crap!

Tubuhmu gemetaran, dan kamu buru-buru menutup tingkap sambil merangkak mundur. Spontan kamu menarik kursi yang tadi sempat kamu angkat, lalu menggunakannya untuk menindih tingkap yang barusan kamu tinggalkan itu. Siapa pun juga yang ada di bawah, anak kecil atau pun cewek imut, kamu tidak ingin menemuinya. Kamu tidak ingin ketemu siapa pun juga yang tinggal di rumah ini, apalagi yang menyapamu dengan begitu pede. Itu bukan sapaan seorang tawanan yang senasib denganmu—itu sapaan predator yang sama ganasnya dengan Bebet.

Kamu memutuskan untuk kembali ke tingkap plafon dari mana kamu muncul tadi. Meski ngeri, kamu mendekati kepala-kepala itu. Mendadak kamu sadari, ini adalah barang bukti yang sangat bagus. Meski mengerikan, sepertinya kamu harus membawa satu atau beberapa kepala ini untuk menunjukkan pada dunia bahwa ada rahasia mengerikan yang tersimpan di rumah ini. Rahasia yang bahkan tidak bisa ditemukan oleh polisi.


INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:


Hai para peserta MysteryGame@Area47! 

Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan nama + nama FB/Twitter/Instagram + "The Murderer’s House episode 4" diikuti nama, "HP=" diikuti jumlah HP yang kemarin diikuti "BP=" diikuti jumlah BP yang kemarin juga, lalu pada email tersebut isilah jawaban atas pertanyaan ini: 

BERAPA KEPALA YANG AKAN KAMU AMBIL? (Pilih antara: nol, satu, dua.)

Kalex tunggu jawabannya sampai enam hari lagi ^^

Good luck, everybody! 

xoxo,
Lexie

Sunday, July 16, 2017

MysteryGame@Area47 4: The Murderer's House™ Episode 4 (Episode Battle #1)

WAKTUNYA EPISODE BATTLE! 

Sejauh ini, kamu memiliki HP (Health Points) sebesar 100 HP. Dalam perjalananmu, setiap kali kamu menemukan kata-kata seperti (HP: -x), itu berarti HP-mu akan dikurangi dengan bilangan yang diwakili x. Sementara itu, musuhmu adalah Iron Man alias Bebet yang bongsor dan nyaris tak terkalahkan, yang memiliki 200 BP (Bebet Points), yang akan dikurangi setiap kali kamu bertemu kata-kata seperti (BP: -x). Siapkan kertas dan alat tulis. Ini saatnya kemampuan berhitungmu diuji bersamaan dengan keberanianmu!

Pengumuman: Sebelum episode battle, kalian tidak boleh terlambat mengirim email jawaban. Bagi yang terlambat, otomatis akan dieliminasi. Untuk memberi kalian waktu lebih banyak, Kalex akan mengepos episode battle dua minggu setelah episode sebelumnya.

Jika pada episode 3 kamu memilih: 
  1. pisau saku, klik di sini.
  2. minyak sayur, klik di sini.
  3. paku payung, klik di sini.
  4. air botol mineral, klik di sini.
  5. pisang, klik di sini.





PAKU PAYUNG

Kamu menyambar tali tambang yang bergelantungan dan langsung memanjat dengan secepat mungkin. Sayangnya, berhubung selama ini kamu adalah anak alim yang jarang melakukan berbagai macam kenakalan seperti memanjat pohon atau sejenisnya, kamu kurang gesit meski sedang berusaha menyelamatkan nyawamu sendiri. Kamu bisa merasakan tangan besar Bebet memegangi pergelangan tanganmu. Kamu panik dan merogoh ranselmu, mengeluarkan kotak paku payung dan melemparkannya ke arah Bebet bak Naruto dengan shuriken-nya. Kamu merasa bersalah karena salah satu paku payung mengenai muka Bebet, tapi kamu tidak punya waktu untuk mengkhawatirkannya. Kamu harus menggunakan kesempatan ini untuk menyelamatkan diri. (BP = -30)

Klik di sini untuk melanjutkan.




