Kamu baru saja lulus kuliah. IPK kamu lumayan, tampang lumayan, bodi juga not bad lah. Belum lagi sebulan lulus, tahu-tahu saja kamu dikirimi surat bahwa kamu diterima di perusahaan multinasional terkemuka di Indonesia dengan gaji delapan digit. Holy crap! Hidup lagi indah-indahnya! Kurang apa lagi? Pacar? Dengan spek seperti ini, dalam waktu sekejap kamu bakalan laku, cuy!
Sayangnya, kamu tidak begitu hepi. Masalahnya, kamu punya impian yang belum tercapai. Hanya sekali saja, kamu ingin bisa memecahkan sebuah kasus kejahatan. Pasti ini gara-gara anak tetangga yang sering dibanding-bandingkan denganmu. Bagaimana anak itu bisa menjadi penulis di usia muda, selamat dari rumah kosong yang dihuni monster, keluar hidup-hidup dari rumah sakit jiwa, bahkan berhasil lolos dari desa yang dihuni oleh hantu-hantu. Dengan sinis kamu bilang anak itu terlalu banyak bikin cerita, sampai-sampai pengalaman hidupnya pun aneh-aneh. Akan tetapi ibumu rupanya fans berat dengan anak tersebut.
“Lo tau nggak dia barusan nulis buku lagi?” tanya ibumu dengan mimik muka yang mirip dengan muka sobatmu si Syahrina (tidak ada hubungan apa-apa dengan artis tertentu) saat bercerita tentang cowok-cowok Korea. Omong-omong ibumu memang ibu-ibu paling gaul se-RT, gaya bicaranya slengekan dan hobi ngajakin anak-anak muda ngomong gue-elo seolah-olah masih seusia dengan kamu dan teman-teman seusiamu.
“Ah,” cetusmu, “palingan novel thriller bloon lagi, Mak!”
“Nggak tuh. Dia nulis buku self-help. Judulnya keren banget: How To Get Away With A Murder And Win Friends!”
“Judulnya aja lebay gitu, Mak. Kalo orang udah bunuh-bunuhan, mana mungkin bisa win friends lagi? Semua juga pada ngacir!”
“Omong-omong soal orang bunuh-bunuhan,” ibumu mendadak berganti haluan jadi tukang gosip, “lo inget si Iron Man?”
Kamu langsung tahu bahwa ibumu tidak menyinggung Robert Downey, Jr. “Maksud Emak, si tukang setrika yang kerja di laundry Pak Memet?”
“Iya, betul itu!”
“Nama aslinya kan Bebet! Emak jangan panggil dia Iron Man mulu dong!”
“Yah, tukang sayur aja panggil dia Iron Man, masa Emak harus panggil dia Bebet?” Kamu jadi menyesal protes. Kesannya kamu jadi kurang gaul ketimbang tukang sayur. “Pokoknya si Bebet kemarin ditangkep polisi!”
Langsung kamu fokus seratus persen. “Kok bisa, Mak?”
“Iya! Emak nggak boong! Katanya,” ibumu merendahkan suaranya seolah-olah takut ada yang menguping, “dia pembunuh berantai! Serial-killer, cuy!”
Kamu kurang suka dipanggil “cuy”, tapi karena takut dianggap tidak gaul lagi, kamu berusaha legowo dengan panggilan itu. “Kok bisa disangka serial-killer gitu, Mak?”
“Lo tau kan RT kita nggak ada keren-kerennya, dan jarang ada turis dateng ke sini?” Kamu mengangguk-angguk setuju. “Tapi setiap kali ada turis nyasar, tau-tau aja turisnya ilang. Gosipnya, semua turis itu diincer sama si Iron Man… maksudnya si Bebet! Polisi udah curiga, soalnya di antara kita semua, kan dia paling aneh. Rumahnya terpencil pula!”
Lagi-lagi kamu manggut-manggut setuju. Dari kecil, kamu hobi banget ngecengin rumah si Bebet. Rumah itu terletak di pinggiran, dekat tanah besar yang tidak terpelihara, dan rumahnya sendiri juga tidak terpelihara. Meski ukurannya cukup besar, entah berapa lama sudah rumah itu tidak pernah dicat (mungkin sejak kamu belum lahir). Halamannya dipenuhi semak-belukar dan rumput ilalang yang tingginya tidak kalah dengan anak-anak SD. Belum lagi rumahnya sendiri seolah-olah tidak berpenghuni—jarang sekali ada lampu yang menyala, kalau ada pun hanya lampu kuning lima watt yang bahkan tidak cukup untuk menerangi toilet. Orang-orang juga malas membangun rumah di sekitar rumah itu, habis bikin ilfil banget.