PALU

Kamu berhasil memanjat ke atas, tapi kini rintangannya adalah lubang yang kamu buat sebelumnya. Di saat kamu sedang terbirit-birit dikejar Bebet begini, kamu tidak sempat berhati-hati lagi. Karena lubang yang kamu buat dengan palu rada-rada kasar, kamu jadi tergores-gores waktu berusaha merangkak keluar dari dalam lubang itu. (HP=-10)


Klik di sini untuk melanjutkan.





BERI DIA BOLA


Jarvis menjaga pintu belakang dengan tampang sangar dan mengerikan. Tapi perhatiannya agak terpecah dengan bola yang tadi kamu berikan padanya. Dia mencakarmu saat kamu berusaha mendekati pintu keluar, tapi tidak mengejarmu lagi. Kamu tidak punya pilihan lain, terpaksa kamu kembali ke ruang depan. (HP=-5)


Klik di sini untuk melanjutkan.




PISANG

Kamu menyambar tali tambang yang bergelantungan dan langsung memanjat dengan secepat mungkin. Sayangnya, berhubung selama ini kamu adalah anak alim yang jarang melakukan berbagai macam kenakalan seperti memanjat pohon atau sejenisnya, kamu kurang gesit meski sedang berusaha menyelamatkan nyawamu sendiri. Kamu bisa merasakan tangan besar Bebet memegangi pergelangan tanganmu. Kamu panik dan merogoh ranselmu, mengeluarkan pisang dan mengupasnya dengan satu tangan, menggigit isinya dengan kemampuan yang tidak kamu punya, lalu melemparkan kulitnya ke bawah. Kamu puas banget saat melihat Bebet jatuh terpelanting akibat terinjak kulit pisang bak Donald Duck yang dikerjain Chip and Dale, tapi kamu tidak punya waktu untuk menikmatinya. Kamu harus menggunakan kesempatan ini untuk menyelamatkan diri. (BP = -20)


Klik di sini untuk melanjutkan.




GOLOK

Kamu berhasil memanjat ke atas, tapi kini rintangannya adalah lubang yang kamu buat sebelumnya. Di saat kamu sedang terbirit-birit dikejar Bebet begini, kamu tidak sempat berhati-hati lagi. Karena lubang yang kamu buat dengan golok rada-rada kasar, kamu jadi tergores-gores waktu berusaha merangkak keluar dari dalam lubang itu. (HP=-10)


Klik di sini untuk melanjutkan.




BERI DIA MAKAN

Jarvis menjaga pintu belakang dengan tampang sangar dan mengerikan. Mana gara-gara sudah makan, kucing itu tampak gendut dan penuh semangat. Lupa bahwa kamulah yang memberinya makan tadi, kucing itu mulai menyerangmu dengan cakarnya yang saat ini tampak mematikan di matamu. Kalah melawan kucing garang itu, kamu pun terbirit-birit kembali ke ruang depan. (HP=-15)


Klik di sini untuk melanjutkan.




AIR BOTOR MINERAL

Kamu menyambar tali tambang yang bergelantungan dan langsung memanjat dengan secepat mungkin. Sayangnya, berhubung selama ini kamu adalah anak alim yang jarang melakukan berbagai macam kenakalan seperti memanjat pohon atau sejenisnya, kamu kurang gesit meski sedang berusaha menyelamatkan nyawamu sendiri. Kamu bisa merasakan tangan besar Bebet memegangi pergelangan tanganmu. Kamu panik dan merogoh ranselmu, mengeluarkan botol air mineral, dan menuang isinya pada Bebet yang langsung gelagapan, tidak menyangka bakalan diguyur. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, kamu juga melempar botol kosongnya pada Bebet. Bebet berusaha menghindar, akan tetapi dia malah menabrak tembok. Kamu lega melihat Bebet kehilangan orientasi selama beberapa saat, tapi kamu tidak punya waktu untuk menikmatinya. Kamu harus menggunakan kesempatan ini untuk menyelamatkan diri. (BP = -50)


Klik di sini untuk melanjutkan.




KAPAK

Kamu berhasil memanjat ke atas, tapi kini rintangannya adalah lubang yang kamu buat sebelumnya. Di saat kamu sedang terbirit-birit dikejar Bebet begini, kamu tidak sempat berhati-hati lagi. Karena lubang yang kamu buat dengan kapak rada-rada kasar, kamu jadi tergores-gores waktu berusaha merangkak keluar dari dalam lubang itu. (HP=-15)


Klik di sini untuk melanjutkan.




KELUAR DARI RUANG BAWAH TANAH

Kamu memanjat tali dengan susah-payah. Sarung tanganmu membuat kamu berkali-kali tergelincir, dan kamu terpaksa melepaskan benda itu dari tanganmu. Akibatnya lebih gawat lagi. Kini telapak tanganmu berdarah-darah karena bergesekan dengan tali. Tapi kamu bukan anak kecil yang cengeng. Kamu mengertakkan gigimu dan terus memanjat. Pada akhirnya, kamu melihat lubang yang tadi sempat kamu buat.


Jika pada episode 2 kamu memilih: 
  1. Gergaji, klik di sini.
  2. Kapak, klik di sini.
  3. Palu, klik di sini.
  4. Tongkat bisbol, klik di sini.
  5. Golok, klik di sini.



SURUH DIA MENCIUM JEMPOL KAKIMU

Kucing itu menjaga pintu belakang dengan tampang sangar dan mengerikan. Tapi tampangnya waswas, mungkin ingat dengan bau jempol kakimu yang tidak begitu menyenangkan. Dia mencakarmu saat kamu berusaha mendekati pintu keluar, tapi tidak mengejarmu lagi. Kamu tidak punya pilihan lain, terpaksa kamu kembali ke ruang depan. (HP=-5)


Klik di sini untuk melanjutkan.




PISAU SAKU

Kamu menyambar tali tambang yang bergelantungan dan langsung memanjat dengan secepat mungkin. Sayangnya, berhubung selama ini kamu adalah anak alim yang jarang melakukan berbagai macam kenakalan seperti memanjat pohon atau sejenisnya, kamu kurang gesit meski sedang berusaha menyelamatkan nyawamu sendiri. Kamu bisa merasakan tangan besar Bebet memegangi pergelangan tanganmu. Kamu panik dan merogoh ranselmu, mengeluarkan pisau saku dan mulai menyabet-nyabet ke arah tangan Bebet yang memegangi kakimu. Bebet melolong saat pisau sakumu mengenai tangannya. Astaga, itu hanya goresan kecil, tapi kenapa Bebet langsung jadi lebay begitu?! Tapi kamu tidak punya waktu untuk mengata-ngatai Bebet. Kamu harus menggunakan kesempatan ini untuk menyelamatkan diri. (BP = -10)


Klik di sini untuk melanjutkan.




TONGKAT BISBOL

Kamu berhasil memanjat ke atas, tapi kini rintangannya adalah lubang yang kamu buat sebelumnya. Di saat kamu sedang terbirit-birit dikejar Bebet begini, kamu tidak sempat berhati-hati lagi. Karena lubang yang kamu buat dengan tongkat bisbol rada-rada kasar, kamu jadi tergores-gores waktu berusaha merangkak keluar dari dalam lubang itu. (HP=-15)


Klik di sini untuk melanjutkan.




KURUNG DIA

Kucing itu menjaga pintu belakang dengan tampang sangar dan mengerikan. Tapi sepertinya dia agak ngeri padamu lantaran kamu pernah mengurungnya. Akan tetapi kamu tidak berani mengambil risiko karena tampangnya yang garang banget, terpaksa kamu kembali ke ruang depan. (HP=-0)


Klik di sini untuk melanjutkan.