Yang tidak kalah seram adalah gosip-gosip yang melanda rumah itu. Tadinya Iron Man—maksudnya Bebet—tinggal bersama orangtua dan adiknya. Menurut ibumu, orangtua dan adik Bebet sama anehnya dengan si Bebet. Suatu hari, saat Bebet sedang remaja, tahu-tahu saja orangtua dan adiknya pergi ke luar kota dan tidak kembali-kembali lagi! Ada banyak dugaan terkait hal ini. Ada yang bilang keluarganya diam-diam kabur meninggalkan Bebet seorang diri. Ada juga yang bilang mobil orangtua Bebet terkena kecelakaan waktu keluar kota dan seluruh keluarganya meninggal kecuali Bebet yang hoki banget tinggal di rumah. Tentu saja, kamu diam-diam percaya dugaan yang satu lagi.
Bebet membunuh orangtua dan adiknya, lalu menyebarkan gosip bahwa mereka pergi ke luar kota.
“Tapi,” kamu angkat bicara lagi, “kalo nggak ada bukti, gimana polisi bisa tangkep si Bebet?”
“Katanya ada buktinya. Waktu lagi digerebek polisi, si Bebet lagi nyuci handuk yang ada darahnya, dan itu bukan handuk pelanggan laundry. Katanya darahnya bakalan dites. Kalo bukan punya dia, dia bakalan ditahan!” Lalu ibumu menepuk-nepuk tanganmu. “Yah, ini bukan urusan lo lagi, cuy! Lusa lo udah harus kudu pindah ke mess karyawan. Lo udah packing belum?”
Entah kenapa, urusan pekerjaan baru yang tadinya berkesan wah banget kini terdengar boring. “Belum, Mak. Kan setelan ai kebanyakan masih ada di laundry!”
“Oh iya!” Ibumu menepuk jidat. “Gawat dong urusannya! Kalo nggak ada Iron Man, siapa yang setrikain setelan-setelan elo? Besok Emak ambilin deh! Kalo belum disetrika, Emak pinjem setrika uap dia terus setrika sendiri aja!”
“Iya, thank you ya, Mak!”
Malam itu kamu tidak bisa tidur. Kamu terus-menerus memikirkan Iron Man dan segala tingkah-lakunya yang mencurigakan. Kenapa selama ini kamu tidak pernah mencurigainya? Tapi kamu tidak bisa menyalahkan diri sendiri juga. Jangankan kamu yang anak biasa-biasa saja (ceritanya ini lagi sinis), bahkan si anak tetangga yang diagung-agungkan nyokapmu juga tidak pernah mencurigai Bebet.
Oke, kamu putuskan. Inilah kesempatan kamu untuk bersinar dan mengalahkan si anak tetangga keparat yang sudah mencuri hati nyokapmu. Kamu akan eksyen malam ini dan menemukan bukti yang memberatkan si Bebet, mengharumkan namamu di seluruh RT, dan mendepak si anak tetangga selamanya dari pembicaraan dengan nyokapmu. Nice!
Hari gini kamu tidak butuh senter lagi. Yang penting batere hape full. Tapi kamu butuh beberapa benda lain sebagaimana para petualang-petualang profesional sejenis Indiana Jones atau Lara Croft. Pisau saku serbaguna, tali tambang, lakban, sebotol air mineral, dua buah pisang, sebungkus permen kopi, teropong milik bokapmu, jepit rambut milik nyokapmu, kaca pembesar milik tetangga yang lupa dibalikin, sebotol minyak sayur (jelas kepunyaan si Emak), dan sebungkus paku payung. Semuanya dimasukkan ke dalam ransel hitam. Tentu saja, malam ini kostummu adalah baju lengan panjang hitam, celana panjang hitam, sepatu kets hitam, topi hitam, sarung tangan hitam, kacamata hitam, dan masker hitam. Dalam kegelapan, kamu merasa yakin tak ada yang bisa melihatmu. Namun belakangan kamu terpaksa meninggalkan kacamata hitam soalnya kamu nyaris nabrak tembok saat kamu mematikan lampu kamar.
Setelah sudah yakin bahwa perlengkapanmu sudah lengkap, kamu pun menyelinap keluar melalui jendela di kamarmu. Kamu merasa agak keren saat kamu berjalan menyusuri genteng sebelum menuruni saluran air. Sialnya, belum apa-apa celanamu sudah tersangkut paku sampai ada sobekan. Tak apalah. Sekarang celana sobek-sobek lagi beken. Si Emak tidak suka kamu pakai celana sobek-sobek karena takut kamu dikira anak orang tak punya, tapi kini kamu punya alasan untuk mengenakannya. Ternyata, belum apa-apa petualangan ini sudah membuatmu merasa superkeren.
Begitu mendarat di pekarangan, kamu baru sadar bahwa kamu lupa mengecek kondisi keluargamu. Terdengar bunyi televisi di ruang keluarga, dan kamu ingat si bokap malam ini nonton Juventus vs. Real Madrid. Kalau sampai si Juve kalah, sudah pasti besok si bokap bakalan uring-uringan setengah mati dan seluruh anggota keluarga pasti bergilir kena getahnya. Di dalam hati kamu berdoa supaya celana Ronaldo sobek seperti celanamu malam ini (kalau bisa di bagian yang lebih memalukan) dan Juve bisa menang mudah.
Tiba-tiba kamu ingat, kamu tidak punya kendaraan! Si bokap janji untuk membelikanmu Ayla kalau kamu berhasil mendapatkan pekerjaan, tapi kini setelah kamu mendapat pekerjaan, janji tinggal janji. Dulu kamu pernah dibelikan motor, tapi waktu geng motor sedang marak, mendadak si nyokap menggadaikan motormu. Katanya doi sedang BU alias Butuh Uang banget, tapi kamu tahu doi curiga kamu diam-diam ngarep jadi anggota geng motor (padahal kamu jelas-jelas anak baik-baik banget. Pasti ini gara-gara si anak tetangga!). Yang tersisa hanya sepeda mini pink dengan keranjang bunga-bunga di depannya, dan ini sama sekali tidak keren. Seharusnya dulu kamu beli sepeda balap yang bagus mirip kepunyaan si Clay dalam film 13 Reasons Why, tapi masalahnya kamu kudu kongsian sama si Emak yang butuh keranjang untuk mengangkut barang belanjaannya saat pergi ke pasar (lagian si Emak suka banget dengan warna pink). Apa daya, berhubung itu satu-satunya kendaraan yang ada, kamu pun mengayuh sepeda itu dengan setengah mati menuju rumah Iron Man—maksudnya si Bebet—yang terletak di ujung RT.
Seperti dalam ingatanmu, rumah Bebet masih juga seram. Malam ini, tidak ada lampu yang menyala sama sekali. Sebuah lampu jalanan yang berkedap-kedip setiap beberapa waktu sekali menerangi daerah di sekitar rumah itu, dan keberadaan lampu jalanan itu malah menambah aura angker yang meliputi daerah itu. Jalan aspal sudah hancur menjadi jalanan berbatu dan dipenuhi lubang-lubang berair, sementara ilalang tinggi dan semak-semak rimbun mendominasi setiap tanah yang ada. Suasana sangat sepi—terlalu sepi. Bahkan suara binatang malam pun tidak kedengaran, seolah-olah binatang-binatang memilih untuk menyingkir dari tempat mengerikan ini.
Kamu menyembunyikan sepedamu di tengah ilalang dan semak belukar, dan diam-diam bersyukur bahwa semua tanaman itu ada hikmahnya juga. Lalu kamu mendekati rumah Bebet yang gelap-gulita. Syukurlah, belum ada pita kuning polisi mengelilingi tempat itu. Mungkin gara-gara satu-satunya barang bukti yang didapatkan polisi belum tentu memberatkan Bebet. Meski begitu, kamu tetap kesulitan memasuki pekarangan yang berantakan itu. Rasa-rasanya kamu menginjak sesuatu yang lunak-lunak—mungkin lumpur, mungkin juga kotoran binatang—dan sekarang sepatu kets-mu terasa berat. Ternyata petualangan punya sisi tak terduga yang tidak enak.