DAPUR

Dengan badan berdarah-darah kamu berhasil lolos dari ruang bawah tanah itu. Di saat kamu mengira kamu sudah bisa kabur dari rumah itu, mendadak kamu melihat sosok hitam mungil di depanmu. Rupanya itu adalah Jarvis. Tadinya kamu menganggap Jarvis adalah kucing lucu yang malang, tapi kini dia tampak seperti macan kecil yang siap membela tuannya.


Jika pada episode 1 kamu memilih: 
  1. Beri dia makan, klik di sini.
  2. Kurung dia, klik di sini.
  3. Beri dia bola, klik di sini.
  4. Keluarkan dia dari rumah, klik di sini.
  5. Suruh dia mencium jempol kakimu, klik di sini.



MINYAK SAYUR

Kamu menyambar tali tambang yang bergelantungan dan langsung memanjat dengan secepat mungkin. Sayangnya, berhubung selama ini kamu adalah anak alim yang jarang melakukan berbagai macam kenakalan seperti memanjat pohon atau sejenisnya, kamu kurang gesit meski sedang berusaha menyelamatkan nyawamu sendiri. Kamu bisa merasakan tangan besar Bebet memegangi pergelangan tanganmu. Kamu panik dan merogoh ranselmu, mengeluarkan botol minyak sayur, dan mulai menuang isinya secara membabi-buta. Kamu merasa girang saat melihat Bebet kelabakan berjalan di atas tumpahan minyak, lalu tergelincir dan jatuh, tapi kamu tidak punya waktu untuk menikmatinya. Kamu harus menggunakan kesempatan ini untuk menyelamatkan diri. (BP = -10)


Klik di sini untuk melanjutkan.




GERGAJI

Kamu berhasil memanjat ke atas, tapi kini rintangannya adalah lubang yang kamu buat sebelumnya. Di saat kamu sedang terbirit-birit dikejar Bebet begini, kamu tidak sempat berhati-hati lagi. Karena lubang yang kamu buat dengan gergaji cukup halus, kamu berhasil keluar tanpa tergores sedikit pun waktu berusaha merangkak keluar dari dalam lubang itu. (HP=-0)


Klik di sini untuk melanjutkan.




KELUARKAN DIA DARI RUMAH

Kucing itu menjaga pintu belakang dengan tampang sangar dan mengerikan. Tapi sepertinya dia agak waswas terhadapmu lantaran kamu pernah mengeluarkan dia dari rumah. Rupanya kucing itu takut kamu melakukannya lagi. Dia mencakarmu saat kamu berusaha mendekati pintu keluar, tapi tidak mengejarmu lagi. Kamu tidak punya pilihan lain, terpaksa kamu kembali ke ruang depan. (HP=-5)


Klik di sini untuk melanjutkan.




AND THE STORY GOES

Kamu bisa mendengar geraman Bebet dari lubang menuju ruangan bawah tanah itu, semakin lama semakin mendekat. Di belakangmu, Jarvis tampak siap bertempur melawanmu. Saat ini, kamu tidak tahu siapa yang lebih berbahaya: Bebet ataukah Jarvis. Satu-satunya jalan bagimu saat ini adalah menaiki tangga menuju lantai dua. Tapi lantai dua pun tampak sangat berbahaya secara kamu tidak tahu apa yang menunggumu di atas sana. Setidaknya, kini kamu bisa mengakses lemari berisi barang-barang random yang kamu temui di episode 2 kemarin. Kini kamu akan menggunakan salah satu benda itu sebagai senjata.


INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:

Hai para peserta MysteryGame@Area47! 

Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan nama + nama FB/Twitter/Instagram + "The Murderer’s House episode 4" diikuti nama, "HP=" diikuti jumlah HP diikuti "BP=" diikuti jumlah BP, plus jawaban atas pertanyaan ini: 

SENJATA APA YANG KAMU AMBIL? (Pilih antara: gergaji, kapak, palu, tongkat bisbol, golok..)

Kalex tunggu jawabannya sampai enam hari lagi ^^

Good luck, everybody! 

xoxo,
Lexie