Rumah itu terbuat dari kayu, tapi semua kayu itu tampak masih kuat meski sudah terlihat jelek dengan cat mengelupas. Kamu tidak akan bisa menjebol pintu apalagi dinding. Kamu memeriksa setiap jendela dengan tangan berlapis sarung tangan (jadi kamu tidak takut sidik jarimu menempel di sana), tapi tidak ada jendela yang bisa dibuka. Akhirnya kamu tiba di pintu belakang. Saat kamu menekan hendelnya, pintu terbuka dengan suara deritan pelan. Buru-buru kamu menahan pintu supaya tidak berisik, lalu menyelinap masuk.
Kamu nyaris saja menjerit sejadi-jadinya saat sesuatu menerkam ke arahmu. Tapi rupanya cuma seekor kucing garong yang matanya buta sebelah. Mendadak kamu ingat, Bebet punya kucing peliharaan supergalak yang diberi nama Jarvis. Kadang-kadang kamu bingung, kenapa orang-orang yang punya binatang peliharaan sering menamai binatang peliharaan mereka nama yang lebih bagus daripada pemiliknya. Kan jadinya si binatang peliharaan berkesan lebih elit dan kece ketimbang pemiliknya (meski sebagian besar binatang peliharaan memang lebih kece ketimbang pemiliknya, termasuk Jarvis).
INSTRUKSI MysteryGame@Area47 UNTUK MINGGU INI:
Hai, para peserta MysteryGame@Area47 yang sudah mendaftarkan diri!
Kirimkan email ke lexiexu47@gmail.com dengan subject yang diisi dengan nama FB/username Twitter/username Instagram dan nama panggilan, lalu isi email kalian dengan jawaban atas pertanyaan ini:
APAKAH YANG AKAN KALIAN LAKUKAN TERHADAP JARVIS? (Pilih antara: beri dia makan, kurung dia, beri dia bola, keluarkan dia dari rumah, suruh dia mencium jempol kakimu.)
Kalex tunggu jawabannya sampai enam hari lagi. Jangan sampai telat ya, mengirimkan jawabannya! (^o^)v
Good luck, everybody!
xoxo,
Lexie
Sunday, June 11, 2017
Tuesday, June 6, 2017
Kumcer Supertragis™: Prequel of Harry Potter... sort of
Not by JK. Rowling
Hoguat, sekolah sihir tidak jelas di London—kemungkinan meniru sekolah sihir beken Hogwarts yang pernah masuk tipi beberapa waktu lalu—mendadak heboh. Pasalnya, salah satu murid mereka ternyata punya bakat sihir dahsyat mandraguna. Gosipnya, jika semua murid di sekolah itu dijadikan satu pun, tidak bakalan bisa menyaingi bakat si murid ini. Yah, tidak heran juga sih. Murid-murid Hoguat memang tidak ada yang punya bakat sihir tapi merasa punya. Jebolan dari sekolah ini biasanya jadi dukun, tukang obat jalanan, peramal garis miring penipu, bahkan penjual obat kuat. Beberapa yang beruntung bisa tampil di tipi lokal, sisanya tersebar di seluruh dunia sebagai kriminal.
Murid yang disebut-sebut tadi bernama Tom R. Nama lengkapnya Tompel Ridiculous Gedenya, tapi belakangan dia minta dipanggil Tom R, dan buntut-buntutnya namanya jadi “Dia yang Namanya Nggak Boleh Disebut-sebut”. Jelas si murid ini malu banget dengan nama aslinya. Apa boleh buat, memang Tom R punya tompel gede banget di dekat bibir. Kira-kira mirip Marilyn Monroe. Tapi lantaran gedenya ajegile, kadang-kadang dia disangka makan cokelat sampai belepotan. Beberapa teman yang perhatian sempat mencabut-cabut si tompel yang dikira noda cokelat sampai-sampai membuat Tom R naik pitam. Tidak heran kan, kalau Tom R benci banget pada tompelnya?
Saat namanya mulai beken, Tom R memutuskan untuk oplas. Sayang biaya tiket ke Korea Selatan terlalu mahal, sementara kalau naik sapu, takutnya ngadat di tengah jalan. Mana biar keren, Tom R harus shopping-shopping. Supaya irit, Tom R pun mencari dokter oplas gadungan. Kebetulan ada alumni Hoguat yang punya profesi sebagai dokter oplas. Namanya Dr. Lexie Xu, M.D. Berhubung namanya keren banget, Tom R pun merasa Dr. Lexie Xu, M.D. tidak gadungan-gadungan banget dan bisa memercayainya. Apalagi saat ketemu, rupanya muka Dr. Lexie Xu, M.D. sangat berwibawa. Seketika Tom R menyerahkan nasib mukanya pada si dokter.
“Tenang!” kata si dokter sambil mengeluarkan sederet pisau dari balik ketiaknya. Ada pisau saku, silet, pisau buah, pisau dapur, bahkan parang berjejer. “Lo mau muka kayak siapa pun juga, bisa gue jadiin! Tinggal lo sebut aja namanya!”
“Gue mau punya muka kayak Xiumin EXO!” teriak Tom R.
“Nggak bisa.” Si dokter langsung menolak. “Doi terlalu ganteng. Muka lo pas-pasan. Cari dong, yang mukanya lebih mirip dikit!”
“Nggak ada artis ganteng yang mukanya mirip gue!” Meski orang London, ternyata Tom R jago ngomong gue-elo kayak orang Jakarta. “Gini aja, coba kayak Bruce Willis.”
“Nah, itu bisa,” si dokter manggut-manggut. “Tapi kalo meleset dikit, jadi Homer Simpson. Nggak apa-apa? Dia kan beken juga. Mungkin lebih beken dari Bruce.”
“Okelah kalo gitu. Pokoknya gue mau kayak artis.”
“Siap. Sekarang lo tidur dulu. Gue bius dulu. Oke, cuy?”
“Oke.”
Tom R tidak menduga cara pembiusan Dr. Lexie Xu, M.D. kasar banget. Belum apa-apa dia sudah dihajar pakai kapak. Berhubung Tom R belum pingsan-pingsan juga, si dokter sodorin jempol kaki. Takut diperlakukan lebih sadis lagi, Tom R terpaksa memingsankan diri sendiri dengan ilmu sihirnya yang luar biasa itu.
Dr. Lexie Xu, M.D. sangat puas diberi pasien yang tidak berdaya. Yang pertama-tama doi cabut adalah sabit, soalnya ukurannya gede, meyakinkan, mana terlihat agak-agak keji. Saat Dr. Lexie Xu, M.D. memegang sabit, rasanya seperti malaikat kematian (baca: Lee Dong Wook).
“Pertama-tama kita botakin dulu dia,” kata Dr. Lexie Xu, M.D. sambil mulai mengeluarkan jurusnya. “Bruce botak. Homer botak. Vin Diesel botak. The Rock juga botak. Pokoknya you can’t go wrong with botak!”
Dalam sekejap Tom R sudah jadi botak, dan Dr. Lexie Xu, M.D. sangat puas dengan hasilnya. Meski Tom R tidak seganteng Bruce, Vin Diesel, maupun The Rock (tapi agak mirip Homer), setidaknya kepala Tom R sudah plontos. Tidak apa-apa kepalanya agak berdarah-darah, itu kan harga yang harus dibayar untuk ketampanan.
Kali kedua Dr. Lexie Xu, M. D. mencabut parangnya laksana samurai mencabut katana-nya. “Hidung Bruce Willis mancung dan keren, tapi hidung si anu ini mirip jambu. Biar ai sulap jadi keren!”
Akan tetapi, kali ini ada yang salah. Baru saja tebas sekali, hidung Tom R sudah menggelinding-gelinding di lantai.
“Oops, sawrry,” ucap Dr. Lexie Xu, M.D. sambil bergaya-gaya mirip Cheon Song Yi di drama Korea My Love From Another Star, padahal mukanya lebih mirip bapaknya Cheon Song Yi. “Mari kita coba lagi, bro!”
Kali ini Dr. Lexie Xu, M.D. mengeluarkan pisau cukur. “Alisnya kayak Shinchan banget, padahal alis Bruce kan kece. Coba kita bentuk.”
Akan tetapi, semakin dibentuk, alis Tom R semakin habis. Lama-lama botaklah alis Tom R, dan Dr. Lexie Xu, M.D. tidak punya kata-kata lain selain, “Oops, I did it again!” (kali ini berusaha mirip Britney).
“Giginya si anu ini banyak amat, mana gede-gede lagi, harus gue pahat biar keren kayak punya Bruce.”
Tidak makan banyak waktu saat Dr. Lexie Xu, M.D. sadar bahwa gigi Tom R. sudah ompong. Gawat. Ini sudah jelas-jelas jadi oplas gone wrong. Tidak mungkin Tom R bersedia membayarnya. Yang lebih mungkin, Tom R bakalan mencabut nyawanya. Dr. Lexie Xu, M.D. tahu kemampuan sihir Tom R jauh di atas dirinya. Mumpung Tom R masih pingsan, Dr. Lexie Xu, M.D. pun booking tiket pesawat terbang menuju Indonesia (yang tidak diketahui Tom R yang gaptek, kalau booking tiket dengan Traveloka biasanya lebih murah).
Itulah sedikit cerita kenapa “Dia yang Namanya Nggak Boleh Disebut-sebut” hobi ngamuk dan bunuh-bunuhin orang-orang yang cakep-cakep. Semuanya karena masa lalunya yang pahit. Jika doi pergi ke dokter oplas sungguhan, bisa jadi sekarang doi terkenal di tipi sebagai penyihir keren garis miring artis. Sayang, cita-citanya itu kandas akibat dikerjain dokter gadungan. Seandainya saja doi tidak berusaha ngirit, niscaya cita-citanya sudah tercapai.
Pelajaran untuk kita semua: kalau pergi ke dokter, jangan pergi ke dokter gadungan, gaes!
PS. Tompelnya? Lupa dicabut, bro.
Thursday, June 1, 2017
My homework today from my editor... Looks good?
Perburuan Dalam Kegelapan - Sinopsis
Trisha tidak pernah suka dengan Grey, MVP tim futsal sekaligus cowok yang paling berisik yang pernah dikenalnya. Akan tetapi semuanya berubah saat cowok itu mendampinginya pada masa-masa paling sulit dalam hidupnya, yaitu pada saat teman satu kos sekaligus sahabatnya, Lely, terbunuh akibat gang-rape.
Bersama Grey dan teman-temannya, Trisha mulai menyelidiki satu per satu orang yang menjadi sasaran kecurigaan mereka. Johan, anak bekas tim futsal yang mendadak muncul di TKP. Mariko, teman satu kos yang misterius yang mengaku-ngaku sebagai pacar Johan. Belum lagi Tari, sahabatnya yang lain, mendadak bertingkah aneh. Sebenarnya ada kejadian apa di balik pembunuhan Lely?
Lalu tahu-tahu terjadilah gang-rape berikutnya, dan kejadian itu membawa Trisha lebih dekat dengan Erika Guruh dan teman-temannya. Karena itu, dia menemukan kaitan antara Erika Guruh dan Si Makelar yang disebut-sebut oleh Grey dan teman-temannya. Pertanyaan, betulkah pelaku dari serangkaian pembunuhan keji di kampus mereka adalah Si Makelar, sekutu dari Erika Guruh?
Trisha tidak pernah suka dengan Grey, MVP tim futsal sekaligus cowok yang paling berisik yang pernah dikenalnya. Akan tetapi semuanya berubah saat cowok itu mendampinginya pada masa-masa paling sulit dalam hidupnya, yaitu pada saat teman satu kos sekaligus sahabatnya, Lely, terbunuh akibat gang-rape.
Bersama Grey dan teman-temannya, Trisha mulai menyelidiki satu per satu orang yang menjadi sasaran kecurigaan mereka. Johan, anak bekas tim futsal yang mendadak muncul di TKP. Mariko, teman satu kos yang misterius yang mengaku-ngaku sebagai pacar Johan. Belum lagi Tari, sahabatnya yang lain, mendadak bertingkah aneh. Sebenarnya ada kejadian apa di balik pembunuhan Lely?
Lalu tahu-tahu terjadilah gang-rape berikutnya, dan kejadian itu membawa Trisha lebih dekat dengan Erika Guruh dan teman-temannya. Karena itu, dia menemukan kaitan antara Erika Guruh dan Si Makelar yang disebut-sebut oleh Grey dan teman-temannya. Pertanyaan, betulkah pelaku dari serangkaian pembunuhan keji di kampus mereka adalah Si Makelar, sekutu dari Erika Guruh?
Subscribe to:
Posts (Atom)